Lantai granit itu dulunya sedingin es namun mengilap seperti cermin, tempat aku dan Ibu sering menghabiskan waktu sore untuk sekadar selonjoran setelah lelah membersihkan halaman. Namun kini, di bawah pijakan kakiku, butiran pasir, debu yang menebal, dan entah sisa makanan apa yang sudah mengeras, membuat permukaan itu terasa kasar dan menjijikkan. Aku menarik napas panjang, namun yang masuk ke paru-paruku hanyalah aroma apak dari ruangan yang tak pernah melihat sinar matahari selama berbulan-bulan.
"Fajar!" suaraku bergema di ruang tamu yang melompong. Tidak ada sahutan. Hanya suara tetesan air dari keran dapur yang bocor, beradu dengan sunyi yang mencekam.
Aku melangkah lebih dalam ke rumah yang dulu menjadi kebanggaan Ayah. Rumah ini dibangun dengan tetesan keringat Ayah selama puluhan tahun sebagai guru honorer hingga akhirnya diangkat menjadi PNS. Namun sekarang, dinding ruang tengah yang dulu bercat putih bersih kini penuh dengan noda rembesan air yang menghitam, menyerupai peta wilayah yang kumuh. Di satu sudut, temboknya jebol, menyisakan batu bata yang menganga seperti luka yang tak kunjung sembuh. Lampu gantung yang dulu megah kini hanya tinggal kerangka berdebu, mati total karena tunggakan listrik yang sudah lewat tiga bulan.
Tiga tahun sudah Fajar bekerja. Tiga tahun sejak dia lulus dan mendapatkan posisi yang cukup layak di sebuah perusahaan swasta. Kami semua, terutama Ibu, menaruh harapan besar padanya. Kami pikir, dialah yang akan menjaga warisan Ayah ini. Kami memberinya tempat tinggal gratis, tanpa beban sewa, hanya agar dia bisa menabung untuk masa depannya sendiri. Tapi hari ini, kenyataan menghantam wajahku lebih keras daripada pintu rumah yang terhempas angin.
Aku menemukan Fajar di kamar belakang, sedang tertidur pulas di atas kasur tanpa sprei. Di sampingnya, sebuah ponsel mahal menyala, menampilkan notifikasi pesanan daring yang baru saja tiba. Aku menyentak bahunya hingga dia terlonjak kaget.
"Mbak? Ngapain di sini?" tanyanya dengan suara serak, tanpa sedikit pun rasa bersalah.
"Ngapain aku di sini? Fajar, petugas PLN baru saja menelepon Ibu! Listrik mau diputus permanen. Air juga sudah disegel seminggu lalu. Kamu ngapain saja selama ini?" teriakku, tanganku gemetar menunjuk ke arah tembok yang jebol. "Rumah ini sudah kayak gudang rongsokan, Jar! Kamu kerja tiga tahun, hasilnya mana?"
Fajar duduk, mengusap wajahnya yang kusam. "Lagi seret, Mbak. Banyak pengeluaran mendadak."
"Pengeluaran mendadak apa? Skincare pacarmu? Atau makan malam mewah di kafe yang sering kamu unggah di media sosial?"
Dia terdiam. Wajahnya berubah menjadi benteng pertahanan yang keras kepala. Aku tahu betul ke mana larinya uang gajinya yang jutaan rupiah itu. Setiap bulan, lini masa media sosialnya penuh dengan foto-foto tangannya menggandeng seorang perempuan, berpindah dari satu restoran ke restoran lain, memberikan hadiah-hadiah bermerek yang bahkan aku sendiri—kakaknya yang sudah bekerja lebih lama—tidak berani membelinya.
"Dina itu calon istriku, Mbak. Aku harus tanggung jawab," gumamnya pelan.
"Tanggung jawab? Kamu bahkan belum menikahinya, Jar! Kamu membiayai hidup orang lain sementara Ibu di rumah harus menghitung koin untuk beli beras? Kamu membelikan dia skincare mahal sementara dinding rumah Ayah hancur dan kamu biarkan begitu saja?" Air mataku tumpah. Rasanya sesak melihat bagaimana ego seorang laki-laki dewasa bisa menghancurkan segalanya.
Fajar berdiri, mencoba menghindariku. "Mbak nggak usah ikut campur. Nanti kalau ada rejeki, aku benerin semua."
"Kapan? Pas rumah ini sudah roboh? Pas Ibu sudah nggak ada?" aku mengejarnya ke dapur. Di sana, tumpukan piring kotor sudah berjamur. Kerumunan semut dan kecoa menjadi penghuni tetap di sana. "Kemarin kamu minta uang ke Ibu lagi, kan? Bilang buat cicilan motor yang nunggak. Tapi aku tahu, uang itu kamu pakai buat bayar tagihan belanjaan Dina di mal."
Dia berbalik dengan mata merah. "Dina butuh itu, Mbak! Dia kalau nggak dibantu, kasihan."
"Terus Ibu nggak kasihan? Aku nggak kasihan?" suaraku meninggi, memecah kesunyian rumah yang sekarat itu. "Ibu sampai harus mematikan lampu di rumah hanya untuk menghemat beberapa ribu rupiah agar bisa memberimu uang saat kamu merengek kurang duit. Kamu itu sudah 23 tahun, Jar! Sudah laki-laki dewasa! Harusnya kamu yang jadi sandaran buat Ibu, bukan malah jadi beban yang terus-terusan mengisap darahnya!"
Fajar terdiam, tapi aku tahu kata-kataku hanya lewat di telinganya. Dia sudah terlalu buta oleh cinta yang ia anggap sebagai pengabdian, padahal itu hanyalah penghambaan pada harga diri yang salah tempat. Baginya, terlihat hebat di depan pacarnya jauh lebih penting daripada terlihat berbakti di hadapan Ibunya sendiri.
Aku berjalan mengitari rumah itu sekali lagi. Setiap langkah terasa menyakitkan. Aku teringat bagaimana Ayah dulu mengecat tembok ini sendirian, penuh ketelitian, sambil bersiul lagu kesukaannya. Ayah ingin rumah ini menjadi tempat berlindung bagi kami semua. Sekarang, rumah ini seperti mencerminkan jiwa Fajar: kosong, rusak, dan terbengkalai.
"Aku akan bawa Ibu pindah ke rumahku secara permanen," kataku dingin setelah berhasil meredam emosi. "Dan rumah ini akan aku kunci. Kamu silakan cari tempat tinggal sendiri dengan gaji yang habis buat pacarmu itu. Lihat, apakah pacarmu mau menampungmu di kamarnya saat kamu bahkan nggak punya uang buat bayar kontrakan?"
Fajar menatapku dengan tatapan tak percaya. "Mbak tega? Aku kan adik Mbak sendiri."
"Kamu yang tega, Jar. Kamu tega sama Ayah yang sudah bangun rumah ini. Kamu tega sama Ibu yang selalu mendoakanmu tapi malah kamu bohongi terus. Kamu tega sama dirimu sendiri karena memilih jadi pecundang demi cinta yang nggak masuk akal."
Aku melangkah keluar dari pintu depan yang engselnya sudah berderit karat. Aku tidak akan menoleh lagi. Biarlah dia merasakan bagaimana rasanya menjadi dewasa tanpa perlindungan yang selama ini dia sia-siakan. Saat aku mengunci pagar besi yang sudah kusam itu, aku melihat Fajar berdiri di ambang pintu yang gelap. Tanpa listrik, rumah itu tampak seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa saja di dalamnya.
Di dalam mobil, aku menangis sejadi-jadinya. Bukan karena marah, tapi karena sedih melihat bagaimana seorang anak laki-laki yang dulu begitu kami manja, kini tumbuh menjadi orang asing yang tak tahu cara berterima kasih. Aku menyalakan mesin, meninggalkan rumah yang kini tinggal kenangan, sambil berharap suatu saat nanti, Fajar akan menyadari bahwa cinta yang paling tulus tidak menuntut skincare atau makan mewah, melainkan sebuah tanggung jawab untuk menjaga tempatnya pulang.
Namun untuk saat ini, rumah itu tetap akan gelap. Segelap nurani yang telah lama mati di balik tumpukan tagihan dan janji-janji palsu seorang lelaki yang tak punya apa-apa selain gengsi.