Salah satu penjaga itu menelan ludah karena takut, lalu segera maju berdiri di bawah tangga. Ia mendongak sebentar dan melihat Adrian mulai melangkah turun perlahan. Penjaga itu langsung menunduk dalam, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya padahal udara di luar sedang sangat dingin karena hujan deras.
Adrian menatapnya tajam dari atas, matanya menyipit penuh kecurigaan.
“Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Di mana istriku?”
Mendengar pertanyaan itu, ketakutan penjaga itu makin menjadi-jadi. Ia menjawab terbata-bata: “Itu… itu Tuan… Nyonya Zara tidak ada di sini…”
Suasana seketika terasa makin dingin seiring dengan aura yang memancar dari tubuh Adrian. Penjaga itu kembali menelan ludah, nyaris tak sanggup melanjutkan ucapannya.
“Sebenarnya… Nyonya Zara… dia ada di kediaman Nyonya Elina.”
Ia sepertinya ingin menambahkan sesuatu lagi, namun suaranya terhenti begitu saja di tenggorokan saat bertemu tatapan mata Adrian. Adrian hanya diam sejenak menatapnya tajam, lalu berkata singkat: “Pergilah.”
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Adrian segera bergegas melangkah keluar untuk menuju kediaman bibinya itu.
Mobil melaju membelah derasnya hujan malam itu. Di dalam benak Adrian terus muncul pertanyaan: “Sikap mereka tadi terlalu aneh dan berlebihan. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Zara ada di sana?”
Sesampainya di kediaman Elina, ia turun begitu saja tanpa peduli guyuran air hujan. Rambut dan bahunya perlahan basah kuyup, namun ia terus melangkah menuju pintu masuk. Penjaga di halaman langsung menunduk hormat dengan wajah pucat. Begitu masuk, para pelayan yang melihat kedatangannya seketika menunduk dalam sambil menelan ludah, nampak sangat ketakutan.
Adrian berhenti sejenak lalu menatap salah satu dari mereka tajam: “Di mana bibiku?”
Pelayan itu menjawab terbata-bata: “Itu… Nyonya Elina sedang berada di dekat kolam, Tuan.”
Adrian menyipitkan matanya, rasa curiga di hatinya semakin menguat tanpa henti.
Setelah merasa puas mencambukku, Elina masih belum mengizinkanku pulang. Ia ingin menyiksaku sepuasnya sebelum Adrian tiba. Sambil menatap ke luar jendela, senyum kepuasan terukir jelas di wajahnya saat melihatku yang sudah berdiri diam cukup lama di sana.
Hujan turun sangat deras, air dingin memukuli seluruh tubuhku tanpa ampun — seolah ribuan jarum menusuk setiap inci kulit yang terbuka. Rasa sakit di sekujur tubuh makin menjadi-jadi, terutama di punggung tempat bekas cambuk itu membakar di bawah pakaian basah. Rasanya aku bisa roboh kapan saja, lututku sudah bergetar hebat menahan beban yang tak tertahankan. Bajuku basah kuyup dan menempel berat di kulit, menyerap hawa dingin hingga ke tulang. Gigi berderak tak henti karena kedinginan, tubuhku menunduk merinding hebat sekujur tubuh. Wajahku semakin pucat pasi, tulang-tulangku terasa kaku terpapar hawa dingin yang terus menusuk. Aku tak bergerak sedikit pun. Tatapanku kosong tanpa perasaan, hatiku telah membeku — aku hanya bisa berdiri diam dan pasrah menerima apa pun yang terjadi. Biarlah hujan ini menghapusku dari muka bumi. Biarlah.
Adrian bergegas ke arah itu, lalu tiba-tiba berhenti di ambang pintu — napasnya tertahan di tenggorokan, matanya membelalak tak percaya. Elina berdiri membelakanginya di depan kaca besar, tersenyum puas sambil menatap ke luar ke arahku — senyum yang penuh kebencian, kemenangan, dan kegilaan yang tak disembunyikan. Ini pertama kalinya Adrian melihat sisi lain dari bibinya yang tidak pernah ia kenal sebelumnya — wajah asli di balik topeng kasih sayang. Namun ia tak ingin berlama-lama berdiri diam dalam keterkejutannya. Di luar sana, di bawah guyuran hujan yang tak henti-henti, terlihat aku berdiri kaku — tubuhku menggigil tak henti, tatapanku kosong seolah tak lagi memiliki nyawa, seolah jiwaku sudah lama meninggalkan tubuh yang beku ini.
“Apa yang sedang Bibi lakukan?” suara Adrian terdengar tegas dan sedikit meninggi.
Elina tersentak kaget seketika, senyumnya langsung lenyap seketika seolah dihapus oleh angin. Ia berbalik menatap Adrian dengan pandangan terkejut yang dibuat-buat, sama sekali tak menyangka kepulangannya secepat ini. Namun tak lama kemudian ia kembali tersenyum lebar seolah tidak ada apa-apa yang terjadi, lalu bergegas hendak menyambut dan memeluk keponakannya itu — pelukan yang penuh kepalsuan. Tapi Adrian menahannya dengan satu tangan terulur ke depan — menahannya di udara, tak menyentuhnya sedikit pun — menatapnya tajam tanpa berkedip sedikit pun. Raut wajah Elina seketika berubah menjadi panik, sadar bahwa topengnya hampir terlepas sepenuhnya.
“Maafkan Bibi… Bibi hanya ingin memberinya pelajaran karena ia bersikap kurang sopan padamu. Bagaimana mungkin Bibi membiarkan orang lain mempermalukanmu? Bagiku kau itu sama saja seperti anak kandung Bibi sendiri.”
Adrian menatapnya tajam, tak tergoyahkan sedikit pun, matanya menyisir setiap inci wajah wanita itu mencari jejak kebohongan. “Bibi aku mengerti maksudmu, tapi apa yang Bibi lakukan ini sudah jauh berlebihan.” Tanpa menunggu lagi, ia langsung berlari menerobos hujan deras di luar — air segera membasahi pakaiannya hingga ke kulit — hingga ia berdiri tepat di hadapanku yang gemetar hebat. Ia menggenggam tanganku dengan erat namun penuh perhatian, tangannya menutupi tanganku yang sedingin es, lalu menarikku perlahan masuk ke dalam rumah — memelukku sepanjang jalan kembali, mencoba menyalurkan panas tubuhnya yang tak cukup untuk menghangatkan jiwa yang sudah beku.
Elina yang sempat tertegun, tiba-tiba menahan amarah yang hendak meledak keluar — kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri. Namun seketika pandangannya berubah, seolah ada rencana lain yang tersusun cepat di dalam kepalanya yang licik. Senyum licik tersembunyi samar di sudut bibirnya, sebelum wajahnya berubah seketika menjadi tampak sedih dan lemah — wajah seorang wanita tua yang tersakiti. “Padahal dia bahkan berani menentang perkataanku… seolah aku ini bukan siapa-siapa, hanya bibi yang tak berhak memberi nasihat apa pun…” Ia pun duduk terkulai di kursi, berpura-pura menangis tersedu-sedu, air mata buatan mengalir di pipinya.
Adrian menoleh perlahan ke arahku yang berdiri diam di sampingnya — tubuhku masih menggigil, pakaianku meneteskan air ke lantai yang bersih — tatapannya tampak serius namun tetap dingin, penuh pertanyaan yang menuntut jawaban. “Apakah benar semua perkataan Bibi itu? Jawablah aku, Zara.”
Namun aku hanya diam mematung, mataku menatap kosong ke depan seolah tak mendengar satu kata pun yang terucap. Tak ada suara, tak ada gerakan sedikit pun yang keluar dariku — aku sudah kehabisan tenaga untuk membela diri, kehabisan napas untuk menjelaskan, kehabisan air mata untuk menangis. Melihat keadaan itu, Adrian tak ingin menunggu lebih lama lagi. Ia menggenggam pergelangan tanganku dengan lembut namun tegas — bekas jari-jarinya langsung tertinggal merah di kulitku yang pucat — lalu langsung membawaku pergi meninggalkan tempat itu.
Mereka berhenti di depan mobil. Adrian melepaskan cengkeramannya dengan kasar, hingga pergelangan tanganku terasa perih dan memerah seketika. Ia masuk ke dalam mobil, menurunkan kaca jendela, lalu menatapku yang masih berdiri terpaku di tempat.
“Kau pulang jalan kaki saja. Aku tunggu di rumah. Kalau sampai kutahu ada yang berani menolongmu, jangan salahkan aku,” ucapnya dingin dan tajam. Tanpa menunggu jawaban sedikit pun, ia langsung menginjak gas dan melesat pergi dengan kecepatan tinggi.
Air mata perlahan jatuh dari mataku, namun segera hilang tertelan derasnya hujan. Aku melangkah pelan, setiap langkah terasa berat seolah menyeret beban batu yang sangat besar. Seluruh tubuhku basah kuyup sampai ke tulang, gigi berderak tak henti menahan hawa dingin yang menusuk sampai ke sumsum. Setiap kali bergerak, rasa nyeri di punggung terasa menyayat dalam, membuat napasku menjadi pendek dan sesak. Aku tak lagi punya tenaga untuk menyeka air yang menutupi pandanganku. Rasanya aku bisa tumbang kapan saja di sini, dan mungkin takkan sanggup sampai ke tujuan.
Sementara itu, sesampainya di rumah Adrian langsung menaiki anak tangga. Yamal mendekat dengan wajah bingung karena tak melihat keberadaanku, lalu menoleh ke kiri dan kanan mencari sosokku: “Tuan… di mana Nyonya Zara?”
Adrian menjawab datar tanpa menoleh sedikit pun: “Dia pulang jalan kaki.”
Wajah Yamal seketika berubah pucat karena terkejut: “Tuan? Mengapa Tuan menyuruhnya berjalan kaki? Sudah larut malam, hujannya pun masih sangat deras! Dan jaraknya cukup jauh dari sini— bagaimana bisa— astaga, izinkan saya segera menjemputnya sekarang juga!”
“Yamal!” bentak Adrian keras, suaranya memotong pembicaraan itu seketika. Ia menatap bawahannya dengan pandangan yang tajam, dingin, dan penuh ancaman: “Akulah majikanmu. Zara adalah istriku, jadi terserah aku mau melakukan apa saja padanya. Jangan pernah kau ikut campur urusanku.”
Ia menunjuk telunjuknya tepat ke arah dada Yamal dengan kasar, membuat pria itu mundur selangkah karena terkejut. Setelah itu Adrian berbalik badan tanpa menoleh lagi, lalu terus melangkah naik menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Adrian membersihkan tubuhnya dari sisa percikan air hujan. Setelah selesai, ia mengenakan celana santai berwarna hitam dan jubah rajut tipis yang dibiarkan terbuka di bagian depan, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang tegap. Ia duduk di tepi kursi dekat jendela, menatap derasnya air hujan yang membasahi permukaan kaca. Sesaat ada rasa gelisah yang tak nyaman menyelinap di dadanya, namun ia segera mengenyahkannya jauh-jauh, kembali menegakkan rahang dan terus menunggu.
Di ruang tamu, Yamal terus mondar-mandir dengan gelisah. Hatinya sangat ingin berlari keluar untuk menjemput, namun ingatan akan bentakan tuannya membuat kakinya terasa berat terpaku di tempat. Ia hanya bisa menahan napas dan menunggu dengan penuh kecemasan.
Hampir satu jam berlalu, akhirnya terlihat bayangan sosokku mulai mendekat perlahan. Jalanku sangat lambat, nyaris seperti terseret di setiap langkah yang kuambil. Wajahku tampak datar tanpa ekspresi, seolah tak tersisa sedikit pun tenaga di dalam tubuhku. Melihat itu, Yamal tak sanggup lagi berdiam diri. Ia berlari menerobos sisa hujan yang masih turun untuk menopang tubuhku yang tampak begitu goyah.
Namun tepat saat tangan Yamal menyentuh lenganku, suara Adrian terdengar tajam dari arah tangga. Ia sedang berjalan turun perlahan menatap ke bawah dengan pandangan yang dingin: “Menjauh darinya.”
Yamal menunduk pasrah, perlahan melepaskan tangannya dariku lalu mundur menjauh sesuai perintah — matanya penuh belas kasihan saat menatapku yang berdiri tak berdaya di sana. Aku tetap berdiri diam di tempat, kaku persis di depan pintu masuk, sementara air terus menetes dari ujung bajuku jatuh ke lantai yang bersih — menciptakan genangan kecil di kakiku.
Adrian melangkah mendekat ke arahku, suaranya terdengar tegas dan penuh peringatan — namun ada getaran halus yang tak bisa ia sembunyikan: “Sekarang katakan padaku, apakah kau sudah sadar di mana sebenarnya letak kesalahanmu?”
Melihat keadaanku yang begitu lemah, begitu rapuh, Yamal tak tega dan berusaha membela — suaranya rendah namun penuh keyakinan: “Tuan……”
“Diam!” potong Adrian dengan nada keras, lalu kembali menatapku tajam — matanya mencari tanda penyesalan, tanda kepatuhan, apa saja yang bisa membenarkan tindakannya sendiri. “Kupikir apa yang terjadi malam itu sudah cukup memberikanmu pelajaran, tapi ternyata apa yang kulihat sekarang? Kau bahkan berani bersikap tidak sopan dan membentak Bibi Elina!”
Suara Adrian terdengar samar di telingaku, seolah datang dari tempat yang sangat jauh — seperti suara orang yang berbicara di balik dinding tebal. Kakiku terasa semakin berat dan tak bertenaga, pandanganku perlahan mulai kabur dan memudar — cahaya lampu di lorong berubah menjadi lingkaran-lingkaran kabur. Kesadaranku masih ada sedikit, namun seluruh tulang di tubuhku terasa tak lagi memiliki kekuatan untuk menahan beban tubuhku sendiri. Tanpa aba-aba, tubuhku perlahan miring ke depan — perlahan, selembut kelopak bunga yang gugur — seolah tak ada lagi yang tersisa untuk ditahan. Hanya ada satu pikiran yang sempat terlintas samar di benakku: Apakah benar-benar ini akhir segalaku? Lalu bagaimana nasib Aslan nanti? Aku harus tetap kuat… namun tubuh ini sungguh sudah tak sanggup lagi.
Belum sempat Adrian menyelesaikan ucapannya, ia segera bergerak sigap — refleksnya yang tajam mengambil alih — saat melihatku mulai kehilangan keseimbangan. Ia berhasil menangkap tubuhku tepat sebelum jatuh menyentuh lantai — memelukku erat, seolah tak percaya betapa ringan dan rapuhnya tubuhku di pelukannya. Ia menatapku dengan tak percaya sambil berucap kasar, berusaha membangunkan dengan kemarahan karena takut mengakui ketakutannya sendiri: “Bangun! Jangan berpura-pura!” Namun saat tangannya menyentuh kulitku — di bawah pakaian yang basah — ia menyadari bahwa tubuhku sedingin es.
Tak ada satu pun gerakan atau jawaban yang keluar dariku. Tubuhku benar-benar telah kehilangan kesadaran, kedua tanganku terkulai lemas seolah tak lagi bernyawa. Saat telapak tangannya menyentuh keningku, ia merasakan suhu yang sangat panas membara, sementara leher dan lenganku tetap terasa sedingin es. Matanya seketika membelalak lebar karena kaget dan cemas yang tak disangka-sangka.
Melihat keadaan itu, Yamal menjadi sangat panik. Niatnya untuk mendekat sempat terhenti sejenak saat melihat Adrian memeluk tubuhku erat, namun ia segera berbicara dengan nada cemas: “Tuan! Biarkan saya segera membawa Nyonya ke rumah sakit sekarang juga! Keadaannya terlihat sangat buruk!” Tanpa menunggu perintah lagi, ia segera bersiap untuk bergegas membantu dibawa pergi.