Langit Pangalengan selalu punya cara untuk menyimpan duka. Kebun teh Cikulul yang membentang hijau kerap kali diselimuti kabut tebal saban sore, menyembunyikan ujung jemari siapa pun yang mencoba saling menggapai. Di sana, suhu dingin membekukan segalanya—termasuk tawa yang seharusnya menjadi milik dua anak manusia.
Kania mengencangkan syal rajut cokelat di lehernya, berdiri di tepi bukit sembari menatap uap putih yang keluar dari mulutnya setiap kali ia menghela napas. Di sampingnya, Nares duduk di atas kap mobil tua yang mesinnya sudah lama dimatikan. Nares mengenakan jaket sweater abu-abu yang kebesaran, menyandarkan kepalanya ke kaca mobil, menatap kehamparan hijau yang perlahan ditelan kabut.
Mereka berdua adalah sepasang rasa yang tidak pernah menemukan pintu masuk, apalagi jalan keluar. Hubungan mereka canggung, menggantung, dan penuh keraguan—sebuah mangu yang meremukkan dada.
"Dingin ya, Res?" tanya Kania pelan, suaranya hampir hilang ditelan angin sore Pangalengan yang menusuk tulang.
Nares tidak langsung menjawab. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan dua kaleng kopi hangat yang dibelinya di warung dekat Situ Cileunca tadi. Ia menyerahkan satu kaleng kepada Kania. Jemari mereka sempat bersentuhan sekejap—dingin bertemu dingin, menyisakan getar yang buru-buru diabaikan.
"Makin sore makin turun kabutnya," jawab Nares halus. "Kamu harusnya pakai jaket yang lebih tebal, Kan. Kamu kan gampang masuk angin."
Kania tersenyum tipis, senyum kecil yang lebih mirip rintihan tersembunyi. "Nanti juga hangat kalau sudah pulang. Tapi... kita memang mau pulang, Res?"
Kalimat itu menggantung di udara. Nares membuang pandangannya ke arah danau di kejauhan yang kini tampak seperti cermin retak di bawah langit mendung.
Mereka sudah berteman sejak SMA, saling berbagi rahasia tergelap hingga piring makan yang sama. Namun, di antara semua kata yang pernah terucap, tak pernah ada kata 'kita'. Nares tahu ia mencintai Kania melebihi nyawanya sendiri, dan Kania menyimpan nama Nares di setiap selipan doanya. Namun, ada tembok tak kasat mata yang terlalu tinggi untuk dipanjat: Nares telah dijodohkan oleh keluarganya dengan wanita pilihan sang ibu yang sedang sakit keras, dan pernikahan itu tinggal menghitung hari.
Pangalengan sore ini adalah perjalanan terakhir mereka. Sebuah pelarian singkat yang disepakati tanpa suara, hanya untuk mencuri beberapa jam dari takdir yang terlanjur bengis.
"Kania..." Nares memanggil nama itu dengan nada yang begitu rapuh, seolah jika ia mengucapkannya terlalu keras, Kania akan pecah menjadi serpihan es. "Maafkan aku, ya."
"Untuk apa?" Kania menatap mata Nares. Di dalam manik mata pria itu, Kania melihat bayangan dirinya sendiri yang malang.
"Untuk tidak pernah cukup berani," bisik Nares. Matanya mulai berkaca-kaca, memerah menahan gumpalan air mata yang mendesak keluar. "Untuk membuat kamu menunggu di tempat yang dingin ini tanpa pernah memberi kepastian. Untuk semua waktu yang kubuang cuma karena aku takut."
Kania menggeleng perlahan. Ia menggenggam kaleng kopi hangat di tangannya erat-erat, berharap rasa hangat itu bisa menjalar ke dadanya yang terasa kosong dan berlubang.
"Aku tidak pernah merasa menunggu, Res. Aku cuma... berjalan di sampingmu. Walaupun aku tahu, jalan ini bercabang di ujung sana." Kania menahan napasnya yang patah-patah. "Tapi kenapa rasanya sakit sekali ya, Res? Kenapa harus Pangalengan? Kenapa harus kebun teh yang dulu pernah kamu bilang mau kamu tunjukkan ke aku kalau kamu sudah bahagia?"
Nares memalingkan wajahnya, tak sanggup lagi menatap mata Kania. Bahunya mulai berguncang pelan. Air matanya menetes, jatuh ke atas permukaan logam kaleng kopi di pangkuannya.
"Karena aku memang bahagia sama kamu, Kan," rintih Nares dengan suara tercekat. "Tapi aku penakut. Aku tidak bisa menolak Ibu... aku tidak sanggup melihat Ibu menangis di sisa usianya. Dan harganya... harganya harus kamu yang bayar. Kenapa harus kamu yang kena dampaknya, Kan?"
Kania mendekat. Dengan jemarinya yang gemetar dan merinding oleh udara dingin, ia memberanikan diri menyapu air mata di pipi Nares. Sentuhan itu begitu lembut, begitu sarat akan kasih sayang yang tak sempat berlabuh.
"Jangan menangis, Nares," bulir air mata Kania akhirnya runtuh juga, mengalir hangat membelah pipinya yang pucat. "Kalau kamu menangis, nanti siapa yang mau menguatkan aku saat aku sendirian di sini?"
Hujan rintik-rintik mulai turun menyirami dedaunan teh. Kabut Pangalengan makin pekat, melingkupi mobil tua mereka dalam kesunyian yang mencekam. Di dalam hawa dingin yang kian menggebu, dua anak manusia itu saling merengkuh dalam pelukan yang canggung dan penuh penyesalan. Tidak ada ciuman, tidak ada janji manis. Hanya ada dua dada yang berdegup kencang, saling menyalurkan duka yang tak tertampung oleh kata-kata.
Nares memeluk Kania erat sekali, seolah-olah jika ia melepaskannya detik ini, dunia akan meruntuhkan seluruh harapannya. Ia menyesap bau aroma sampo Kania yang bercampur dengan bau hujan dan kebun teh—aroma yang tahu betul akan dirindukannya setengah mati di sisa hidupnya.
"Setelah hari ini... kita jangan ketemu lagi ya, Res," bisik Kania di ceruk leher Nares. suaranya parau, tenggelam dalam deru angin gunung.
Nares mengangguk pelan dalam ceruk bahu Kania, merasakan dingin air mata gadis itu menembus kain sweater-nya. "Iya, Kan. Jangan ketemu lagi. Agar kamu bisa benci sama aku... agar kamu tidak perlu mengingat pria pengecut ini lagi."
"Aku tidak akan pernah bisa benci kamu, Nares," balas Kania dengan senyum paling tragis yang pernah ada. "Itu masalahnya. Aku cuma akan merindukanmu... di setiap sore yang berkabut."
Mobil tua itu akhirnya dinyalakan kembali. Lampu utamanya membelah kegelapan dan kabut tebal jalanan Pangalengan yang berliku. Sepanjang perjalanan pulang menuju Bandung, tak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Hanya ada deru mesin, rintik hujan di kaca jendela, dan dua jemari yang saling bertautan di atas rem tangan—mencuri detik-detik terakhir sebelum garis takdir memisahkan mereka selamanya.