Krriiingg...
Suara bel berbunyi di halaman sekolah tanda siswa akan masuk kelas, sebentar lagi pintu gerbang akan ditutup oleh satpam sekolah. Aku melirik arlojiku berulang kali dan mempercepat langkah kakiku, berharap hari ini tidak terlambat masuk kelas. Seorang siswa bertubuh tinggi besar dengan tatapan tajam berjalan beriringan denganku. Sosok itu adalah Keenan Alfian, salah satu atlet ternama di sekolah SMA Ganesha ini. Sontak aku terkejut lalu melemparkan senyuman tipis padanya tanda menyapa, ia tak merespon apapun dan mempercepat langkahnya.
“Hihh cuek banget si, dasar cowok anehh” umpatku dalam hati sambil melihat punggung laki-laki itu yang mulai menjauh.
Aku tak menghiraukan kejadian tersebut dan berjalan menuju kelas dengan cepat. Jam pelajaranpun dimulai, mendengarkan penjelasan dari ibu guru yang seperti bercerita itu sungguh membuatku bosan, ditambah lagi mood hari ini sedang tidak baik-baik saja karena laki-laki cuek itu. Aku merasa bosan karena pelajaran yang diajarkan ibu guru di kelas adalah pelajaran yang menjadi makananku sehari-hari menjelang olimpiade tingkat Internasional, seluruh materinya masih teringat dengan sangat jelas dalam ingatanku, itu sebabnya terkadang aku merasa bosan mendengar penjelasan dari ibu guru, rasanya ingin cepat-cepat pulang saja.
***
Waktu istirahat telah tiba, aku bergegas pergi melangkahkan kaki ke perpustakaan. Bagiku perpustakaan sekolah adalah surga, di antara deretan rak buku yang penuh debu, aku menemukan kedamaian dan pelarian dari riuhnya ruang kelas. Di sanalah aku biasa menghabiskan waktu membaca novel-novel favoritku. Hari sudah senja, ketenanganku teralihkan oleh suara langkah kaki yang berasal dari luar ruangan. Sosok laki-laki dengan seragam basket yang lusuh masuk ke perpustakaan. Laki-laki cuek yang aku lihat tadi pagi, Keenan Alfian.
“Permisi, boleh minta tolong?”tanya Keenan sambil mengucek rambutnya yang basah karena keringat.
Aku menoleh, sedikit terkejut. "Tentu, cari buku apa?"
Sambil tersenyum tipis ia menyebutkan judul buku yang ia cari. Aku dengan sedikit berat hati membantunya mencari buku tersebut dan menemukannya.
“Ini bukunya” aku menyerahkan buku yang di carinya.
“Terima kasih, Jihan” ucapnya dengan lembut
Aku terkejut mendengar ucapannya, ternyata dibalik sikapnya yang cuek itu juga bisa berkata dengan lembut ya, gumamku dalam hati.
***
Hari sudah semakin gelap, awan mendung mulai menyelimuti langit pertanda hujan akan turun, tak lama kemudian bel sekolah kembali berdering di halaman, aku melangkahkan kaki keluar kelas dengan bahagia menuju gerbang sekolah. Ditengah lapangan basket menuju gerbang sekolah hujan tiba-tiba turun dengan lebat, aku segera menepi, mencari tempat untuk berteduh.
“Huh, tiba-tiba hujannya begitu deras aku lupa membawa payung, bagaimana aku bisa pulang jika seperti ini?" gerutuku sembari menepis poni rambut yang basah karena kehujanan.
“Mau ku antarkan pulang?” tanya sosok laki-laki tinggi dengan seragam basketnya yang tak lain adalah Keenan.
Aku terdiam tak bisa berkata-kata. Sebelumnya aku tidak terlalu mengenal Keenan, tapi tawarannya barusan, mana mungkin aku menerimanya begitu saja. Bagaimana ini aku kebingungan untuk menjawabnya.
“Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku, karena kamu tadi sudah membantuku mencari buku di perpustakaan”, imbuh Keenan sambil menatapku, sepertinya laki-laki tersebut mencoba membaca isi pikiranku dengan membaca ekspresiku.
Aku mengangguk pelan, lalu ia mengeluarkan payung hitamnya dari tas ransel navynya, kemudian membukanya, memayungi kami berdua, dan berjalan menuju basement. Ia memberiku mantel untuk dikenakan dan mengantarku pulang ke rumah. Dari pertemuan singkat itu, kami lebih sering bertemu, tak terasa kami sudah berteman.
***
Belajar, mengerjakan tugas, berlatih soal-soal untuk persiapan olimpiade, semuanya selalu kami lakukan bersama-sama. Hari demi hari, kami menjadi semakin dekat. Aku membantu Keenan dalam belajarnya, sementara diwaktu senggang Keenan mengajakku menonton pertandingan basket. Perbedaan minat kami justru menjadi pelengkap. Perlahan-lahan aku mulai mengagumi sifat Keenan. Dibalik sifatnya yang cuek ternyata memiliki tutur katanya yang lembut, pengertian, pemikiran yang bijaksana, dan sealu sabar dalam menghadapi semua rintangan. Tidak tahu, apakah Keenan memiliki perasaan sepertiku juga ataukah tidak, aku ragu untuk mengungkapkan perasaanku.
***
Suatu hari setelah pertandingan basket yang dimenangkan oleh kenan, ia mengajakku berjalan-jalan di pinggir pantai. Dengan deburan ombak yang sayup-sayup menenang dan langit senja sebagai saksinya, Keenan memengang erat kedua tanganku, lalu berkata dengan pelan “Aku Keenan Alfian ingin mengungkapkan perasaan kepadamu Jihan Alana. Jihan, aku menyukaimu" ucap Keenan sambil menatapku. Kali ini tatapan matanya tampak teduh, tidak seperti sebelumnya yang selalu menatap dengan tajam.
Aku terkejut dan terdiam sejenak, ternyata Kenan juga menyukaiku, hatiku berdebar dengan kencang. "Aku juga menyukaimu, Keenan Alfian" jawabku dengan lembut.
Sungguh hal yang tak terduga, ternyata Keenan diam-diam juga menyukaiku, betapa bahagianya hari ini. Sejak hari itu hubungan kami menjadi semakin hangat. Kami menghabiskan banyak waktu bersama, saling mendukung mimpi dan cita-cita satu sama lain. Namun, hubungan kami tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya kami bertengkar karena perbedaan pendapat atau kesalahpahaman.
***
Suatu hari, aku memberanikan diri memperkenalkan Keenan kepada orang tuaku. Namun, kedua orang tuaku dengan keras dan disiplin tidak merestui hubungan kami. Alasannya karena Keenan bukanlah siswa yang pandai dibidang akademik sepertiku, selain itu orang tuaku juga memperingati Keenan untuk memutuskan hubungan dan menjauhiku karena aku akan dijodohkan dengan teman masa kecilku yang pandai dibidang akademik sama sepertiku, yaitu anak rekan kerja ayahku. Aku tau perjodohan itu hanyalah kesepakatan, agar bisnis ayahku dapat berjalan dengan lancar.
Aku sungguh kecewa dengan pilihan kedua orang tuaku, bagaimana mungkin mereka mengutamakan kepentingan pribadi mereka dengan alasan agar masa depanku terjamin. Aku menolak keinginan kedua orang tuaku, menjelaskan apa yang aku rasakan, namun tetap saja mereka bersikukuh untuk menjodohkanku. Mengetahui hal itu Keenan justru menengahi dan mematuhi peringatan kedua orang tuaku. Keenan lebih memilih merelakanku, ia tidak ingin melihat hubungan antara kedua orang tuaku menjadi renggang karena dirinya.
“Jihann mengertilah, sedari awal kita memang berbeda. Kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Patuh kepada orang tuamu yaa?, mereka hanya ingin yang terbaik untukmu Jihan, tidak bermaksud lain” ujar Keenan sambil mengusap air mataku yang berjatuhan.
Aku tidak bisa membantah keinginan kedua orang tuaku, namun aku juga tidak bisa melepaskan Keenan. “Tapi Keenan ini sulit bagiku” jawabku dengan tersedu-sedu.
Keenan memelukku dengan erat, menenangkan diriku yang sedang hancur dan kecewa. Ia mencoba menjelaskan dibalik keputusan kedua orang tuaku, membuatku menjadi paham mengenai kekhawatiran orang tuaku akan masa depanku. Namun Keenan mengatakan kamimasih bisa berteman seperti biasanya dan tidak ada yang berubah.
Meskipun sulit, kami saling berusaha belajar mengikhlaskan satu sama lain, berharap kami sama-sama menemukan pasangan yang jauh lebih baik lagi. Kami saling memberikan semangat dan dukungan untuk mencapai mimpi satu sama lain dan menjalani kehidupan masing-masing dengan baik.
***
Berakhir dengan damai, namun terkadang masih ada perasaan tidak rela yang selalu menghantui mereka. Begitulah akhir dari kisah Jihan Alana dan Keenan Alfian, melalui kisah mereka dapat dipetik makna dibaliknya, tahap mencintai seseprang adalah mengikhlaskannya meskipun tidak dapat dimiliki.