Lampu bohlam lima watt di lorong tengah itu berkedip pelan, memancarkan cahaya kuning kekuningan yang redup dan temaram. Bayangan tiang kayu jati penyangga atap rumah meliuk-liuk di dinding kayu seperti jemari raksasa yang hendak mencengkeram. Setiap kali angin malam berembus menerpa celah-celah papan, terdengar derit halus yang panjang, menyerupai erangan seseorang dari balik kegelapan.
Rumah ini, kata Ibu, dulu adalah rumah paling ramai di kampung kami. Nenek melahirkan delapan orang anak di ruangan tengah yang lapang itu. Ibu adalah anak bungsu, si bungsu yang amat disayangi namun juga terikat oleh kewajiban yang tak tertulis. Satu per satu kakak Ibu menikah, memboyong keluarga kecil mereka keluar, membangun hidup di tempat lain. Hanya Ibu yang tak diizinkan pergi. Nenek tidak mau kesepian di masa tuanya, apalagi Kakek sudah wafat jauh sebelum aku lahir—katanya saat Ibu masih duduk di bangku sekolah dasar.
Namun, kehangatan itu menguap seiring berpulangnya Nenek ketika usiaku baru menginjak dua tahun. Aku tak pernah benar-benar sempat mengingat senyum atau dekapan Nenek. Yang tersisa di kenanganku hanyalah warisan rumah tua yang mendadak berubah menjadi asing dan mencekam. Bapak dan Ibu sering berbisik di meja makan, bercerita betapa berubahnya suasana rumah semenjak hari kelabu itu. Haura asing yang dulu hangat kini terasa singup, berat, dan menekan dada. Bahkan Bapak, lelaki yang tak pernah takut pada apa pun, enggan melangkahkan kaki keluar kamar setiap kali azan maghrib usai berkumandang. Bayangkan, hanya untuk pergi ke kamar mandi yang letaknya di ujung lorong dapur saja, tak ada satu pun yang berani.
Waktu itu aku belum mengerti. Bagiku, ketakutan orang tuaku hanyalah dongeng sebelum tidur yang tak masuk akal. Hingga akhirnya, saat aku memasuki kelas 1 SD, rumah itu memutuskan untuk mengenalkanku pada wujud aslinya.
---
Hari itu hujan deras mengguyur kampung sejak sore. Bau tanah basah bersatu dengan aroma kayu lapuk yang makin tajam tercium dari sudut-sudut plafon. Jam dinding kuno bernada dentang tembaga menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Di luar, suara jangkrik dan katak bersahut-sahutan di tengah gulita yang pekat. Lingkungan rumah Nenek memang terisolasi, dikelilingi kebun bambu rimbun tanpa ada tetangga dekat.
Aku sedang duduk di lantai kamar, menyusun buku pelajaran untuk jadwal esok hari. Lampu kamar kami terang, tetapi kegelapan di balik pintu yang sedikit terbuka seperti menatapku dengan dingin.
"Rian, kalau sudah rapi, langsung tidur ya. Jangan keluar kamar," ujar Ibu pelan sembari melipat mukena usai shalat Maghrib. Raut wajahnya tegang, seperti biasa ketika malam mulai merayap naik.
"Bu, Rian aus..." bisikku, menatap gelas plastikku yang sudah kosong melompong.
Bapak yang sedang membaca koran tua di sudut ranjang mendongak, matanya menatap tajam ke arah pintu kamar yang mengarah ke lorong tengah. "Tahan dulu, Rian. Besok pagi baru minum. Atau tunggu Bapak nanti kalau sudah terang."
Aku merengut. Tenggorokanku terasa begitu kering dan gatal. Rasa haus anak usia tujuh tahun kadang mengalahkan rasa takut. Aku membiarkan Bapak dan Ibu tertidur lebar beberapa jam kemudian, tertidur lelap akibat kelelahan bekerja seharian di ladang.
Sekitar pukul sembilan malam, rasa haus itu makin tak tertahankan. Dengan keberanian anak kecil yang naif, aku memutuskan melanggar larangan Bapak. Pelan-pelan aku membuka pintu kamar kayu yang berdecit halus, lalu melangkah keluar ke lorong tengah.
Lantai papan jati dingin menyengat telapak kakiku. Lorong itu gelap gulita, hanya dibantu cahaya temaram dari bohlam lima watt dekat dapur. Bulu kudukku berdiri seketika. Suasana singup yang sering diceritakan Ibu kini membalut seluruh tubuhku. Udara di sekitarku mendadak menjadi sangat dingin, dingin yang bukan berasal dari angin hujan, melainkan dingin yang terasa hampa dan menusuk tulang.
Aku berjalan berjinjit menuju dapur. Di meja makan kayu yang panjang—tempat di mana delapan anak Nenek dulu pernah berkumpul dan tertawa—aku menemukan teko seng berisi air dingin. Tanpa menunggu lama, aku menuangkannya ke dalam gelas dan meminumnya teguk demi teguk.
Klek.
Suara itu datang dari arah ruang tengah. Suara langkah kaki berderit menduduki kursi goyang tua milik Nenek yang seharusnya sudah berdebu di pojok ruangan.
Jantungku berdegup kencang. Gelas plastik di tanganku nyaris terlepas. Aku membeku di balik selimut kegelapan dapur. Keinginan untuk berlari kembali ke kamar Bapak dan Ibu mendadak tertahan oleh rasa penasaran yang luar biasa. Pelan-pelan, aku mengintip dari balik tiang kayu penyangga Dapur.
Di sana, di atas kursi goyang yang bergerak perlahan maju dan mundur, duduk seorang wanita tua.
Rambutnya putih bergelombang, disanggul agak longgar. Ia mengenakan kebaya melati lusuh dan kain samping motif batik kuno. Kursi itu berderit ritmis—kriit, kraak, kriit, kraak. Wanita itu membelakangiku, tetapi aku bisa melihat tangannya yang keriput sedang mengelus-elus sesuatu di pangkuannya.
Nenek? Apakah itu Nenek?
Rasa takutku mendadak tergantikan oleh kebingungan. Katanya Nenek sudah meninggal waktu aku umur dua tahun. Kenapa dia ada di sini?
Tiba-tiba, wanita tua itu berhenti bergoyang. Kursi kayu itu terkunci kaku. Tanpa memutarkan badannya, kepalanya meliuk pelan—berputar dengan sudut yang sangat tidak wajar hingga wajahnya menghadap sepenuhnya ke arahku yang bersembunyi di balik tiang!
Aku menjerit dalam hati, tetapi suaraku seperti tertahan di tenggorokan. Wajahnya bukanlah wajah seorang nenek yang penuh kasih sayang. Matanya legok dan melotot putih tanpa pupil, kulitnya pucat kehijauan dan membusuk di beberapa bagian pipi. Ia tersenyum sangat lebar, menyingkapkan gusi hitam tanpa gigi, melambaikan tangannya yang hanya tersisa balutan kulit dan tulang ke arahku.
"Rian... cucuku..." suara itu seperti desisan angin yang keluar dari lubang kubur.
Aku berbalik dan berlari sekencang-kencangnya dalam kegelapan. Aku menabrak pintu kamar, mendobraknya hingga terbuka, dan melompat ke atas ranjang di antara Bapak dan Ibu sambil menangis histeris.
"Ada apa, Rian?! Ada apa?!" Bapak terbangun kaget, memelukku erat. Ibu ikut terbangun dengan wajah pucat pasi.
"Ada Nenek di ruang tengah! Nenek duduk di kursi goyang!" teriakku sesenggukan, menutup seluruh tubuhku dengan selimut.
Bapak dan Ibu saling pandang. Wajah Ibu seketika memutih bagai kapas. Malam itu, Bapak tidak berani mengintip keluar sama sekali. Kami bertiga berpelukan di balik selimut hingga fajar menyingsing, mendengarkan suara derit kursi goyang dan ketukan halus di pintu kamar kami sepanjang malam.
---
Keesokan harinya, aku demam tinggi. Pengalaman malam itu menyisakan trauma mendalam. Sejak hari itu, aku tidak pernah lagi berani menatap lorong tengah jika hari mulai gelap. Namun, ingatan anak SD tentang sosok "Nenek" yang menakutkan itu terus membayangiku. Aku selalu mengira bahwa rumah itu dirasuki oleh roh Nenek yang tidak tenang karena ditinggalkan oleh anak-anaknya. Aku mengira hantu yang menakut-nakuti kami selama bertahun-tahun adalah arwah penunggu rumah yang marah.
Sampai akhirnya, bertahun-tahun kemudian, ketika aku sudah beranjak dewasa dan rumah tua itu diputuskan untuk dibongkar total karena kayu-kayunya sudah mulai lapuk dimakan usia.
Pekerja bangunan dikerahkan untuk merubuhkan dinding dan membongkar lantai-lantai kayu jati di ruang tengah. Aku, Bapak, dan Ibu menatap proses pembongkaran itu dari luar halaman dengan perasaan campur aduk. Rumah penuh kenangan mengerikan itu akhirnya akan rata dengan tanah.
Tiba-tiba, seorang pekerja berteriak dari dalam. "Pak! Tolong ke sini sebentar! Ada yang aneh di bawah papan lantai ruang tengah!"
Bapak melangkah masuk, dan aku mengikutinya dari belakang. Di bawah bekas posisi kursi goyang tua Nenek ditempatkan dulu, terdapat papan lantai yang bisa diangkat. Di dalam rongga tanah bawah tanah yang sempit dan berdebu itu, tergeletak sebuah kotak kayu berukir tua yang terkunci gembok berkarat.
Dengan linggis, pekerja membongkar paska gembok tersebut. Ketika tutupnya terbuka, udara dingin yang amat meyakinkan—udara dingin *singup* yang sama persis seperti malam saat aku kelas 1 SD dulu—mendadak berembus keluar menyengat wajah kami.
Di dalam kotak itu tidak ada perhiasan atau surat tanah.
Di dalamnya terdapat sekumpulan foto-foto hitam putih kuno yang sudah agak koyak. Dan sebuah buku harian lusuh bersampul kulit milik Kakek.
Bapak mengambil buku harian itu dengan tangan gemetar, membukanya pelan-pelan. Aku berdiri di samping Bapak, membaca tulisan tangan Kakek yang pudar namun masih bisa terbaca jelas.
14 Oktober 1978.
Anak-anakku satu per satu pergi. Mereka menikah dan meninggalkanku di rumah tua ini. Hanya si bungsu yang tersisa. Tapi ibunya... istriku... dia tak pernah membiarkan mereka benar-benar pergi. Dia menggunakan pesugihan ilmu hitam untuk mengikat rumah ini agar keturunannya selalu dihantui rasa takut dan tak bisa bertahan lama di luar sana.
20 November 1980.
Aku menemukan ikatan tumbal itu di bawah lantai ruang tengah. Istriku bukan lagi manusia. Dia telah menumbalkan jiwanya sendiri pada punden kegelapan demi menjaga rumah ini tetap "berpenghuni". Wajah yang tersenyum padaku tiap malam bukanlah wajah wanita yang kunikahi dulu. Saat aku mati nanti, aku tahu dia takkan pernah benar-benar pergi. Dia akan terus berpura-pura menjadi Nenek yang kesepian, padahal dia adalah wadah iblis yang mengincar jiwa anak cucunya.*
Jantungku serasa berhenti berdetak saat membaca baris-baris berikutnya.
Catatan Terakhir Kakek:
Bagi siapa pun yang membaca ini... Nenek yang kalian kenal sudah lama meninggal saat melahirkan anak kedelapannya. Wanita yang tinggal bersama kalian selama ini... wanita yang membesarkan si bungsu dan berpura-pura menjadi Nenek kalian sampai tahun-tahun terakhirnya... adalah entitas penyesat yang mengambil alih wujudnya.
Bapak menatap Ibu dengan mata terbelalak horor. Ibu tersungkur di tanah, menangis histeris.
Plot twist yang menghantam dadaku begitu sesak: Sosok mengerikan yang kulihat saat kelas 1 SD dulu, sosok yang selama ini kami sangka sebagai arwah Nenek yang menakutkan setelah beliau meninggal... ternyata bukanlah hantu penunggu rumah.
Selama bertahun-tahun sejak aku lahir, bahkan saat Nenek masih "hidup" dan merawatku hingga umur dua tahun... yang tinggal dan bernapas satu atap bersama kami, yang menyuapiku makan, dan yang memeluk Ibu sewaktu kecil... bukanlah manusia. Melainkan sesosok mahluk kegelapan yang mengenakan kulit Nenek, mengikat keluarga kami dalam lingkaran ketakutan abadi di rumah tua itu.