Dahulu kala, disebuah Pulau yang diapit oleh Selat Mariana, hiduplah rakyat desa yang rukun. Desa itu kecil dan tak sebesar pulaunya. Penduduknya pun hanya sekitar ratusan jiwa, tapi mereka saling mengayomi satu sama lain.
Desa itu bernama Nessun Vicino. Tak bertetangga. Tapi banyak pemuda yang rela berlabuh jauh-jauh ke Pulau sebelah untuk mencari jodoh. Perbuatan tersebut membuat para gadis dari desa Nessun Vicino merasa tidak dihargai. Bila semua pemuda pergi ke Pulau sebelah, lalu siapa yang akan menikahinya? Tidak mungkin para gadis ikut pergi ke Pulau sebelah yang jaraknya sangat jauh. Terlalu beresiko. Mustahil pula rasanya kalau menikahi orang tua.
Sekarang ini hanya ada satu pemuda yang belum pergi ke Pulau sebelah. Entah mengapa, dia terlihat sama sekali tidak tertarik.
Ferguso adalah namanya. Orang-orang mengenalnya sebagai bujang yang payah. Tidak bisa berkebun, tidak pandai berdagang, dan tidak tahu sama sekali mengenai cinta. Orang tuanya pun sangat muak dengan sifat keras kepalanya. Makin hari, kepala Ferguso makin keras saja.
Orang tuanya selalu menasehati,
"Bila kau tidak bisa melakukan apapun, setidaknya jaga penampilanmu agar benar-benar terlihat seperti manusia. Kalau seperti ini, wanita mana yang ingin menikah denganmu, Ferguso?"
Seperti biasa, Ferguso hanya memperlakukan ocehan itu kayaknya angin lewat.
Ferguso tidak pernah memperhatikan penampilannya. Dia pun tidak peduli bagaimana orang-orang menilainya. Keinginan hidupnya hanya satu, yaitu mempunyai seekor angsa berparuh emas yang jarang sekali terlihat di Nessun Vicino.
Angsa itu bisa dibilang sangat langka.Hanya orang-orang beruntung saja yang bisa memilikinya.
Sementara itu, Ferguso menganggap pergi ke Pulau sebelah hanya sia-sia saja. Diperjalanan, sudah banyak bahaya yang dihadapi selama berlayar. Sampai disana, belum tentu diterima.
Alhasil, Ferguso menjadi rebutan 27 gadis yang ada di desa Nessun Vicino. Karna hanya ada Ferguso, jadi itulah satu-satunya harapan para gadis.
Setiap hari, para gadis terus mengejarnya. Baik saat dia sedang membantu orang tuanya di kebun (walaupun tidak pecus) ataupun saat sedang beristirahat. Hal itu membuat Ferguso merasa sangat terganggu.
Diantara 27 gadis, Ferguso tidak tertarik satu pun.Hari demi hari, gadis-gadis itu terus mengganggu Ferguso. Hingga akhirnya, Ferguso benar-benar jengkel dan ia nekad pergi ke Pulau sebelah dengan perahu layar milik ayahnya. Namun tujuannya hanya untuk menyepi, bukan berjodoh.
Gadis-gadis yang kehilangan asa justru berencana menyusul Ferguso ke Pulau sebelah. Mereka beramai-ramai mengejar perahu layar Ferguso.
Ditegah perjalanan, kemarahan Ferguso semakin memuncak. Dengan penuh amarah, dia berkata,
"Terkutuklah kau wahai para gadis! Tidak ada yang lebih indah daripada seekor angsa berparuh emas!"
Tiba-tiba matahari bersinar sangat terang dan membuat matanya menjadi silau. Beberapa saat kemudian ketika matahari mulai redup, Ferguso membuka matanya. Dan dilihatnya, ke 27 gadis yang mengejarnya telah berubah menjadi 27 angsa betina berparuh emas.
Ferguso sangat takjub. Angsa-angsa yang dicari selama hidupnya kini ada dihadapannya. Bukan satu, tapi dua puluh tujuh. Akhirnya Ferguso membawanya kerumah dan memeliharanya dengan penuh kasih. Dia menganggap angsa itu sebagai isterinya sendiri.
~TAMAT~
By : LK Production
Author : Fisa Alcaniz
Pengarang : Luthfi Khoirunisa
Senin, 11 Januari 2021
Jangan lupa like dan comment😉 nanti author salamin ke Ferguso😂