"Aku hanya ingin kamu menjadi jauh lebih baik, itu saja."
Aku menatap matanya, dia masih tidak mau melihatku.
"Caraku mencintaimu mungkin berbeda, tapi percayalah, aku tidak ingin yang lain."
Sayangku akhirnya menatapku, tanpa bicara.
"Semua orang mengatakan kau jelek, buruk rupa bagai itik, tubuhmu pun tidak luput dari hinaan, karena lemak-lemak itu, aku tidak masalah, lalu kenapa kau masalah dengan caraku, mencintaimu?" perkataan yang tidak pernah dia balas.
"Buka matamu, lihat ini!" Aku menyodorkan kaca padanya.
Dia mulai tersenyum.
"Lihat, kau bahagia bukan? kita hanya perlu menjahitnya, setelah itu beres." kau mengangguk, ku artikan setuju.
"Aku singkirkan pisau bedah ini dulu, setelahnya baru kita jahit satu persatu bagian, dimulai dari wajah, lalu lengan, perut dan kaki, setelahnya aku janji, kau akan bahagia dengan dirimu yang baru." Kau mengangguk lagi, saat aku berdiri mendorong rak tempat pisau bedah, tiba-tiba kau berteriak.
"Ssstt, sayang dengar aku, dengar aku, kau tidak akan seperti mereka, itu karena mereka tidak kuat menahan sakit, kau lebih kuat dari mereka, percaya padaku." Aku memeluknya, sepertinya dia mulai tenang.
Seharusnya ku singkirkan tumpukan itu, kasihan kekasihku, dia melihat hal mengerikan, tapi bukankah cinta itu menerima apa adanya?