BAB 3 — MISTERI DI BAWAH JEMBATAN
Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir Pak Slamet berjualan mi ayam sampai larut.
Setidaknya, itulah janji yang berkali-kali ia ucapkan kepada dirinya sendiri.
Sejak kejadian aneh beberapa malam terakhir, hati Pak Slamet tidak pernah benar-benar tenang. Setiap kali melihat jembatan tua yang berdiri di samping gerobaknya, bulu kuduknya selalu berdiri. Ada sesuatu yang berbeda dari tempat itu.
Pada siang hari, jembatan tersebut tampak biasa saja.
Orang-orang melewatinya dengan sepeda motor. Anak-anak sekolah berjalan berkelompok. Petani membawa hasil kebun. Sesekali mobil bak terbuka melintas dengan suara mesin yang berat.
Tetapi ketika malam datang, jembatan itu berubah.
Lampu jalan yang hanya beberapa buah membuat sebagian besar permukaannya berada dalam kegelapan. Pepohonan di kedua sisi sungai bergerak tertiup angin. Air sungai mengalir perlahan di bawahnya.
Dan menurut cerita warga, sudah banyak kejadian aneh yang terjadi di sana.
Pak Slamet sebenarnya tidak terlalu percaya dengan cerita-cerita tersebut.
Sampai akhirnya ia sendiri mengalami kejadian yang tidak dapat dijelaskan.
Malam itu, sekitar pukul sebelas lewat sedikit, warung mi ayamnya mulai sepi.
Tiga orang pelanggan terakhir sudah pergi.
Pak Slamet berdiri di belakang gerobaknya sambil membersihkan meja.
“Sudah mau tutup, Pak?”
Suara Bu Dila membuat Pak Slamet menoleh.
Bu Dila masih duduk di kursi plastik. Di depannya terdapat mangkuk mi ayam yang tinggal sedikit kuahnya.
“Iya, Bu,” jawab Pak Slamet. “Sudah terlalu malam.”
Bu Dila melihat jam tangannya.
“Jam sebelas lewat dua puluh.”
Pak Slamet mengangguk.
“Biasanya saya tutup jam sepuluh. Tapi tadi ramai.”
“Bagus dong.”
“Bagus kalau ramai. Tapi kalau pulangnya sendirian begini, saya yang repot.”
Bu Dila tertawa kecil.
“Pak Slamet takut?”
Pak Slamet langsung terdiam.
“Siapa yang takut?”
“Bapak.”
“Tidak.”
“Wajahnya kelihatan takut.”
Pak Slamet menghela napas.
“Bu Dila jangan bercanda begitu.”
Bu Dila tersenyum.
“Ya sudah. Aku bantu beres-beres.”
Pak Slamet sebenarnya merasa lega.
Bu Dila adalah satu-satunya orang yang berani mendekati jembatan itu ketika malam. Sementara warga lain biasanya memilih jalan memutar jika harus melewati tempat tersebut setelah pukul sepuluh.
Mereka mulai membereskan warung.
Mangkuk dicuci.
Sendok dikumpulkan.
Kursi plastik dimasukkan ke dalam gerobak.
Panci kuah ditutup.
Kompor dimatikan.
Pak Slamet kemudian mengangkat galon air dan memasukkannya ke bagian bawah gerobak.
Semuanya tampak normal.
Sampai terdengar suara dari arah bawah jembatan.
Krek...
Pak Slamet berhenti.
Tangannya masih memegang kain lap.
Bu Dila juga berhenti.
Keduanya menoleh bersamaan.
Krek...
Suara itu terdengar lagi.
Seperti ranting patah.
Pak Slamet mencoba tersenyum.
“Mungkin kucing.”
Bu Dila tidak menjawab.
Ia mengambil senter.
“Dari mana suaranya?”
Pak Slamet menunjuk.
“Dari bawah.”
Bu Dila berjalan mendekati tepi jembatan.
Pak Slamet langsung mengikutinya.
“Bu, jangan terlalu dekat.”
“Kenapa?”
“Ya... licin.”
Bu Dila menyorotkan senter ke bawah.
Cahaya putih menembus kegelapan.
Tidak ada apa-apa.
Hanya semak.
Batu.
Dan aliran sungai yang terlihat hitam.
“Tidak ada siapa-siapa,” kata Bu Dila.
Pak Slamet mengangguk lega.
“Nah, kan.”
Mereka kembali ke gerobak.
Baru beberapa langkah, suara lain terdengar.
Srek...
Srek...
Seperti seseorang berjalan di atas daun kering.
Pak Slamet berhenti lagi.
“Bu...”
“Aku dengar.”
“Kalau kucing?”
“Kalau kucing, suaranya tidak seperti langkah manusia.”
Pak Slamet menelan ludah.
Bu Dila justru berjalan kembali ke tepi jembatan.
“Kita lihat.”
“Jangan!”
Pak Slamet menahan lengan Bu Dila.
Bu Dila menatapnya.
“Kenapa?”
“Jangan turun.”
“Kenapa?”
Pak Slamet tidak langsung menjawab.
Ia menatap gelapnya sungai.
Entah kenapa, malam itu ia merasa seperti sedang diawasi.
Bukan dari depan.
Bukan dari samping.
Melainkan dari bawah.
Dari tempat yang tidak bisa dilihat.
“Aku merasa ada yang memperhatikan kita,” katanya pelan.
Bu Dila diam.
Untuk pertama kalinya, wajah pemberaninya terlihat sedikit serius.
“Kalau begitu kita jangan turun.”
Pak Slamet menghela napas lega.
Mereka kembali ke gerobak.
Namun sebelum sempat membereskan semuanya, suara perempuan terdengar dari bawah jembatan.
“Pak...”
Pak Slamet membeku.
Bu Dila menatapnya.
“Bapak dengar?”
Pak Slamet mengangguk pelan.
Suara itu terdengar lagi.
“Pak...”
Kali ini lebih jelas.
“Mi ayam...”
Pak Slamet mundur satu langkah.
Bu Dila menatap gelapnya bawah jembatan.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian suara itu terdengar sekali lagi.
“Mi ayam satu...”
Pak Slamet hampir menjatuhkan mangkuk yang sedang dipegangnya.
“Bu Dila...”
“Tenang.”
“Tadi dia pesan mi ayam.”
“Iya.”
“Padahal warung sudah tutup.”
Bu Dila mengambil senter.
“Kita tidak perlu melayani.”
Mereka berdiri diam.
Beberapa detik kemudian terdengar suara air.
Byur...
Pak Slamet memejamkan mata.
“Jangan lihat, Bu.”
Tetapi Bu Dila justru menyorotkan senter ke arah sungai.
Sinar senter menyapu permukaan air.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun kemudian cahaya itu berhenti pada sesuatu.
Sebuah benda merah.
Tersangkut di ranting dekat sungai.
“Apa itu?” tanya Pak Slamet.
Bu Dila memperhatikan.
“Seperti kain.”
“Jangan diambil.”
“Aku cuma melihat.”
Bu Dila memperbesar sorotan senter.
Kain merah itu bergerak mengikuti arus.
Tiba-tiba benda tersebut terlepas dari ranting.
Arus membawanya menjauh.
Bu Dila menurunkan senter.
“Sudahlah.”
Mereka hendak kembali.
Namun saat itulah terdengar suara langkah dari bawah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Semakin dekat.
Pak Slamet menarik napas.
“Bu...”
“Diam.”
Langkah itu berhenti.
Sunyi.
Kemudian terdengar suara perempuan.
“Pak...”
Pak Slamet merasa tubuhnya dingin.
Ia tidak menjawab.
“Pak Slamet...”
Kali ini suara itu menyebut namanya.
Bu Dila langsung menatap Pak Slamet.
“Dia tahu namamu.”
Pak Slamet mengangguk.
“Aku tahu.”
“Jangan jawab.”
Suara itu kembali terdengar.
“Pak Slamet...”
Pak Slamet menutup telinganya.
“Aku tidak mau tahu.”
Kemudian terdengar suara tawa.
Pelan.
Sangat pelan.
“Hihihihi...”
Lampu gerobak berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu mati.
Gelap.
Pak Slamet hampir berteriak.
“Bu!”
“Aku di sini.”
“Lampunya mati.”
“Jangan panik.”
Bu Dila menyalakan senter.
Cahayanya membuat keadaan sedikit lebih jelas.
Namun ketika Pak Slamet melihat meja pelanggan, ia langsung terdiam.
Di atas meja terdapat sebuah mangkuk.
Mangkuk mi ayam.
Padahal semua mangkuk sudah dicuci dan dimasukkan ke dalam gerobak.
“Bu...”
Bu Dila mengikuti arah pandangannya.
Ia juga terdiam.
Mangkuk itu berisi mi.
Masih mengepul.
Pak Slamet mundur.
“Aku tidak membuat itu.”
Bu Dila mendekatinya.
“Aku juga tidak.”
Di samping mangkuk terdapat sepasang sumpit.
Dan di bawahnya ada uang.
Satu lembar uang lama.
Pak Slamet tidak berani menyentuhnya.
Bu Dila mengambil uang tersebut menggunakan kain.
“Ini uang lama.”
“Berapa?”
“Tidak tahu. Seperti uang yang sudah lama tidak digunakan.”
Bu Dila membalik uang itu.
Wajahnya berubah.
“Ada tulisan.”
Pak Slamet mendekat.
Tulisan tangan kecil terlihat di belakang uang tersebut.
AKU JATUH DARI JEMBATAN INI.
Pak Slamet membaca kalimat itu berulang kali.
“Siapa yang menulis?”
Bu Dila menggeleng.
“Tidak tahu.”
Kemudian tulisan lain muncul di bawahnya.
Seolah-olah baru ditulis oleh tangan yang tidak terlihat.
DUA PULUH TAHUN YANG LALU.
Pak Slamet langsung menjauh.
“Bu... kita pulang.”
“Tunggu.”
“Apa lagi?”
Bu Dila memegang uang itu.
“Kalau ini benar, berarti ada seseorang yang meninggal di sini.”
“Bukan urusan kita.”
“Justru mungkin ada sesuatu yang belum selesai.”
Pak Slamet menatapnya.
“Aku tidak mau terlibat.”
Bu Dila diam.
Kemudian suara dari bawah jembatan terdengar lagi.
“Jangan pergi...”
Pak Slamet memejamkan mata.
Suara itu berubah menjadi tangisan.
“Pak... tolong aku...”
Bu Dila menatap ke arah jembatan.
“Kita harus mencari tahu.”
Pak Slamet menggeleng.
“Tidak.”
“Pak.”
“Tidak, Bu.”
“Kita tidak bisa pura-pura tidak mendengar.”
Pak Slamet terdiam.
Ia memang takut.
Sangat takut.
Namun di dalam hatinya muncul sesuatu yang lain.
Rasa kasihan.
Jika memang ada seseorang yang meninggal di tempat itu, mungkin ada alasan mengapa sosok tersebut terus muncul.
Mungkin ia tidak ingin menakuti.
Mungkin ia ingin ditemukan.
Akhirnya Pak Slamet mengangguk.
“Tapi besok.”
Bu Dila setuju.
“Besok.”
Malam itu mereka menutup warung.
Namun sebelum pergi, Pak Slamet menatap mangkuk mi ayam yang masih mengepul.
“Aku tidak tahu siapa kamu,” katanya pelan.
“Kalau memang kamu butuh bantuan, beri kami petunjuk yang jelas.”
Angin tiba-tiba bertiup.
Daun-daun bergerak.
Dan dari bawah jembatan terdengar suara:
“Terima kasih...”
---
Keesokan paginya, Pak Slamet datang lebih awal.
Matahari baru muncul.
Kabut masih tipis di atas sungai.
Ia membawa sapu, ember, dan kain lap.
Warung harus dibersihkan seperti biasa.
Namun pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan kejadian semalam.
Ia melihat mangkuk yang muncul secara misterius.
Uang lama.
Tulisan.
Suara perempuan.
Semua terus berputar di kepalanya.
Sekitar pukul tujuh pagi, Bu Dila datang.
“Pak.”
Pak Slamet menoleh.
“Bu Dila.”
“Kamu tidur?”
Pak Slamet tertawa hambar.
“Tidur.”
“Nyenyak?”
“Tidak.”
Bu Dila duduk.
“Aku juga.”
Pak Slamet membuatkan dua gelas teh.
“Jadi kita mau mencari tahu apa?”
“Siapa perempuan itu.”
“Bagaimana caranya?”
“Mulai dari warga.”
Bu Dila mengeluarkan buku kecil.
“Kita tanya orang-orang tua yang sudah tinggal di sini sejak dulu.”
Pak Slamet mengangguk.
Mereka mulai mencari informasi.
Orang pertama yang mereka temui adalah Pak Karto, seorang warga yang rumahnya tidak jauh dari jembatan.
Pak Karto sudah berusia lebih dari tujuh puluh tahun.
Ketika Bu Dila menyebut soal perempuan yang jatuh dari jembatan dua puluh tahun lalu, wajah Pak Karto berubah.
“Siapa yang cerita kepada kalian?”
Pak Slamet menjawab.
“Tidak ada.”
Pak Karto menatap mereka.
“Kenapa?”
“Karena kami mendengar suara.”
Pak Karto terdiam lama.
Kemudian ia berkata:
“Dulu memang pernah ada kejadian.”
Pak Slamet dan Bu Dila saling berpandangan.
“Siapa korbannya?” tanya Bu Dila.
Pak Karto menghela napas.
“Namanya Sari.”
“Sari?”
“Iya.”
“Dia warga sini?”
“Bukan. Tapi sering datang ke sini.”
“Kenapa?”
Pak Karto menatap sungai.
“Katanya dia menunggu seseorang.”
“Siapa?”
“Seorang laki-laki.”
“Pacarnya?”
Pak Karto mengangguk.
“Begitu cerita orang-orang.”
Pak Slamet mulai merasa tidak nyaman.
“Lalu apa yang terjadi?”
Pak Karto diam.
“Suatu malam, Sari datang ke jembatan.”
“Hujan?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Besok paginya orang menemukan sandal dan tasnya.”
“Tubuhnya ditemukan?”
Pak Karto menggeleng.
“Tidak.”
Pak Slamet langsung merinding.
“Tidak ditemukan?”
“Tidak pernah.”
Bu Dila mencatat.
“Jadi orang-orang menganggap dia jatuh ke sungai?”
“Begitulah.”
“Kenapa tidak ada pencarian?”
“Ada.”
“Lalu?”
“Tidak berhasil.”
Pak Karto kemudian menatap mereka dengan serius.
“Sejak saat itu, banyak orang mendengar suara perempuan di sekitar jembatan.”
Pak Slamet memegang lengannya sendiri.
“Suara minta tolong?”
Pak Karto mengangguk.
“Kadang.”
“Kadang bagaimana?”
“Kadang suara itu memanggil nama orang.”
“Nama siapa?”
Pak Karto menatap Pak Slamet.
“Biasanya orang yang berjualan di dekat jembatan.”
Pak Slamet langsung terdiam.
Bu Dila bertanya lagi.
“Kenapa?”
Pak Karto menggeleng.
“Tidak ada yang tahu.”
---
Mereka kemudian mencari orang lain.
Semakin banyak bertanya, semakin banyak cerita yang mereka dengar.
Ada yang mengatakan Sari dibunuh.
Ada yang mengatakan ia bunuh diri.
Ada pula yang mengatakan ia sebenarnya tidak meninggal, melainkan pergi ke kota lain.
Namun satu hal selalu sama.
Sari menghilang di jembatan itu.
Dan tubuhnya tidak pernah ditemukan.
Sore harinya, Pak Slamet duduk di warung dengan wajah murung.
“Bu Dila.”
“Ya?”
“Kalau dia tidak ditemukan, bagaimana kita bisa tahu dia benar-benar jatuh?”
Bu Dila terdiam.
“Itu yang harus kita cari tahu.”
“Kalau dia masih hidup?”
“Dua puluh tahun sudah berlalu.”
Pak Slamet mengangguk.
“Benar.”
Malam kembali datang.
Pak Slamet memutuskan tetap berjualan.
Namun kali ini Bu Dila ikut menemaninya.
Mereka menunggu.
Jam delapan.
Sembilan.
Sepuluh.
Tidak ada kejadian.
Jam sebelas.
Angin mulai kencang.
Pak Slamet melihat ke bawah jembatan.
“Tidak ada apa-apa.”
Bu Dila mengangguk.
“Bisa jadi.”
Tiba-tiba seorang pelanggan datang.
Seorang laki-laki tua.
Ia duduk di kursi paling dekat dengan sungai.
“Mi ayam satu.”
Pak Slamet membuatkan.
Laki-laki itu makan dalam diam.
Setelah selesai, ia membayar.
Kemudian pergi.
Pak Slamet memperhatikan langkahnya.
Ada sesuatu yang aneh.
Ia seperti pernah melihat laki-laki itu.
“Bu...”
“Apa?”
“Kenal pelanggan tadi?”
“Tidak.”
Pak Slamet melihat uang yang diberikan.
Uang biasa.
Tidak ada tulisan.
Ia merasa lega.
Namun sekitar lima menit kemudian, laki-laki tadi kembali.
Ia berdiri di depan gerobak.
“Pak.”
Pak Slamet menoleh.
“Ya?”
“Jangan jualan di sini lagi.”
Pak Slamet terkejut.
“Kenapa?”
Laki-laki itu menatap jembatan.
“Tempat ini bukan untuk kalian.”
Bu Dila berdiri.
“Bapak tahu sesuatu?”
Laki-laki itu tidak menjawab.
Ia hanya berjalan pergi.
Bu Dila hendak mengejarnya.
Namun Pak Slamet menahan.
“Biarkan.”
“Dia tahu sesuatu.”
“Besok saja.”
Laki-laki itu menghilang di tikungan.
Malam semakin larut.
Tiba-tiba suara perempuan terdengar.
“Pak Slamet...”
Kali ini suaranya sangat dekat.
Pak Slamet berbalik.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun kursi tempat laki-laki tua tadi duduk bergoyang sendiri.
Pelan.
Ke depan.
Ke belakang.
Ke depan.
Ke belakang.
Kemudian kursi itu berhenti.
Di atas meja terdapat sebuah benda.
Sebuah gelang merah.
Bu Dila mengambilnya.
“Ini sama seperti yang kita lihat kemarin.”
Pak Slamet memandangi gelang tersebut.
“Berarti dia benar-benar ada.”
“Siapa?”
“Sari.”
Malam itu mereka tidak tidur.
Mereka mencari informasi tentang gelang tersebut.
Pak Karto mengatakan Sari memang sering memakai gelang merah.
Namun ada sesuatu yang lebih aneh.
Menurut seorang warga tua bernama Bu Marni, Sari tidak datang ke jembatan sendirian pada malam terakhirnya.
Ada seorang laki-laki yang menemaninya.
Namanya Bima.
Pak Slamet langsung teringat pada pelanggan tua tadi.
“Bima?”
Bu Dila mengangguk.
“Mungkin.”
“Jadi dia masih hidup?”
“Kita belum tahu.”
---
Hari berikutnya mereka mencari rumah Bima.
Tidak mudah.
Banyak warga mengatakan Bima sudah pindah.
Namun seorang pedagang tua memberi petunjuk.
“Kalau mau mencari Bima, coba ke rumah kosong di belakang perkebunan.”
Pak Slamet dan Bu Dila pergi ke sana.
Rumah itu sudah lama tidak dihuni.
Pintunya berkarat.
Jendelanya pecah.
Rumput tumbuh tinggi di halaman.
Bu Dila membuka pintu.
Kriiit...
Suara engsel membuat Pak Slamet bergidik.
“Benar mau masuk?”
“Kita sudah sampai.”
Mereka masuk.
Di dalam rumah terdapat banyak barang lama.
Meja.
Kursi.
Foto.
Buku.
Dan sebuah lemari kayu.
Bu Dila membuka lemari.
Di dalamnya terdapat beberapa kotak.
Salah satunya bertuliskan:
SARI
Pak Slamet dan Bu Dila saling memandang.
Mereka membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat foto-foto lama.
Foto seorang perempuan muda.
Sari.
Ada foto Sari berdiri di depan jembatan.
Ada foto Sari bersama seorang laki-laki.
Bima.
Dan ada satu foto yang membuat Bu Dila terdiam.
Foto terakhir.
Sari sedang memegang mangkuk mi ayam.
Di belakangnya terlihat gerobak yang bentuknya hampir sama dengan milik Pak Slamet.
Pak Slamet merasa darahnya seperti berhenti.
“Gerobak itu...”
Bu Dila menatap foto.
“Bukan milikmu.”
“Tapi bentuknya sama.”
Di bagian belakang foto terdapat tulisan:
Malam terakhir.
Pak Slamet merasakan bulu kuduknya berdiri.
Tiba-tiba terdengar suara pintu depan.
Brak!
Mereka berdua terkejut.
Seseorang masuk.
Seorang laki-laki tua.
Laki-laki yang semalam membeli mi ayam.
Bima.
Ia menatap mereka.
“Kenapa kalian datang ke sini?”
Bu Dila berdiri.
“Kami mencari kebenaran.”
Bima menatap foto yang ada di tangan Pak Slamet.
“Taruh kembali.”
“Kenapa?”
“Karena kalian tidak tahu apa yang sedang kalian buka.”
Pak Slamet memberanikan diri bertanya.
“Apakah Anda Bima?”
Laki-laki itu diam.
Kemudian menjawab:
“Ya.”
“Apakah Sari benar-benar jatuh dari jembatan?”
Bima memejamkan mata.
“Aku tidak tahu.”
“Bapak ada di sana?”
Bima mengangguk.
“Aku ada.”
“Lalu apa yang terjadi?”
Bima duduk.
Wajahnya terlihat sangat lelah.
“Sari tidak jatuh.”
Pak Slamet dan Bu Dila terkejut.
“Lalu?”
Bima menatap mereka.
“Dia menghilang.”
“Bagaimana bisa?”
“Karena malam itu ada orang lain.”
“Siapa?”
Bima tidak menjawab.
“Siapa orang itu?” ulang Bu Dila.
Bima berdiri.
“Kalian harus berhenti.”
“Tidak.”
Bu Dila menatapnya.
“Kami sudah terlalu jauh.”
Bima memandang mereka lama.
Kemudian ia berkata:
“Kalau begitu, datanglah ke jembatan malam ini.”
Pak Slamet langsung menatap Bu Dila.
Bima melanjutkan.
“Bawa mangkuk mi ayam.”
“Untuk apa?”
“Karena Sari akan datang.”
---
Malam itu hujan turun.
Bukan hujan deras.
Hanya gerimis.
Tetapi suasananya sangat gelap.
Pak Slamet tidak ingin pergi.
Namun akhirnya ia tetap datang.
Bu Dila membawa senter.
Bima sudah menunggu di bawah jembatan.
Pak Slamet membawa satu mangkuk mi ayam.
Mereka berdiri bertiga.
“Sekarang apa?” tanya Pak Slamet.
Bima menunjuk sungai.
“Letakkan mangkuk itu di sana.”
“Di mana?”
“Di batu.”
Pak Slamet melakukan apa yang diminta.
Ia meletakkan mangkuk mi ayam di atas batu.
Kemudian mereka menunggu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tidak terjadi apa-apa.
Pak Slamet mulai merasa bodoh.
“Tidak ada apa-apa.”
Bima berkata:
“Tunggu.”
Tiba-tiba angin berhenti.
Suara hujan seperti menghilang.
Sungai menjadi sangat tenang.
Kemudian terdengar suara perempuan.
“Bima...”
Bima menunduk.
“Sari.”
Pak Slamet menahan napas.
Sosok perempuan muncul di seberang sungai.
Rambut panjang.
Baju putih kusam.
Wajahnya pucat.
Namun kali ini ia tidak menatap Pak Slamet.
Ia menatap Bima.
“Kamu kembali.”
Bima menangis.
“Aku minta maaf.”
“Kenapa kamu meninggalkanku?”
“Aku takut.”
“Kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya?”
Bima terdiam.
Bu Dila melangkah maju.
“Sari.”
Sosok itu menoleh.
“Kamu ingin kami menemukan apa?”
Sari menunjuk ke bawah jembatan.
“Cari di bawah batu besar.”
“Batu yang mana?”
Sari menunjuk.
Kemudian tubuhnya perlahan menghilang.
Bima menangis semakin keras.
Pak Slamet dan Bu Dila saling berpandangan.
Mereka mencari batu yang dimaksud.
Setelah beberapa menit, Bu Dila menemukan sebuah batu besar yang sebagian tertutup lumpur.
Mereka menggesernya.
Di bawahnya terdapat sebuah kotak besi tua.
Pak Slamet mengambilnya.
Kotak itu terkunci.
Bima melihatnya.
“Jangan dibuka.”
Bu Dila menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena di dalamnya ada alasan kenapa Sari menghilang.”
Pak Slamet menatap kotak tersebut.
Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa misteri jembatan itu jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.
Mereka membawa kotak itu ke warung.
Setelah mencari kunci selama beberapa waktu, Bima akhirnya mengeluarkan kunci kecil dari sakunya.
Klik.
Kotak terbuka.
Di dalamnya terdapat beberapa surat.
Sebuah foto.
Dan sebuah buku catatan.
Bu Dila mengambil buku tersebut.
Halaman pertama bertuliskan:
Jika aku menghilang, jangan percaya kepada siapa pun yang mengatakan aku pergi sendiri.
Pak Slamet membaca kalimat itu dengan suara gemetar.
Halaman berikutnya berisi catatan Sari.
Ia menulis bahwa selama beberapa minggu sebelum menghilang, seseorang sering mengikutinya.
Seseorang yang ia kenal.
Seseorang yang membuatnya takut.
Di halaman terakhir tertulis:
Malam ini aku akan bertemu Bima di jembatan. Kalau sesuatu terjadi, cari orang yang menjual mi ayam di sana. Dia tahu semuanya.
Pak Slamet membeku.
“Penjual mi ayam?”