Langkahku terhenti di depan gerbang besi bercat hijau tua yang mulai mengelupas. SMA Negeri 1—sekolah yang sepuluh tahun lalu menyaksikan betapa lugunya aku merajut mimpi, kini menyambutku kembali sebagai seorang mahasiswa Praktik Lapangan Kependidikan (PLK). Senyum kecil terbit di bibirku. Bagi sebagian orang, memilih lokasi PLK adalah tentang mana yang paling dekat dari kos atau mana yang fasilitasnya paling mewah. Namun bagiku, ini tentang pulang.
Aku sama sekali tidak memikirkan siapa yang akan menjadi rekanku di sana. Aku hanya ingin menjalani masa magang mengajar ini dengan tenang, menyelesaikan tugas akhir perguruan tinggi, dan meraih gelar sarjana.
Sampai suatu malam, sebuah notifikasi di Instagram mengubah segalanya.
Sebuah pesan masuk dari akun bernama @rendy_pratama. Foto profilnya hanya menampilkan pemandangan langit malam.
“Kak Wulan, PLK di mana? Di SMAN 1 ya? Mengajar mata pelajaran apa nanti?”
Aku mengerutkan dahi. Aku membolak-balik memori di kepalaku, mencoba mengingat apakah aku pernah bertemu dengannya di kampus, di organisasi, atau minimal di acara seminar. Nihil. Pria ini asing sama sekali. Namun, caranya mengetik pesan terasa seolah kami sudah saling kenal berdiri di satu tongkrongan yang sama sejak bertahun-tahun lalu. Karena tidak curiga dan menganggapnya sekadar sesama mahasiswa yang butuh info, aku menjawabnya dengan jujur.
“Iya, aku ambil PLK di SMAN 1. Ambil mata pelajaran Bahasa Indonesia.”
Balasannya datang dalam hitungan detik. “Wah, pas banget! Aku juga mau ajukan PLK di sana ah. Nanti kita bareng ya, Kak.”
Hari-hari pertama PLK berjalan mulus. Rendy benar-benar mendaftar di sekolah yang sama. Dia sosok yang ramah, pandai mencairkan suasana, dan dalam waktu singkat kami menjadi teman dekat. Kami saling berbagi materi ajar, makan siang bersama di kantin, hingga saling bertukar cerita tentang ribetnya mengurus rincian RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran).
Kehadiran Bu Fitri, guru pembimbingku di sekolah, membuat masa-masa PLK-ku terasa makin hangat. Bu Fitri adalah tipe pendidik yang penyabar dan mengayomi. Kadang, beliau membawa anak balitanya yang berumur tiga tahun, Arka, ke sekolah jika tidak ada yang menjaga di rumah. Entah kenapa, sejak hari pertama melihatku, Arka langsung menempel. Tiap kali Bu Fitri mengajar di kelas lain, Arka akan duduk di ruang piket bersamaku, menggambar mewarnai, atau sekadar memintaku memangku dirinya sambil mendengarkan dongeng-dongeng kecil.
Suatu hari, Bu Fitri tidak membawa Arka karena anak itu harus ikut ayahnya. Saat jam istirahat, aku dan Rendy pergi ke perpustakaan sekolah untuk membantu guru perpus merapikan katalog buku baru. Di tengah hiruk-pikuk bau kertas tua dan suara pendingin ruangan yang mendengung pelan, Bu Siska—guru perpustakaan—tersenyum menatapku.
"Wulan," panggil Bu Siska lembut sambil menyusun novel-novel di rak. "Ibu perhatikan, si kecil Arka itu nempel banget ya sama kamu? Kemarin pas kamu lagi mengajar di kelas, dia nangis nyariin kamu terus. Nyaman banget kayaknya sama kamu."
Aku tersenyum malu. "Ah, masa sih Bu? Mungkin karena saya telaten aja ngajak dia main mewarnai."
Belum sempat Bu Siska membalas, Rendy yang berdiri di sampingku—sedang memegang tumpukan buku—tiba-tiba menyela. Suaranya datar, tanpa ada nada nada bercanda, tanpa ada senyum, apalagi raut bersalah.
"Bagus dong, Wulan. Besok kalau udah lulus gausah susah-susah cari kerja lagi. Jadi *baby sitter* aja."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Menusuk mendalam. Bu Siska seketika menghentikan aktivitasnya, menatap Rendy dengan mata membelalak keheranan. Udara di perpustakaan mendadak menjadi sangat dingin dan kaku. Aku menyuntikkan senyum tipis di bibirku yang kaku, memilih menelan bulat-bulat rasa sakit di dadaku, lalu kembali menyusun buku tanpa membalas sepatah kata pun. Aku berbisik pada diriku sendiri: Mungkin Rendy hanya salah pilih kata. Jangan dimasukkan ke hati.
Namun, sikap acuh tak acuhku rupanya tidak menghentikan benih kepahitan itu.
Puncaknya terjadi dua minggu kemudian. Sekolah kami ditunjuk menjadi tuan rumah Pertemuan Kepala Sekolah se-Kabupaten. Suasana SMAN 1 sangat sibuk sejak pagi. Acara tersebut dihadiri oleh belasan pejabat dan puluhan kepala sekolah. Aku dan Rendy ditugaskan menjaga meja registrasi di depan aula utama untuk menyambut para tamu dan mengumpulkan surat kehadiran untuk ditandatangani dan distempel.
Di tengah acara yang makin padat, seorang panitia mendatangi kami dan meminta Rendy pergi ke pasar kabupaten untuk membeli tambahan konsumsi cemilan kacang buat para tamu VIP.
"Wulan, aku ke pasar dulu ya. Kamu pegang meja sendiri bentar," kata Rendy gembira karena mendapat tugas keluar sekolah.
"Iya, Rend. Hati-hati di jalan," balasku.
Sepeninggal Rendy, tamu-tamu mulai berdatangan dalam gelombang besar. Aku kewalahan melayani lembar kehadiran sendirian. Ketika semua tamu sudah masuk ke aula dan acara pembukaan dimulai, Ibu Kepala Sekolah tempat kami PLK berjalan mendekati meja registrasi. Rendy belum juga kembali dari pasar.
"Wulan, mana berkas surat kehadiran yang sudah dikumpulkan dari para kepala sekolah tadi?" tanya Bu Kepsek dengan nada terburu-buru. "Mumpung acara sambutan baru dimulai, mari Ibu tandatangani sekarang di dalam. Nanti kalau sudah selesai Ibu minta tolong kamu bawa berkasnya ke ruang TU untuk distempel resmi, ya."
"Baik, Bu. Ini berkasnya," jawabku sopan seraya menyerahkan map tebal itu. Mana berani aku menolak instruksi langsung dari Kepala Sekolah?
Beberapa menit setelah Bu Kepsek kembali ke ruangan, Rendy baru muncul dengan kantong plastik berisi kacang di tangannya. Dia melangkah santai menuju meja registrasi.
"Mana surat-surat kehadiran tadi?" tanyanya langsung.
"Udah diambil semua sama Bu Kepsek," jawabku jujur dan pelan.
Rendy membelalakkan matanya. Raut wajahnya mendadak berubah keras. Dia menatapku seolah aku baru saja melakukan kejahatan besar.
"Ihhh, emangnya udah selesai semua?!" tembaknya dengan nada menghakimi.
Aku berusaha mengontrol emosi, menjawabnya senormal mungkin. "Udah tadi diminta langsung sama Bu Kepsek buat ditandatangani dulu. Nanti kalau beliau selesai nanda-tangani, kita tinggal ambil terus antar ke TU."
Mendengar penjelasanku, bukannya paham, emosi Rendy malah meledak. Di depan beberapa siswa piket yang melintas di koridor, dia membentakku tanpa keraguan.
"Ihhh! Bukan ke Kepsek dulu! Distempel TU dulu baru dikasih ke Kepsek! Kamu itu gimana sih?! Gaptek banget, ga bisa kerja! Jadi kacau kan semuanya gara-gara kamu!"
Kata-kata itu dihantamkan tepat di wajahku. Suaranya bergema di koridor yang sunyi. Dada ini serasa diremas. Rasanya ingin sekali aku berteriak membalas bahwa instruksi itu datang langsung dari Kepala Sekolah, bukan kemauanku. Tapi lidahku kelu. Rasanya begitu menyakitkan ketika niat baik dan rasa hormatku pada atasan malah dijadikan bahan makian oleh orang yang aku anggap teman.
Aku menahan napas, memalingkan muka agar air mata yang merebak di pelupuk mata tidak jatuh di depannya. Aku memilih diam, menyerap bentakan itu dalam hening yang menyiksa.
---
Hari-hari berikutnya, hubungan kami makin renggang. Rendy mulai menjauhiku dan sering melemparkan sindiran halus di antara mahasiswa PLK lainnya. Aku memilih fokus pada tugas mengajar dan anak-anak muridku. Namun, rasa penasaran dan ganjalan di hati tidak pernah benar-benar hilang. Mengapa seseorang yang sama sekali tak kukenal di awal, begitu gigih mendekatiku lewat media sosial, lalu memperlakukanku dengan begitu sinis di dunia nyata?
Hingga masa PLK kami tersisa tiga hari lagi.
Hari itu, Bu Fitri mengundungku untuk mampir ke ruangannya. Beliau menyerahkan nilai evaluasi magangku dengan senyum bangga.
"Nilaimu sempurna, Wulan. Kamu punya hati seorang pendidik. Telaten, sabar, dan tidak mudah tersulut emosi," puji Bu Fitri.
Aku tersenyum getir. "Terima kasih banyak, Bu."
Bu Fitri menghela napas panjang, menatapku dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan penuh keprihatinan yang tak tertampung.
"Wulan... sebenarnya Ibu mau menyampaikan sesuatu. Ini tentang Rendy."
Jantungku berdegup lebih kencang. "Ada apa dengan Rendy, Bu?"
Bu Fitri menggeser sebuah map arsip lama dari laci mejanya. "Kamu tahu kenapa Rendy begitu gigih ingin PLK di sini, dan kenapa sikapnya padamu sangat kontradiktif?"
Aku menggeleng pelan.
"Rendy itu... adik kandung dari almarhumah Siska," kata Bu Fitri pelan.
Kata nama itu bagai petir di siang bolong. *Siska.*
Seketika memori sepuluh tahun lalu terputar hebat di kepalaku. Saat aku masih menjadi siswi SMA di sekolah ini. Siska adalah teman sekelasku dulu. Seorang gadis pendiam yang sering menjadi sasaran perundungan oleh geng anak-anak populer di sekolah. Aku menyaksikannya setiap hari, tetapi karena rasa takut akan ikut dimusuhi, aku memilih menjadi penonton yang diam. Aku tidak pernah mengejek Siska, tapi aku juga tidak pernah mengulurkan tangan untuk menolongnya. Hingga suatu hari, Siska memutuskan berhenti sekolah dan beberapa bulan kemudian kami mendengar kabar duka bahwa dia mengakhiri hidupnya karena depresi berat.
"Rendy sangat menyayangi kakaknya," lanjut Bu Fitri dengan suara bergetar. "Dia tumbuh dengan dendam pada sekolah ini, dan pada semua orang yang ada di masa lalu kakaknya. Di buku harian almarhumah Siska sebelum meninggal, nama kamu tertulis di sana, Wulan."
Airmata membasahi pipi Bu Fitri.
"Siska menulis: *'Wulan orang baik, dia tidak pernah jahat padaku. Tapi diamnya Wulan membuatku merasa benar-benar tak terlihat di dunia ini.'*"
Napas berdengung di telingaku. Seluruh badanku gemetar hebat.
"Rendy mengarahkan seluruh rasa sakit atas kehilangan kakaknya padamu," bisik Bu Fitri. "Dia sengaja mendekatimu di Instagram, mengikuti langkahmu ke sekolah ini, hanya untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa kamu adalah orang yang egois dan pantas dibenci. Dia mencoba memancing amarahmu, menekanmu dengan kata-kata kasar—seperti kata-katanya di perpustakaan dan bentakannya waktu acara Kepsek—dengan harapan kamu akan membalas membentaknya, agar dia bisa mengesahkan kebenciannya padamu."
Air mataku menetes tanpa bisa ditahan lagi. Dada ini sesak luar biasa, seolah dihantam bongkahan batu besar.
Semua puzzle yang membingungkan itu akhirnya menyatu. Dm di Instagram, kalimat tentang *baby sitter*, bentakan keras di depan umum... itu bukanlah sekadar emosi sesaat atau sikap kasar tanpa alasan. Itu adalah teriakan frustrasi dari seorang adik yang hancur hatinya, seorang remaja Gen-Z yang memikul beban duka yang terlalu berat, yang mencoba membalas dendam atas kematian kakaknya kepada seseorang yang dianggapnya membiarkan kejahatan itu terjadi.
Hari terakhir PLK pun tiba. Aku berdiri di depan gerbang sekolah, menatap langit sore yang berwarna jingga keemasan. Rendy berjalan keluar membawa tasnya. Wajahnya datar, dingin, dan penuh jarak.
Aku melangkah mendekatinya. Dia berhenti, menatapku dengan pandangan defensif, bersiap jika aku akan membalas atau memarahinya atas segala perlakuan buruknya selama dua bulan ini.
Aku menatap mata Rendy dalam-dalam. Di balik tatapan tajamnya itu, kini aku bisa melihat anak laki-laki yang kehilangan sosok kakak perempuan tempatnya bersandar.
"Rendy," panggilku dengan suara bergetar namun lembut.
"Apa?" jawabnya singkat dan dingin.
Aku tidak membalas bentakannya. Aku tidak membahas kejadian di perpustakaan atau di koridor. Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam di hadapannya.
"Aku minta maaf..." bisikku. Air mataku jatuh menetes ke atas tanah. "Maafkan aku untuk sepuluh tahun yang lalu. Maaf karena saat itu aku terlalu penakut untuk mengulurkan tangan pada Mbak Siska. Maaf karena diamku dulu sudah melukai kakakkmu... dan melukaimu hingga hari ini."
Rendy terpaku. Raut wajahnya yang keras mendadak runtuh dalam sekejap. Pertahanannya hancur total. Dia tidak menyangka bahwa aku mengetahui segalanya, dan dia sama sekali tidak menyangka bahwa alih-alih amarah, dia justru menerima permohonan maaf yang tulus dari rasa bersalah yang telah kusimpan bertahun-tahun.
Tangannya yang mengepal di samping badannya perlahan melonggar. Pelupuk matanya memerah dan berkaca-kaca. Dia memalingkan wajahnya ke samping, berusaha keras menahan isak tangis yang hendak pecah dari dadanya.
"Aku tidak bisa mengubah masa lalu, Rendy," kataku lagi, menatapnya dengan penuh rasa empati. "Tapi terima kasih sudah mengingatkanku betapa berharganya hadir dan bersuara untuk orang lain. Semoga... kamu bisa menemukan kedamaian yang layak kamu dan Mbak Siska dapatkan."
Rendy tidak mengucapkan sepatah kata pun. Namun sebelum dia berbalik dan melangkah pergi menyusuri jalanan sore, dia menganggukkan kepalanya sangat pelan—sesebuah pengakuan tulus bahwa dendam yang membakar dadanya selama bertahun-tahun itu akhirnya telah padam.