Masih sama dengan cerita mitologi Yunani kali ini aku menceritakan Dewa Hades dewa alam baka [ UNDERWORLD] NERAKA
____
Kegelapan di Alam Baka tidak pernah benar-benar hitam. Bagi mereka yang memerintah di sana, kegelapan adalah spektrum warna ungu tua, biru tengah malam, dan kilauan obsidian yang memantulkan cahaya dari sungai-sungai api Phlegethon. Di tengah keheningan yang abadi itu, sebuah tawa kecil bergema—suara yang seharusnya asing di tempat peristirahatan terakhir para jiwa, namun kini menjadi detak jantung baru bagi sang Raja Kegelapan.
Melinoe, putri kecil Hades dan Persephone, berlari melintasi aula pilar-pilar raksasa yang terbuat dari batu bintang. Di usianya yang baru menginjak lima tahun, ia adalah paradoks yang berjalan. Pakaiannya serba hitam, terbuat dari sutra bayangan yang ditenun oleh laba-laba bawah tanah, namun dihiasi dengan sulaman benang merah darah yang mencolok. Jubah kecilnya berkibar di belakangnya saat ia mengejar sesuatu yang tidak terlihat oleh mata biasa.
Di telinga kanannya, terselip sekuntum mawar merah yang mekar sempurna. Itu bukan mawar biasa; itu adalah hadiah dari ibunya, Persephone, sebelum ia harus naik ke permukaan untuk menjalankan tugasnya sebagai Dewi Musim Semi. Mawar itu tidak pernah layu, tetap segar oleh kekuatan cinta seorang ibu, menjadi satu-satunya warna cerah yang kontras dengan aura gelap yang menyelimuti gadis kecil itu.
"Boo! Jangan lari terlalu cepat!" seru Melinoe, suaranya renyah namun memiliki getaran otoritas yang mirip dengan ayahnya.
Di depannya, sebuah gumpalan kabut putih berbentuk bulat dengan mata besar yang bersinar biru pucat melayang-layang. Itu adalah Boo, roh hantu nakal yang diciptakan Hades secara khusus dari esensi awan Tartarus dan sedikit keceriaan terlarang. Hades menciptakan Boo bukan hanya sebagai pelayan, melainkan sebagai penjaga dan teman bermain putrinya agar Melinoe tidak pernah merasa kesepian di istana yang luas dan dingin itu, terutama saat ibunya tidak ada.
Boo melakukan gerakan salto di udara, lalu tiba-tiba menghilang dan muncul kembali di belakang Melinoe, meniup telinga gadis itu hingga ia terkikik geli. "Awas, Tuan Putri! Jika kau tidak bisa menangkapku, kau harus memberi makan Cerberus sendirian hari ini!" suara Boo terdengar seperti bisikan angin di lorong gua.
"Aku tidak takut!" balas Melinoe.
Ia berhenti sejenak, dan saat itulah keajaiban dalam dirinya terlihat jelas. Ketika ia membelalakkan matanya yang lebar, pupil matanya tidak berbentuk lingkaran biasa. Di dalam irisnya yang berwarna gelap, terdapat pola unik berbentuk kelopak bunga mawar merah yang sedang mekar—bukti nyata bahwa ia adalah anak dari Musim Semi dan Dunia Bawah. Setiap kali ia emosional, mawar di dalam matanya seolah-olah "tumbuh" dan bersinar merah terang.
Di kejauhan, dari atas singgasana obsidiannya, Hades mengawasi. Sang Raja Bawah Tanah itu tidak sendirian; ia selalu merasa "penuh" sejak kehadiran putrinya. Meskipun Persephone sedang berada di dunia atas—membuat bumi hijau kembali—Hades tidak lagi merasakan kesunyian yang mencekam seperti berabad-abad yang lalu.
Hades menyesap nektar gelap dari cawannya, matanya yang tajam melunak saat melihat Melinoe sekarang telah sampai di gerbang besar tempat Cerberus, anjing berkepala tiga raksasa, sedang mendengkur.
"Lihat, Ayah! Cerberus tidur lagi!" Melinoe berteriak sambil melambaikan tangan kecilnya.
Hades bangkit dari singgasananya. Langkah kakinya yang berat tidak mengeluarkan suara, namun udara di sekitarnya bergetar karena kekuatan yang ia miliki. Ia berjalan menghampiri putrinya, bayangannya memanjang mengikuti setiap langkah.
"Dia baru saja memakan tiga jiwa yang mencoba melarikan diri, Kecilku," kata Hades dengan suara bariton yang dalam namun lembut. Ia meletakkan tangan besarnya yang dingin di bahu Melinoe. "Dia butuh istirahat."
Melinoe mendongak, menatap ayahnya. "Kenapa kita tidak keluar hari ini, Ayah? Aku ingin menunjukkan mawar di mataku pada Paman Zeus atau Paman Poseidon. Boo bilang mereka belum pernah melihatku."
Hades terdiam. Ini adalah topik yang selalu ia hindari. Baginya, Melinoe adalah harta karun paling berharga yang pernah ada di dunia bawah—lebih berharga dari semua emas, permata, dan jiwa yang ada di bawah perintahnya. Ia menyembunyikan putrinya bukan karena malu, melainkan karena ia tahu betapa kejamnya dunia luar, bahkan bagi para dewa. Ia ingin melindungi mawar kecilnya dari intrik Olympus dan tatapan menghakimi dari mereka yang tidak mengerti keindahan dalam kegelapan.
"Belum saatnya, Melinoe," jawab Hades tenang. "Dunia luar terlalu terang dan berisik. Di sini, kau adalah ratu kecil. Di sini, kau aman."
"Tapi Ayah bilang aku memiliki kekuatan musim semi seperti Ibu," protes Melinoe sambil menyentuh mawar di telinganya. "Lihat!"
Gadis kecil itu berlutut di lantai batu yang keras. Ia memejamkan mata, berkonsentrasi. Dari sela-sela lantai obsidian yang mustahil untuk ditumbuhi apa pun, tiba-tiba muncul tunas kecil. Dalam hitungan detik, sebuah mawar merah darah tumbuh dengan tangkai yang hitam legam berduri tajam. Mawar itu indah namun mematikan, persis seperti esensi dirinya.
Hades terpana. Kekuatan putrinya tumbuh lebih cepat dari yang ia perkirakan. Melinoe benar-benar perpaduan sempurna: ia bisa menumbuhkan kehidupan di tempat kematian bersemayam.
"Bagus sekali," puji Hades, benar-benar bangga. "Kau adalah mawar paling indah di seluruh alam semesta, bahkan jika hanya Ayah dan Ibumu yang mengetahuinya untuk saat ini."
Boo, si hantu nakal, melayang mendekat dan mencoba memetik mawar itu, namun jari-jari kabutnya tertusuk duri hitamnya. "Aww! Tajam sekali! Tuan Putri, kau hampir membuatku menjadi hantu dua kali!" Boo mengeluh dengan nada bercanda, membuat Melinoe tertawa lagi.
Sore itu (jika bisa disebut sore di tempat tanpa matahari), mereka menghabiskan waktu di taman asphodel yang tersembunyi. Hades menceritakan tentang rasi bintang yang tidak bisa dilihat Melinoe dari bawah sini, sementara Melinoe menceritakan bagaimana ia dan Boo berhasil mengerjai Charon sang tukang perahu hingga ia hampir menjatuhkan koin-koinnya ke sungai Styx.
Hades menatap putrinya yang sedang mengejar Boo mengelilingi patung-patung marmer. Gadis itu tampak begitu mencolok dengan pakaian merah-hitamnya, seperti percikan api di tengah abu. Aura gelapnya sangat kuat, sangat mirip dengan Hades, namun senyumnya adalah milik Persephone seutuhnya.
Hades tahu bahwa suatu hari nanti, ia tidak akan bisa lagi menyembunyikan Melinoe. Keberadaannya akan mengguncang Olympus. Mereka akan melihat seorang dewi kecil yang memegang kunci kehidupan dan kematian di tangannya. Namun, untuk saat ini, Hades ingin menikmati momen ini. Ia ingin menjadi ayah bagi putri yang tidak pernah memandangnya dengan rasa takut, melainkan dengan cinta yang murni.
Saat waktu istirahat tiba, Melinoe mulai merasa lelah. Ia bersandar di kaki Cerberus yang besar, menggunakan salah satu leher anjing itu sebagai bantal. Cerberus mendengus pelan, seolah memberikan salam hangat pada tuan putri kecilnya. Boo melayang di atas mereka, menjaga agar tidak ada roh yang mengganggu tidur sang putri.
Hades berdiri di sana, menjaga mereka semua. Di dalam hatinya, ia sudah merencanakan waktu yang tepat. Mungkin saat Persephone kembali nanti, saat musim dingin pertama kali menyentuh bumi, ia akan membawa Melinoe ke perbatasan dunia, membiarkan dunia melihat bahwa kegelapan tidak selalu berarti kehancuran. Terkadang, kegelapan adalah tempat di mana mawar paling langka dan paling indah tumbuh.
"Tidurlah, Melinoe," bisik Hades, suaranya menyatu dengan angin bawah tanah yang sejuk. "Ayah tidak akan pernah membiarkanmu sendirian. Dan Boo akan selalu menjagamu."
Di telinga Melinoe, mawar pemberian ibunya sedikit bersinar, seolah-olah Persephone sendiri sedang membisikkan lagu nina bobo dari dunia atas. Di dalam tidurnya, pupil mata Melinoe tetap berbentuk mawar merah, bersiap untuk mekar sepenuhnya saat dunia akhirnya siap melihat keajaibannya.
***
Epilog: Kehangatan dalam Dingin Bulan-bulan berlalu di alam bawah, dihitung hanya dengan detak jam pasir abadi milik Hades. Suatu hari, pintu gerbang besar Dunia Bawah terbuka dengan aroma bunga melati dan tanah basah yang segar. Persephone telah kembali.
Melinoe berlari secepat kilat, bahkan melampaui Boo yang kebingungan. "IBU!"
Persephone, dengan gaun hijau mudanya yang mulai berubah menjadi gelap saat memasuki wilayah suaminya, menangkap putrinya dalam pelukan hangat. Ia mencium kening Melinoe dan menatap mawar di telinga gadis itu.
"Kau menjaganya dengan baik, Sayangku," kata Persephone lembut.
Hades mendekat, melingkarkan lengannya di bahu istrinya. "Dia bukan hanya menjaganya, Persephone. Dia telah menumbuhkan mawarnya sendiri di lantai istana kita."
Persephone menatap suaminya dengan penuh kasih, lalu menatap Melinoe yang sekarang sedang memamerkan trik baru bersama Boo. "Hades, dunia harus melihatnya. Dia terlalu indah untuk kegelapan ini saja."
Hades mengangguk perlahan, sebuah tanda persetujuan yang langka. "Segera. Aku sedang menunggu saat di mana cahaya tidak akan menyakitinya, melainkan tunduk padanya."
Dan di tengah-tengah Alam Baka yang sering dianggap sebagai tempat penderitaan, keluarga itu berdiri bersama—seorang raja yang tak terkalahkan, seorang ratu yang membawa kehidupan, dan seorang putri kecil yang membuktikan bahwa mawar paling merah bisa tumbuh subur di jantung kegelapan yang paling dalam. Bersama Boo yang terus melakukan lelucon bodoh di belakang mereka, keluarga penguasa kematian itu merasa lebih hidup daripada siapa pun di atas sana.