Cahaya oranye menyelinap melalui sela-sela tirai jendela, membentuk garis-garis hangat di lantai kamar. Di tengah ruangan kecil yang penuh tumpukan kertas, pena, dan tablet gambar, Eria duduk bersila di kursi kayu favoritnya. Jarinya menari di atas layar tablet, menyelesaikan sketsa wajah seorang karakter baru—mata sendu, senyum yang tak sepenuhnya bahagia. Ia suka menaruh perasaan dalam gambar, entah itu duka, harapan, atau rindu yang tak sempat diucap.
aera de estheria
Aku suka senja
aera de estheria
Karena senja selalu tahu kapan harus pergi, tanpa membuat langit benar-benar gelap.
Tablet itu berbunyi pelan. Notifikasi email masuk. Awalnya Eria tak peduli. Ia terlalu larut dalam pengeditan panel kedua dari chapter terbaru komiknya. Tapi saat melihat alamat pengirim di pojok layar, tangannya berhenti.
Eria menatap layar beberapa detik. kolev creative guild. Sebuah nama yang sudah lama ia tahu, tapi tak pernah membayangkan akan melihatnya di kotak masuk emailnya. Mereka adalah studio desain dan penerbit visual dari luar negeri—terkenal karena karya seni mereka yang mendunia dan cara kerja profesional yang disanjung banyak kreator.
aera de estheria
Kolev creative guild?
aera de estheria
ini gue ga salah lihat ?
Tangannya ragu membuka email itu, tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya.
Kolev creative guild
> Dear Aera de Estheria,
Kami telah mengikuti karya-karyamu selama beberapa bulan terakhir dan sangat terkesan dengan orisinalitas serta kedalaman emosional yang kamu bawa dalam setiap panel. Kami ingin mengajukan kontrak kerja sama eksklusif...
Mata Eria menyapu cepat setiap paragraf. Semuanya terdengar meyakinkan. Gaji besar, kebebasan kreatif, tim profesional. Bahkan, mereka menyebutkan kemungkinan karyanya akan dialihbahasakan dan diterbitkan secara global.
aera de estheria
Apakah ini benar-benar yang aku inginkan?
aera de estheria
Rasanya gak mungkin perusahaan besar ngirim proposal ke komikus jalanan
Eria menutup layar laptop perlahan. Ia berdiri, berjalan menuju jendela, dan membiarkan cahaya senja membasuh wajahnya. Ini bukan kali pertama ia dihadapkan pada keputusan besar.
Ia tidak lagi anak magang di Meigie yang bingung dan lelah karena tekanan atasan dan pelecehan yang ia alami saat kerja disana.
Comments