Sebuah ruangan yang begitu luas dengan penerangan yang seadanya menjadi saksi kesedihan seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP.
Ia berasal dari keluarga kaya raya, yang setiap harinya selalu berkecukupan dan selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.
Tetapi ia selalu merasa kesepian, tidak ada yang peduli padanya. Ayah dan Ibu nya hanya sibuk bekerja dan tidak pernah menaruh perhatian terhadap dirinya.
Ia mulai muak dengan kehidupannya, ia mulai merasakan kehidupannya tidak bermakna. Tidak menyenangkan dan tidak memiliki arti.
Suatu hari, ia iseng memainkan sebuah aplikasi chatting. Aplikasi tersebut menyambungkan orang orang di dunia untuk dapat berkomunikasi dan menjalin hubungan pertemanan.
Ia melihat sebuah pesan anonim dengan foto profil dengan gambar kucing yang sangat imut masuk di notifikasi HP miliknya.
Ia pun tertarik untuk membalas pesan tersebut. Isi pesan nya sangat ramah, dan menceritakan tentang hal hal menarik yang tidak ia ketahui.
Mereka pun saling berkenalan dan bertukar pesan. Detik demi detik, waktu demi waktu pun perlahan lahan telah berlalu.
Tidak disangka, mereka telah bertukar pesan selama 3 jam di hari pertama mereka mengenal. Meskipun hanya melalui sebuah aplikasi.
Entah mengapa, ia merasa sangat senang. Chatting dengan orang itu terasa sangat menyenangkan. Ia merasa percakapan mereka sangat nyambung satu sama lain, hingga tidak menyadari bahwa waktu telah berlalu selama itu.
Ia pun menutup hari ini dengan perasaan bahagia.
Keesokan harinya, ia melanjutkan kegiatannya seperti biasa. Tetapi ada satu hal yang berbeda. Ia begitu menunggu pesan dari teman anonim yang bahkan tidak diketahui namanya.
Yang ditunggu tunggu pun tiba. Ia menerima notifikasi pesan dari teman anonim tersebut. Mereka pun mulai menceritakan banyak hal hal baru, dan hal hal menarik.
Hari demi Hari pun berlalu, kini ia telah duduk di bangku kelas 3 SMP.
Tidak disangka, 1 tahun telah berlalu dari Hari pertama ia bertemu dengan teman anonimnya itu.
1 tahun itu, mereka gunakan untuk saling berbagi cerita, berbagi pengalaman, dan berbagi informasi.
Kini mereka menjadi jauh lebih akrab, meskipun begitu mereka tidak pernah berkenalan. Menurut mereka, tidak perlu berkenalan untuk bisa berteman. Kondisi saat ini pun sudah terasa menyenangkan.
Hari ini berbeda dari biasanya. Ia pulang dari sekolah dan sampai di rumah, ia melihat Ibu dan ayahnya sedang bertengkar hebat.
Kedua orangtua nya sama sama lelah terhadap pekerjaan mereka, dan tidak ada komunikasi yang baik di antara mereka. Sehingga hal hal tersebut telah menumpuk hingga saat ini, dan pada akhirnya pun meledak.
Suara teriakkan menggelegar diseluruh rumah besar yang ditinggalinya. Ia mendengar dan melihat nya dari balik dinding di dekat tangga lantai 2.
Ia merasa sangat sesak dan merasa sangat sedih melihat kedua orang tua nya bertengkar. Air mata pun menetes dari kedua matanya. Ia menangis...
Tetapi tanpa suara.
Hanya air matanya saja yang turun, tetapi tidak ada isakkan yang terdengar.
Hingga akhirnya teriakkan kedua orang tua nya pun berhenti dan ia mendengarkan satu kata menyesakkan yang diucapkan oleh orang tuanya, yaitu "Cerai".
Dunia nya menjadi sangat hancur.
Tidak, dunia nya selalu seperti ini. Dulu maupun sekarang, tidak ada bedanya.
Hari penceraian orang tua nya pun tiba, ia tidak ikut dengan salah satunya, bahkan orangtuanya tidak memperebutkan siapa yang akan memiliki hak asuh nya.
Hingga pada akhirnya, hak asuhnya jatuh ke tangan kakek dan neneknya. Ia pun dirawat dan tinggal di rumah kakek neneknya.
Hatinya yang sudah hancur, kini makin hancur. Ia mengurung diri di dalam kamar yang gelap gulita. Semakin dipikirkan hati nya semakin sakit.
Hingga, tumpah air mata dan isakkan tangisnya. Ia sudah tidak bisa menahannya.
"Apakah aku hanya beban bagi mereka?"
"Apakah aku anak yang tidak diinginkan?"
"Apakah aku hanyalah sebuah kesalahan?"
"Apakah aku hanyalah sebuah kegagalan?"
Kata kata tersebut selalu terputar di pikirannya. Ia bertanya tanya, untuk apa ia hidup jika kehidupannya saja tidak diinginkan orang tuanya.
Jatuh di dalam pikirannya, tiba tiba ia melihat ada cahaya yang muncul dari HP nya. Itu adalah notifikasi yang masuk dari teman anonimnya.
Berbagai pesan yang menanyakan keadaannya muncul satu per satu di notifikasi HP nya. Melihat pesan itu, Ia merasa masih ada yang peduli dengan dirinya.
Ia mengambil HP nya. Membaca dan membalas satu per satu pesannya.
Hingga sebuah pesan telah dikirimkan kepadanya.
"Keadaan mu memang sedang tidak baik-baik saja. Tapi jangan pernah menganggap dirimu tidak berguna. Jangan pernah menganggap dirimu hanyalah sebuah kesalahan dan kegagalan. Setiap kehidupan memiliki arti. Jika kamu merasa hidup mu tidak ada artinya, maka carilah. Carilah arti hidupmu. Jika tidak ada, maka buatlah. Buatlah dirimu menjadi berarti. Buatlah semua orang melihat mu. Buatlah semua orang bangga terhadap dirimu. Kamu tidak bisa memilih sebuah keluarga. Tetapi kamu bisa memilih kehidupan seperti apa yang kamu inginkan."
Melihat pesan tersebut, hati dan pikiran nya mulai terbuka. Kata kata tersebut membuat ia memikirkan apa sebenarnya arti hidupnya. Apa sebenarnya yang ia inginkan. Kehidupan seperti apa yang ingin ia jalankan.
Ia terus memikirkan nya, hingga suatu saat ia menemukan jawabannya.
"Aku ingin bahagia. Aku ingin bahagia versi diriku. Aku ingin melihat dunia. Dan aku juga ingin dunia melihatku."
Sejak hari itulah, ia mulai menemukan jati dirinya. Ia mulai menekuni sekolahnya. Hingga ia lulus SMA dengan label siswa dengan lulusan terbaik.
Ia diterima di Universitas ternama di dunia. Ia Mengikuti berbagai perlombaan. Meraih berbagai prestasi. Mempelajari berbagai pengetahuan. Bertemu dengan berbagai orang hebat yang berbeda beda.
Kini ia berhasil menjadi orang sukses yang dikenal dunia. Ia menjadi seorang profesor peneliti yang berkeliling dunia untuk meneliti hal hal yang baru.
Kini Ia sangat bahagia, Ia telah menemukan arti hidupnya. Kehidupan yang ia bangun dengan hasil kerja kerasnya. Ia sangat bangga terhadap dirinya yang sekarang.
Ia bisa melangkah kan kaki hingga hari ini merupakan suatu berkah. Semuanya berawal dari pesan yang dikirimkan oleh teman anonimnya. Kata kata tersebut telah membuka hati dan matanya.
Hingga saat ini ia tidak mengenal siapa teman anonimnya. Tetapi, siapa pun itu, ia sangat bersyukur akan kehadiran nya.
Sebuah pesan dari hati yang paling dalam telah ia dikirimkan.
"Terima kasih Temanku."