Suryo Jatmiko, orang memanggilnya Pak Suryo adalah orang terpandang di sebuah desa yang subur dengan hasil palawija dan buah-buahan melimpah. Dia mempunyai 3 orang anak, Suratmo, Dwi dan Baroto.
Sebagai pewaris tunggal dari orangtuanya yang kaya Pak Suryo memiliki hampir semua aset milik orang tuanya, termasuk dua buah keris yang konon sangat bertuah jika si keris cocok dengan majikannya.
Waktu berlalu, anak-anak Pak Suryo sudah berubah dewasa. Suratmo sudah berkeluarga dan dibuatkan rumah disalah satu kebun sebagai bagian warisan dari bapaknya, begitu juga Dwi, sedangkan Baroto sebagai anak bungsu dia diberi hak menempati rumah induk dan merawat ibunya.
Meskipun Pak Suryo orang desa tapi dia termasuk orang yang sadar pendidikan, jadi ketiga anaknya didorong untuk sekolah hingga perguruan tinggi, Dwi kini menjadi Guru, Baroto seorang insinyur pertanian, kecuali Suratmo yang tidak lulus SMA, karena waktu kelas dua dia sudah membuat kasus sehingga harus dikeluarkan dari sekolah dan dinikahkan.
Suratmo hanya menjadi petani biasa yang kurang pengetahuan dan kurang konsisten dalam bekerja, kehidupannya lebih miskin dibandingkan dua adiknya. Yang paling dipandanh mapan adalah Baroto, adik bungsunya, selain tanah warisan dia juga bisa membeli mobil dan aset lainnya. Suratmo menganggap adiknya kaya karena dia yang membawa dua keris bapaknya yang dia percaya bertuah.
" Aku ingin membawa keris itu bersamaku!" Suratmo meminta keris itu didepan Baroto dan ibunya.
" Untuk apa kamu bawa keris itu Mo, biarkan keris itu menempati rumah ini, sejak zaman kakekmu dulu tidak pernah dipindahkan kemana-mana". Bu Suryo tidak setuju dengan niat Suratmo.
" Keris itu membawa keberuntungan Buk, siapa yang membawanya dia akan hidup enak, lihat saja bapak dan Baroto !" Suratmo tetap menginginkan keris warisan itu.
" Saya hidup enak seperti yang mas lihat karena rezeki saya barokah dan kerja keras mas, bukan karena keris " Baroto menyangkal jika dia hidup enak karena adanya keris.
" Haaah... Kau ini sok alim, kalau begitu apa susahnya kamu berikan saja keris itu padaku !" Suratmo tetap ngotot ingin memintanya untuk dipindahkan ke rumahnya.
" Baiklah...bawa saja mas, bagaimana Buk ?" Baroto meminta persetujuan Ibunya.
" Yah...terserah sudah ". Ibunya pasrah.
Akhirnya Baroto mengambil dua keris itu dari tempatnya. Dengan terbungkus sebuah kain batik tua dua keris itu diserahkan kepada Suratmo untuk dibawa pulang.
Suratmo menyiapkan upacara mandi kembang tujuh rupa untuk si keris agar betah dan membawa berkah di rumahnya, dia tempatkan keris itu dalam laci meja di kamarnya.
Habis maghrib ada seorang tamu datang ke rumahnya, mengantarkan uang hasil salah satu kebunnya yg memang habis di panen.
" Hahaha... lihatlah baru setengah hari dia disini sudah membawa keberuntungan!" Bangganya Suratmo dengan keris warisan bapaknya.
Suratmo masuk kedalam kamar, membuka laci dan menciumi keris itu " Terima Kasih Mbah ".
Malam tiba, Suratmo terlelap dikamarnya, tengah malam terdengar suara
" Glotak..glotek...glotak..glotek " seperti ada sesuatu yang bergerak memaksa keluar dari laci. Suratmo tak mendengar apapun saking lelapnya.
" Tolong...tolong.....jangan bunuh aku !" Suara Suratmo mengigau dalam tidurnya, sambil memegangi leher seakan ingin melepaskan sesuatu yang mencengkeram lehernya.
" Mas..mas...bangun mas !" Istrinya membangunkan Suratmo.
" Aku mimpi buruk, dicekik orang berjenggot dengan membawa keris ". Istrinya kemudian menenangkan dan memintanya tidur kembali. Keesokan harinya Suratmo mimpi hal yang sama.
Suratmo berkonsultasi dengan orang pintar, katanya keris yang dia bawa tidak kerasan tinggal di rumahnya, sebaiknya dikembalikan saja ke tempat asalnya, tapi Suratmo bersikukuh bahwa keris itu membawa keberuntungan dan tidak mau mengembalikan ke rumah induk.
Beberapa hari kemudian, seluruh anggota keluarga Suratmo sakit gatal-gatal di sekujur tubuhnya, dokter bilang alergi, tapi kata dukun tetap disebabkan oleh keris yang tidak cocok tinggal di rumahnya.
Suatu hari istrinya kejang-kejang seperti kesurupan, dan banyak hal aneh terjadi sejak keris itu berada di rumahnya. Dukun bilang " kembalikan mas , sebelum dia minta tumbal salah satu keluargamu, keris itu ada penunggunya !" Tapi Suratmo tidak segera membawa keris itu ke rumah Baroto adiknya.
Malam hari, ketika dia tidur merasakan dibekap oleh makhluk besar berwarna hitam, Suratmo sangat ketakutan, keesokan paginya dia langsung membawa kembali keris itu ke rumah adiknya.
" Keris ini hanya cocok dengan orang yang sabar dan welas asih, dia tidak menyukai orang serakah " kata ibunya sambil menerima keris itu dari Suratmo.
" Jika kamu ingin memilikinya, rubahlah sikapmu !" Suratmo terdiam mendengar kata-kata ibunya, dia merasa trauma dengan semua yang dialaminya selama ini.
Apakah karena keris, ataukah Tuhan yang memang ingin memberi pelajaran ?