Auristela atau kerap disapa Stela tidak menyangka kekasihnya Alfred Xeimoraga bukanlah manusia melainkan makhluk immortal yang tidak bisa dipahami otak manusia.
****
Auristela V. Bellva atau disapa Stela yang sedang menunggu didepan gerbang kampusnya. Matahari yang hampir tenggelam membuat udara semakin dingin, ia kembali memgeratkan jaketnya sambil menggosok-gosokkan tangan mencari kehangatan.
"Stela!"
Mendengar panggilan namanya tersebut, ia membalikkan badannya menatap lelaki yang berlari kearahnya, "maaf, aku ti--awww!"
"Kau tau aku kedinginan disini. Kau ingin aku mati karena hipotermia parah, hah?" Omel Stela pada kekasihnya--Alfred.
Sedangkan Alfred menggaruk-garuk tekuknya, ia memang membiarkan kekasih kecilnya ini diluar, ia pun melepaskan jaketnya dan memasangkannya ditubuh mungil Stela,
Sedangkan Stela langsung salah tingkah dengan perlakuan manis Alfred yang membuatnya luluh, "aku ingin belanja bahan makan dulu"
"Yes, my princess!"
Bagi Stela pusat perbelanjaan adalah dunianya, apalagi jika itu berurusan dengan bahan makanan, seperti sekarang Stela sedang memilih dan memilah bahan makanan yang akan ia beli hal itu tidak luput dari pengawasan sang kekasih--Alfred.
"Kau beli semua juga gak masalah, nanti aku yang bayar" ujar Alfred namun tidak didengarkan Stela yang sibuk dengan dunianya,
"Al, apa kau mau makan malam bersamaku?" Tawar Stela langsung diangguki Alfred, tindakan bodoh bagi Alfred jika ia menolak makan malam BERDUA dengan Stela, bukan?.
Setelah berbelanja, Stela kembali disibukan dengan masakan malam. Dia harus membuat makan istimewa untuk Alfred yang sudah berbaik hati menemaninya berbelanja, ditambah seluruh belanjaan Stela dibayar oleh Alfred.
Sedangkan Alfred tidak melepaskan pandangannya dari Stela yang dengan lincahnya memasak, perlahan ia mendekat dan memeluk dari belakang sang kekasih dan tentu hal itu membuat Stela kaget,
"Al, aku sedang memasak tunggu sebentar lagi!" Tegur Stela yang kesulitan bergerak akibat lengan kokoh yang tak berhenti melilitnya. Sebuah seringai muncul di wajah Alfred, "aku hanya ingin memakan dirimu, Auristela V. Bellva" bisiknya sambil mengigit daun telinga Stela,
"Al, kau mesum"
"Tapi mesum-mesum gini pacarnya siapa? Lagian kau sendiri yang menggodaku, jadi jika sesuatu hari nanti aku menyeret paksa dirimu ke ranjang jangan salahkan aku, oke!"
"Alfred Xeimoraga!"
***
Alfred tidak bisa melunturkan senyumannya, ia begitu puas melihat reaksi kekasihnya ini, bahkan ia masih merasa gemas dengan wajah Stela yang memerah tomat sampai ke telinga.
Benar-benar pemandangan luar bisa!
Sedangkan Stela berusaha menghindari kontak mata dengan Alfred yang terus menatapnya tampa berkedip, "apa matanya tidak kering karena jarang berkedip?" Batin Stela bertanya-tanya, sepanjang makan malam Alfred belum juga melepaskan pandangannya yang membuat Stela semakin risih,
"Al!"
"Emm.."
"Apa matamu tidak sakit karena jarang berkedip?"
"Tidak.. lagipula jika sakit, kekasih manisku pasti akan mengobatinya dan--"
Tiba-tiba suara nada dering handphone milik Alfred berbunyi, Stela tampak bingung apa yang mereka bicarakan, karena wajah nakal Alfred berubah total menjadi wajah datar.
"Ada apa?" Tanya Stela setelah Alfred memutuskan telpon tersebut,
"Tidak apa-apa, aku harus pulang sekarang masih banyak yang harus kukerjakan" balas Alfred ingin meninggalkan meja makan,
Stela hanya mengangguk, ia masih sadar bahwa dirinya tidak pantas mencari tau apa yang dilakukan Alfred, cukup ia percaya Alfred tidak melakukan hal yang tidak-tidak, "sebaiknya kau hati-hati dijalan" ujar Stela,
Alfred memeluk sebentar Stela, dan mengelus pelan pipi mulus sang kekasih. Matanya berhenti pada bibir merah ranum Stela,
Stela merasa pipinya mulai memanas lagi, apa lagi ketika Alfred yang mendadak mendekatkan wajahnya, ia menutup kedua matanya dan beberapa saat kemudian sebuah benda kenyal dan basah menyentuh bibirnya,
Stela berusaha melepaskan pungutan tersebut, namun dicegah Alfred dengan mengurung gerakan Stela di dinding dan mengikat kedua tangannya diatas,
Perlahan ciuman posesif tersebut berubah menjadi liar dan agresif, membuat Stela tidak bisa menyeimbangi gerakan tersebut.
Stela mengambil udara sebanyak-banyak setelah pungutan tersebut dilepaskan Alfred. Sedangkan Alfred tersenyum puas melihat hasil perbuatannya yang membuat bibir mungil Stela agak bengkak,
"Ka.. kau ing.. in membunuhku, hah!" Ujar Stela agak tersendat-sendat, Alfred semakin tersenyum puas dan mendekatkan bibirnya, "tapi kau menyukainya, bukan?" Bisik Alfred membuat Stela semakin bersemu.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik, okey! Esok kau ada kelas pagi jadi jangan terlambat"
Setelah mengatakan itu, perlahan bayangan mobil yang ditumpangi Alfred menghilang, Stela kembali masuk ke dalam tak lupa mengunci pintu, jaga-jaga jika ada perampok masuk.
Selesai merapikan rumah Stela memutuskan merebahkan dirinya di ranjang nan empuk dan nyaman, mengingat setiap kelakuan mesum Alfred membuat Stela kembali bersemu. Ia seperti cacing kepanasan, berguling kesana kemari karena perlakuan manis Alfred.
"Lama-lama aku gula darahku akan naik, agar-agar Alfred!" Batin Stela sambil menutup wajahnya menggunakan bantal.
***
Pagi harinya, udara terasa dingin dikerenakan musim salju yang membuat udara lebih dingin dari bisanya. Stela sedang menunggu Alfred yang tidak bisanya datang terlambat hingga kelas dimulai,
"Stel, dimana kekasihmu itu? Tumben dia tidak masuk" tanya teman sebangku Stela--Dalia
Stela hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak tau, ia juga bingung selain sikap Alfred yang mendadak berubah setelah mengangkat telpon tadi malam, ia juga tidak hadir dikelas,
Satu minggu setelah hilangnya keberadaan Alfred membuat Stela cemas, rasa rindu yang semakin hari semakin meluap, membuatnya tidak tahan. Nomer telpon yang tidak bisa dihubungi membuat Stela semakin bingung, akan dimana keberadaan Alfred.
Seperti malam ini, Stela terus berusaha menghubungi Alfred hingga ia lelah dan menyerah untuk menghubunginya, perasaannya yang bercampur aduk membuat air matanya tidak bisa dibendung lagi,
Stela terus menangis menumpahkan rasa rindu dan cemasnya terhadap Alfred, hingga mata Stela terasa berat membuatnya harus memejamkan matanya. Suara berisik mengganggu tidur Stela dengan perasaan was-was, ia berjalan menuruni anak tangga,
Suara itu tampak begitu nyaring di arah dapur, Stela mengeguk ludahnya dengan bermodalkan satu tongkat kasti ia berjalan masuk ke dapur,
Matanya menatap terkejut kedepan yang disana Alfred dengan keadaan kacau, kemeja putih yang berbecak darah belum lagi luka di lengan kanannya membuat Stela tak kuasa menahan tangisannya.
Ia ingin mendekat namun dicegah Alfred, "Stela jang.. jangan men.. dekat!"
Stela menggeleng kepalanya, dan terus mendekat sedangkan Alfred berusaha menjauh, "Stela ku.. mohon.. jangan men.. dekat! Ak.. aku tidak ing.. ingin melukaimu!"
"Aku akan terus mendekat, jika kau memerintahkanku menjauh!", Stela menyentuh pipi Alfred. Dingin, kata yang pantas ketika ia menyentuh kulit Alfred,
"Al, ap--"
Stela meringsut mundur, mata merah menyala Alfred membuatnya ketakutan, "si.. siapa--"
Stela memekik kaget kerena tindakan tiba-tiba Alfred yang mengangkatnya masuk kedalam kamar dan menghempaskan tubuhnya secara kasar dikasur, "aku sudah menyuruhmu menjauh, malah kau membangkang perkataanku, baby!" Gumam Alfred dengan menindih tubuh Stela,
Stela berusaha mendorong tubuh Alfred dari atas tubuhnya, namun sia-sia, "Al, hen.. tikan!"
"Kau yang memintanya, baby. Aku tidak bisa menahannya lagi, you are mine, Auristela V. Bellva! Baik tubuh, jiwa dan darahmu semua itu milikku. Hanya milik seorang Alfred Xeimoraga!" Bisik Alfred tepat ditelinga Stela,
Sedangkan Stela meremas kuat bahu Alfred yang memberikan seringai dibulu tekuknya, belum lagi cium yang meninggalkan jejak merah basah, rasa geli itu tidak bertahan lama setelah rasa sakit yang luar bisa menyerangnya,
Ia ingin berteriak, namun mulutnya langsung di tutup oleh telapak tangan Alfred,
Alfred seorang Vampire!
Dan perlahan pula kesadaran Stela menghilang dan kegelapaan menyambutnya, sedangkan Alfred menjauhkan wajahnya dari tekuk Stela, ia menyentuh wajah sang kekasih yang memucat karena perbuatannya.
Ia meruntuki dirinya, Alfred sadar kalau ia benar-benar liar tadinya hingga tidak bisa menahan hasratnya untuk tidak meminum darah Stela, ia menerka ujung bibirnya yang terdapat darah Stela, dengan perasaan bercampur aduk, Alfred menggigit bibir bawahnya hingga berdarah,
Alfred memasukkan darahnya lewat bibir Stela, ia merasa lega Stela menelan habis darahnya hingga rasa pusing menghampirinya.
***
Stela merasa terusik dengan tidurnya, ia mencoba menggerakkan tubuhnya namun gagal, sebuah lengan kokoh melilit tubuhnya dengan sempurna dan kaki yang jenjang melilihnya hingga tidak bisa bergerak kemanapun,
"Jika kau terus menggeliat separti itu, jangan salahkan aku memakan sekarang!"
Tubuh Stela menegang, bayangan kejadian tadi malam beterbangan dengan bebas dikepalanya dan tak disangka air mata luluh dari ujung matanya, Alfred langsung panik mendengar isak tangis Stela, "hey, ada ap--"
"Menjauh dariku, monster!"
Alfred membalikkan tubuh Stela dan langsung membekapnya Stela terus memberontak memukul dada bidang Alfred namun tidak sedikitpun Alfred tergoyah, "kau bisa terus memukulku Stela! Tapi jangan menjauh dariku, kau bisa membenciku tapi jangan.. jangan minta aku menjauhimu. Maaf, aku sudah tidak jujur padamu, maaf jika aku menyakitimu tadi malam, maaf jika aku membuatmu ketakutan,
Maaf.. jika aku yang membuatmu menangis dan sedih. Aku adalah pria yang paling bodoh didunia, kusadari itu tapi kumohon jangan menjauh dariku!"
Lidah Stela terasa kelu, ia tidak tau harus mengatakan apa, apalagi ketika air mata yang pertama kali dilihat Stela keluar diiringi perkatakan memohon yang membuatnya sesak, "Al, aku tidak bisa membencimu, aku tidak bisa menjauh darimu. Dan hanya kau satu-satunya tempatku untuk pulang, jadi aku tidak akan meninggalkanmu!"
Kembali membekap tubuh Stela, ia tidak bisa menghentikan air matanya yang terus keluar, rasa bahagia meliputi hatinya, "terima kasih Stela, karena sudah memberikan pria bodoh ini kesempatan"
"Al apa aku nanti akan jadi Vampire juga karena kau menggigitku?"
Alfred tertawa terbahak-bahak dan membuat Stela merasa kesal, "tentu saja tidak, lagi pula kau sekarang adalah milikku, my blood!"
***
Sepanjang pelajaran Stela terus mengelamun memikirkan perkataan Alfred tentang dirinya yang yang terikat dengan Alfred selamanya, bisa diibaratkan mereka sudah menikah,
Yang membuat Stela tidak fokus lagi akan permintaan Alfred yang ingin dirinya menemui ayah ibunya untuk meminta restu,
"Nona Bellva!"
"Iya pak"
"Jika anda kurang memperhatian materi saya maka jangan salahkan saya anda sulit mengerjakan ujian!"
Stela menghela nafas, ia benar-benar banyak melakukan kesalahan semenjak mengetahui identitas sebenarnya Alfred,
Setelah tiga puluh menit berlalu akhirnya mata pelajaranpun berakhir, Stela kembali menghela nafas, ia membuka ponselnya yang terdapat pesan dari Alfred yang memintanya untuk ke perpustakan sekarang dengan malas ia kesana,
Setelah sampai di perpustakaan matanya menatap kagum ke Alfred yang mengenakan kacamata minus, sedangkan Alfred terkekeh pelan melihat reaksi Stela, "seperti aku tampan sekali hingga kau kehabisan kata-kata"
Stela langsung menatap jengkel Alfred, "gara-gara kau aku kena tegur dosen tau!"
"Apa salahku?"
Stela berniat ingin meninggalkan perpustakaan namun dalam sekejap mata ia terkurung dalam kukuhan Alfred, "apa salahku hingga kau di tegur dosen?", Stela mengendap matanya, mulutnya terbuka lebar menatap mata merah Alfred,
"Tampan!" Tanpa sadar Stela mengatakan apa yang ada dipikirkannya dan membuat Alfred bingung namun beberapa saat kemudian sebuah senyuman jahil muncul,
Stela sadar dari lamunannya ketika sebuah benda kenyal menyentuh bibir merah ranumnya, ia berusaha menjauhkan tubuh kokoh Alfred dan hasilnya sia-sia.
"Al--Eughmp"
Alfred semakin menekan tautan mereka tak membiarkan Stela bicara sedikitpun, "kau yang memulainya", ia semakin memperdalam ciuman itu hingga Stela merasa pasokan udara dalam paru-parunya habis dan barulah Alfred melepaskannya.
"Ka.. kau benar.. benar liar!" ujar Stela yang masih terengah-engah, segaris senyuman miring bermain di bibir Alfred, "makanya jangan mencoba menyalut api hasratku, baby"
"Kau berhutan informasi denganku"
"Apalagi?"
"kenapa kau terluka malam itu?"
Alfred menggaruk-garuk tekuknya, tatapan Stela yang ingin memangsa habis dirinya membuatnya agak sedikit merinding, "aku hampir di tangkap Vampire evol!"
Stela memiringkan kepalanya, "apa itu?"
"Itu adalah Vampire buatan yang diciptakan dokter gila bernama Dr. Evol, lebih lengkapnya kau tidak boleh tau karena itu berbahaya!"
"Dan dikampus ini bukan hanya kau yang mengetahui identitas para Vampire, teman satu kelas pagimu yang bernama Esmeralda Scott juga tau"
"Kenapa dia bisa tau? Seingatku Esmeralda tipe orang yang tidak terlalu percaya hal mitos"
Lagi-lagi Alfred menggaruk-garuk tekuknya dan berkata, "karena dia digigit temanku Sean Hernandez dan minggu ini kau akan menemui ayah ibuku!"
"APA!"
***
"Al, apa kau yakin dengan hal ini?" Cicit Stela ketakutan, ia begitu gemetar ketika sudah sampai di mansion keluarga Xeimoraga, mungkin seandainya mereka keluarga normal mungkin ia tidak takut, tapi--ini keluarga Vampire dan dirinya hanya seorang manusia.
Alfred berusaha menyakinkan Stela, setelah mereka sampai disebuah pintu raksaksa yang perlahan terbuka di iringi lemparan sebuah belati yang melewati Stela, ia meneguk ludah bersusah payah, seandainya ia berdiri disitu mungkin hanya tertinggal nama sekarang.
"Beraninya kau membawa manusia masuk kesini, hah!"
Stela merasa arahnya menyurut begitu saja, ketika matanya tampa sengaja menatap seorang pria separuh baya yang duduk dikursi kekuasaannya,
"Ayah, kenapa ayah lempar belati beracun itu? Seandai benda itu melukai kekasihku tadi maka aku tidak bisa memaafkan ayah!"
Stela kembali meneguk ludah. Beracun, kata-kata itu membuatnya merasa bersyukur tidak mengenainya,
Sedangkan Alfred bersama dengan ayahnya lagi sibuk dengan aduan argumen, hingga keduanya diam setelah kedatangan wanita anggun yang berjalan turun dari tangga, "jadi kau Auristela V. Bellva yang diceritakan Alfred!"
Stela kembali menegang, tatapan wanita itu membuatnya merinding, "sa.. salam kenal, bi"
"Bibi? Astaga seharusnya aku perawatan dulu belum menemui calon menantuku!"
Stela tercengang, apa ibu Alfred bilang calon menantu? Ia berusaha menyakinkan mendengarannya hingga tidak sadar bahwa wanita separuh baya itu berada dihadapannya sekarang,
"Mata abu-abu yang indah, tubuh ramping, wajah cantik, manis, imut, pandai memasak, bisa berkebun, pintar. Sifat, baik, polos, agak sedikit bar-bar memang kriteria menantu ibu,
Tunggu apa kau takut berada disini?" Tanpa sadar Stela mengangguk,
Ibu Alfred berjalan kearah ayah Alfred--Leonard sambil berdecak pinggang, "Leo bisakah kau tidak menunjukkan wajah menyeramkan itu dihadapan calon menantuku!"
Leonard mengangkat sebelah alis, "dia seorang manusia, tidak bisa bersama dengan Vampire"
"Itu tidak penting, sudah saatnya aku mendapatkan anak perempuan yang dapat kuajak memasak bersama, tidak seperti kalian berdua yang selalu beralasan tidak masuk akal" sindir Mira--ibu Alfred, "lagipula Alfred harus bertanggung jawab atas darah yang dimasukkan ke dalam tubuh Stela" sambung Mira,
"Saya tidak masalah jika Alfred tidak tanggung jawab" sahut Stela langsung mendapat tatapan tajam dari Mira, "tidak, Al tetap harus tanggung jawab, seorang Vampire dan manusia yang saling bertukar darah sudah dianggap menikah secara hukum alam, jadi secara hukum alam kalian tidak boleh berpisah atau tidak…
Salah satu dari kalian harus tiada"
Stela merasa tenggorokannya kering bahkan salivanya tidak bisa membasahi tenggorokannya, "apa Alfred tidak mengatakan itu?" Tanya Leonard yang menyadari gerak-gerik Stela yang berubah,
Stela mengangguk kepalanya, membuat Leonard menatap putra semata wayangnya dengan tajam, "kau bilang sudah menceritakan semuanya!"
"Aku lupa, mau bagaimana lagi!" Jawab Alfred dengan santai sedangkan Leonard merasa rahangnya jatuh kelantai mendengar jawaban sang putra,
Leonard menghela nafas lelah, "seandainya kau tidak meminum darah Stela, mungkin aku tidak akan merestui hubungan kalian, jadi aku ijinkan kau bersama Stela"
Wajah Alfred berubah total, sebuah senyuman terbit diwajahnya ia langsung memeluk Stela dan hanya beberapa saat karena Mira--sang ibu langsung memisahkan, "anak perempuanku akan mati jika kau peluk terus!"
"Tapi kalian baru boleh menikah setelah selesai kuliah!"
"Tunggu.. APA!"
***
Two years later…..
Stela merasa menjadi wanita paling beruntung sekarang, tubuhnya yang berbalut putih yang indah membuatnya tak bisa berhenti melunturkan senyumnya.
Setelah melewati masa-masa sulit akhir impian Stela terujut berdiri menjadi pendamping hidup Alfred Xeimoraga adalah impiannya.
Dirinya kembali teringat ketika masih SMU dimana Alfred adalah orang yang paling ia benci, suka mejahilinya adalah kesukaan Alfred, namun siapa sangka rasa benci perlahan memudar setelah Alfred membantu Stela bangun dari keterpurukan akibat kematian ayah ibunya.
Dan setelah kejadian mengerikan dua tahun lalu yang mengikat mereka secara hukum alam, ya.. mereka sudah resmi menjadi suami istri setelah Alfred memberikan darahnya ke Stela namun kali ini mereka akan menunjukan kepada publik,
Belum lagi kejadian saat meminta restu dengan ayah ibu Alfred yang rupanya sudah mengenal Stela lebih lama, ia sempat bingung dari mana mereka tau dirinya yang rupanya ayahnya Stela yang berkerja sebagai sekertaris ayah Alfred,
Dan Stela sungguh sangat berterima kasih kepada Esmeralda dan Sean yang berhasil membongkar siapa sebenarnya Dr. Evol yang membuatnya merasa tenang,
Seperti sekarang dirinya tengah bercengkerama dengan Esmeralda yang menjadi istri Sean satu tahun yang lalu, "aku merasa kita memiliki nasib yang sama digigit Vampire"
Esmeralda terkekeh pelan, "tapi kau sudah memiliki hubungan dengan Alfred berbeda denganku yang secara sukarela memberikan darahnya kepada seorang asing"
Beberapa saat kemudian Stela berjalan keluar dari ruang hiasnya dan berjalan kealtar. Stela merasa gugup ketika berada di altar, mereka sama-sama mengucapkan janji suci hingga mereka resmi menjadi suami istri secara hukun negara,
"Aku tidak sabar untuk malam ini" bisik Alfred membuat Stela bersemu, sedangkan Alfred terkekeh pelan melihat wajah sang istri yang menurutnya sangat menggemaskan, ia merasa beruntung memiliki pasangan seperti Stela,
"Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia Stela, aku akan selalu melindungimu, bersama kita akan membangun keluarga yang bahagia"
Stela tersenyum bahagia ia sungguh tidak bisa mendeskripsikan perasaannya sekarang, ia tidak peduli walaupun Alfred bukan lah manusia karena yang dipikirkannya sekarang membangun keluarga bahagia bersama Alfred
"Alfred adalah tempatku untuk pulang, dia pahlawanku dan dia perlu diriku untuk bertahan hidup dan aku perlu dirinya untuk terus bahagia!"
"Stela adalah darahku, gadis satu-satunya yang membuatku jinak dan luluh, dia milikku dan aku miliknya!"