Gerimis musim gugur membasahi pelataran perpustakaan tua di Shinjuku, Tokyo. Aisyah, dengan kerudung motif pucuak rabuang yang melilit rapi di kepalanya, buru-buru merapatkan jaketnya. Di tangannya tergenggam buku tebal tentang arsitektur pasca-gempa. Ia baru saja menyelesaikan studi masternya dan sedang menikmati minggu-minggu terakhirnya di Jepang sebelum kembali ke Ranah Minang.
Di sudut ruangan yang tenang, seorang pria sedang menekuni sketsa bangunan. Pria itu tampak elegan dengan kemeja flanel biru tua dan kacamata berbingkai tipis. Wajahnya bersih, kulitnya kencang, dan rambutnya hitam legam dengan potongan rapi, menyiratkan kedisiplinan tinggi. Aisyah memperkirakan usianya mungkin di awal tiga puluhan, seorang arsitek muda yang berdedikasi.
Takdir mempertemukan tatapan mereka saat Aisyah tak sengaja menjatuhkan bukunya. Pria itu dengan sigap berdiri dan mengambilkannya.
“Daijobu desu ka? (Apakah Anda baik-baik saja?)” tanyanya dengan suara bariton yang lembut namun penuh wibawa.
Aisyah sedikit tersentak mendengar bahasa Jepang yang begitu fasih dan sopan. “Hai, daijobu desu. Arigatou gozaimasu, (Ya, saya baik-baik saja. Terima kasih banyak,)” jawab Aisyah, sedikit gagap karena terpesona pada sorot matanya yang tajam namun menenangkan.
Pria itu adalah Kenjiro Sato. Pertemuan itu berlanjut dengan diskusi hangat tentang arsitektur kayu di Jepang dan Rumah Gadang di Sumatera Barat. Aisyah kagum pada pengetahuan Kenjiro, dan Kenjiro terpesona pada kecerdasan dan ketegasan gadis Minang itu. Cinta tumbuh di antara aroma kopi dan buku, di tengah hiruk pikuk Tokyo yang tak pernah tidur.
Namun, kejutan datang saat mereka harus mendaftarkan diri untuk sebuah seminar budaya. Saat melihat paspor Kenjiro, mata Aisyah membelalak. 1974. Tahun kelahirannya. Aisyah lahir tahun 2002.
Aisyah terdiam seribu bahasa. "Kenji... anata no nenrei wa... (Kenji... usiamu...)"
Kenjiro tersenyum tipis, sebuah senyum yang kini terlihat lebih bijaksana di mata Aisyah. "Honto no nenrei wa 52-sai desu. Odorokimashita ka? (Usia aslinya 52 tahun. Apakah kau terkejut?)"
Aisyah merenung lama di kamarnya malam itu. "52 tahun? Tapi dia terlihat seperti pria tiga puluhan awal! Bagaimana mungkin?" batinnya. Di Minangkabau, pria seusia itu sudah dianggap sesepuh, bahkan mungkin sudah memiliki cucu. Namun, Kenjiro memiliki energi, semangat, dan fisik yang jauh melampaui angka tersebut. Cinta yang sudah terlanjur mekar membuatnya memutuskan untuk tidak mundur. "Usia hanyalah angka, hatinyalah yang kucinta," bisiknya pada diri sendiri.
Tantangan sesungguhnya dimulai saat Aisyah harus pulang. Kenjiro, dengan keberanian seorang samurai modern, memutuskan untuk ikut ke Padang dan melamar Aisyah di tanah kelahirannya.
Setibanya di Bandara Internasional Minangkabau, Kenjiro disambut oleh udara lembap dan aroma rempah yang kuat. Ia mengenakan kemeja batik yang dibelikannya di Tokyo, mencoba beradaptasi. Aisyah membawanya ke rumah panggung kayu yang kokoh milik keluarganya di pinggiran kota. Di sana, Abah, seorang pemuka agama yang dihormati di kampungnya, sudah menunggu dengan tatapan menyelidik.
Suasana di ruang tamu sangat tegang. Abah duduk bersila di atas tikar pandan, didampingi Ambu (Ibu Aisyah) yang tampak cemas. Kenjiro duduk di hadapan mereka, berusaha menjaga punggungnya tetap tegak sempurna, sebuah kebiasaan disiplin Jepang yang kini diujinya di atas tikar pandan yang keras.
"Siapa pria asing ini, Aisyah? Dan apa maksudnya datang ke rumah kita?" tanya Abah dalam bahasa Minang yang tegas, nadanya dingin.
Aisyah menarik napas panjang. "Abah, Ambu, ini Kenjiro Sato. Dia datang dari Jepang untuk melamar Aisyah."
Abah mengerutkan kening. "Jepang? Agamanya apa? Adatnya bagaimana? Kita orang Minang, Aisyah. Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah."
Kenjiro, yang sudah belajar sedikit bahasa Indonesia, mencoba berbicara. "Abah... saya Kenjiro. Saya sudah memeluk Islam di Tokyo, sebelum ke sini. Saya hormat pada adat Abah."
"Itu bagus. Tapi ada satu hal lagi," Abah menatap tajam ke paspor Kenjiro yang diletakkan Aisyah di meja. "Usiamu, Kenjiro. Kau lebih tua dari paman Aisyah yang paling tua! Kau seusia denganku!"
"Abah, usia tidak penting bagi Aisyah. Kenji orangnya baik, jujur, dan dia sangat menjaga kesehatannya. Dia tidak seperti pria seusianya di sini," bela Aisyah, suaranya bergetar.
"Aisyah! Pernikahan itu bukan untuk sehari dua hari. Bagaimana jika nanti dia sakit-sakitan? Siapa yang akan menjagamu? Siapa yang akan menafkahimu? Pikirkan masa depanmu, Nak. Jangan turuti hawa nafsu sesaat," ujar Abah, nadanya meninggi.
Ambu mencoba menenangkan. "Abah, bertenanglah dulu. Kita dengarkan penjelasan Kenjiro."
Kenjiro, meski tidak mengerti setiap kata bahasa Minang, menangkap inti perdebatan dari nada suara dan ekspresi Abah. Ia kembali menegakkan punggungnya.
"Sumimasen, Abah-san," ujar Kenjiro, lalu beralih ke bahasa Indonesia yang terpatah-patah namun penuh kesungguhan. "Saya tahu saya tidak muda dalam angka. Di Jepang, kami panggil ini Koreisha (orang tua). Tapi, di negaraku, disiplin adalah kunci. Aku melatih tubuhku setiap hari, aku makan makanan sehat. Aku masih bekerja keras sebagai arsitek. Kekuatanku... belum habis."
Abah mendengus. "Bekerja keras di kantor bukan jaminan kau kuat di sini, di Ranah Minang. Di sini, pria harus bisa mancangkua (mencangkul), harus bisa melindungi keluarga dari marabahaya nyata."
"Aku siap belajar, Abah. Apa pun untuk Aisyah," jawab Kenjiro, matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.
Perjuangan mendapatkan restu itu berlangsung berhari-hari. Kenjiro tidak menyerah. Setiap pagi, ia pergi ke masjid bersama Abah untuk salat Subuh, belajar mengaji meski lidahnya kaku menyebut huruf-huruf hijaiyah. Di siang hari, ia ikut warga memperbaiki irigasi sawah. Warga desa awalnya mencibir "orang Jepang tua" itu, namun mereka terkejut melihat stamina Kenjiro. Ia bisa mengangkat batu-batu besar tanpa terlihat lelah, gerakannya efisien dan penuh perhitungan. Tubuhnya yang tampak ramping ternyata menyimpan kekuatan otot yang luar biasa, hasil dari bertahun-tahun latihan disiplin dan gaya hidup sehat.
Suatu sore, sebuah kejadian mengejutkan terjadi. Seekor kerbau mengamuk di dekat sawah tempat warga bekerja, mengancam anak-anak yang sedang bermain. Warga berlarian ketakutan. Kenjiro, tanpa ragu, berlari menuju kerbau tersebut. Dengan gerakan cepat yang mengingatkan pada teknik bela diri, ia berhasil menenangkan kerbau itu dengan memegang tali hidungnya dengan cengkeraman yang kuat namun presisi, membuat kerbau itu berlutut. Kejadian itu disaksikan oleh Abah dari kejauhan.
"Dia bukan pria tua biasa," gumam Abah, mulai ragu pada keraguannya sendiri.
Malamnya, Abah memanggil Aisyah dan Kenjiro. "Kenjiro, aku melihat apa yang kau lakukan tadi sore. Kekuatanmu memang luar biasa untuk pria seusiamu. Dan ketulusanmu belajar agama serta adat kami juga tidak bisa dipungkiri. Aisyah sangat mencintaimu, dan kau tampaknya bisa menjaganya."
Hati Aisyah berdesir kencang. Apakah ini pertanda?
"Aku memberikan restuku," ucap Abah lirih, matanya berkaca-kaca. "Tapi ingat satu hal: di Minangkabau, pria yang menikahi wanita kami, dia juga menikahi keluarganya, adatnya, dan negerinya. Jaga Aisyah baik-baik, jangan pernah sakiti hatinya."
Kenjiro membungkuk dalam-dalam, menempelkan keningnya ke lantai tikar pandan. "Arigatou gozaimasu, Abah-san. Arigatou... Aku akan menjaganya dengan nyawaku."
Pernikahan berlangsung meriah dengan adat Minang yang kental. Kenjiro tampak gagah mengenakan Suntiang kecil di kepalanya dan baju adat berwarna merah marun berlapis emas. Aisyah tampak cantik jelita dengan Suntiang besar yang berat di kepalanya, tersenyum bahagia. Seluruh kampung merayakan penyatuan dua dunia yang berbeda ini.
Setelah pesta usai, keheningan malam menyelimuti kamar pengantin mereka di rumah Gadang. Kamar itu dihias dengan kain-kain beludru berwarna merah dan emas, aroma bunga melati menyerbak. Aisyah duduk di tepi tempat tidur yang tinggi, jantungnya berdegup kencang—campuran antara gugup, lelah karena beratnya Suntiang, dan rasa penasaran yang mendalam.
Kenjiro masuk ke kamar, ia telah melepas atribut adatnya, kini hanya mengenakan kaus polos hitam yang pas di tubuhnya dan celana panjang katun. Tanpa baju kurung adat, bentuk tubuhnya yang sebenarnya terlihat jelas. Bahunya lebar, dadanya bidang, dan otot lengannya tampak solid, bukan otot yang besar karena gym, melainkan otot yang kencang dan efisien hasil dari disiplin dan latihan fisik yang konsisten.
Aisyah menunduk, merasa malu dan sedikit takut. Perbedaan usia 28 tahun itu tiba-tiba terasa begitu nyata di kamar ini. Apakah Kenjiro akan lelah? Apakah dia akan mengerti perasaannya?
Kenjiro mendekat, gerakannya begitu halus dan tenang. Ia duduk di samping Aisyah, lalu dengan lembut membantu melepas satu per satu tusuk Suntiang yang berat dari kepala istrinya.
"Otsukaresama desu, Aisyah," bisiknya dengan suara bariton yang dalam, membuat Aisyah meremang. "Hari ini sangat panjang dan melelahkan bagimu."
Aisyah mendongak, menatap mata Kenjiro. "Kenji... aku... aku takut."
Kenjiro tersenyum, senyum yang penuh kasih sayang namun juga menyiratkan sesuatu yang kuat. "Apa yang kau takutkan, Watashi no Tsuma (Istriku)?"
"Perbedaan usia kita... apakah kau... apakah kau benar-benar kuat untukku?" tanya Aisyah jujur, suaranya hampir tak terdengar.
Kenjiro berdiri di tengah ruangan. Ia melakukan gerakan peregangan yang presisi, menunjukkan fleksibilitas tubuh yang luar biasa, punggungnya lurus sempurna saat ia menekuk tubuhnya sampai mencium lutut. Ia kemudian berdiri dengan satu kaki, menjaga keseimbangan dengan sempurna selama beberapa menit, tanpa sedikit pun goyahan. "Tubuhku adalah pelipit dari disiplin puluhan tahun, Aisyah. Aku tidak pernah membiarkan diriku lemah."
Namun, bukan itu "pesona kekuatan" yang ia maksud. Ia kembali mendekati Aisyah, lalu membimbingnya untuk berdiri. Dengan satu gerakan mantap namun lembut, Kenjiro mengangkat Aisyah—bukan sekadar menggendong di depan dada, tapi mengangkatnya tinggi-tinggi di atas bahunya dengan kekuatan penuh seolah Aisyah seringan kapas. Aisyah menjerit kecil karena terkejut, namun merasa sangat aman di atas sana. Kenjiro kemudian menurunkannya perlahan, menatap mata istrinya dengan api yang berkobar, api yang tidak pernah Aisyah bayangkan sebelumnya pada pria usia setengah abad.
"Kekuatanku bukan hanya di lengan ini," bisik Kenjiro tepat di telinga Aisyah, napasnya hangat. "Tapi pada ketahananku untuk melindungimu, untuk mencintaimu, dan untuk bersamamu sampai napas terakhirku. Di Jepang, kami menghargai kesetiaan dan ketahanan di atas segalanya. Aku telah melatih tubuh dan pikiranku selama 52 tahun hanya untuk sampai pada titik di mana aku pantas memilikimu dan kuat untuk membahagiakanmu."
Malam itu, di bawah sinar bulan yang masuk melalui celah jendela rumah Gadang, Aisyah menyadari bahwa usia 52 tahun bagi Kenjiro hanyalah sebuah angka yang menyimpan cadangan energi yang luar biasa. Kenjiro menunjukkan bahwa pria matang memiliki "kekuatan" yang berbeda; bukan sekadar ledakan emosi atau kekuatan fisik kasar, melainkan stamina yang terjaga, teknik yang penuh perasaan, pemahaman mendalam tentang bagaimana memperlakukan wanita, dan ketahanan untuk memberikan kepuasan yang tulus dan berkelanjutan. Sentuhan Kenjiro adalah perpaduan antara disiplin Jepang yang presisi, kelembutan hati yang tulus, dan pengalaman hidup yang kaya.
"Aisyah, Anata o aishiteru. Zutto, zutto... (Aisyah, aku mencintaimu. Selamanya, selamanya...)"
"Aisyah jugo cinto ka Kenji, Salamo-lamonyo... (Aisyah juga cinta pada Kenji, Selama-lamanya...)"
Malam itu menjadi simfoni indah yang menyatukan dua dunia yang berbeda. Kekuatan Kenjiro, baik fisik maupun mental, membuktikan bahwa restu Abah tidak salah diberikan. Mereka berdua berlayar di atas samudra cinta yang tak mengenal batas usia atau budaya, hanya mengenal detak jantung yang saling menyahut dengan harmonis. Dan Sakura di atas Rumah Gadang pun bermekaran, abadi dalam simfoni cinta mereka.