Bel istirahat pertama baru saja berdentang, namun atmosfer di ruang kelas XII MA Nurul Falah terasa berbeda dari biasanya. Hari itu ada pelajaran keterampilan menjahit. Meja-meja penuh dengan potongan kain perca, jarum, dan gulungan benang. Di sudut depan, Humay yang enerjik tampak dengan cekatan menyelesaikan pola jahitannya sambil sesekali tertawa bersama Naila. Di meja lain, Rafly yang sangat cerdas bekerja dengan tenang dan cool, menyelesaikan tusuk hiasnya tanpa kesulitan berarti. Bahkan Putri, sang Duta Kota Cimahi 2026 kategori pelajar terbaik, tampak sangat terampil menggerakkan jarum peniti.
Di sudut paling belakang, Angga duduk mematung. Jemarinya yang kaku memegang sebatang jarum, mencoba memasukkan selembar benang hitam yang ujungnya sudah berserabut. Sudah belasan kali ia mencoba, namun benang itu selalu meleset. Angga tahu dia berbeda dari yang lain. Di kelas yang dipenuhi anak-anak berbakat ini, dia sering merasa menjadi yang paling tertinggal. Pelajaran akademik ia kesulitan, dan kini, bahkan untuk urusan menjahit pun dia tidak bisa apa-apa.
Melihat Fahrul dan Reyhan di sebelahnya sudah mulai menyatukan kain sambil bercanda, dada Angga mendadak sesak. Rasa bodoh dan tidak berguna itu mendadak menghantamnya begitu kuat. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Angga meletakkan jarumnya. Ia berdiri lambat, lalu berjalan keluar ruangan, melangkah turun ke lantai bawah madrasah hanya untuk mencari oksigen dan menenangkan gemuruh di dadanya.
Sepuluh menit menatap lapangan kosong, Angga kembali ke lantai atas dengan langkah gontai. Kelas masih riuh karena pelajaran tata busana (tabus) itu baru saja selesai dan bersiap berganti ke jam pelajaran tahfidz. Angga langsung duduk di bangkunya, menundukkan kepala dalam-dalam di atas lipatan tangan. Air matanya luruh dalam senyap. Bahunya bergetar halus, namun tertutup oleh keriuhan suara Sule dan Ula di bagian barat kelas. Tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa si pendiam itu sedang menangis memecah sisa harga dirinya.
Ketika Bu Umi masuk untuk memulai pelajaran tahfidz dengan keceriaan khasnya, Angga merasa tidak sanggup lagi berada di dalam ruangan. Pikiran negatifnya terlampau pekat. Ia mengangkat tangan, meminta izin keluar dengan suara yang nyaris berbisik. Sambil membawa mushaf Al-Qur'an kecilnya, Angga berjalan ke koridor luar yang sepi dekat tangga. Ia duduk bersandar di dinding tegel, membuka lembaran kitab suci itu, lalu mulai membaca dengan suara bergetar. Tangisnya pecah di sana, mengalir bersama lantunan ayat yang ia baca di sela isak yang sengaja ia tahan agar tidak terdengar ke dalam kelas.
Keesokan harinya, matahari Cimahi bersinar lebih cerah, seolah menyembunyikan mendung yang tersisa dari hari kemarin. Dinamika kelas XII kembali berputar dengan warna yang berbeda. April masuk ke kelas dengan gayanya yang sangat cool, dingin, dan kalem. Ia langsung duduk di mejanya tanpa banyak bicara, kontras dengan Ula yang baru datang langsung membuat kehebohan.
Ula yang terkenal suka ngomong kasar dan toxic itu sebenarnya sangat akrab dengan Humay. Pagi itu, dengan sifat jahilnya yang khas, Ula sengaja menyenggol bahu Humay yang sedang menulis. "Ah, anjing, lu May, rajin amat pagi-pagi! Bisi gila siah belajar mulu mah," celetuk Ula dengan gaya sus dan toxic-nya, namun Humay yang enerjik hanya tertawa lepas dan membalasnya dengan sebotol air mineral yang digeser kasar ke arah Ula.
Di meja seberang, Akbar yang ceria juga tampak sangat akrab sedang mengobrol dengan Naila, membahas oleh-oleh dari Wanaraja yang dibawa Naila ke pondok Al-Taqwa Cimindi. Sementara itu, perhatian sebagian anak justru teralihkan oleh pemandangan di dekat pintu. Tina baru saja masuk kelas setelah menyerahkan tugas hafalan ke ruang guru, dan di belakangnya, Rizki berjalan mengekor dengan langkah santai. Tanpa banyak bicara, Rizki mengulurkan sebotol susu kotak rasa stroberi dingin, langsung meletakkannya di atas meja Tina.
"Nih, bisi salatri," ucap Rizki singkat, nadanya datar tapi tatapan matanya tidak bisa berbohong.
Tina mendongak, pipinya mendadak bersemu merah muda. "Nuhun, Ki. Tahu aja gue belum sarapan dari pondok."
Hubungan Tina dan Rizki memang menjadi misteri terbesar di kelas XII. Mereka tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai sepasang kekasih, apalagi Tina adalah santriwati Al-Taqwa Cimindi yang taat. Namun, kedekatan mereka yang intens selalu sukses membuat seisi kelas gemas. Meski begitu, Tina tidak pernah lupa untuk memberikan dukungan kepada Angga. Tina berjalan mendekati meja Angga, mencoba mengajaknya ngobrol agar cowok itu tidak merasa asing sendirian setelah kejadian kemarin. "Ngga, semangat ya buat hari ini," ucap Tina lembut. Angga hanya mengangguk pelan, menghargai ketulusan Tina.
Di sudut kelas yang lain, Fahrul mendadak memutar otaknya untuk menjahili Oiii yang sedang duduk tenang bersama Naila. Dengan langkah mengendap-endap, Fahrul melongok ke arah kolong meja Oiii, lalu memasang wajah polos secara dramatis.
"Euleuh, euleuh... berduaan wae iyeu euy, meni jiga ucing jeung hulu lauk, napel wae ti tatadi!" celetuk Fahrul dengan cengkok bahasa Sunda yang sangat kental dan natural. "Sia berdua teh gak bosen apa ngerumpi mulu? Awas ah, bisi aya nu katilu, tah si Reyhan geus siap jadi setan pembuat fitnahna!"
Reyhan yang namanya dibawa-bawa langsung memukul pelan pundak Fahrul. "Naha jadi urang, Rul? Maneh nu jadi setanna mah!" Oiii yang tadinya fokus menulis langsung mendongak, wajahnya merengut kesal namun tak bisa menahan senyum. "Naon sih, Fahrul! Gandeng ah, lagi serius ini mah," sahut Oiii sambil melempar tisu bekas yang dengan gesit berhasil dihindari Fahrul.
Namun, ketenangan pagi itu tidak bertahan lama. Satu per satu murid kelas XII mulai dipanggil ke ruang guru. Mereka harus berhadapan dengan Bu Sita, guru SBK yang terkenal agak sedikit dingin dan galak. Pemanggilan ini bertujuan untuk menginterogasi rencana mereka setelah lulus dari MA Nurul Falah.
"Humay, kamu mau lanjut ke mana? Jangan cuma mengandalkan jalur rapor!" suara Bu Sita terdengar datar namun menekan saat Humay duduk di depannya. Humay langsung menjawab dengan nada enerjik andalannya, "Mau coba rumpun soshum di universitas Bandung, Bu. Tetap belajar buat mandiri kok kalau rapor meleset!"
Setelah Humay, giliran Rafly yang masuk. Berbeda dengan yang lain, Rafly duduk dengan pembawaan yang sangat cool dan tenang. "Saya mau ambil teknik informatika, Bu. Langkah-langkah tes tulisnya sudah saya cicil dari semester ganjil," jawab Rafly taktis, membuat Bu Sita mengangguk paham mendengar kecerdasan cowok itu.
Berikutnya, giliran Putri yang dipanggil. Sebagai Duta Kota Cimahi 2026 kategori pelajar terbaik sekaligus santriwati perantau, Putri meletakkan berkas akademiknya dengan anggun. "Saya mau melanjutkan studi ke Cairo University di Mesir, Bu. Berkas pendaftaran dan hafalan saya sedang diverifikasi untuk jalur beasiswa penuh," tutur Putri matang. Jawaban itu membuat Bu Sita yang biasanya dingin seketika tertegun bangga. Impian Putri melesat jauh melintasi benua, membawa nama harum madrasah menuju Kairo.
Ketegangan mencuat saat giliran Ula dan Sule masuk bersamaan. Bu Sita langsung menaikkan sebelah alisnya melihat cengiran Sule. "Kalian berdua ini mau jadi apa setelah lulus?" tanya Bu Sita dingin. Ula yang biasanya toxic langsung mendadak sopan namun tetap ceplas-ceplos. "Saya mau langsung kerja bantu ortu, Bu, tapi kalau ada modal mau coba daftar kuliah malam." Sule buru-buru menimpali, "Saya mau masuk jurusan seni, Bu, biar bakat melawak saya legal!" Jawaban itu langsung membuat Ula menyenggol lengan Sule kasar, sementara Bu Sita hanya bisa geleng-geleng kepala menahan gemas. Mereka semua keluar dari ruangan dengan napas lega sekaligus tegang.
Puncak badai justru terjadi pada keesokan harinya. Jam pelajaran Akidah Akhlak yang biasanya ceria dan penuh tawa berubah menjadi neraka fana. Pintu kelas digebrak pelan. Bu Umi masuk dengan wajah merah padam, matanya berkaca-kaca menahan amarah sekaligus kekecewaan yang teramat dalam. Map Akidah Akhlak di tangannya diletakkan di meja guru dengan hentakan keras. Seisi kelas seketika senyap.
"Sule! Fahrul! Reyhan! Revail! Berdiri kalian semua!" suara Bu Umi meninggi, bergetar hebat. Keempat cowok itu bangkit berdiri dengan kepala tertunduk dalam.
"Ibu kurang sayang apa sama kalian, hah?!" air mata Bu Umi akhirnya luruh, membasahi pipinya. Guru Akidah Akhlak yang biasanya selalu ceria itu kini menangis di depan murid-muridnya. "Kalian ini sudah kelas dua belas, sebentar lagi mau lulus dari madrasah! Kenapa kalian masih sering merokok di warung bawah? Jaga akhlak kalian! Ibu malu, Ibu sedih melihat kelakuan kalian yang tidak bisa menjaga nama baik diri sendiri dan sekolah di akhir masa studi kalian di sini!"
Tangisan Bu Umi yang pecah membuat suasana kelas XII MA Nurul Falah mendadak mencekam dan sarat akan penyesalan yang mendalam. Sule menggigit bibir bawahnya, sementara Fahrul, Reyhan, dan Revail hanya bisa mengepalkan tangan menatap lantai, menyadari bahwa mereka telah menghancurkan hati guru yang paling menyayangi mereka.
Bab 2 selesai
------------------------------