Aroma kopi arabika bercampur dengan bau tanah basah di luar kafe modern ini. Bagi sebagian orang, jadi anak tunggal adalah berkah. Tapi bagi Felisa, itu adalah bencana administratif. Bagaimana tidak? Ibunya seorang dokter kecantikan yang terobsesi pada kulit mulus tak berpori, sedangkan ayahnya seorang polisi yang melihat semua hal dengan kacamata hukum pidana.
Felisa mengetuk-ngetuk meja kafe dengan dramatis. Tahi lalat di pipi kirinya bergoyang-goyang seiring bibirnya yang mengerucut maju lima sentimeter.
"Aku ini anak tunggal, tapi rasanya seperti buronan dua instansi!" ratap Felisa puitis, tangannya memegang dada seolah sedang sekarat. "Ibu menuntutku jadi dokter estetika demi masa depan skincare bangsa. Tapi kemarin, Ayah memergokiku belajar biologi dan langsung menginterogasiku seperti tersangka curanmor! Katanya aku harus jadi polwan!"
Baby, yang sejak tadi sibuk mengunyah croissant sampai remahannya berceceran, menyahut santai. "Manja ah kamu, Fel. Tinggal gabungin aja. Jadi dokter yang menginterogasi komedo, atau polisi yang menembak mati sel kulit mati."
"Ini tidak lucu, Baby!" pekik Felisa, matanya melotot. "Kemarin nilaiku fisikaku dapat 89. Ibu langsung bilang wajahku kusam karena penuaan dini, lalu menyuntikkan vitamin C dosis tinggi ke lenganku. Di saat bersamaan, Ayah menghukumku push-up dua puluh kali karena dianggap menurunkan wibawa keluarga di mata hukum! Aku stres!"
Romeo, yang duduk di samping Felisa, menatap gadis itu dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang sayangnya terlalu dalam untuk disadari oleh Felisa yang sedang sibuk tantrum. Romeo menggeser cangkir cappuccino-nya.
"Tenang, Fel. Kamu tahu kan, apa pun yang kamu pilih, aku bakal selalu..." Romeo menggantung kalimatnya, telapak tangannya berkeringat. "...maksudku, selalu ada solusi logis."
Tiba-tiba, pintu kafe terbuka dengan dentingan lonceng yang keras. Seorang cowok dengan potongan rambut cepak rapi, postur tegap seolah baru selesai upacara bendera, dan kemeja yang disetrika sangat licin masuk ke dalam kafe. Itu Ezra. Anak tentara, rekan kerja ayah Felisa, sekaligus cowok yang sudah dijodohkan dengan Felisa sejak mereka masih pakai popok.
Ezra langsung menggebrak meja Felisa tanpa permisi. Brak!
"Felisa! Laporan intelijen menyatakan kamu keluyuran saat hujan!" seru Ezra dengan suara bariton yang terlalu tegas untuk ukuran nongkrong di kafe.
Felisa memutar matanya malas. "Ezra, bisa tidak suaramu diturunkan dua oktav? Ini kafe, bukan lapangan apel."
Ezra menarik kursi, duduk tegak lurus sembilan puluh derajat. "Tidak bisa. Sebagai calon suamimu berdasarkan kesepakatan antar-wali tahun 2012, aku harus tegas. Kamu harus resmi jadi pacarku minggu ini, Fel. Ayahku sudah memesan gedung serbaguna militer untuk resepsi kita tujuh tahun lagi!"
"Heh, cepak kotak!" Baby menyela sambil menunjuk Ezra pakai garpu. "Felisa ini mau jadi dokter atau polisi aja masih pusing, kamu malah mau bikin dia jadi ibu Persit!"
"Diam kamu, masyarakat sipil!" gertak Ezra (meski nadanya tetap kocak). Dia menatap Felisa tajam. "Fel, ikut aku pulang. Kita harus latihan baris-berbaris untuk melatih kedisiplinan rumah tangga kita masa depan."
"Enggak mau!" Felisa merengek manja, bersembunyi di balik lengan Romeo. "Romeo, usir dia! Kepalaku makin rumit! Rumus kimia belum hafal, pasal KUHP belum kelar, sekarang ditambah beban negara!"
Romeo mengepalkan tangannya di bawah meja. Jantungnya berdegup kencang karena lengan Felisa bersentuhan dengan lengannya. Selama bertahun-tahun, Romeo memendam rasa yang teramat berat untuk Felisa. Dia rela mendengarkan keluhan manja Felisa setiap hari hanya agar bisa berada di dekat gadis itu. Tapi Felisa, dengan segala kepolosannya, sama sekali tidak peka.
"Ezra, jangan paksa Felisa," kata Romeo, mencoba terdengar berani meskipun suaranya agak bergetar.
Ezra berdiri, merapikan kerah bajunya. "Oke. Hari ini kamu aman, Felisa. Tapi ingat, garis takdirmu sudah dicetak oleh negara dan keluarga kita!" Dengan langkah tegap maju jalan, Ezra keluar dari kafe menembus hujan.
Setelah suasana agak tenang, Romeo menatap Felisa dengan lembut. "Fel... soal perjodohan itu... kalau kamu memang tidak suka, kamu bisa menolaknya. Aku bisa bantu kamu bicara ke orang tuamu. Karena sebetulnya, ada seseorang yang dari dulu..."
"Ah, tidak perlu, Romeo!" Felisa mendadak memotong kalimat Romeo dengan senyum ceria. Tahi lalat di pipinya naik. Kesedihan puitisnya tadi hilang lenyap dalam sekejap.
Felisa merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah map berlogo megah, lalu menggebraknya ke meja. Di map itu tertulis: "Surat Kontrak Kerja: Aktris Utama Serial Drama Komedi."
Baby sampai tersedak croissant-nya. "Hah?! Apaan ini?!"
"Aku sudah tanda tangan kontrak agensi akting secara diam-diam minggu lalu!" bisik Felisa sambil mengedipkan sebelah mata dengan gaya super manja. "Selama ini aku pura-pura stres, puitis, dan tertekan di depan Ibu dan Ayah cuma buat latihan akting protagonis yang tertindas! Dan tebak apa? Ibu mengira aku minta uang untuk beli buku kedokteran, padahal buat kelas akting. Ayah mengira aku minta uang buat kursus menembak, padahal buat bayar agensi!"
Felisa tertawa puas, merasa dirinya adalah genius tak terkalahkan. "Jadi, aku tidak akan jadi dokter, polisi, apalagi jadi istri tentara-nya Ezra! Aku mau pindah ke Jakarta bulan depan buat syuting!"
Baby melongo, geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya yang ternyata dalang drama tingkat tinggi.
Sementara itu, Romeo hanya bisa terdiam membeku. Tangannya yang tadinya mau menggenggam tangan Felisa langsung lemas. Di satu sisi dia kagum dengan plot twist hidup Felisa, tapi di sisi lain, hatinya patah berkeping-keping di tengah gemercik air hujan kafe modern itu. Felisa akan pergi jauh, dan cintanya tetap menjadi rahasia yang tidak pernah sempat dia sampaikan.