Bab 2: Pesanan Tengah Malam
Malam itu, Pak Slamet kembali membuka gerobak nasi gorengnya di pinggir jalan dekat jembatan tua. Langit tampak gelap tanpa banyak bintang. Angin berembus pelan membawa hawa dingin dari arah sungai. Jalan yang biasanya masih dilewati beberapa kendaraan kini hampir kosong.
Pak Slamet berdiri di belakang gerobaknya sambil menyiapkan bahan-bahan. Tangannya memasukkan bawang merah, bawang putih, cabai, telur, ayam suwir, dan nasi putih ke dalam wadah-wadah kecil. Namun malam itu gerakannya tidak seperti biasanya. Berkali-kali ia menoleh ke arah jembatan.
Sejak beberapa malam terakhir, Pak Slamet mengalami kejadian yang tidak bisa dijelaskan.
Ia pernah mendengar suara langkah kaki di belakang gerobaknya ketika tidak ada seorang pun di sana. Ia juga pernah melihat bayangan seseorang berdiri di bawah lampu jalan. Yang paling membuatnya takut adalah munculnya seorang pelanggan misterius yang membeli nasi goreng menggunakan uang kuno.
Pak Slamet masih menyimpan uang tersebut di dalam dompetnya.
"Jangan dipikirkan terus, Pak," kata Bu Dila.
Perempuan itu berdiri di samping gerobak sambil membawa termos teh. Berbeda dengan Pak Slamet yang mudah panik, Bu Dila terkenal sebagai perempuan pemberani. Ia tidak mudah percaya pada cerita hantu sebelum melihat bukti dengan matanya sendiri.
Pak Slamet menghela napas.
"Aku cuma merasa ada sesuatu yang tidak beres."
"Yang tidak beres itu pikiranmu sendiri," jawab Bu Dila sambil tersenyum.
Pak Slamet tertawa kecil.
"Kalau nanti ada yang muncul dari belakang, jangan salahkan aku kalau aku lari duluan."
Bu Dila menggeleng.
"Pak Slamet ini penjual nasi goreng atau penjual ketakutan?"
"Penjual nasi goreng."
"Kalau begitu masak saja."
Keduanya tertawa.
Namun tawa itu hanya berlangsung beberapa detik.
Dari arah jembatan terdengar suara.
Krek...
Seperti bunyi ranting patah.
Pak Slamet langsung berhenti bergerak.
Bu Dila menoleh.
"Apa itu?"
Pak Slamet menelan ludah.
"Mungkin kucing."
Krek...
Suara itu terdengar lagi.
Kali ini lebih dekat.
Bu Dila mengambil senter dan mengarahkannya ke jalan. Tidak ada apa-apa. Hanya jalan kosong, pepohonan, dan kabut tipis yang mulai turun.
"Sudah," kata Bu Dila. "Jangan takut."
Pak Slamet kembali memasak.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam.
Beberapa pelanggan masih datang. Ada dua orang pemuda yang membeli nasi goreng, seorang sopir truk, dan seorang pengendara motor yang hanya membeli kopi.
Setelah mereka pergi, suasana kembali sepi.
Pukul sebelas malam.
Pak Slamet mulai membereskan beberapa bahan makanan.
"Mungkin kita tutup lebih awal malam ini," katanya.
"Kenapa?"
"Sepi."
"Baru jam sebelas."
"Biasanya kalau sudah lewat jam sebelas..."
Pak Slamet tidak melanjutkan kalimatnya.
Bu Dila mengetahui apa yang hendak dikatakannya.
Biasanya setelah tengah malam, kejadian aneh mulai terjadi.
Tiba-tiba terdengar suara motor dari arah jalan.
Pak Slamet melihat lampu motor mendekat.
"Pelangan," katanya.
Sebuah motor berhenti di depan gerobak.
Seorang pria turun dari motor. Ia mengenakan jaket hitam, celana panjang gelap, dan helm yang menutupi sebagian besar wajahnya.
"Pak, nasi goreng satu."
"Pedas?"
"Sedang."
Pak Slamet mulai memasak.
Pria itu berdiri diam.
Terlalu diam.
Biasanya pelanggan akan memainkan ponsel atau melihat-lihat sekitar. Tetapi pria itu tidak melakukan apa pun. Ia hanya menatap ke arah jembatan.
Pak Slamet mulai merasa tidak nyaman.
"Mas dari mana?" tanyanya.
Tidak ada jawaban.
"Kerja malam, Mas?"
Tetap tidak menjawab.
Bu Dila memperhatikan pria itu dari jauh.
Ada sesuatu yang aneh.
Ia tidak terlihat seperti pelanggan biasa.
Pak Slamet memasukkan nasi ke wajan. Suara minyak panas bercampur dengan bunyi spatula.
Cetak...
Cetak...
Aroma nasi goreng memenuhi udara.
"Sudah, Mas."
Pria itu mengambil bungkus nasi goreng.
Ia mengeluarkan uang.
Satu lembar.
Pak Slamet menerima uang tersebut.
Ketika melihatnya, wajahnya langsung berubah.
Uang itu sama persis dengan uang yang pernah diberikan pelanggan misterius beberapa hari lalu.
Uang kuno.
Pak Slamet menatap pria tersebut.
"Mas..."
Pria itu berjalan pergi.
"Mas!"
Tidak ada jawaban.
Ia terus berjalan menuju jembatan.
Pak Slamet melihat langkahnya semakin jauh.
"Bu..."
"Aku lihat."
Mereka berdua memperhatikan pria itu.
Pria tersebut berjalan sampai tepat di tengah jembatan.
Kemudian berhenti.
Pak Slamet memegang lengan Bu Dila.
"Jangan bilang dia..."
Pria itu tiba-tiba menghilang.
Bukan berjalan menjauh.
Bukan berlari.
Ia benar-benar menghilang.
Pak Slamet hampir berteriak.
Bu Dila segera mengambil senter.
"Ayo."
"Mau ke mana?"
"Ke jembatan."
"Jangan!"
"Kalau kita tidak lihat, kita tidak akan tahu."
Bu Dila berjalan menuju jembatan.
Pak Slamet terpaksa mengikutinya.
Mereka berjalan perlahan.
Udara semakin dingin.
Kabut menutupi sebagian jalan.
Ketika sampai di tengah jembatan, Bu Dila menyorotkan senter ke bawah.
Tidak ada siapa-siapa.
"Dia jatuh ke sungai?" tanya Pak Slamet.
Bu Dila melihat ke bawah.
Air sungai mengalir pelan.
Tidak ada suara benda jatuh.
Tidak ada cipratan.
Tidak ada apa pun.
"Kalau dia jatuh, pasti ada suaranya."
Pak Slamet semakin ketakutan.
"Berarti..."
Bu Dila tidak menjawab.
Mereka kembali ke gerobak.
Namun ketika sampai, mereka menemukan sesuatu yang membuat keduanya terdiam.
Di atas meja gerobak terdapat sebuah mangkuk.
Mangkuk tua berwarna putih.
Di dalamnya ada nasi goreng.
Padahal mereka tidak pernah menggunakan mangkuk itu.
Pak Slamet mendekat.
"Nasi goreng siapa?"
Bu Dila memeriksa mangkuk tersebut.
Di dasar mangkuk terdapat tulisan kecil.
"Untuk yang belum pulang."
Pak Slamet mundur.
"Aku tidak suka ini."
Bu Dila membaca tulisan itu lagi.
"Untuk yang belum pulang."
Malam semakin larut.
Mereka tidak berani berbicara.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan dari belakang.
"Pak..."
Pak Slamet dan Bu Dila langsung berbalik.
Tidak ada siapa-siapa.
"Pak Slamet..."
Suara itu terdengar lagi.
Kali ini sangat jelas.
Pak Slamet mulai gemetar.
"Itu suara siapa?"
Bu Dila mengangkat senter.
Mereka melihat seorang perempuan berdiri sekitar dua puluh meter dari gerobak.
Rambutnya panjang.
Pakaiannya putih.
Wajahnya tidak terlihat karena tertutup rambut.
Bu Dila maju satu langkah.
"Siapa kamu?"
Perempuan itu tidak menjawab.
Ia hanya berdiri.
Pak Slamet menarik tangan Bu Dila.
"Jangan didekati."
Perempuan itu perlahan mengangkat tangannya.
Kemudian menunjuk ke arah sungai.
Setelah itu tubuhnya menghilang di balik kabut.
Pak Slamet hampir tidak mampu berdiri.
Bu Dila masih menatap tempat perempuan itu berdiri.
"Pak..."
"Apa?"
"Sepertinya dia ingin menunjukkan sesuatu."
"Jangan bilang kita harus ke sungai."
Bu Dila tidak menjawab.
Ia mengambil senter.
Mereka kembali berjalan menuju jembatan.
Di bawah jembatan terdapat jalan kecil yang menuju tepi sungai.
Mereka menuruni jalan tersebut.
Semakin dekat dengan sungai, udara semakin dingin.
Suara air terdengar semakin jelas.
Kemudian Bu Dila menemukan sesuatu.
Sebuah kotak kayu tua.
Kotak itu setengah tertanam di tanah.
Pak Slamet menatapnya.
"Kita jangan buka."
"Kenapa?"
"Karena biasanya dalam cerita horor, membuka kotak seperti itu adalah keputusan paling buruk."
Bu Dila tertawa kecil.
"Ini bukan film."
"Justru itu. Kalau ini bukan film, kita bisa benar-benar celaka."
Bu Dila membuka kotak tersebut.
Pak Slamet memejamkan mata.
Tidak terjadi apa-apa.
Ketika ia membuka mata, ia melihat isi kotak.
Ada sebuah kain lusuh.
Beberapa lembar uang kuno.
Sebuah foto lama.
Dan sebuah buku kecil.
Bu Dila mengambil foto tersebut.
Foto itu menunjukkan seorang pria berdiri di depan gerobak nasi goreng.
Pak Slamet mendekat.
"Itu..."
Ia terdiam.
Gerobak dalam foto tersebut terlihat sangat mirip dengan gerobaknya.
Bu Dila membalik foto.
Di bagian belakang terdapat tulisan.
"Jangan berjualan setelah tengah malam."
Pak Slamet langsung mengambil foto itu.
"Kita pulang."
"Tunggu."
Bu Dila membuka buku kecil.
Halaman pertama berisi nama.
"Surya."
Pak Slamet membaca nama tersebut.
"Siapa Surya?"
Bu Dila membalik halaman.
Tulisan tangan di dalam buku itu sudah hampir pudar.
Namun beberapa kalimat masih bisa dibaca.
"Namaku Surya. Aku berjualan nasi goreng di dekat jembatan ini. Jika seseorang menemukan buku ini, jangan percaya kepada pelanggan yang datang setelah tengah malam."
Pak Slamet menatap Bu Dila.
Mereka terus membaca.
"Pada malam pertama, seorang pria membeli nasi goreng menggunakan uang lama. Aku menganggapnya aneh, tetapi tidak memikirkannya."
"Pada malam kedua, dia datang lagi."
"Pada malam ketiga, aku melihatnya berdiri di tengah jembatan."
"Pada malam keempat, aku mengikutinya."
Tulisan berikutnya terlihat lebih berantakan.
"Aku melihat sesuatu di bawah jembatan."
Bu Dila membalik halaman.
"Ada banyak orang."
Pak Slamet merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Mereka semua..."
Kalimat berikutnya hanya terdiri dari beberapa kata.
"Orang-orang yang belum pulang."
Tiba-tiba terdengar suara langkah dari belakang.
Tap...
Tap...
Tap...
Pak Slamet menutup buku.
"Bu."
"Aku dengar."
Langkah itu semakin dekat.
Tap...
Tap...
Tap...
Bu Dila mematikan senter.
Mereka bersembunyi di balik pohon.
Dari kejauhan terlihat seseorang berjalan mendekati sungai.
Pria itu mengenakan pakaian hitam.
Pria yang sama.
Pria yang membeli nasi goreng.
Pak Slamet menahan napas.
Pria itu berdiri di dekat sungai.
Kemudian ia menoleh.
Seolah-olah tahu mereka sedang bersembunyi.
Ia tersenyum.
Pak Slamet hampir berteriak.
Pria itu kemudian berkata,
"Jangan ganggu mereka."
Bu Dila memberanikan diri keluar.
"Siapa mereka?"
Pria itu tidak menjawab.
"Siapa kamu?"
Pria itu menunjuk ke arah buku.
"Kalian sudah menemukannya."
"Menemukan apa?"
"Kesalahan yang seharusnya tidak pernah dibuka."
Kemudian kabut turun dengan sangat cepat.
Dalam hitungan detik, pria itu menghilang.
Bu Dila segera mengambil buku.
"Ayo kembali."
Mereka berlari menuju gerobak.
Namun ketika sampai di atas jembatan, mereka mendengar banyak suara.
Suara orang berbicara.
Suara tertawa.
Suara menangis.
Suara memanggil nama.
Pak Slamet menutup telinga.
"Bu, mereka ada di bawah!"
Bu Dila melihat ke bawah.
Puluhan bayangan berdiri di tepi sungai.
Mereka semua menatap ke arah gerobak.
Salah satu bayangan mengangkat tangannya.
Kemudian yang lain mengikuti.
Semua tangan menunjuk ke arah Pak Slamet.
Pak Slamet mundur.
"Kenapa mereka menunjuk aku?"
Bu Dila tidak menjawab.
Tiba-tiba salah satu bayangan berteriak.
"Pak Slamet!"
Pak Slamet membeku.
Bayangan lainnya ikut berteriak.
"Pak Slamet!"
"Pak Slamet!"
"Pak Slamet!"
Suara mereka semakin keras.
Pak Slamet berlari.
Bu Dila mengejarnya.
Mereka masuk ke dalam gerobak dan segera menutup tirai.
Pak Slamet gemetar.
"Mereka tahu namaku."
Bu Dila membuka buku.
"Di sini ada nama lain."
"Apa?"
"Surya."
"Kenapa?"
"Sepertinya Surya adalah penjual nasi goreng sebelum kita."
Pak Slamet terdiam.
Bu Dila membaca halaman berikutnya.
"Jika ada penjual baru yang menggunakan tempat ini, mereka akan datang."
Pak Slamet menatap gerobaknya.
"Berarti aku..."
"Kamu menjadi penjual berikutnya."
"Terus apa yang harus kulakukan?"
Bu Dila membaca halaman terakhir.
Di sana terdapat satu kalimat.
"Masak satu porsi untuk mereka, lalu cari tahu siapa yang belum pulang."
Pak Slamet menelan ludah.
"Jadi aku harus memasak untuk hantu?"
Bu Dila mengangguk.
"Mungkin."
"Mungkin?"
"Atau kita bisa berhenti berjualan."
Pak Slamet menatap gerobaknya.
Gerobak itu adalah satu-satunya sumber penghasilannya.
Ia tidak ingin meninggalkannya begitu saja.
Namun malam itu ia sadar bahwa masalahnya jauh lebih besar daripada sekadar pelanggan misterius.
Ada rahasia di bawah jembatan.
Ada orang-orang yang belum pulang.
Dan entah mengapa, dirinya telah dipilih untuk menemukan kebenaran tersebut.
Pukul dua belas malam tepat.
Tiba-tiba terdengar ketukan.
Tok...
Tok...
Tok...
Pak Slamet dan Bu Dila saling menatap.
Tok...
Tok...
Tok...
"Pak Slamet..."
Suara seorang anak kecil terdengar dari luar.
"Pak, nasi goreng satu."
Pak Slamet memejamkan mata.
Bu Dila berdiri.
"Kita harus melakukannya."
"Kalau dia bukan manusia?"
"Memang bukan."
Bu Dila membuka tirai.
Di luar berdiri seorang anak laki-laki.
Usianya sekitar sepuluh tahun.
Ia mengenakan pakaian sekolah yang basah.
Air menetes dari rambutnya.
Pak Slamet menatapnya.
"Kamu mau nasi goreng?"
Anak itu mengangguk.
"Pedas?"
Anak itu menggeleng.
Pak Slamet mulai memasak.
Tangannya gemetar.
Anak itu duduk diam.
Setelah nasi goreng selesai, Pak Slamet menyerahkannya.
Anak tersebut tersenyum.
"Terima kasih, Pak."
Ia meletakkan sebuah benda di meja.
Sebuah kunci.
Kemudian anak itu berjalan menuju jembatan.
Pak Slamet memegang kunci tersebut.
"Apa ini?"
Bu Dila memeriksanya.
"Sepertinya kunci gudang."
"Gudang apa?"
Mereka kembali melihat ke arah anak itu.
Anak tersebut sudah menghilang.
Namun di tempatnya berdiri terdapat jejak kaki basah.
Jejak itu mengarah ke jembatan.
Pak Slamet dan Bu Dila saling berpandangan.
Malam itu mereka menemukan petunjuk kedua.
Dan mereka mulai memahami bahwa semua kejadian tersebut memiliki hubungan.
Mereka harus menemukan gudang.
Mereka harus mengetahui siapa anak itu.
Dan yang paling penting, mereka harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi bertahun-tahun lalu di bawah jembatan tersebut.
Karena sejak malam itu, pelanggan-pelanggan aneh mulai berdatangan satu per satu.
Ada seorang lelaki tua.
Ada perempuan dengan rambut panjang.
Ada pemuda yang membawa payung meskipun tidak hujan.
Ada seorang ibu yang selalu meminta nasi goreng tanpa bawang.
Dan setiap pelanggan selalu meninggalkan benda yang berbeda.
Sebuah cincin.
Sebuah jam tangan.
Sebuah foto.
Sebuah sepatu.
Sebuah gelang.
Semua benda itu ternyata memiliki satu kesamaan.
Benda-benda tersebut berasal dari orang-orang yang pernah hilang di sekitar jembatan.
Pak Slamet dan Bu Dila mulai mengumpulkannya.
Mereka membuat sebuah kotak khusus.
Setiap benda diberi nama dan tanggal.
Mereka kemudian mencari informasi kepada warga.
Sedikit demi sedikit, sebuah cerita lama mulai terungkap.
Dua puluh tahun sebelumnya, pernah terjadi kecelakaan besar di jembatan tersebut.
Sebuah bus yang membawa banyak penumpang jatuh ke sungai.
Namun tidak semua korban ditemukan.
Sebagian dinyatakan hilang.
Warga percaya beberapa jasad terbawa arus.
Tetapi ada rumor lain.
Rumor mengatakan bahwa kecelakaan itu bukan kecelakaan biasa.
Sopir bus sempat mengatakan bahwa ia melihat seseorang berdiri di tengah jalan.
Ketika ia menghindar, bus kehilangan kendali.
Sejak saat itu, banyak orang melihat sosok yang sama di jembatan.
Pak Slamet mulai memahami sesuatu.
"Mereka bukan ingin menakuti kita."
Bu Dila mengangguk.
"Mereka ingin ditemukan."
"Dan anak kecil itu?"
"Mungkin salah satu korban."
Pak Slamet melihat kunci yang diberikan anak tersebut.
Mereka mencari gudang selama dua hari.
Akhirnya mereka menemukan bangunan tua di belakang sebuah rumah kosong.
Pintu gudang terkunci.
Kuncinya cocok.
Ketika pintu dibuka, bau lembap langsung menyambut mereka.
Di dalam gudang terdapat barang-barang lama.
Kursi.
Meja.
Peralatan memasak.
Dan sebuah gerobak nasi goreng tua.
Pak Slamet mendekatinya.
Di bagian depan gerobak tertulis nama.
"Surya."
Pak Slamet terdiam.
"Ini gerobaknya."
Bu Dila mengangguk.
Mereka menemukan buku lain di dalam laci.
Isinya lebih lengkap.
Surya ternyata pernah menjadi penjual nasi goreng di tempat yang sama.
Ia mengetahui tentang para korban.
Ia mencoba membantu mereka.
Namun suatu malam ia menghilang.
Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi.
Di halaman terakhir terdapat tulisan:
"Aku tidak bisa menyelesaikannya. Jika ada penjual setelahku, selesaikan apa yang aku mulai. Temukan tempat mereka dikuburkan."
Pak Slamet merasakan tubuhnya lemas.
"Mereka dikuburkan?"
Bu Dila membaca halaman berikutnya.
Ada sebuah gambar sederhana.
Peta.
Di peta tersebut terdapat tanda silang di dekat sungai.
Malam itu mereka membawa peralatan.
Mereka mengikuti peta.
Di dekat sungai, mereka menemukan tanah yang tampak berbeda.
Bu Dila mulai menggali.
Tidak lama kemudian sekopnya mengenai sesuatu.
Tok!
Pak Slamet membantu menggali.
Mereka menemukan kotak logam.
Di dalamnya terdapat dokumen lama.
Dokumen tersebut berisi daftar nama korban kecelakaan.
Namun jumlahnya tidak sama dengan daftar resmi.
Ada beberapa nama yang tidak pernah dilaporkan.
Salah satunya adalah Surya.
Pak Slamet terkejut.
"Surya korban kecelakaan?"
Bu Dila membaca dokumen tersebut.
"Berarti dia bukan hanya penjual nasi goreng."
Mereka terus membaca.
Surya ternyata berada di lokasi ketika kecelakaan terjadi.
Ia mencoba menyelamatkan korban.
Namun ia ikut menjadi korban.
Selama bertahun-tahun, keluarganya tidak mengetahui apa yang terjadi.
Pak Slamet mulai memahami mengapa sosok Surya terus muncul.
Ia belum tenang.
Bukan karena ingin menakuti manusia.
Tetapi karena kisahnya belum selesai.
Malam berikutnya Pak Slamet membuka gerobak seperti biasa.
Namun kali ini ia tidak takut.
Ia menyiapkan banyak porsi nasi goreng.
Tepat tengah malam, kabut datang.
Satu per satu sosok mulai muncul.
Pak Slamet memasak.
Satu porsi.
Dua porsi.
Tiga porsi.
Semakin lama semakin banyak.
Bu Dila membantu.
Mereka tidak lagi berlari.
Tidak lagi berteriak.
Mereka melayani.
Setiap sosok menerima nasi goreng.
Setiap sosok meninggalkan sebuah benda.
Sampai akhirnya pria berpakaian hitam datang.
Pak Slamet mengenalinya.
"Surya."
Pria itu mengangguk.
"Terima kasih."
Pak Slamet menatapnya.
"Apakah semuanya sudah selesai?"
Surya tersenyum.
"Belum."
Pak Slamet terkejut.
"Apa yang belum?"
Surya menunjuk ke arah jembatan.
"Ada satu orang lagi."
"Siapa?"
Surya menghilang.
Di atas meja terdapat sebuah foto.
Pak Slamet mengambilnya.
Foto tersebut menunjukkan seorang lelaki berdiri di samping bus.
Di belakang foto terdapat tulisan:
"Dia yang menyebabkan semuanya."
Pak Slamet dan Bu Dila saling menatap.
Mereka sadar bahwa kecelakaan itu mungkin bukan kecelakaan.
Masih ada seseorang yang menyimpan rahasia.
Dan selama rahasia itu belum terbongkar, para penghuni jembatan tidak akan pernah benar-benar pergi.
Malam itu menjadi awal dari penyelidikan baru.
Pak Slamet yang selama ini dikenal sebagai penjual nasi goreng penakut akhirnya memutuskan untuk mencari kebenaran.
Bu Dila berdiri di sampingnya.
"Kita selesaikan."
Pak Slamet mengangguk.
"Kalau aku takut?"
Bu Dila tersenyum.
"Takut itu boleh."
"Lalu?"
"Yang penting jangan menyerah."
Di kejauhan, jembatan tua itu kembali diselimuti kabut.
Namun kali ini, dari tengah kabut terdengar suara anak kecil.
"Terima kasih, Pak."
Pak Slamet tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya sejak semua kejadian dimulai, ia merasa bahwa dirinya tidak sedang dikejar oleh hantu.
Ia sedang membantu mereka pulang.
Tetapi ia belum tahu bahwa di balik kecelakaan lama itu tersimpan sebuah kejahatan yang jauh lebih mengerikan.
Seseorang telah sengaja mengubah arah bus.
Seseorang telah menyembunyikan bukti.
Dan seseorang itu masih hidup.
Ia bahkan masih tinggal tidak jauh dari jembatan.
Sementara Pak Slamet dan Bu Dila mulai mencari jawabannya, seseorang dari balik kegelapan memperhatikan mereka.
Pria itu memegang foto lama.
Ia meremasnya hingga kusut.
"Jangan sampai kalian menemukan semuanya."
Kemudian ia tersenyum.
Karena rahasia yang selama dua puluh tahun berhasil disembunyikannya mulai terancam terbongkar.
Dan malam berikutnya, pelanggan baru akan datang.
Bukan pelanggan biasa.
Bukan korban.
Melainkan orang yang mengetahui seluruh rahasia jembatan.
Orang yang mungkin menjadi penyebab semua kejadian.
Dan ketika Pak Slamet menyadari siapa orang itu, semuanya akan berubah.