Di balik dinding putih rumah megah yang tampak sempurna, tersembunyi retakan yang tak pernah terlihat oleh mata dunia. Luka tanpa darah. Tangis tanpa suara. Pergolakan batin yang membusuk perlahan di antara orang-orang yang menyebut diri mereka 'keluarga'.
Semuanya berawal saat sang ayah membawa pulang seorang gadis ke dalam rumah itu.
Karena kondisi fisik gadis itu tidak sempurna, sang ibu memberi perhatian lebih padanya. Seolah seluruh kasih sayang yang telah lama ia pendam kini meluap sekaligus, bagai bendungan jebol yang diperuntukkan bagi satu orang saja.
Hal itu membuat ketiga saudaranya iri. Terutama si bungsu—Nayla—yang terbiasa dimanja dan tak pernah belajar berbagi, serta si sulung—Revan—yang merasa singgasananya terancam oleh kehadiran orang luar.
Sementara dia—Jihan—putra kedua yang jarang dilihat, hanya menyaksikan semuanya dalam diam. Dari tempat yang sama. Dengan ekspresi serupa. Tanpa seorang pun menyadari bahwa di balik keheningannya, ada badai yang tak pernah reda.
Berbeda dengan Nayla yang tangisannya selalu didengar, dan Revan yang namanya selalu disebut dengan bangga.
Sebagai anak tengah, Jihan selalu dituntut mengalah. Baik pada adiknya, maupun pada kakaknya. Seolah ia dilahirkan bukan untuk memiliki; melainkan untuk menyerahkan segalanya.
Awalnya, Jihan sempat meminta keadilan. Pernah, ia menatap kedua orang tuanya dengan mata penuh harap, menunggu mereka sadar bahwa ia juga ada. Bahwa ia juga memiliki perasaan. Tapi suaranya selalu dibungkam oleh berbagai dalih yang hanya terdengar adil di permukaan.
Hari-harinya dipenuhi tekanan dan warna kelabu. Langit yang ia tatap dari jendela kamarnya selalu terasa mendung, sekalipun matahari menyala terik di luar sana.
Satu bantahan dianggap sebagai dosa. Satu ketidakpatuhan berakhir dengan hukuman; bukan pukulan, melainkan pengabaian. Dan sunyi yang sengaja diciptakan itu jauh lebih menyayat dari sekadar tamparan.
Hingga akhirnya Jihan memilih benar-benar bisu. Tak berani bicara, apalagi meminta. Ia mengerti, diam adalah satu-satunya benteng yang tersisa untuk melindungi diri dari ekspektasinya sendiri.
Ia hanya bisa duduk di meja makan, menyaksikan tawa yang tak pernah ditujukan padanya. Candaan hangat antara ayah dan Revan, celotehan manja Nayla yang selalu disambut usapan sayang dari ibunya. Walau tubuhnya ada di sana—duduk di kursi yang sama, menikmati hidangan di meja yang sama—keberadaannya tak lebih dari bayangan yang jatuh tanpa suara. Ia ada, namun hanya dianggap seperti udara.
Hari-hari yang hambar dan menyesakkan itu terus berlanjut, seperti musim kemarau yang tak berkesudahan. Hingga gadis itu—Alisa—datang.
Nayla merasa tempatnya direbut. Revan merasa posisinya goyah. Perhatian kedua orang tua sepenuhnya beralih pada putri yang hilang dan akhirnya ditemukan kembali.
Sementara Jihan, yang sedari awal memang tak pernah diperhatikan, menonton semuanya dari sudut tergelap panggung keluarga ini.
Tidak ikut campur. Hanya seorang penyimak yang keberadaannya bahkan tak lebih berarti, dari pelayan yang masih dimintai tolong meski tanpa ucapan terima kasih.
Tapi diam-diam, ia cukup menikmati. Melihat adik yang kerap menyalahkannya dan kakak yang gemar menindasnya, kini merasa terancam oleh gadis lemah yang bahkan memiliki kekurangan. Ironi yang membuatnya hampir tersenyum; senyum pahit yang tak pernah sampai ke matanya.
Ya. Meski Alisa—gadis yang seumuran dengannya itu—begitu cantik bak lili putih yang baru mekar di pagi hari, ia memiliki cacat bawaan lahir. Jemarinya tak tumbuh sempurna. Beberapa ruas hilang, seolah takdir sengaja merampas sebagian dirinya sebelum ia sempat mengenal dunia.
Sungguh disayangkan. Gadis yang sangat tertarik di bidang musik—terutama piano—itu tak bisa memainkan alat musik yang paling ia dambakan. Jemari yang seharusnya menari di atas tuts hitam putih, hanya bisa menatapnya dari kejauhan.
Tapi dibanding rasa iba, yang Jihan rasakan hanya ironi yang jauh lebih tajam. Alisa dicintai, dicari, diperjuangkan. Sementara dirinya? Masih terabaikan seperti biasa. Padahal bila diberi kesempatan, ia juga mampu meraih banyak hal lebih dari semua saudaranya.
Pernah sekali, ia menunjukkan nilai ujian yang lebih tinggi dari Revan. Bukannya bangga, orang tuanya justru menyuruhnya jangan berlebihan karena membuat kakaknya malu. Artinya sederhana, prestasinya tak lebih dari gangguan. Bintang yang tak diharapkan untuk bersinar.
Sejak saat itu, ia tak pernah lagi mengejar nilai tinggi. Untuk apa menyalakan lilin, bila nyalanya justru diminta padam?
Dan saat Nayla meminta semua miliknya, orang tuanya selalu memihak. Bahkan gitar kesayangannya—satu-satunya hadiah ulang tahun yang pernah ia terima—dirusak begitu saja oleh Nayla yang bosan karena tak bisa memainkannya. Senar-senarnya putus, badannya retak. Seperti hatinya yang sudah lama patah tanpa ada yang berniat merekatkan.
Orang tuanya berjanji mengganti. Tapi sampai sekarang janji itu tak pernah dipenuhi. Seolah hanya angin lalu yang menerbangkan harapan terakhirnya sampai tak berbekas ...
Hingga Jihan berhenti menekuni hobi aransemen yang diam-diam ia geluti. Percuma saja, bila apa yang ia punya akan selalu direbut dan dirusak tanpa alasan yang jelas.
Sekarang, kedua orang tuanya mengabulkan setiap keinginan Alisa. Memperlakukannya seperti harta berharga yang telah lama hilang dan baru ditemukan.
Tapi ia yang sudah terbiasa diabaikan, tak lagi memiliki rasa iri yang berarti. Malah ia cukup terhibur, melihat Revan dan Nayla bersusah payah merebut perhatian yang dulu mereka anggap sebagai hal wajar.
Dan Jihan pikir ... ia juga tak akan bisa menggapai gadis itu, sekalipun mereka tinggal di bawah atap yang sama.
Hingga suatu hari ... Alisa mencoba masuk ke dalam dunianya. Menanyakan keinginan, dan menawarkan harapan. Dua hal yang sudah lama mati di telinganya.
Jihan tak memberi tanggapan berlebihan. Ia memasang wajah datar; topeng yang sudah begitu menyatu hingga ia sendiri tak lagi tahu mana dirinya yang asli.
Ia tak berniat membiarkan Alisa masuk. Kehidupan mereka terlalu bertolak belakang. Alisa adalah matahari yang seluruh dunia mengorbit padanya. Sedang Jihan? Ia bahkan bukan bintang; hanya debu sisa ledakan yang melayang tanpa tujuan di tengah dinginnya antariksa.
Tapi ia tak membenci Alisa. Ia tak memiliki cukup alasan atau bahan bakar untuk melakukannya.
Jadi ia hanya menjawab seadanya, seraya terus menjaga jarak darinya. Seharusnya demikian ...
Namun lambat laun, setiap usaha kecil Alisa mulai menembus pertahanannya. Perlahan. Lembut. Seperti cahaya fajar yang merambat masuk melalui celah tirai yang selama ini tertutup rapat.
Alisa tak pernah menuntut atau merebut sesuatu darinya. Gadis itu hanya hadir, sesekali memulai obrolan kecil, menanyakan hal-hal yang bagi orang lain mungkin tak berarti; tapi bagi seseorang yang tak pernah ditanya sepertinya, setiap kalimat itu bagai tangan yang terulur menariknya dari kegelapan, berbisik: 'Aku tahu kamu ada di sana.'
Tanpa sadar, Jihan mulai menerima kehadiran Alisa. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang ingin berbicara dengannya. Bukan untuk menghakimi, bukan pula menyuruhnya terus mengalah. Hanya ungkapan penuh ketulusan yang membuat langit kelabu di hidupnya menjadi cerah.
Dan entah kenapa, sikap dingin orang tuanya perlahan mencair saat ia semakin dekat dengan Alisa.
Di situ ia kembali melihat harapan. Jadi alih-alih memusuhi Alisa seperti Revan dan Nayla, Jihan memilih jalan berbeda; memihak gadis yang paling disayangi orang tuanya.
Walau awalnya terasa canggung, Jihan mulai menempatkan diri sebagai kakak yang penuh perhatian. Sebuah peran yang awalnya hanya strategi bertahan, namun perlahan menjelma menjadi ketulusan yang bahkan tak ia sadari.
Hasilnya? Sikap dingin orang tuanya seolah runtuh. Mereka mulai mengajaknya bicara, walau sebagian besar tentang Alisa. Tapi setidaknya ... untuk pertama kalinya, suaranya didengar di rumah ini.
Terlebih saat ia membela Alisa. Melihat Revan dan Nayla terus mengejek kondisi fisik gadis itu, Jihan yang selama ini menahan diri akhirnya tak tahan lagi.
Di meja makan, ia menggebrak meja dan secara terbuka mengkritisi sikap kedua saudaranya. Suaranya yang selama ini terkubur, meledak bagai guntur di tengah keheningan.
Tapi kali ini ... orang tuanya tidak menyuruhnya diam. Untuk pertama kalinya, diamnya mereka bukan lagi pengabaian; melainkan pengakuan.
Sejak saat itu, mereka tak lagi menuntutnya mengalah. Di sekolah, ia kembali memiliki motivasi meraih prestasi. Api yang sudah lama padam mulai menyala. Kecil, tapi nyata.
Hari-hari Jihan yang kelabu mulai berwarna. Alisa tak memberikan segalanya, gadis itu memberi sesuatu yang jauh lebih berharga: alasan untuk tetap ada.
Jadi setelah lulus SMA, Jihan masuk bidang kedokteran. Melakukan riset tentang restrukturisasi anggota tubuh yang hilang, sekalipun itu cacat bawaan lahir.
Demi orang tua yang menginginkan putrinya hidup normal, dan yang terpenting ... demi impian terbesar Alisa. Demi jemari yang seharusnya menari di atas tuts piano, demi melodi yang selama ini terkurung dalam hatinya.
Selama penelitian, Jihan selalu teringat pertanyaan Alisa sewaktu pertama kali gadis itu mendekatinya. Waktu itu ia hanya menjawab asal; ingin hidup tenang, punya keluarga harmonis. Walau sebenarnya itu sindiran atas sikap dingin orang tuanya.
Tapi Alisa tak tersinggung. Gadis itu tersenyum. Senyum yang lembut nan indah; senyum yang tak menuntut balasan, yang tak mengharap imbalan. Lalu berkata dengan ketulusan yang belum pernah Jihan rasakan.
"Aku yakin, harapan Kakak pasti terwujud ..."
Ia menggeleng ringan.
"Tidak. Kalau boleh ... aku juga mau bantu mewujudkan harapan Kakak ..."
Jihan pikir gadis itu tak mengerti maksudnya. Tapi kenyataannya, Alisa benar-benar mewujudkannya. Bukan hanya mengubah rumah yang dingin ini menjadi hangat untuknya, ia juga membuat Jihan merasa bahagia hanya dengan kehadirannya. Tanpa disadari, gadis itu telah menyentuh ruang terdalam dari hatinya yang sudah lama ia kunci.
Makanya Jihan ingin sekali mewujudkan impian adik perempuannya sebagai seorang pianis.
○○○
Beberapa tahun berlalu … tahun-tahun yang dipenuhi malam tanpa tidur dan kegagalan yang tak terhitung jumlahnya. Hingga akhirnya, Jihan menyelesaikan penelitian dan berhasil melakukan operasi restrukturisasi dengan kesempurnaan tinggi.
Ia mendapat penghargaan internasional di bidang kedokteran. Untuk pertama kalinya, ia mendengar kata 'bangga' dari orang tuanya; kata yang selama ini hanya diberikan pada Revan, kata yang ia pikir tak akan pernah mereka tujukan padanya.
Walau tak terlalu berharap, hatinya seolah dipenuhi kehangatan. Namun yang paling ia nanti adalah senyum Alisa, yang sudah lama tak ia temui karena riset di luar negeri. Senyum yang menjadi titik awal dari segalanya.
Setelah melewati berbagai gangguan dari Revan dan Nayla yang tak terima akan kesuksesannya, Jihan memulai operasi untuk menyempurnakan jemari Alisa.
Ia membentuk ulang setiap tulang, otot, saraf, hingga kulit; membimbing sel-sel baru berkembang hingga membentuk jemari yang indah dan utuh. Setiap jahitan ia lakukan dengan ketelitian seorang seniman yang sedang memahat mahakaryanya. Karena jemari ini bukan sekadar anggota tubuh; ini adalah kunci menuju impian Alisa.
Butuh beberapa bulan pemulihan. Dan saat pertama kali jemari itu menyentuh tuts piano—saat nada pertama mengalun dari bawah sentuhannya, jernih dan gemetar bagai doa yang akhirnya terjawab—Alisa menangis. Jihan yang berdiri di belakangnya, diam-diam memalingkan wajah. Bukan karena tak ingin melihat; tapi karena matanya tak kalah lembap.
Hari demi hari, Jihan menemani Alisa berlatih piano. Mengikuti audisi. Hingga gadis itu meraih penghargaan dan segera menggelar konser perdananya.
Tapi saat Jihan hendak berbahagia, Alisa didiagnosis mengalami gangguan autoimun.
Dunia yang baru saja berwarna kembali pudar. Seolah takdir tak pernah mengizinkan kebahagiaan tinggal terlalu lama di rumah ini.
Kondisinya melemah. Sehingga gadis itu harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Sementara konser perdana tersebut terpaksa dibatalkan. Piano yang belum lama Alisa mainkan, kembali menunggu dalam kesunyian; seperti panggung kosong yang kehilangan penarinya.
Keluarga yang sempat hangat kini dipenuhi kesedihan. Bahkan Revan dan Nayla mulai merasa iba. Untuk pertama kalinya, rumah itu dipersatukan, bukan karena kebahagiaan, melainkan rasa takut akan kehilangan.
Untuk kedua kalinya, Jihan berjuang dalam penelitian tentang penyakit yang belum ada obatnya. Ia memilih melajang demi menyembuhkan Alisa. Hanya tenggelam dalam riset, dan sesekali menjenguk gadis itu.
Setiap kali melihat kondisi Alisa yang kian melemah, tekadnya semakin mengeras. Bukan hanya sebagai dokter, tapi sebagai seseorang yang tak bisa membayangkan dunia tanpa senyum indah adik perempuan tercintanya.
Ia bahkan tak sempat menghadiri pernikahan Revan karena harus tinggal bertahun-tahun di luar negeri ... hingga akhirnya berhasil mengembangkan metode penyembuhan autoimun bersama para peneliti ternama.
Tapi saat ia pulang, Alisa jatuh koma ... gadis yang dulu selalu tersenyum, kini hanya bisa terbaring dengan tubuh yang begitu ringkih. Wajah yang dulu berseri kini pucat pasi; seperti lili putih yang layu karena terlalu lama tak terkena tetes embun pagi.
Setelah berbicara dengan Alisa yang tak sadarkan diri—berbisik di telinganya, mengatakan hal-hal yang tak pernah berani ia ucapkan saat Alisa terjaga—ia menatap wajah orang tuanya yang tak kalah lelah. Selama ia sibuk meneliti, merekalah yang bergantian menjaga Alisa.
Bersama dokter ahli kenalannya dari luar negeri, Jihan memulai proses penyembuhan. Ia memilih tak hadir di acara penghargaan internasional yang kembali diraihnya.
Penghargaan bisa menunggu. Namun Alisa tidak.
Hingga akhirnya gadis itu sadar, dan kondisinya perlahan membaik.
Di tengah rasa lelahnya, Jihan menemani Alisa. Tanpa sadar, air matanya terjatuh; air mata yang bertahun-tahun ia tahan, yang tak pernah ia izinkan jatuh di hadapan semua orang. Alisa yang melihatnya mencoba menghibur, walau pada akhirnya gadis itu juga tak bisa membendung tangisnya.
Sehingga dua insan itu menangis bersama di ruang putih, saling menggenggam tangan seolah takut kehilangan satu sama lain bila saja jemari mereka terlepas.
○
Satu tahun berlalu. Kondisi Alisa makin membaik.
Sekarang, Jihan bisa membawanya ke taman rumah sakit miliknya. Di tengah hamparan lili putih yang sengaja ia tanam agar Alisa bisa menatapnya dari jendela, Jihan berlutut di hadapan adik perempuannya.
Ia menggenggam lembut jemari gadis itu—jemari yang ia bentuk sendiri, yang lahir dari penelitian dan kerja kerasnya—lalu mengecupnya ringan.
"Sekarang … kamu bisa kembali mengejar impianmu, Alisa. Akan Kakak pastikan, tak ada penyakit mana pun yang menghalangi jalanmu untuk naik ke panggung itu ..."
Mata Alisa berkaca. Ia mencoba menahan, menggantinya dengan senyuman. Tapi bibirnya bergetar, dan dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang lebih besar dari sekadar rasa terima kasih.
Seraya balas menggenggam tangan Jihan, ia bertanya. Pertanyaan yang sering ia ajukan dulu.
"Apakah impian Kakak juga sudah terwujud ...?"
Jihan terkekeh. Menanggapi pertanyaan familiar Alisa dengan sedikit candaan.
"Tentu saja ... berkat dirimu, aku sudah lama meraihnya. Makanya aku tak merasa keberatan, sekalipun harus menghabiskan masa muda dan terus melajang demi adikku tersayang ..."
Pipi Alisa memerah. Lalu dengan segenap keberanian yang ia kumpulkan dari setiap sudut hatinya, gadis itu berkata.
"Kalau begitu ... bagaimana kalau aku menebus semua waktu Kakak yang hilang dengan menjadi istri Kakak saja? Kali ini, biar aku yang merawat Kakak ..."
Jihan terkejut. Jantungnya berdegup kencang! Tapi akal sehatnya segera mengingatkan, bila di hadapannya adalah adik perempuannya. Ia pikir Alisa hanya membalas candaannya.
Tapi belum sempat ia bicara, gadis itu melempar pernyataan yang jauh lebih mengejutkan.
Bahwa Jihan bukanlah anak kandung keluarga ini. Ia hanyalah pengganti Alisa, gadis yang dulu dibuang oleh orang tuanya karena kondisi fisiknya tak sempurna.
Setelah menyesal, orang tuanya mencari Alisa tapi tak berhasil. Mereka mengadopsi Jihan sebagai pengganti. Memilih anak laki-laki karena takut terbayang wajah bayi yang sudah mereka buang. Tapi tak pernah bisa memperlakukan Jihan setara dengan anak kandung; bukan karena membenci, melainkan karena setiap kali menatap Jihan, mereka teringat pada lubang yang mereka ciptakan sendiri. Terlebih setelah Nayla—putri kedua mereka—lahir, Jihan makin terabaikan. Merasa tak lagi membutuhkan sosok pengganti untuk putri yang sengaja mereka hilangkan.
Hingga akhirnya mereka menemukan Alisa. Rasa bersalah yang menumpuk membuat mereka menghujani gadis itu dengan kasih sayang. Dan setelah Alisa menaruh perhatian pada Jihan, mereka juga mulai merasa bersalah terhadap pemuda itu; anak adopsi yang mereka ambil untuk mengisi kekosongan, tapi justru dipaksa merasakan kekosongan mendalam.
Alisa menyadari keanehan itu. Tatapan bersalah orang tuanya pada kakak kedua … yang tak pernah ditujukan pada Revan maupun Nayla. Ia memancing mereka mengungkap kebenaran.
Setelah tahu ia dan Jihan bukan saudara kandung, Alisa diam-diam menyimpan perasaan. Berbeda dari Revan dan Nayla yang mencerca kekurangannya, Jihan tak pernah memberi kesan buruk. Ia tak mengasihani, tak merendahkan. Ia hanya ada. Dengan tenang. Dengan jujur. Dan kehadiran yang tenang itu lebih berarti, dari seribu kata maaf yang sering diucapkan orang tua yang dulu membuangnya.
Terlebih setelah Jihan membelanya secara terang-terangan—mempertaruhkan ketenangan yang selama ini ia jaga demi melindunginya—Alisa benar-benar dibuat jatuh cinta. Terlalu dalam untuk kembali ke permukaan.
Tapi ia tak bisa mengungkapkan. Bila kebenaran terungkap, Jihan pasti terluka. Jadi ia terus bersikap sebagai adik, walau hatinya ingin memanggil nama itu dengan cara yang berbeda.
Apalagi setelah didiagnosis mengidap penyakit yang belum bisa disembuhkan, ia pikir harus menyerah pada perasaannya. Ia tak bisa mengikat Jihan dengan seseorang yang tak akan hidup lama sepertinya.
Di hari-hari terberatnya, Alisa berharap Jihan menemukan orang lain. Tapi membayangkan itu, hatinya terasa jauh lebih sakit dari penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Hingga ia jatuh koma.
Namun di saat ia pikir semuanya sudah berakhir, Jihan kembali. Bukan untuk mengenalkan orang lain, tetapi demi dirinya. Datang dengan mata merah dan tubuh habis, membawa harapan yang seharusnya mustahil.
Dan saat Jihan pingsan karena kelelahan yang terlalu lama ia tumpuk, pertahanan terakhir Alisa runtuh sepenuhnya.
Menyadari lelaki yang ia cintai telah berjuang keras dan mengorbankan banyak hal untuknya, gadis itu tak bisa lagi membendung perasaannya.
◇
Sekarang, di taman ini, keduanya saling menatap dalam diam. Hanya hembusan angin yang membelai kelopak lili putih dan debar jantung mereka yang saling bersahutan. Alisa sudah siap mendengar apa pun, termasuk penolakan.
Sementara Jihan masih tertegun. Setelah mendapat kehangatan keluarga, ia diberitahu bahwa ia hanya pengganti. Anak yang diambil bukan karena dicintai, tapi untuk menutupi luka.
Perlahan kepalanya menunduk. Di satu sisi hatinya sakit. Di sisi lain, ada kelegaan yang begitu miris.
Akhirnya masuk akal, kenapa selama ini orang tuanya begitu dingin. Tapi itu masa lalu. Ia sudah terlalu dewasa untuk terus menyimpan masa kelam itu. Dan sekarang, ia telah menemukan jawabannya ...
Melihat Jihan menunduk lama, Alisa tak bisa menahan kegelisahannya. Dengan lembut, jemari lentik nan indah itu meraih pipi seseorang yang telah menyempurnakannya, meminta lelaki itu kembali menatapnya.
"Mungkin ini sulit bagi Kakak. Tapi percayalah ... baik Ayah maupun Ibunda tak punya niat buruk. Mereka tidak memberitahu karena kita semua sudah menerima Kakak sebagai keluarga. Dan mengenai perkataanku ..."
Alisa menjeda. Dadanya begitu sesak ...
"Kakak bisa mengabaikannya. Sekalipun Kakak tidak menyukaiku sebagai seorang wanita ... tidak masalah. Aku akan selalu menjadi adik yang mendukung Kakak ..."
Air matanya terjatuh. Mengalir deras bagai hujan pertama di tanah yang kering dan retak. Kata-kata yang ia paksakan agar terdengar tegar itu bahkan tak bisa menutupi rasa sakit yang merobek dadanya dari dalam. Sementara senyum yang ia siapkan sebagai perisai hancur berkeping-keping.
Melihat itu, semua keraguan Jihan menghilang.
Sejujurnya, ia sudah lama menyukai Alisa. Tapi ia selalu menganggap perasaan itu sebagai kasih sayang kakak pada adiknya. Setiap detak jantung yang lebih cepat saat Alisa tersenyum, setiap kehangatan saat tangan mereka tak sengaja bersentuhan, semua itu ia kubur dalam-dalam. Karena akal sehat dan hatinya yang sudah terlalu terbiasa untuk tidak berharap, menganggap semua itu sebagai sebuah kesalahan.
Tapi sekarang ... belenggu semu itu terlepas.
Dengan lembut, Jihan menggapai jemari Alisa yang masih berlabuh di pipinya. Mencium jemari lentik—yang ia rangkai dengan segenap upaya dan perhatian—itu satu per satu, lalu berkata dengan suara pelan namun penuh keyakinan.
"Sebenarnya, jawaban yang dulu aku katakan tidak sepenuhnya benar. Keinginanku yang sesungguhnya ... adalah membangun keluargaku sendiri bersama orang yang aku cintai."
Ia menatap lurus ke mata Alisa yang basah.
"Dan orang itu … adalah kamu ...,"
Ia menyeka air mata Alisa. Menempatkan kedua tangan gadis itu di depan dadanya—tepat di mana jantungnya berdegup kencang—agar Alisa bisa merasakan bahwa debar itu, seluruhnya, hanya berdetak untuknya.
"Kamu yang menarikku dari dunia kelabu. Kamu yang membuatku tahu bahwa masih ada yang peduli padaku. Dan kamu yang mengajariku makna kasih sayang sesungguhnya ..."
Suaranya bergetar. Air matanya ikut jatuh. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata dari seseorang yang akhirnya menemukan jalan pulang setelah tersesat sekian lama.
"Kamu adalah alasan aku bertahan, Alisa. Kamu adalah alasan aku masih bisa berdiri … di saat seluruh dunia mengabaikan keberadaanku ..."
Alisa terdiam seribu bahasa. Bibirnya terbuka tapi tak dapat bersuara. Kebahagiaan dan kelegaan dalam benaknya berpadu menjadi sesuatu yang terlalu besar untuk ditampung hati seorang manusia.
Terlebih ketika Jihan mengungkapkan, dengan suara yang pecah oleh perasaan namun sarat ketulusan yang tak bisa dipalsukan ...
"Alisa ...”
“Maukah kamu membangun keluarga kecil bersamaku …?"
Waktu seolah berhenti bagi gadis itu.
Angin sore membawa harum lili putih dari taman yang Jihan tanam untuknya. Matahari turun perlahan, mewarnai langit dengan jingga dan merah muda, bagai kanvas yang dilukis khusus untuk momen yang sakral ini.
Alisa mengangguk. Berulang kali. Dengan air mata yang tak henti mengalir. Air mata dari gadis yang sudah menyerah, yang sudah siap melepaskan segalanya, namun justru mendapatkan sesuatu yang melampaui segala impiannya.
Ia menghambur dalam pelukan Jihan yang segera meraihnya. Memeluknya begitu erat, seolah takut bila ia melepaskan, semua ini akan menguap bersama embun senja.
Di dalam pelukan itu, Alisa mendengar detak jantung Jihan. Melodi terindah yang pernah ia dengar, lebih indah dari komposisi piano mana pun. Dan dengan suara berbisik, pecah oleh tangis bahagia yang selaras dengan garis edar semesta, gadis itu berkata ...
"Kalau begitu ... tolong terus jaga aku. Seperti Kakak yang selalu menjagaku. Kali ini, biarkan aku juga menjaga Kakak ..."
Jihan mempererat pelukannya. Air matanya jatuh di puncak kepala Alisa.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa menjadi seseorang yang utuh.
Ia yang tumbuh tanpa tempat, yang hidup tanpa pengakuan, akhirnya menemukan rumahnya.
Bukan rumah besar tempat ia dibesarkan. Bukan rumah sakit yang ia bangun dengan segala jerih payah.
Melainkan di dalam pelukan gadis rapuh yang telah mengajarkan arti sesungguhnya dari kata 'keluarga'.
Dan saat matahari terbenam di balik hamparan lili putih yang bergoyang lembut—bunga-bunga yang tumbuh dari cinta yang terlalu lama tak terucap—dua jiwa yang sama-sama terluka itu akhirnya menemukan penyembuhnya.
Saling bersenyawa … melengkapi satu sama lain.
Fin.