Kemana malaikat-malaikat itu pergi pada hari Sabtu, ketika kau tadi hujannya abu dan serbuk serbuk kimia yang menimbulkan asap radioaktif hitam serba jamur raksasa? Pertanyaan itu menggigil sunyi dalam keperihan hati perempuan itu, yang tak pernah lepas menetap runtuhan bangunan di kota kecil yang dipeluk sebatang pantai, lengkap dengan langit biru, ratusan camar, pantai putih, dan matahari merah tembaga. Rambut blonde perempuan itu berkibaran alat tiup angin senja yang mengabarkan berita dari negeri jauh. Jeritan handphone di sakunya membuyarkan lamunannya. " Aku pasti pulang, dad. Tapi tunggu dulu. Pemerintah di Negeri angin ini sedang melakukan pencaharian besar besaran mayat mayat yang tertimbun di reruntuhan bangunan. Doakan aku segera bisa menemukan mayat Kevin " ujar stevany, perempuan itu dengan gusar
Stefany menatap laut lepas, seolah memandah wajah ayahnya yang kini digulung kecemasan di Melbourne, menunggu kepastian mayat menantunya, Kevin. Ada rasa bersalah yang mendesak dada Stefany ketika ia ingat ucapan ayahnya, " untuk apa kalian honeymoon di pulau paredesi? Bukankah Melbourne juga punya banyak pantai yang indah? "
" honeymoon dirumah sendiri? Alangkah tidak romantis, dad. Kami butuh suasan eksotis, Dad. Dan di pulau paredesi kami bisa menemukan surga " ujar Stefany sambil memeluk Kevin.
" Dad, satu-satunya makhluk yang tidak dapat dibunuh adalah kenangan. Dan, perkawinan tidak indah tanpa kenangan " Kevin menimpali
" ah... seperti penyair romantik di abad pertengahan...h berangkat lah kalian. Semoga benar-benar menemukan surga " ayah stefany tertawa, membuat gelambir di lehernya terguncang-guncang
Dada Stephanie terguncang ketika tiba-tiba ada orang yang menyebut namanya
" Hey.... Ibrahim. Bagaimana kamu bisa menemukan ku disini? "
" Diam diam aku selalu mengikuti kamu. Aku cuma cemas aja.... "
"Bagaimana perkembangannya? "
" Alhamdulillah. Tim evakuasi mayat telah menemukan mayat Kevin "
Mata Stephanie mendadak berbinar seiring dengan senyumnya yang mekar. Ia yang telah dikenalnya selama seminggu itu, karena ia menginap di hotel tempat Ibrahim bekerja. Namun, Stefany segera melepaskan. Ia merasa kecanggungan menyergap Ibrahim.
" Ibrahim, Kalau malaikat malaikat itu tidak libur di hari Sabtu, pasti ledakan bom itu tak akan terjadi. Dan, Kevin serta ratusan orang lainnya tidak mati... " mata Stefany sembab. Pandangan matanya mengirimkan pukulan pukulan keras di rongga dada Ibrahim.
" Barangkali benar, malaikat-malaikat itu sedang tidak ada di sini, Stefany. Atau iblis bergerak lebih cepat meledakkan bom. Ah, aku tidak tahu, Stefany. Bisa semua ini takdir... " ujar Ibrahim Sambil memancal pedal gas. Mobil berjalan sangat cepat, meninggalkan runtuhan bangunan, meninggalkan aroma mayat.
" Takdir? ini politik para monster dan gangster, Ibrahim " isak tangis Stefany meleda, " kenapa dalam soal beginian malaikat-malaikat itu tidak campur tangan menyelamatkan mereka yang tidak berdosa. Ya .Setidaknya tidaknya Tuhan kan bisa mengutus mereka untuk... "
Mobil Ibrahim terus melesat. Ketika melewati tikungan tajam, mau beli itu sedikit oleng. Tubuh Ibrahim dan Stefany terguncang.
" Ibrahim, atas nama kepentingan politik maut bisa di pesan kepada siapa saja " Stefany menarik napas dalam-dalam ketika mobil kembali tenang
Mobil menyibak kerumunan orang-orang dan para wartawan. Berbagai perasaan yang campur aduk mendorong Ibrahim dan Stefany bergegas memasuki rumah sakit, menyusuri lorong-lorong, berpapasan dengan ledakan-ledakan tangis, berpapasan dengan kecemasan, sumpah serapah, game kutukan.
Mayat mayat itu menghitam serupa arang dalam kantong-kantong plastik. Stefany menjerit histeris ketika melihat tubuh orang Kevin. Ia peluk mayat orang itu kuat-kuat dalam ledakan tangis yang menyayat. Ibrahim mencoba menenangkan Stefany. Tapi, kedukaan yang jauh lebih kuat dari kesadaran membuat Stefany makin meronta.
" Kalian telah membunuh cinta kami! " jerit Stefany. orang-orang, mungkin keluarga korban, memandang Stefany. Empat satpam rumah sakit bergegas menguasai keadaan dengan memaksa Stefany meninggalkan ruangan yang penuh aroma mayat. Stefany memberikan perlawanan sekuatnya. Tapi, empat satpam bertubuh gagah itu dengan cepat berhasil menyeret Stefany.
Stefany masih mencium keringat Kevin yang melekat di jaket jeans Kevin yang terus dikenakannya saat ia hidup. Keringat itu masih menyimpan gairah asmara. Ketika bulan tersepuh perak menebarkan candu asmara di kota paredesi, gejolak Kevin untuk mengarungi setiap jengkal tubuh Stefany tengah menggeledak. Dirasuki serupa berahi remaja, Kevin bergairah menebarkan jala, meringkus Stefany dalam dekapan kehangatan. Udara sejuk paradesi membimbing mereka menjadi remaja yang belajar mengenai lautan asmara. Sentuhan Kevin adalah sentuhan laki laki pertama bagi stefany. Senyum stefany mengembang. Ia teringat pengalaman pertama kencan dengan Kevin di Melbourne.
" Kevin, aku ingin menjadi jelmaan juliet, yang tetap mempertahankan laut yang perawan. Barangkali kamu geli mendengarnya. Tapi, tidak ada salahnya aku memuja kesucian. Kuharap kamu tidak menganggapnya non sense, meskipun aku rela kamu anggap kolot " Bisik Stefany dalam pelukan Kevin ditengah udara Melbourne yang diingin menusuk, beberap bulan sebelum mereka menikah.
Kevin melonggarkan pelukannya. Menatap bulan yang mengerjap seolah mengejeknya sebagai laki laki yang tidak sabar. " Barangkali Shakespeare sedang mabuk waktu menulis lakon yang memuliakan kesucian cinta itu. Bukankah kehidupan Shakespeare sendiri Zigzag dari pelukan perempuan ke pelukan perempuan yang lain ? Stefany, Tak baik terlalu mempercayai seniman. Kadang kadang mereka memelihara jurang membentang antara kata dan tindakan " ujarnya
" Spekulasi pendapat mu tak akan menggugurkan ke percayaan pada cinta dan kesucian. Aku ingin kita memercayai kesucian, meskipun ia sudah jadi cemooh orang " Stefany kembali berbisik
" Tapi, usiamu sudah lebih dari 23 tahun, Stefany... "
" Kesucian tak mengenal usia, sayang. Kesucian hanya mengenal kesetiaan dan kesabaran.... aku ingin mengarungi semerbak wangi ranjang setelah pemberkatan Kevin ".
" Kenapa harus berangkat dari akar pemberkatan? kita bisa menciptakan semerbak ranjang setiap saat. Dengar stefany, kalau aku ingin memeluk dan merengkuh tubuhmu, itulah satu-satunya alasan agar aku yakin kamu hadir dalam denyut nadiku. Seluruh kata kata firasat yang mengilap tak lebih berarti dari kehangatan ranjang. Toh semuanya bermuara disana? Kita bercinta, maka kita ada? "
Stefany menatap mata Kevin yang tajam berkilat. Obrolan yang mengalir itu mampu membuka simpul simpul saraf, membangkitkan berbagai kelenjar dalam tubuhnya. Kini kanal kanal kelenjarnya itu begitu terbuka menciptakan arus aneh, yang ia sendiri tak mampu memberi nama, namun mampu merasakan kenikmatan yang jauh lebih dahsyat dari persetubuh
kelenjar-kelenjar gairah itu bangkit membadai ketika mereka mereguk pelayanan asmara di pulau paradesi. Mereka bergairah menciptakan malam malam pengantin yang tak mungkin menguap dari tabung ingatan. Setelah pelayaran ke dasar samudra itu, yang ia rasakan hanyalah matanya basah.
" Kamu bahagia stefany? "
" Bahagia. Sangat bahagia "
" Cepatlah bangun kevin. Toko toko cendera mata keburu di buru pembeli. Bukankah kamu mengalungkan manik manik permata di leher ku? "
" Berangkatlah dulu. Nanti ku susul. Aku masih mengantuk "
Stefany bergegas meninggalkan kamar hotel setelah meninggalkan kecupan di pipi kevin. Pagi itu ia akan memulai pertualangan baru. Ia sama sekali tak menyangka, hotel itu kemudian dihajar bom. Tubuh Kevin menjelma menjadi bayangan.
Sambil meremas remas kalung manik manik permata, Stefany menatap lekat lekat tubuh Kevin serupa arang dalam kantung plastik. Perempuan bertubuh semampai itu, dengan sepasang mata biru yang digayuti impian impian pengantin, Tak mampu lagi menangis. Seluruh kepedihannya telah mengristal menjadi kesunyian.
" Kalian bisa membunuh Kevin, tapi tak akan bisa membunuh kenangan Kami " Stefany membatin dalam deru suara pesawat terbang yang membawa mayat Kevin ke Melbourne. Ia melihat puluhan malaikat menjaga mayat Kevin. Mereka menebarkan senyum kepadanya. Stefany ingin bertanya, kemana kalian pergi pada hari Sabtu, ketika kota di hujani abu, asap kimia , debu radio aktif yang mencabut ratusan nyawa? kemana kalian ? Tapi, kerongkongannya terasa tersekat, pita suaranya terasa terlipat. Stefany hanya memandang malaikat malaikat dalam pesawat itu, lekat lekat.