“Hmm dengan air asam yang mengelilingi tubuhnya, tak ada satu pun pisau yang mampu menembus tubuhnya, Aku harus mencari akal untuk menembus pertahanannya,”pikir Xu Jiao sambil mengamati seluruh tubuh He Si.
“Semakin lama Aku bertempur, buruanKu semakin jauh, takutnya malah Anak muda itu sudah lenyap entah kemana. Aku harus menyudahi pertempuran ini secepatnya,”pikir Kakek He Si.
“Hey Xu Jiao bagaimana kalau kita akhiri pertempuran ini, toh tak ada satu pun pisau milik Mu yang bisa menembus pertahananKu,”ucap Kakek He Si.
“Huh He Si, apakah Kau tidak ingin secepatnya bertemu dengan cucu kesayanganMu?”balas Xu Jiao.
“Sepertinya Aku harus mengambil resiko agar bisa secepatnya menyudahi pertempuran ini,”pikir Kakek He Si.
Air asam yang mengelilingi tubuh He Si maju ke depan seiring dengan bergeraknya tangan He Si sampai akhirnya air asam tersebut berbentuk seperti bor yang berpilin berputar-putar serta melaju dengan cepat ke arah Xu Jiao yang tak jauh dari hadapannya.
Xu Jiao dengan cepat membalas dengan pisau-pisau yang tadinya mengelilingi tubuhnya.
Air asam dan pisau-pisau saling bertumbukkan di udara, dimana sedikit demi sedikit pisau tersebut seperti meleleh.
“Kesempatan,”pikir Xu Jiao yang kemudian bersiul.
Siulan tersebut adalah tanda komando kepada beberapa murid-murid yang berada di atas batang pohon dengan memakai jubah menghilang.
Para murid-murid Xu Jiao segera melemparkan pisau-pisau dari arah belakang Kakek He Si.
Laju pisau-pisau sedikit melambat ketika memasuki kabut hitam racun dan segera mengenai bagian tubuh dari Kakek He Si.
Pisau yang mengenai batok kepala Kakek He Si pada terpental, sedangkan yang lainnya pada bertancapan di tubuh Kakek He Si walaupun tidak dalam, hanya sekitar satu senti karena tertahan tenaga dalam.
“Sial Kau Xu Jiao, kali ini Aku akan menghabisiMu,”pikir Kakek He Si yang makin meningkatkan tenaga dalamnya.
“Ada yang tidak beres, tekanan dari He Si malah makin kuat,”pikir Xu Jiao dengan panik.
Pisau-pisau yang bertumbukkan dengan air asam bor mulai bermentalan tanpa mampu menahan laju air asam bor.
Air asam bor segera menembus tubuh Xu Jiao tanpa ampun.
“Tidak!! Guru!”teriak para murid dari Xu Jiao dengan kaget bercampur sedih.
“Untung, tenaga dalamKu baru naik tingkat, hehehe,”pikir He Si yang dengan cepat melesat meninggalkan medan pertempuran tanpa mengindahkan para pembokongnya.
“Mari Kita kembali ke dalam hutan bambu!”perintah seorang Kakak perguruan yang jadi pemimpin kelompok.
“Tapi Kakak, bagaimana dengan jasad Guru?”
“Yang Kita hadapi adalah biang racun He Si, takutnya tubuh Guru juga sudah terkena racun yang tidak terdeteksi. Kita pulang dulu ke hutan bambu untuk bertanya kepada Paman Guru,”jawab Pemimpin kelompok.
“Kakak, Aku akan disini menjaga jasad Guru, takutnya ada binatang buas yang memakan jasad Guru.”
“Hmm bagus, Kau adalah murid Guru yang setia. Eh kemana Lu Xing?”tanya Pemimpin kelompok.
Mereka semua menengok ke kiri dan ke kanan mencari Lu Xing.
“Gawat sepertinya Lu Xing mengejar biang racun He Si. Dian Wei Kau jaga jasad Guru, yang lainnya kembali ke hutan bambu. Aku akan mengejar Lu Xing!”perintah Pemimpin kelompok.
“Baik Kakak. Hati-hati Kakak,”jawab yang lainnya.
Thung Seng yang berlari tanpa arah akhirnya berhenti karena di depannya ada sebuah sungai yang lebarnya sekitar dua puluh lima meter sebuah sungai yang keruh dan berwarna kecoklatan.
“Haruskah Aku menyebrangi sungai ini dan apakah Aku bisa berenang?”pikir Thung Seng.
“Hehehe Nak lebih baik Kau berhenti berlari dan ikut dengan Aku,”ucap Kakek He Si yang melayang di angkasa.
“Maaf Kakek, Aku menolak ikut denganMu,”jawab Thung Seng.
Kakek He Si segera meluncur ke bawah dengan niat mencengkram tangan Thung Seng.
Walaupun Thung Seng sudah tidak memiliki kungfu tapi hasil latihan keras selama lebih dari dua puluh tahun dan matanya yang terlatih membuat Thung Seng mampu melihat gerakkan dari Kakek He Si.
Thung Seng segera melayangkan tinjunya ke arah Kakek He Si.
Dengan terperanjat Kakek He Si menahan tinju Thung Seng dengan telapak tangannya.
Duar!!!
Tubuh Thung Seng terpental dan masuk ke dalam sungai.
“Urggghhh bagian dalam dadaKu sakit setelah tinjuKu mengenai telapak tangannya. Aku harus mencapai tepi lain dari sungai ini,”pikir Thung Seng sambil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.
Tubuh Thung Seng makin tenggelam sampai akhirnya mencapai dasar sungai.
Kakek He Si yang tadi sempat terlempar ke udara dan kemudian terjatuh ke tanah terlihat mukanya menyeringai kesakitan.
“Sial Aku ceroboh, tulang tangan kananKu remuk dan tangan kananKu tidak dapat digerakkan,”pikir Kakek He Si yang kemudian bangkit berdiri.
Kakek He Si mendadak meloncat dan sebilah pisau yang luput dari sasarannya kemudian masuk ke dalam sungai.
Kakek He Si dalam posisi tubuhnya yang melayang di udara memperhatikan ke arah bawah dengan seksama.
“Hmm Aku tidak dapat melihat lawanKu dan musuh sangat ahli dalam mengatur nafasnya, satu-satunya cara dengan mengacaukan emosi lawan,”pikir Kakek He Si.
“Hehehe pecundang dari hutan bambu. Aku merasa sangat berbahagia ketika berhasil membunuh guruMu yang tidak berguna itu!”teriak Kakek He Si.
Terdengar dengusan kemarahan dengan suara yang perlahan, tapi itu saja cukup bagi Kakek He Si.
Kakek He Si melayangkan tinju tangan kirinya dan sebuah tenaga dalam berwarna hitam dengan segera menerjang ke suatu tempat.
Blam!! Arghhh!!!
“Oh tidak! Aku terlambat,”pikir Pemimpin kelompok dari hutan bambu dengan perasaan sedih.
Untuk beberapa saat Kakek He Si tetap berbicara menghina hutan bambu, bla bla bla.
“Hmm sepertinya hanya satu tikus yang mengejarKu,”pikir Kakek He Si yang kemudian melayang terbang ke tengah sungai dan mengamati dari atas.
Di dasar sungai terlihat Thung Seng yang sedang belajar renang otodidak.
“Ya benar kalau tanganKu menyibak ke kiri dan ke kanan maka otomatis tubuhKu akan bergerak maju,”pikir Thung Seng.
“Air sungai ini sangat keruh, Aku tidak bisa melihat ke bawah, apakah Dia sudah menyebrangi sungai ini?”pikir Kakek He Si.
Kakek He Si mengeluarkan bola kilat pusaka miliknya dan melempar ke sungai, seketika itu juga sungai dipenuhi oleh arus listrik dan mayat-mayat ikan mulai banyak mengambang.
Ada riak air besar di bawahKu, hehehe mudah-mudahan Anak muda yang kuincar,”pikir Kakek He Si.
“Ada yang salah, riak air dari manusia tidak mungkin sebesar ini,”pikir Kakek He Si yang segera bergerak menghindar.
Tapi gerakkan Kakek He Si terlambat karena seekor ular raksasa dengan mulutnya yang menganga lebar dengan cepat menelan tubuh Kakek He Si.
Tubuh Kakek He Si dengan cepat masuk ke perut ular raksasa dan asam di perut ular mulai mencerna tubuh Kakek He Si secara perlahan-lahan.
“Tidak Aku tidak boleh mati!”pikir Kakek He Si yang kemudian memakai sarung tangan pusakanya yang berduri dan mulai memukuli bagian dalam ular raksasa tersebut.
Ular raksasa yang kesakitan bergerak-gerak tanpa arah membuat air sungai bermuncratan ke atas.
Bola kilat terhempas oleh arus mendekati Thung Seng.
“Apa itu? Rasanya Aku sangat akrab dengan bola itu? Perasaan yang sama ketika sengatan dari bola itu mengenai tubuhKu dan membangunkan diriKu dari tidur,”pikir Thung Seng yang kemudian meraih bola kilat tersebut.
Arus listrik menerpa tubuh Thung Seng membuat Thung Seng kembali jatuh ke dasar sungai.
Walaupun terkena arus listrik yang sangat kuat dan merasa tidak nyaman tapi tangan kiri Thung Seng tidak melepaskan genggamannya.
Tak lama kemudian arus listrik berhenti mengalir.
“Hey aneh kemana perginya bola tadi?”pikir Thung Seng dengan bingung ketika melihat genggaman tangannya telah kosong.
“Lebih baik Aku lekas pergi menjauh dari arus air yang menggila ini,”pikir Thung Seng, dimana matanya tidak dapat melihat ular raksasa yang sedang kesakitan.
Thung Seng segera berenang dan mencapai tepian sungai, kemudian berlari menjauhi sungai.
Sekitar sepuluh menit setelah Thung Seng pergi dari sungai, air sungai kembali tenang dan tak lama kemudian Kakek He Si muncul dari sungai.
“Aku tidak sanggup lagi, lebih baik kembali ke tempat pertapaanKu untuk memulihkan diri. Sungguh hari sial bagiKu, tangan kananKu remuk, bola kilat pusaka hilang dan Aku terluka parah,”pikir Kakek He Si sambil melesat terbang.
Kakek He Si hanya sanggup terbang sesaat kemudian jatuh ke tanah tak sadarkan diri.
Satu sosok tubuh dengan cepat mendekati tubuh Kakek He Si, setelah ragu sesaat, tak lama kemudian sosok tubuh tersebut segera menghujamkan pisaunya tanpa ampun ke dada Kakek He Si.
“Arrrrghhhh!”teriak Kakek He Si untuk terakhir kalinya.
Dengan hunjaman tersebut maka berakhirlah riwayat Kakek He Si dengan tragis.
Bersambung :))
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Jimmy Avolution
gaskeun
2024-07-04
0