CLBK 4 (18+)

Karin membuka pintu yang memang belum terkunci itu. Ia berjalan santai seolah seperti tidak melakukan apapun, padahal dirinya pergi dari pagi dan baru pulang sekarang. Ia tidak tau bahwa orang tuanya sangat khawatir karena saat di telpon nomer Karin tidak aktif.

"Karin, akhirnya kamu pulang sayang" seru mamanya Karin saat ia sudah sampai di ruang tengah.

"Mama, kayak aku ngga pernah pulang malem aja" sahut Karin berpura-pura cemberut

Mamanya pun mencubit lembut pipi Karin dan memeluk nya. Lalu menuntun Karin menuju sofa yang ternyata ada dua orang yang sepertinya Karin kenal.

"Karin, apa kabar mu sayang" seru salah seorang dari mereka yang mungkin seumuran dengan mama Karin. Dan yang pria sepertinya lebih muda daripada papa Karin.

"Karin baik" jawab Karin ragu. Melihat ekspresi Karin perempuan yang masih terlihat muda itu hanya tersenyum lalu menghampiri Karin.

"Kau lupa dengan Tante Karin?" Tanya wanita itu membelai lembut pipi halus Karin.

"Tante....." Karin menatap ragu ke arah wanita itu. Ia masih lupa.

"Ma, biarkan Karin duduk dulu, dia pasti lelah" ucap pria yang tadi duduk di sebelah wanita itu.

"Oh iya, ayo duduk dulu nak. Tante sungguh rindu dengan mu" ucap wanita itu lalu menuntun Karin untuk duduk di sofa. Lebih tepatnya ia ingin agar Karin duduk di sebelah nya.

"Karin, ini adalah Om Jaka dan juga Tante Sarah. Kau lupa nak?" Ucap pak Bram, ayah dari Karin.

"Om Jaka dan Tante Sarah..." Karin menatap dua orang yang memang tidak asing itu bergantian. Lalu.

"Ya ampun... Ini Tante Sarah, mamanya kak Aldo?" Seru Karin saat sudah berhasil mengingat wanita di sampingnya itu.

Sementara orang tua Karin dan juga pak Jaka hanya tersenyum. Mereka maklum jika Karin sedikit lupa dengan pak Jaka dan juga Bu Sarah. Sebab saat Karin berusia tujuh tahun pak Jaka dan Bu Sarah juga anak lelaki mereka yang bernama Aldo harus pindah ke luar kota karena urusan pekerjaan pak Jaka.

"Tante apa kabar? Udah lama loh Karin ngga ketemu sama Tante. Tante makin cantik aja" seru Karin lalu memeluk erat Bu Sarah.

"Tante baik, kamu juga sekarang sudah besar. Udah pintar dandan jadi makin cantik" ucap Bu Sarah mencubit lembut pipi Karin.

Pipi Karin pun bersemu merah saat orang yang dulu pernah ia impikan menjadi ibu nya itu memuji dirinya. Disaat masih berumur tujuh tahun Karin sudah bermimpi untuk menjadi perempuan yang akan menikah dengan anak lelaki Tante Sarah.

"Om Jaka juga apa kabar?" Tanya Karin lalu menghampiri pak Jaka untuk mencium tangan Om Jaka.

"Om baik, kamu sudah semakin cantik sekarang Karin. Jika Aldo melihat mu pasti ia akan jatuh cinta dengan mu" ucap pak Jaka. Dari saat Karin masih kecil ia sudah menaruh hati kepada bayi Karin agar kelak ia bisa menjadikan Karin sebagai menantunya.

"Jaka, anakku masih muda ia bahkan belum genap dua puluh lima tahun" sahut pak Bram.

"Aku hanya bercanda Bram. Dulu saat mereka masih kecil aku sangat memimpikan Karin menjadi menantu ku. Tapi sekarang mereka sudah dewasa. Biarkan mereka memilih jalan mereka dan kita sebagai orang tua tinggal mengarahkan saja. Bukankah begitu Bram?"

"Ya kau benar, ngomong-ngomong dimana putra mu?"

"Putra ku sekarang entah dimana..."

"Jawaban apa itu Jaka"

"Benar mas, Aldo kabur entah kemana. Semua ini gara-gara mas Jaka" sahut Bu Sarah lalu menatap ke arah suaminya

"Bagaimana bisa jeng" tanya Bu Siska, mama Karin.

Sementara Karin hanya menjadi pendengar setia untuk sesi cerita yang mungkin akan panjang ini. Membicarakan tentang lelaki bernama Aldo. Ia sungguh penasaran bagaimana rupa Aldo. Dulu ia sangat bermimpi bisa bersama dengan kak Aldonya itu, namun seiring berjalannya waktu dan Karin tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang telah menarik hatinya. Rasa suka pada Aldo pun kian memudar bahkan mungkin sudah tidak ada. Selain karena mereka tidak pernah bertemu , Aldo pun tak pernah mencoba menghubungi Karin. Sebab itu Karin menganggap bahwa Aldo mungkin sudah melupakan dirinya.

***

Gita sudah sampai rumah dan ia pun segera masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri. Saat ia pulang orang tua sudah tidur beberapa saat yang lalu kata mbok Na, asisten rumah tangga di keluarga Wijaya.

"Ahh segarnya... Seharian ini aku ngga mandi" ucap Gita saat ia sudah selesai mandi dan sudah memakai piyama bersiap untuk tidur.

Sementara di bawah. Tepatnya di tempat tidur untuk para pembantu dan juga supir. Seseorang kini sulit memejamkan matanya, fikirannya masih berkelana mengingat masa-masa kecil yang menyenangkan untuk di ingat. Bukan masa lalunya, namun seseorang di masa lalunya.

"Kamu lihat, bahkan untuk dekat dengan dirimu. Kakak rela menjadi supir di keluarga Wijaya. Agar kakak bisa melihat mu setiap hari karena kakak tau kamu sahabat dari Gita" ucap nya bermonolog sambil memandang selembar foto gadis cantik yang sedang tersenyum. Bahkan Aldo merasa gadis itu tersenyum padanya.

"Selamat tidur gadis cantik milik kakak" lanjutnya lalu mencium foto itu dan ia pun bergegas untuk tidur.

***

Malam semakin larut, namun bukannya merasa mengantuk dua insan yang sedang saling melepaskan has*at itu justru bertambah semangat. ******* yang saling bersahutan membuat mereka bersemangat untuk saling mendapatkan sebuah kepuasan. Padahal si wanita itu tengah hamil. Namun hal itu justru membuat nya ingin melakukan hal itu lagi dan lagi.

"Aahhh...." Erangan panjang mereka terucap bersamaan menandakan bahwa kegiatan panas di malam yang dingin itu sudah berakhir.

Si pria ambruk di samping wanita yang juga merasa sudah sangat lemas tenaganya pun sudah terkuras habis karena pertempuran hangat mereka.

"Kau selalu hebat sayang" ucap pria itu menatap lembut perempuan yang bukan istrinya itu. Ya hubungan mereka adalah hubungan terlarang.

"Kau juga sangat hebat. Kau selalu bisa memuaskan diriku" jawab si wanita lalu mengecup manja bibir pria yang ada di sampingnya.

"Baiklah ini sudah malam, waktunya tidur," lelaki itu pun menutup tubuh polos mereka dengan selimut tebal agar mereka tidak kedinginan.

"Ya. Selamat malam sayang" ucap wanita itu lalu memeluk tubuh pria di sampingnya. Si pria pun juga ikut tertidur, tubuhnya juga merasa lelah.

***

Di sebuah kamar yang berada di rumah mewah milik keluarga Santi. Kini Angga sedang mondar-mandir di kamarnya. Ia selalu melihat ke arah jam yang bertengger di dinding. Sudah pukul setengah satu dini hari. Namun kenapa istrinya belum juga pulang. Meskipun tidak ada rasa cinta sedikitpun di hati Angga untuk Santi, namun ia juga khawatir jika wanita yang mengandung anak nya itu belum pulang di jam segini. Ia pun meraih telepon genggam nya lalu menghubungi nomer milik istrinya.

Tuut... Tuuut. Tuut....

Ia membanting telepon itu ke atas kasur. Jawaban yang sama. Padahal nomer telepon Santi aktif dan tersambung lalu kemana perempuan itu sehingga tidak mengangkat teleponnya. Ia melihat jam lagi, sudah hampir jam satu dini hari. Ia pun naik ke atas kasur bersiap untuk tidur. Perset*n dengan Santi besok Angga masih harus bekerja. Karena dirinya yang hanya menjadi karyawan biasa akan dipotong gaji jika sampai terlambat semenit saja.

Episodes
1 CLBK 1
2 CLBK 2
3 CLBK 3
4 CLBK 4 (18+)
5 CLBK 5
6 CLBK 6
7 CLBK 7
8 CLBK 8
9 CLBK 9
10 CLBK 10
11 CLBK 11
12 CLBK 12
13 CLBK 13
14 CLBK 14
15 CLBK 15
16 CLBK 16
17 CLBK 17
18 CLBK 18
19 CLBK 19
20 CLBK 20
21 CLBK 21
22 CLBK 22
23 CLBK 23
24 CLBK 24
25 CLBK 25
26 CLBK 26
27 CLBK 27
28 CLBK 28
29 CLBK 29
30 CLBK 30
31 CLBK 31
32 CLBK 32
33 CLBK 33
34 Pengumuman
35 CLBK 34
36 CLBK 35
37 CLBK 36
38 CLBK 37
39 CLBK 38
40 CLBK 39
41 CLBK 40
42 CLBK 41
43 CLBK 42
44 CLBK 43
45 CLBK 44
46 CLBK 45
47 CLBK 46
48 CLBK 47
49 CLBK 48
50 CLBK 49
51 CLBK 50
52 CLBK 51
53 CLBK 52
54 CLBK 53
55 CLBK 54
56 CLBK 55
57 CLBK 56
58 CLBK 57
59 CLBK 58
60 CLBK 59
61 CLBK 60
62 CLBK 61
63 CLBK 62
64 CLBK 63
65 CLBK 64
66 CLBK 65
67 CLBK 66
68 CLBK 67
69 CLBK 68
70 CLBK 69
71 CLBK 70
72 CLBK 71
73 CLBK 72
74 CLBK 73
75 CLBK 74
76 CLBK 75
77 CLBK 76
78 CLBK 77
79 CLBK 78
80 CLBK 79
81 CLBK 80
82 CLBK 81 (ada perkataan kasar, harap bijak)
83 CLBK 82
84 CLBK 83
85 CLBK 84
86 CLBK 85
87 CLBK 86
88 CLBK 87
89 CLBK 88
90 CLBK 89
91 CLBK 90
92 CLBK 91
93 CLBK 92
94 CLBK 93
95 CLBK 94
96 CLBK 95
97 CLBK 96
98 CLBK 97
99 CLBK 98
100 CLBK 99
101 CLBK 100
102 CLBK 101
103 CLBK 102 (18+)
104 CLBK 103 (16+)
105 CLBK 104 (18+)
106 CLBK 105 (21+)
107 CLBK 106
108 CLBK 107
109 CLBK 108
110 CLBK 109
111 CLBK 110
112 CLBK 111
113 CLBK 112
114 CLBK 113
115 CLBK 114
116 CLBK 115
Episodes

Updated 116 Episodes

1
CLBK 1
2
CLBK 2
3
CLBK 3
4
CLBK 4 (18+)
5
CLBK 5
6
CLBK 6
7
CLBK 7
8
CLBK 8
9
CLBK 9
10
CLBK 10
11
CLBK 11
12
CLBK 12
13
CLBK 13
14
CLBK 14
15
CLBK 15
16
CLBK 16
17
CLBK 17
18
CLBK 18
19
CLBK 19
20
CLBK 20
21
CLBK 21
22
CLBK 22
23
CLBK 23
24
CLBK 24
25
CLBK 25
26
CLBK 26
27
CLBK 27
28
CLBK 28
29
CLBK 29
30
CLBK 30
31
CLBK 31
32
CLBK 32
33
CLBK 33
34
Pengumuman
35
CLBK 34
36
CLBK 35
37
CLBK 36
38
CLBK 37
39
CLBK 38
40
CLBK 39
41
CLBK 40
42
CLBK 41
43
CLBK 42
44
CLBK 43
45
CLBK 44
46
CLBK 45
47
CLBK 46
48
CLBK 47
49
CLBK 48
50
CLBK 49
51
CLBK 50
52
CLBK 51
53
CLBK 52
54
CLBK 53
55
CLBK 54
56
CLBK 55
57
CLBK 56
58
CLBK 57
59
CLBK 58
60
CLBK 59
61
CLBK 60
62
CLBK 61
63
CLBK 62
64
CLBK 63
65
CLBK 64
66
CLBK 65
67
CLBK 66
68
CLBK 67
69
CLBK 68
70
CLBK 69
71
CLBK 70
72
CLBK 71
73
CLBK 72
74
CLBK 73
75
CLBK 74
76
CLBK 75
77
CLBK 76
78
CLBK 77
79
CLBK 78
80
CLBK 79
81
CLBK 80
82
CLBK 81 (ada perkataan kasar, harap bijak)
83
CLBK 82
84
CLBK 83
85
CLBK 84
86
CLBK 85
87
CLBK 86
88
CLBK 87
89
CLBK 88
90
CLBK 89
91
CLBK 90
92
CLBK 91
93
CLBK 92
94
CLBK 93
95
CLBK 94
96
CLBK 95
97
CLBK 96
98
CLBK 97
99
CLBK 98
100
CLBK 99
101
CLBK 100
102
CLBK 101
103
CLBK 102 (18+)
104
CLBK 103 (16+)
105
CLBK 104 (18+)
106
CLBK 105 (21+)
107
CLBK 106
108
CLBK 107
109
CLBK 108
110
CLBK 109
111
CLBK 110
112
CLBK 111
113
CLBK 112
114
CLBK 113
115
CLBK 114
116
CLBK 115

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!