Seorang gadis mengayuh sepedanya menelusuri jalan beraspal yang jauh dari keramaian kota. Keranjangnya penuh dengan seikat mawar merah yang dikelilingi bunga baby breath putih yang cantik. Dress putih selutut, dengan flatshoes senada sangat cocok dengan gayanya yang feminin. Rambut panjangnya dibiarkan terurai begitu saja. Dia terlihat sangat cantik.
Tiba di sebuah pintu gerbang, gadis itu menghentikan laju sepedanya dan menyandarkannya di bawah pohon kamboja. Ia melangkah memasuki area pemakaman dengan senyum tipis dan tatapan lurus ke depan.
Sesekali ia juga menciumi seikat bunga yang digeggamnya tepat di depan dada. Langkahnya yang pelan dan tenang, menunjukkan dirinya tak takut berada seorang diri di antara ribuan barisan makam.
Ia berhenti di salahsatu makam menatap batu nisan itu dan berkata, "Aku datang ," ia kembali tersenyum.
~~
#Satu setengah tahun yang lalu
Seorang gadis sudah tak tahan dengan Bully yang ia terima dari beberapa teman sekelasnya. Awalnya ia tak membebani diri dengan tindakan konyol teman-temannya. Tapi semakin hari, kekonyolan itu berubah menjadi kesemena-menaan bahkan tindakan kasar.
"Hiks ... hiks ...." Gadis itu menangis sesenggukan, sembari terus berjalan menuntun sepedanya dengan kedua ban yang kempis.
"Kenapa mereka membenciku? padahal aku tak pernah berbuat salah. Hiks ... hiks ...." Wajahnya mulai menampakkan kesedihan dan kekecewaan.
Gadis itu kemudian duduk di sebuat kursi taman. Ia menyandarkan dirinya dan menarik nafas dalam-dalam. Diambilnya botol air mineral dalam ransel navy miliknya.
"Gluk... gluk... gluk." dengan cepat ia meminum sisa air di botolnya.
Sesekali tatapannya terlihat kosong, merenung dan ketika sadar air matanya telah jatuh lagi. Ia menyadari ada sosok anak laki-laki yang terus memperhatikannya dari bawah pohon Tabebuya, yang tidak jauh dari kursi tempatnya duduk.
"Hei!" ia memanggil anak lelaki itu, namun tak diresponnya.
"Hei, kau!" Kali ini dia berkata dengan nada lebih tinggi.
Anak laki-laki itu kebingungan dan mulai melihat sekeliling. Namun ia tak melihat ada orang lain selain mereka berdua.
"Kau berbicara padaku?" kata lelaki itu seraya mengarahkan telunjuk pada dirinya sendiri.
"Ya, aku berbicara padamu. Kenapa kau menatapku dari tadi?" Gadis itu mengerutkan keningnya.
"Kau melihatku disana?" Pemuda itu berjalan mendekat sembari menunjuk pohon tempatnya bersandar. "Dari tadi?" imbuhnya.
"Ya. Apa kau juga sedih? Kenapa kau melarikan diri ke taman ini sepertiku?" Gadis itu lalu menundukkan pandangannya.
"Gadis manis, apa kau sungguh sedih? Kau boleh bercerita padaku kalau kau mau," kata anak lelaki itu berusaha menggodanya.
"Kamu mau mendengarnya?" tanya gadis itu sambil menatap ke arah sisi laki-laki disampingnya.
"Tentu saja, Christine Paulina." Anak laki-laki itu membaca nama Christine di seragam sekolah yg dikenakannya.
"Panggil aku Christine saja, kakak kelas Alex . Kamu kakak kelasku kan? Seragam kita sama tapi kau terlihat lebih tua dari ku." Cristine tersenyum sambil menunjuk seragam yg dipakai pemuda itu. Alex membalas senyum Cristine.
Christine mulai menceritakan beban yang dia alami. Mulai dari kematian sang Ibu yang menyebabkan ayahnya menikah lagi, kemudian mereka bertiga kembali ke kampung halaman sang Ayah di kota tempat sekarang mereka tinggal. Ayah Christine mendaftarkannya ke sekolah baru di kota ini. Namun Christine justru mendapat perlakuan buruk dari beberapa teman sekelasnya, dan itu sudah berlangsung hampir sebulan sejak kepindahannya.
Awalya mereka hanya bertindak konyol seperti meyembunyikan tas, namun semakin lama mereka semakin bertindak semena-mena. Bahkan memerintahkan Christine melakukan hal-hal aneh dan memalukan di kelasnya.
Christine mengatakan, dia pernah melawan tindakan teman-temannya itu. Namun mereka malah semakin nekat dengan menyeretnya ke kamar mandi dan menyiram tubuh Cristine, kemudian membuka paksa baju atasannya dan membuangnya ke tempat sampah. Beruntung saat itu ada anak yang mendengar tangisannya dan membantu Christine menemukan seragamnya.
Mendengar cerita Christine, Alex menatapnya iba, ia meraih tangan Christine untuk menguatkan hatinya.
"Kamu tau Christine, banyak keburukan yang bertahan lebih lama sebelum kebaikan datang. Tapi selama apapun keburukan itu bertahan, tetap akan ada kebaikan setelahnya dan saat itulah semua manusia yang baik akan bahagia," ucap Alex sambil menatap mata Christine.
"Kamu ditindas oleh mereka karena mereka melihatmu lemah. Percuma jika melawan, tapi pada akhirnya kamu tetap menunjukkan kelemahanmu." Alex merapikan kerah baju Christine yang tampak tidak tegak.
"Kamu boleh saja melawan mereka, tapi jangan sampai membalasnya dengan cara yang sama. Jika tidak, kamu tak akan ada bedanya dengan anak-anak nakal itu. Kamu memiliki mata yang tajam. Cukup gunakan tatapanmu yang sangat mematikan itu dan abaikan mereka. Jangan sampai emosimu terpancing. Karena semakin emosi, kamu akan semakin terlihat lemah dimata mereka." Pemuda itu menjelaskan dengan sangat rinci.
"Apa iya aku bisa seperti itu ?" Christine tak yakin dirinya bisa berubah seperti yang Alex maksud.
"Tentu saja bisa! Asalkan kamu bangkit dari kesedihanmu. Jangan biarkan kesedihan itu menenggelamkanmu, dan menjadikanmu orang yang palsu. Sesekali kamu juga perlu meninggikan suaramu pada mereka. Tapi untuk menghadapi anak-anak nakal seperti mereka, kamu harus bisa mengontrol emosimu. Marah tentu boleh, tapi gunakan cara yang elegan. Tunjukkan bahwa kamu tak pantas ditindas. Memang apa salahmu sehingga mereka pantas melakukan itu? Dan satu lagi, jangan tutupi kecantikanmu dengan wajah murungmu itu. Ayolah kau sangat cantik jika kau memperhatikan penampilanmu sedikit saja. Mereka akan memperhatikanmu dan jangan sia-siakan mata yang tajam itu." Alex menyipitkan matanya dan mendekatkan wajah ke arah Christine.
"Oke kakak Alex, aku akan mencoba. Aku akan buktikan padamu bahwa aku tak pantas untuk ditindas." Christine mengepalkan tangan dan mengangkatnya hingga setengah kepala tanda ia semangat dan optimis.
Mendengar itu Alex mengacak-acak rambut Christine dan mereka tertawa bersama.
~~
Keesokan harinya, Christine benar benar berubah. Mulai dari penampilannya yang biasanya lusuh dengan rambut dikuncir rendah, terlihat tak bersemangat dan lemah. Kini Christine berubah menjadi lebih rapi dan modis.
Rambut panjangnya yang berwarna brunnette dibiarkan tergerai begitu saja. Pandangan tajamnya menyorot lurus kedepan, dipadu dengan senyum tipis dan sinis membuat gadis itu sangat berbeda 180 derajat dari Christine sebelumnya.
Christine mulai memasuki kelasnya di ruang 11 IPA 5 dan duduk di bangkunya. Semua yang ada di sana menatap ke arah Christine, bahkan mereka ada yang bertanya.
"Apa kamu benar-benar Christine," tanya salah satu temannya. Christine hanya tersenyum dan mengangguk.
Tak berapa lama, teman Christine yaitu Ersa, Ony dan Shasya yang biasa membullynya dan langsung menggebrak meja Christine. Christine menanggapinya dengan santai bahkan tak mengeluarkan kata sedikitpun.
Ia justru menyalakan headset dan memakainya. Geram melihat pengabaian dari Cristine, Ersa menarik headset Christine hingga terlepas
"Udah berani sekarang ya!" Teriak Ersa mengagetkan seluruh siswa di kelas. Kini kedua gadis itu saling beradu pandang.
Christine menancapkan pandangannya yang tajam. Ia mengangkat tangan kirinya sehingga jam tangan miliknya menghadap tepat di depan mata Ersa. Telunjuk tangan kanannya menunjuk kepala jam yang melingkari sebelah kiri pergelangan tangannya itu. Lalu menghitung mundur.
" 3, 2, 1,"
KRING ....
Tiba-Tiba bel berbunyi.
"Apa kalian akan berdiri disitu sampai jam pelajaran selesai?" jawab Christine dengan pertanyaan dan pandangan yang mematikan. Akhirnya mereka bertiga kembali ke bangkunya dengan jengkel.
Chtistine melihat Alex yang tersenyum padanya dari balik kaca jendela. Ia mengangkat jempolnya tanda berhasil.
~~
Di hari yang berbeda, Alex tersenyum saat memperhatikan Christine tidak lemah lagi ketika mendapat penindasan. Bahkan Christine berani membalas perbuatan mereka, tentu saja dengan cara yang elegan seperti saran Alex. Ia melihat Christine yang sekarang jauh lebih baik.
Sementata itu Chtistine melihat punggung Alex, ia berjalan diantara kerumunan para siswa. Christine kemudian mengejar dan mendapati Alex berdiri sendiri di belakang gedung sekolah.
"Kak Alex ...." Christine mendekat.
"Christine, kamu?" Alex terkejut melihat Christine mengikutinya.
"Iya, Tadi aku lihat Kakak. Jadi aku ngejar Kakak deh. makasih ya Kak untuk sarannya, aku bisa berubah seperti ini semua karena Kakak sudah menyadarkan aku," ucap Christine.
"Iya gak papa kok, aku bangga loh lihat kamu tadi membuat mereka jadi keliatan bego sendiri." Alex mengangkat kedua jempolnya.
Mereka tertawa dan larut dalam kebersamaan. Hati Christine merasa hangat saat bersama Alex. Dia suka saat melihatnya berbicara, senyumnya yang manis, penampilannya yang rapi, semuanya tentang Alex membuat Christine jatuh hati.
Sejak awal bertemu sampai hari ini pun, setiap hari mereka bersama. Entah bertemu di sekolah, berangkat bersama, atau pulang sekolah bersama. Hal ini membuat perasaan Christine pada Alex semakin tumbuh subur.
~~
Cristine mengajak Alex melihat keindahan suasana pantai di malam hari. Mereka sengaja mencari tempat yang jauh dari keramaian karena ingin menikmati suasana bibir pantai yang benar-benar tenang.
"Kak Alex kok masih pakai seragam?" tanya Christine dengan kening yang mengerut.
"Iya, tadi masih ada kelas tambahan buat persiapan ujian masuk Universitas. Ya ... begitu." Alex gugup menjawab pertanyaan Christine.
"Tasnya kakak tinggalin di sekolah lagi?" tanya Christine lagi yang sudah hafal kebiasaan Alex.
Alex hanya tersipu. Senyumnya yang irit saja sudah membuat hati Cristine mencair.
"Kak Alex aneh deh, setiap mau berangkat sekolah atau pulang sekolah, gak pernah bawa tas." Cristine mengerutkan kening. "By the way, semangat ya Kak Alex, semoga berhasil masuk ke Universitas impian Kakak ya." Christine tersenyum, sembari mengangkat kedua tangannya yang mengepal menyemangati Alex.
Alex hanya menanggapi dengan senyum. Misterius, dia tak mengatakan apapun bahkan rautnya juga tidak seperti yang seharusnya terlihat.
"Emm, Aku punya sesuatu buat Kakak." Dialmbilnya sebuah kotak berwarna navy dan diberikannya pada Alex. "Selamat hari Valentine Kak Alex. Aku ... suka sama ... Kak Alex." Cristine menunduk, menyembunyikan sudut bibirnya yang terangkat malu.
"Suka sama aku?" Alex menunjuk dirinya sendiri dengan dahi mengkerut. Suaranya meninggi hingga membuat gadis dihadapannya kembali menegakkan wajah.
"Iya, aku suka sama Kakak. Meskipun kelihatannya terlalu aneh perempuan yang menyatakan perasaan terlebih dahulu, tapi aku gak peduli. Aku tetep suka sama Kak Alex." Ia kembali menundukkan pandangannya, tak berani menatap kedua mata Alex.
"Tidak! aku tidak seperti yang kamu lihat Christine," ucap Alex membuat Cristine terkejut.
"Tidak papa kak, Aku suka Kakak apa adanya. Walau Kakak tidak merasakan perasaan yang sama sepertiku, aku akan tetap suka Kakak." Christine mulai tersenyum pahit. Ia paham ini adalah penolakan. Tapi dirinya tak ingin secepat itu ditolak.
"Tetap tidak boleh. Kamu tidak boleh suka sama aku!" Alex marah dan membentak Christine.
Christine terkejut karena sikap Alex yang terlalu berlebihan. Bersamaan dengan itu suara kembang api di langit seirama hati Christine yang meledak.
Kini Christine hanya berusaha menahan genangan air di pelupuk matanya agar tak mengalir.
"Kak Alex bisa nolak aku tapi tidak harus dengan cara seperti ini." Air mata Christine mulai jatuh, ia sudah tak tahan lagi. "Aku berusaha mengumpulkan keberanian hanya untuk menyatakan kalau aku suka sama Kakak. Kakak tidak harus terima, tapi bukan berarti Kak Alex bisa marah seperti itu." Christine pergi meninggalkan Alex, dia tak ingin semakin terlihat buruk di depan laki-laki yang sudah menolak perasaannya.
"Christine! Christine!" teriak Alex memanggil-manggil Christine, namun ia sendiri tak berani untuk mengejarnya. Tubuhnya lemas dan raut wajahnya terlihat bahwa ia juga merasakan sakit hati yang Christine rasakan.
Ditempat lain, Cristine masih tetap berlari menjauhi kerumunan orang-orang. Gadis itu berusaha menjauh sejauh mungkin sampai netranya tak bisa melihat bayangan Alex. Matanya merah dan sembab. Ia tak tau bagaimana jika bertemu Alex di sekolah. Apa harus menjauhinya atau harus bertingkah seolah tak terjadi sesuatu.
Keesokan paginya, Christine kembali ke bibir pantai tempat ia menyatakan perasaannya pada Alex semalam. Dia menemukan kotak hadiah yang ia berikan semalam masih tergeletak disana. Bahkan Alex belum membukanya.
Melihat hadiah pemberiannya ditinggalkan bahkan tidak disentuh sedikitpun, Christine menjadi yakin ucapan Alex benar-benar serius. Akhirnya Christine pun bertekad akan menjauhi Alex mulai sekarang.
Hari-hari berikutnya Christine kembali merasakan kesepian. Kesepian yang teramat dalam dan berbeda dengan kesepian saat belum bertemu Alex.
Lama setelah pertemuannya dengan Alex, kini Christine tak lagi menjadi bahan bullyan temannya. Namun dia harus menguatkan hati untuk menjauhi orang yang telah menguatkannya selama ini. Christine benar-benar menjauhi laki-laki yang disukainya, bahkan saat ia melihat Alex memperhatikannya, Christine langsung membuang muka dan pergi meninggalkan Alex.
Begitupun Alex, sejak kejadian malam itu ia tak pernah datang untuk memberi penjelasan pada Christine. Ia hanya memperhatikan Christine dan menjaganya dari jauh. Sikap bisu Alex padanya, membuat Christine semakin yakin bahwa ia tak memiliki harapan lagi.
~~
3 bulan sejak kejadian menyakitkan itu, kekecewaan Christine berubah menjadi rasa penyesalan. Dia menyesal karena terlalu cepat menyatakan perasaannya, dia menyesal kenapa harus meninggalkan Alex dan menyalahkannya, dia menyesali kesalahan yang membuat mereka menjauh.
Christine memantapkan hati untuk menemui Alex dan meminta maaf padanya. Ia akan dengan lapang dada menerima dan menghormati keputusan Alex. Yang Christine harapkan sekarang, saat mendengar nama Alex ia tak ingin mengingat tentang kejadian malam valentine itu. Melainkan hanya sebuah hubungan manis yang tak memiliki nama untuk dirinya.
Hari ini Christine bergegas ke sekolah untuk menghadiri acara lepas pisah murid kelas 12. Dimana hari ini dan seterusnya akan menjadi hari perpisahan bagi Christine dan Alex. Ia membawa kado kecil yang pernah ia beri pada Alex namun ditiinggalkannya begitu saja di pantai. Christine menaiki taksi dan mampir di toko bunga untuk membeli buket.
Sesampainya di sekolah, acara telah dimulai dan Christine melihat semua calon alumni sudah memasuki ruangan. Semua wali murid turut serta di dalam ruangan tersebut, untuk ikut naik ke atas podium saat nama anak mereka dinobatkan sebagai pemilik nilai tertinggi.
Sementara itu Christine menunggu seorang diri di luar ruangan. Gadis itu sangat gelisah dan terus melirik jam tangannya. Dia benar-benar telah menunggu hingga berjam-jam sampai acara selesai.
Ketika acara selesai, Christine mulai memperhatikan orang-orang yang keluar melewati pintu keluar tunggal. Pandangannya tak melewatkan satu orang pun. Sangat-sangat lama. Hingga orang terakhir muncul, Alex belum juga terlihat. Dia sempat berpikir melewatkannya, tapi dia juga sangat yakin bahwa tak melewatkan satu orang pun.
Untuk mengakhiri kegundahannya, Christine menghampiri seorang guru dan bertanya. "Pak, maaf mengganggu. Apa tadi semua murid kelas 12 hadir? Apa tidak ada satupun yang absen tidak masuk?" Christine bertanya dengan raut yang harap-harap cemas
"Ya, tentu saja. Semuanya hadir tadi. Tidak ada yang tidak masuk," kata Pak Jo, salah seorang guru yang ada di acara tersebut.
"Kalau begitu, apa siswa yang bernama Alex juga hadir disini tadi pak?" Christine bertanya lagi, berharap bahwa akan ada jawaban terbaik yang dapat menenangkan hatinya.
"Alex? Alex yang mana?" Pak Jo bertanya dengan ekspresi kebingungan.
"Alex Fernando, namanya Alex Fernando, Pak." Pak Jo seketika terdiam dan matanya membulat ketika nama Alex disebut.
Tanpa banyak kata, Pak Jo membawa Christine masuk ke ruang kantor sekolah. Setelah beberapa saat Christine keluar dengan tatapan mata kosong. Tangannya menggenggam secarik kertas. Ia segera berlari keluar sekolah dan menunggu Taxi tepat di depan pintu gerbang sekolahnya. Christine kemudian menunjukkan alamat dalam secarik kertas tersebut kepada si sopir.
Beberarapa saat kemudiaan Christine sampai disebuah rumah mewah bergaya modern. Ia dipersilahkan masuk oleh si penjaga rumah.
Cristine menunggu diluar pintu, hingga seorang wanita berusia 40 tahunan mempersilahkannya masuk.
Didalam rumah tersebut, Christine melihat Beberapa foto tampan Alex yang berjajar rapi di dinding. Beberapa foto juga memperlihatkan Alex sedang berpose dengan mendali emas dilehernya dan beberapa foto saat ia mendapat piala. Saat itu pula Christine tahu, bahwa Alex murid yang sangat berprestasi.
"Mari duduk," ucap wanita itu mempersilahkan Christine. "Kalau boleh tau, adik ini siapa dan mencari siapa kemari?" dia memulai percakapan serius dengan Christine.
"Saya Christine, saya teman kakak Alex. Pak Guru Jo memberitahu kebenaran tentang kak Alex. Tapi saya tidak percaya dan saya meminta alamat rumah ini pada Pak Jo. Tante, saya ingin tahu dimana kakak Alex sekarang." Bibir Christine bergetar dan matanya berkaca-kaca.
Wanita itu terkejut ada seorang gadis menanyakan dimana putranya setelah sekian lama.
"Christine, kenapa kau mencari Alex?" tanya wanita itu sambil berlinang air mata.
"Karena saya mencintai kak Alex. Tante, bawa saya menemui kakak Alex." Christine memohon pada wanita itu.
Tak berapa lama wanita itu membawa Christine
menuju tempat dimana Alex berada sekarang. Tak
ada percakapan apapun diantara mereka berdua
selama dalam perjalanan. Yang ada hanyalah tatapan sendu Christine yang terus menatap lurus kedepan. Mereka berhenti tepat di sebuah pintu gerbang besar berwarna hitam yang dibiarkan terbuka begitu saja.
Wanita itu yang merupakan ibu Alex berjalan didepan Christine. Ia dengan sangat bersedia mengantar Christine ke tempat Alex berada sekarang. Christine masih membawa buket bunga yang ia beli tadi pagi, begitupun kotak kado kecil yg pernah ia beri pada Alex sebelumnya.
"Christine, disini Alex sekarang tinggal." Wanita itu berhenti di salah satu makam.
DEG!
Detak jantung Christhine seperti berhenti berdetak. Tubuhnya seketika lemas dan terhempas ke tanah. Begitu pun dengan bunga yang dibawanya ikut terlepas dari genggaman tangan Christine.
Melihat nama Alex yang terukir pada nisan, ia merasa seketika hatinya hancur. Rahangnya terasa sakit ingin berteriak namun tetap ia tahan. Air matanya tak dapat terbendung lagi. Christine mendekatkan tubuhnya dan memeluk tanah makam Alex.
Gadis itu menangis sejadi-jadinya seraya tak henti menyebut nama Alex. Ibu Alex memeluk Christine dan mencoba menenangkannya. Christine berkali kali menciumi nisan Alex dan tak henti menyebutkan namanya. Ibu Alex sangat terpukul melihat Christine yang begitu kehilangan.
"Kak Alex!" Cristine berteriak karna tak tahan lagi menahan sakit di hatinya.
Ia tak bisa berhenti menangis. Hatinya terlalu sakit. Bahkan tak hanya sakit, kini rindu yang ia rasakan tak akan pernah berujung.
"Christine, Christine harus kuat sayang ya. Alex sudah bahagia disana. Christine harus mengikhlaskan Alex ya." Ibu Alex tak melepaskan pelukannya dari tubuh Cristine.
Christine tak bisa berhenti menangis, ia tak percaya pada apa yang telah terjadi. Tapi inilah kenyataan!
Alex Telah meninggal dalam kecelakaan maut yang dialaminya ketika hendak pergi ke sekolah. Peristiwa itu terjadi 1 bulan sebelum Christine pindah ke sekolah barunya, yang lalu membawanya bertemu sosok arwah Alex.
Perlahan Christine sudah bisa mengendalikan emosinya. Dia meminta waktu untuk sendiri di sebelah makam lelaki yang sangat dicintainya itu. Saat itu Ibu Alex pergi meninggalkan Christine dan menunggunya tepat di depan gerbang pemakaman.
"Kak Alex, maafin aku. Aku sekarang paham kenapa waktu itu Kak Alex melarangku untuk suka sama Kakak. Kakak tidak ingin aku semakin kecewa, karena Kakak tau kita tidak bisa bersama, kan?" Christine memeluk nisan Alex sambil terus menciumnya.
"Harusnya saat itu aku mendengarkan penjelasan Kakak, bukan malah pergi meninggalkan Kakak sendiri. Aku kesini untuk meminta maaf, maaf yang sebesar-besarnya karna aku sudah merusak pertemanan kita," ucap Christine yang tak bisa menahan tangisnya.
Ia mengambil buketnya yang terjatuh dan meletakkan di atas makan Alex.
"Selamat hari kelulusan kak Alex. Terimakasih karna telah membawa perubahan dalam hidupku. Kakak sudah mengajarkanku untuk tidak merendahkan orang lain bahkan saat aku sendiri direndahkan. Kak Alex juga mengajarkanku untuk bisa menghadapi masalahku selama ini. Karena Kak Alex aku akhirnya terbebas dari belenggu kesedihan dan karena Kakak juga sekarang aku kembali ke dalam belenggu itu. Kak Alex, kau akan menjadi kenangan paling indah selama perjalanan hidupku. Walau kita berbeda alam, aku akan mencintaimu dalam hatiku selamanya."
Christine membuka kotak kado kecil yg dibawanya. Ia mengeluarkan sebuah gelang couple yang dulu pernah diberinya pada Alex. Dia meletakkan gelang tersebut di atas makam Alex.
Christine Mencium nisan alex dalam waktu yang sangat lama. Dia berdiri, menatap nanar kearah nisan yang berukirkan nama laki-laki yang dicintainya. Kemudian dengan langkah yang berat ia meninggalkan makan Alex. Didepan gerbang Ibu Alex menunggunya dengan pelukan hangat yang siap mendekap tubuh Christine.
Sejak saat itu, Christine tak pernah lagi melihat arwah Alex seperti sebelumnya. Muncul rasa kehilangan dan kesepian yang teramat dalam hatinya. Setiap hari Christine selalu pergi membawakan seikat bunga mawar untuk diletakkannya di makam laki-laki yang dicintainya itu. Kini Makam Alex dipenuni puluhan bahkan ratusan mawar. Christine berharap dia bisa bertemu Alex lagi.
~~
Sudah 1 tahun lamanya Setiap hari Christine selalu datang dan membawa bunga untuk ia letakkan di makan Alex. Begitupun hari ini, Dia datang lagi dengan seikat bunga Mawar merah yang dikelilingi bunga Baby Breath putih yang cantik.
"Aku datang." Christine tersenyum
Ia duduk bersimpuh dan tak khawatir dress putihnya akan kotor. Ia meletakkan bunga yang dibawanya tadi diantara ratusan ikat bunga yang memenuhi makam Alex.
"Kak Alex, aku datang untuk berpamitan padamu. Aku akan melanjutkan study-ku di luar negeri. Siang nanti aku akan pergi. Aku sedih karena akhirnya aku harus benar-benar berpisah denganmu," ucap Christine seraya mengelus nisan Alex.
"Kak Alex, aku berjanji saat aku kembali aku akan membawakan lebih banyak lagi bunga untukmu, dan doaku akan selalu menemanimu. Kak Alex Andai waktu bisa kembali, aku ingin bertemu denganmu lebih awal. Aku ingin kau mencintaiku sama seperti aku yang mencintaimu." Christine tak sadar ia meneteskan air matanya
Christine memejamkan matanya dan mencium nisan Alex, tapi ia merasa seperti ada sesuatu yang lembut dan dingin menyentuh raganya.
Perlahan Christine membuka matanya, ia terkejut melihat sosok arwah Alex yang mencium keningnya. Christine kembali memejamkan matanya. Ia ingin merasakan kasih sayang Alex untuk sekejap saja. Namun tangan dingin Alex menyentuh pipi Christine yang masih terus memejamkan mata.
"Christine bukalah matamu." Alex tersenyum manis. Wajahnya selalu tampan meskipun terlihat pucat. Christine rindu dengan wajah itu.
"Kak Alex!" Christine menangis dan memeluk tubuh Alex yang terasa dingin. Alex membalas dengan melingkarkan tangannya di bahu Christine.
"Christine, jika saja aku masih hidup. Aku akan sangat bahagia memiliki kekasih sepertimu, yang sangat mencintaiku," ucap Alex seraya membelai rambut Christine.
"Kau akan selalu menjadi kenangan yang paling indah kak Alex. Meskipun suatu saat nanti aku mungkin bertemu orang lain. Tapi aku akan tetap mencintaimu selamanya. Dalam hatiku kamu tak akan pernah terlupakan." Christine mengeratkan pelukannya sembari menatap mata Alex.
"Kau harus melanjutkan hidupmu. Hiduplah dengan bahagia. Ingat pesanku jangan merendahkan orang lain sekalipun kau juga direndahkan saat itu. Jadilah Christine-ku yang baik." Perlahan Alex melepaskan pelukan Cristine. Arwah pemuda itu berdiri dan melangkah kebelakang secara perlahan. "Selamat tinggal Chtistine." Alex tersenyum dan melambaikan tangannya.
Christine segera berdiri dan berusaha menggapai tubuh Alex, namun tak bisa. Ia mendekatkan tangannya pada wajah Alex walau sebenarnya sudah tak bisa merasakan apa-apa. Bayangan tubuh Alex perlahan memudar, hingga akhirnya benar-benar hilang dari hadapan Christine.
Mungkin inilah akhir dari sebuah penantian dan menjadi awal dari perpisahan Christine dan Alex.
Walau begitu, kehadiran Alex telah memberi warna dalam hidupnya. Kebahagiaan, perjuangan, cinta, air mata, dan penantian. Meski keberadaan Alex tak nyata bagi dunia, namun cinta Christine untuknya akan tetap selalu menjadi kenyataan terindah yang telah terukir dalam hati dan jiwanya.
~CHRISTINE AND ALEX~
-TAMAT-