Aku pecinta Pengemar cerita tentang mitologi Yunani kisah para dewa yang anggun dan ini adalah kisah tentang Hermes dan nimfa bunga, Rosalithe,
Romansa, Fantasi/ Greek mythology
Penuh Harapan, Hangat, Intim
SINOPSIS: Hermes, Dewa Pesan yang lincah dan cerdik, menemukan ketenangan yang tak terduga dalam persahabatannya dengan Rosalithe, seorang nimfa bunga yang pemalu. Namun, ketika persahabatan itu mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, Hermes harus menghadapi kebenaran di hatinya dan risiko yang mungkin timbul dari perasaan yang melampaui batas antara dewa dan makhluk alam.
HERMES: Dewa Pesan, dewa pelindung para pengembara, perdagangan, dan pastori. Terkenal lincah, cerdik, dan kadang konyol. Di sini, ia menunjukkan sisi yang lebih rentan dan penuh kasih.
ROSALITHE: Nimfa bunga, makhluk alam yang hidup di Olympus. Pemalu dan pendiam (dandere), tetapi sangat hangat dan setia pada orang yang ia percayai.
ZEUS: Raja para dewa, muncul dalam adegan satu.
APOLLO: Dewa matahari, seni, dan ramalan, muncul dalam satu adegan.
Sinar matahari keemasan menerangi taman surgawi di Olympus. Bunga-bunga aneh bermekaran dengan warna-warni yang tak mungkin ada di dunia fana. Di antara semak mawar kristal dan lili yang bersinar, duduk seorang nimfa, ROSALITHE.
Ia duduk di sebuah batu marmer yang hangat, dikelilingi oleh bunga-bunga yang seolah-olah akan menghadap ke arahnya. Matanya, sebening embun pagi, berbunyi pada sebuah gulungan kuno yang ia baca dengan penuh konsentrasi. Rambutnya berwarna madu tergerai indah, sesekali terasa angin sepoi-sepoi.
Terdengar langkah kaki yang ringan dan cepat menghampiri. Rosalithe tidak perlu mendongak untuk mengetahui siapa yang datang. Hanya ada satu yang memiliki ritme langkah cepat dan detik itu.
Ia menutup gulungannya perlahan dan baru ketika sang pemilik langkah berdiri di depannya, ia mendongak.
HERMES berdiri di sana. Sang Dewa Pesan, yang biasanya dikenal dengan topik pertarungan dan sandalnya yang terkenal, tampak... gelisah. Matanya yang cerah menatap Rosalithe, lalu beralih ke tanah, lalu ke bunga di sebelahnya. Tangannya memegang sesuatu di punggung.
"Hermes," sapa Rosalithe, suaranya selembut kapas. Senyum tipis mengembang di bibir.
Hermes menelan ludah. Untuk seorang dewa yang bisa berlari mengelilingi dunia dalam sehari, ia tampak seperti seorang remaja yang baru pertama kali mencoba mengajak bicara gebetannya.
"Rosalithe," sapanya, suaranya sedikit lebih serak dari biasanya. "Aku... uh... lewat."
Rosalithe sedikit terkekeh. "Kau selalu lewat, Hermes. Olympus bukanlah tempat yang begitu luas bagimu."
“Benar,” Hermes menggaruk tengkuknya. "Tapi kali ini, aku rasa aku berhenti sejenak."
Ia mengeluarkan apa yang disembunyikannya di belakang punggung. Itu adalah seikat bunga POPPY berwarna merah cerah, diikat dengan seutas rumput ilalang yang dijahit dengan rapi. Bunga-bunga itu segar, seolah baru saja dipetik. Warna merahnya kontras dengan warna kulit dewa yang pucat.
Untukmu.
Kata-kata itu tidak terucap, tapi tertulis jelas di matanya. Pipi Hermes memerah, warna yang aneh dan langka untuk dewa yang begitu percaya diri.
Rosalithe menatap bunga itu, lalu kembali ke Hermes. Matanya membulat sedikit因为她 tidak menyangka.
"Poppy..." bisiknya. "Untukku?"
Hermes mengangguk, gerakannya kaku. "Aku... melihatnya tumbuh di lembah di bagian barat. Warna merahnya... mengingatkanku padamu."
Ia tidak mengatakan bahwa ia berlari ke lembah itu hanya untuk mencari poppy terbaik, menolak dikirimkan sebagai pembawa pesan untuk Zeus selama satu jam penuh demi satu ikat bunga.
Rosalithe dengan lembut mengambil buket itu dari tangan Hermes. Jari-jarinya yang halus menyentuh kulitnya seketika, menyebabkan guncangan kecil di tubuh Hermes.
“Terima kasih, Hermes,” katamu sambil mencium aromanya. Ia menutup matanya sejenak. "Aku suka sekali."
Hermes menghembuskan napas yang ia tahan begitu lama. "Ya... senang kau menyukainya."
Ia duduk di bangku sopan di sebelahnya, menjaga jarak yang sopan. Tapi bahkan dengan jarak itu, kehangatan yang mereka rasakan terasa seperti pelukan.
“Bagaimana harimu?” tanyanya dengan senyum ramah, berpura-pura bahwa semua ini normal dan bukanlah hal paling menegangkan yang pernah ia lakukan.
“Seperti biasa,” Rosalithe meletakkan bunga poppy di pangkuannya. "Membaca, merawat bunga-bungaku. Berbicara dengan Eos tentang warna langit pagi." Ia melirik Hermes. "Bagaimana kabarmu? Berlari mengelilingi dunia lagi?"
“Hampir,” Hermes tertawa kecil. "Zeus memerintahkanku untuk mengirim pesan ke Atlas. Sangat membosankan. 'Jaga langitnya, jangan jatuhkan bebanmu,' pesan yang sama setiap minggu."
"Kau membuatnya terdengar seperti tugas terberat di alam semesta."
"Karena memang begitu!" Hermes berseru dengan dramatis. "Bosan membosankan. Lebih baik... lebih baik menghabiskan waktu di sini."
Mereka terdiam sesaat, tetapi suasananya tenang dan nyaman. Suara-suara kecil taman—desir daun, kicauan burung aneh, gemericik air muntah—mengisi keheningan.
BEBERAPA MINGGU KEMUDIAN, SORE HARI
Ini sudah menjadi ritual. Setiap kali Hermes menyelesaikannya, dia akan datang ke taman untuk membahas Rosalithe. Kadang-kadang ia membawa hadiah aneh—sebuah batu berkilau dari dasar laut, seutas tali dari sutra peri, atau kisah-kisah lucu dari dunia fana.
Saat ini, Rosalithe sedang memetik daun kering dari semak bunga mawarnya. Hermes duduk di atas pagar batu marmer air mancur, mengamatiinya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Suatu hari," kata Hermes tiba-tiba, "aku akan menulis sebuah puisi untukmu."
Rosalithe berhenti dan menoleh. "Puisi? Kau, Hermes?"
"Aku juga bisa berseni, tahu!" ia membela diri. "Aku yang menciptakan kecapi, bukan? Apollo mungkin dewa seni, tapi aku punya bakat."
"Baiklah, baiklah," Rosalithe tersenyum. "Aku akan menunggu puisimu. Apa isinya?"
“Belum kubuat,” Hermes mengaku. "Tapi... kau tahu, bercerita adalah keahlianku. Jadi, izinkan aku menceritakan sebuah kisah yang kubuat tadi siang."
Ia melompat dari pagar dan duduk di hadapan Rosalithe, di atas rumput. Bersinar bersinar seperti biasa ketika ia siap bercerita.
"Ada seorang putri," mulai Hermes, suaranya berubah menjadi lebih melodi. "Tapi bukan putri biasa. Ia adalah ratu dari sebuah istana yang terbuat dari kaca di atas gunung tertinggi. Para penduduknya adalah makhluk-makhluk kecil yang terbuat dari es."
Rosalithe mendengarkan dengan penuh perhatian, dagunya di topang di telapak tangan.
"Putri itu," lanjut Hermes, "sedih. Karena di istana kacanya yang indah, ia tidak bisa merasakan apa pun. Tidak hangat, tidak dingin. Semuanya membeku. Hingga suatu hari, seorang musafir datang."
"Apakah Musafir itu seorang dewa yang tampan dan menawan?" Rosalithe menyela, matanya berbinar nakal.
Hermes tersipu. "Jangan menyela. Musafir itu... dia tidak tampan. Dia hanya seorang musafir yang lelah. Tapi dia membawa sesuatu di tangannya: satu ikat bunga poppy merah."
Rosalithe menatap bunga poppy yang selalu ia simpan di dalam vas di perkebunan. Bunga itu masih segar, entah bagaimana caranya.
"Musafir itu memberikan bunga itu kepada putri es," lanjut Hermes. "Saat putri itu memegangnya, bunga itu tidak membeku. Malah, warna merahnya melebur ke dalam istana kacanya. Dan untuk pertama kalinya, putri itu merasakan sesuatu. Bukan hangat, bukan dingin. Tapi... sesuatu yang berdebar-debar. Ia merasakan warna merah."
Hermes menatap Rosalithe. "Dan sejak saat itu, putri es itu tersenyum, dan senyumnya membuat seluruh kaca istananya berkilau lebih indah dari sebelumnya."
Rosalithe terdiam sejenak. Dia mengerti. Ia tahu siapa putri es itu, dan siapa musafirnya.
“Kau,” bisiknya. "Kau adalah musafirnya."
Hermes hanya tersenyum. "Mungkin. Atau mungkin, kau adalah putri esnya. Tenang, cantik, dan menyentuh hatiku yang nomaden ini."
Rosalithe meraih tangan Hermes. Sentuhan itu hangat dan pasti.
"Kau tidak perlu puisi, Hermes," katanya lembut. “Cerita-ceritamu lebih indah dari apa pun.”
Hermes berjalan monyet-monyet di ruangan megah yang dipenuhi instrumen musik. Ia memetik suling, lalu memukul gong kecil, tidak bisa diam. Apollo duduk di singgasananya, memainkan lyre dengan mahakaryanya yang biasa.
"Kau risih, saudaraku," kata Apollo tanpa melihat Hermes. "Seperti kuda pacu yang menunggu balapan dimulai."
"Aku tidak gelisah," bantah Hermes, tapi ia berhenti berjalan dan bersandar pada pilar. "Aku hanya... berpikir."
"Rosalithe?"
Hermes menegangkan. "Bagaimana kamu tahu?"
Apollo berhenti bermain. Mata yang biru tajam menatap Hermes. "Semua dewa di Olympus tahu, Hermes. Kau berlari lebih lambat akhir-akhir ini. Kau tersenyum pada dirimu sendiri ketika memikirkan tentang sesuatu. Dan kau... kau memetik bunga untuknya. Para Harpi bahkan memasak di angin."
"Dan apa masalahnya?" Hermes bertanya, suaranya sedikit kasar.
"Tidak ada masalah," kata Apollo, kembali memainkan lyre-nya dengan lembut. "Hanya... berhati-hatilah. Dia adalah nimfa, Hermes. Kau abadi. Dia... tidak. Cinta yang kau miliki bisa menjadi anugerah, atau kutukan terbesar bagi hatimu."
Hermes menatap lantai. "Aku tahu."
"Apakah kamu?" Apollo menoleh. "Cinta pertama para dewa selalu rumit. Kau adalah dewa yang bergerak, ia adalah nimfa yang dihapus. Bagaimana kau bisa menyatukan keduanya?"
Hermes tidak punya jawaban. Ia hanya melihat wajah Rosalithe di matanya.
duduk di takhtanya yang megah, petir berkilauan di matanya. Hermes berdiri di hadapannya, wajahnya serius untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama.
"Ayah," kata Hermes. "Aku datang untuk menanyakanmu sesuatu."
"Katakan," suara Zeus menggema.
"Aku ingin memberikan hadiah kepada Rosalithe. Sebuah hadiah... abadi."
Zeus menaikkan satu alisnya. "Hadiah abadi? Apa yang kau maksud?"
Hermes menelan ludah. Ini adalah pertaruhan terbesarnya. “Keabadian, dewi.”
Zeus terdiam. Suasana ruangan tiba-tiba menjadi sangat berat. Kilat petir di langit terbuka di atas Olympus.
"Kau tahu apa yang kau minta?" Zeus bertanya, suaranya seram. "Mengubah status seorang nimfa menjadi abadi bukanlah hal yang sepele. Ia akan kehilangan akuarium dengan bumi, dengan sungai. Ia akan menjadi... salah satu dari kita."
“Aku tahu,” kata Hermes dengan tegas. "Tapi tanpa itu, cintaku akan menjadi pengingat bahwa ia akan pergi suatu hari nanti. Aku telah melihat ribuan tahun, ayah. Aku tidak ingin menghabiskan sisa-sisa masa depanku dalam kesedihan yang tak berujung."
Zeus menatap Hermes. Ia melihat ketulusan di mata putranya. Ia melihat cinta yang begitu kuat, hingga membuat dewa yang lincah itu berdiri diam di hadapannya.
"Kau jatuh cinta, Hermes," kata Zeus, bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan.
Hermes tidak menjawab. Ia tidak perlu.
Zeus menghela napas panjang. "Baiklah. Permintaanmu dikabulkan. Tapi ini bukan hadiah dariku, Hermes. Ini adalah pilihan yang kau dan nimfa kau buat. Kalian akan hidup dengan konsekuensinya."
Hermes merasakan bebannya terangkat. "Terima kasih, Ayah."
Rosalithe duduk di bangku yang sama, di bawah langit malam yang penuh bintang. Hermes berjalan mendekat. Ia tidak membawa bunga kali ini. Ia membawa sesuatu yang lebih berat.
Ia duduk di cek.
"Rosalithe," mulai Hermes. "Aku harus berbicara denganmu."
Rosalithe melihat kecemasan di wajahnya. "Apa yang terjadi? Kau lihat... serius."
Hermes mengambil napas dalam-dalam. "Kau tahu perasaanku padamu. Aku rasa kau selalu tahu."
Rosalithe mengangguk, matanya menatap dengan penuh kasih. "Aku juga merasakan hal yang sama, Hermes. Sejak kau pertama kali datang padaku dengan kisah-kisahmu."
Hermes tersenyum, sebuah senyuman sedih. "Tapi ada masalah. Aku abadi, Rosalithe. Kau tidak. Suatu hari nanti, bunga-bunga ini akan berbaring, dan kau..."
Ia tidak bisa melanjutkan.
"Tapi bukankah cinta seharusnya membuat kita abadi, setidaknya dalam kenangan?" Rosalithe bertanya.
"Kenangan tidak cukup untukku!" Hermes berseru, lalu dia tenang. "Aku ingin lebih. Aku ingin melihatmu selamanya. Aku ingin berlari untukmu, bukan melawan waktumu."
Ia tergeletak di hadapan nimfa itu. Sebuah tindakan yang sangat tidak biasa bagi Hermes.
"Aku sudah meminta Zeus," bisiknya. "Aku memohon untuk memberikan keabadian. Untuk menjadikanmu dewi, atau setidaknya, salah satu dari kita."
Rosalithe membuka matanya lebar-lebar. Hermes.kamu tidak bisa.
"Aku bisa. Dan aku melakukannya. Zeus menyetujuinya. Tapi keputusan akhir ada padamu, Rosalithe. Kau akan kehilangan hubunganmu dengan bumi. Kau tidak akan lagi bisa merasakan sentuhan rumput atau angin sepoi-sepoi dengan cara yang sama. Tapi kau akan bersamaku. Selamanya."
Ia memperhatikan, menunggu. Jantungnya berdebar kencang.
Rosalithe menatap wajah Hermes. Ia melihat ketulusan, cinta, dan ketakutan yang sama yang ia rasakan. Ia melihat pria yang telah mengubah hidupnya yang tenang menjadi sebuah kisah yang indah.
Ia melihat poppy yang ia simpan di vas. Warna merahnya bersinar di bawah cahaya bulan.
Apa yang akan dia pilih? Akar yang telah menghubungkannya dengan dunia selama ribuan tahun, atau sayap yang akan membawanya ke langit?
Rosalithe berdiri. Ia menarik Hermes untuk berdiri bersamanya.
"Seperti yang pernah kau katakan padaku," bisiknya. "Kau adalah musafir yang lelah, dan aku adalah putri es di istanaku. Dan kau memberiku warna merah."
Ia menatap mata Hermes.
"Aku tidak takut kehilangan akarku, Hermes," katanya dengan suara yang pasti. "Karena cintaku padamu sudah membuatku menghapusmu. Dan sekarang... aku ingin terbang bersamamu."
Hermes menarik napas tajam. Kemudian, dia tersenyum. Senyum terbesar dan paling cerah yang pernah Rosalithe lihat.
Ia menunduk dan menciumnya. Bukan ciuman lembut pertama mereka, tapi sebuah ciuman yang penuh janji, sebuah awal dari keabadian yang baru.
Ketika mereka berpisah, Hermes menggenggam tangan Rosalithe.
“Bagaimana harimu?” tanyanya, ulangi pertanyaan pertama mereka.
Rosalithe tersenyum, sorot mata supernya berubah. Ia bukan lagi nimfa yang pemalu. Ia adalah seorang dewi yang bangkit.
"Seperti biasa," jawabnya. "Tapi untuk pertama kalinya, aku merasa... lengkap."
Di perselingkuhan, di ruang musik Apollo, sebuah senyuman tipis menyentuh bibir dewa matahari itu. Di tahtanya, Zeus mengangguk sekilas.
Dan di taman bunga Olympus, di bawah langit penuh bintang, Dewa Pesan yang lincah itu akhirnya menemukan tempat paling lambat untuk berlabuh: di hati nimfa bunganya.