Bab 3: Detak Jantung di Balik Mesin Praktik
Cahaya putih yang memancar dari pergelangan tanganku tadi malam masih menyisakan sensasi berdenyut, seolah ada aliran listrik statis yang tertinggal di bawah kulit. Aku terbangun dengan keringat dingin membasahi seluruh punggung, napasku memburu seolah baru saja berlari menembus hutan belantara yang tak berujung. Di cermin kamar kos yang retak, aku melihat lingkaran hitam di kedua pergelangan tanganku kini tampak lebih tegas, lebih gelap, dan terasa seperti rajah permanen yang tidak akan pernah hilang.
Tanda itu adalah bukti. Sebuah komitmen yang tidak pernah kuinginkan, namun telah mengikatku pada janji yang tak terucap dengan Raina Amelia Putri.
Hari ini, sekolah terasa jauh lebih mencekam. Meski matahari bersinar terik, atmosfer di gedung praktik belakang tetap saja dingin, seolah cahaya surya takut untuk menyentuh dinding-dinding beton yang menyimpan luka-luka masa lalu. Aku berjalan melewati lorong, dan setiap kali aku menoleh, aku merasa ada sosok-sosok yang mengintip dari balik pintu kelas yang tertutup. Namun, saat aku berhenti dan menatap balik, yang ada hanyalah debu yang menari-nari dalam sorot cahaya jendela.
Tugas magangku hari ini adalah menginventarisasi alat-alat berat di ruang praktik mesin. Ruangan itu luas, dengan langit-langit yang tinggi dan deretan mesin bubut serta mesin penggiling besar yang tampak seperti monster besi yang sedang tidur. Bau oli yang pekat bercampur dengan bau besi berkarat selalu membuat kepalaku pening.
Di sudut ruangan, tepat di dekat mesin penggiling raksasa yang menjadi tempat kematian Raina belasan tahun lalu, aku merasakan kehadiran yang sangat kuat. Hawa di sana berbeda—jauh lebih dingin, lebih padat.
Aku mendekat, meski setiap langkahku terasa seberat timah. Mesin itu tampak tidak terawat. Laba-laba telah menenun sarang di antara gerigi-geriginya yang tajam. Sebuah garis kuning pudar, tanda batas aman yang sudah memudar, masih terlihat di lantai beton. Aku berlutut di sana, dan seketika itu pula, suara-suara aneh mulai terdengar.
*Klik. Klik. Klik.*
Bukan suara mesin yang menyala, melainkan suara gesekan logam yang ritmis. Seolah-olah ada seseorang yang sedang memutar tuas mesin itu dari dunia yang lain.
"Raina?" panggilku dengan suara bergetar.
Keheningan menjawab. Namun, di depanku, udara mulai memadat. Bayangan-bayangan hitam yang samar mulai membentuk siluet. Aku melihat Raina. Dia tidak menari kali ini. Dia berdiri di samping mesin itu, menatap benda besi tersebut dengan kebencian yang mendalam. Wajahnya yang hancur tampak kontras dengan sorot matanya yang kini terlihat lebih jernih, seolah dia sedang memanggilku untuk melihat apa yang dia lihat.
Aku memejamkan mata sejenak, mengumpulkan keberanian, lalu memberanikan diri untuk menyentuh permukaan mesin yang dingin itu. Seketika, vision itu datang—sebuah ledakan ingatan yang bukan milikku.
Aku melihat seorang gadis remaja dengan rambut pendek yang penuh semangat, sedang mengenakan kacamata pelindung. Dia sedang mencoba memperbaiki bagian mesin yang macet dengan penuh ketelitian. Dia bukan gadis yang ceroboh; dia justru yang paling paham mesin di kelasnya. Namun, sesuatu terjadi. Tali tasnya tersangkut.
Seseorang atau sesuatu mendorongnya dari belakang. Bukan dorongan fisik, tapi sebuah hentakan energi hitam yang membuatnya terjatuh tepat saat mesin itu menyala tanpa ada yang menekan tombol *start*.
Jeritan itu... suara jeritan itu begitu memilukan, memenuhi gendang telingaku hingga rasanya ingin pecah. Aku menarik tanganku dari mesin itu dengan kasar, terengah-engah, dengan keringat dingin yang mengucur deras di keningku.
"Mereka yang melakukan ini padamu?" tanyaku dengan suara serak.
Raina menunjuk ke arah ruang guru, lalu ke arah pohon beringin. Dia tidak berbicara, tapi pemahamanku terhadapnya telah melampaui kata-kata. Dia menunjukkan bahwa kematiannya bukanlah sekadar kecelakaan kerja. Ada sabotase. Ada iri hati yang dibiarkan tumbuh subur hingga menjadi kutukan. Dan Kuntilanak di pohon beringin itu adalah "pemungut" yang menunggu momen ketika nyawa itu terenggut, untuk kemudian menjadikannya tawanan abadi agar ia tidak bisa beristirahat dengan tenang.
Tiba-tiba, pintu ruangan praktik terbuka lebar. Pak Adi masuk bersama beberapa siswa yang membawa peralatan. Pak Adi adalah guru yang paling disegani, namun saat dia melihatku berdiri di sana, wajahnya berubah pucat pasi. Dia mematung sejenak, matanya menatap tajam ke arah area tempat Raina meninggal, lalu pandangannya beralih ke pergelangan tanganku.
"Kamu..." Pak Adi terbata, suaranya mengandung nada kepanikan yang tidak biasa. "Siapa yang menyuruhmu masuk ke area terlarang itu?"
"Saya hanya menjalankan tugas inventaris, Pak Adi," jawabku, berusaha menyembunyikan getaran di tanganku.
Pak Adi mendekat, wajahnya yang biasanya tegas kini tampak sangat renta. Dia menarikku menjauh dengan kasar dari mesin penggiling itu. "Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan! Mesin itu tidak suka didekati. Dia masih mencari pemiliknya."
Aku menatap Pak Adi dengan mata menyipit, memberanikan diri untuk menggali kebenaran. "Pak Adi, apakah Pak Adi tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Raina? Bukan sekadar laporan kecelakaan di arsip sekolah?"
Pak Adi terdiam. Bahunya merosot, dan dia tampak sepuluh tahun lebih tua dalam seketika. Dia memalingkan wajah, menatap keluar jendela ke arah pohon beringin besar itu. "Seharusnya aku yang berada di posisinya hari itu. Seharusnya aku yang mengecek mesin itu. Tapi aku terlambat satu menit... dan satu menit itu merenggut nyawa Raina."
Suara Pak Adi pecah oleh penyesalan yang mendalam. Ternyata dia bukan hanya guru yang kehilangan murid, tapi seseorang yang menanggung dosa kelalaian yang tak termaafkan
Namun, di sudut ruangan, aku merasakan kehadiran lain. Bukan hanya Raina, tapi belasan kehadiran yang lebih kecil. Aku melihat bayang-bayang mereka—sebelas jiwa kecil yang selama ini mengikuti Raina. Ada yang lahir dari rahim yang belum siap, ada yang tertutup kabut karena sakit dan kecelakaan, hingga mereka yang menjadi korban kekejaman *suanggi*. Dan di antara mereka, aku merasakan dua sosok yang paling dekat denganku: **Steven** dan **Alfino**, sepupuku yang malang.
Keduanya, yang meninggal hanya dua bulan setelah lahir karena keracunan gas dan gagal napas, tampak berdiri berdampingan dengan jiwa-jiwa lainnya seperti **Frans, Ester, Claudia, Gusti, Desi, Fransiskus, Elviana, Eti, Gian, dan Natalie**. Mereka semua menatapku dengan tatapan kosong, menunggu sebuah uluran tangan.
Aku merasa sesak. Ruang praktik yang tadinya penuh dengan aroma besi kini terasa seperti ruang tunggu bagi mereka yang tertahan di antara dimensi. Mereka bukan jiwa yang jahat; mereka adalah jiwa yang tersesat, mencari tempat untuk bersandar karena dunia tidak memberi mereka waktu yang cukup.
Saat Pak Adi sibuk mengurus siswa-siswanya yang tak menyadari kehadiran "tamu-tamu" ini, aku mendekat ke arah Raina. Dia menatapku, memberikan isyarat dengan tatapannya yang tajam namun kini terlihat sedikit lebih lembut. Dia sadar aku kini bisa melihat mereka semua.
"Mereka semua... mereka semua milikmu?" bisikku pada Raina.
Raina mengangguk pelan. Dia adalah pemimpin mereka—sosok tomboy yang kini memikul beban untuk menjaga jiwa-jiwa tak berdosa ini agar tidak tersesat lebih jauh atau jatuh ke dalam cengkeraman entitas hitam di pohon beringin.
Aku menyadari satu hal krusial: misiku bukan hanya membebaskan Raina dari cengkeraman Kuntilanak, tapi juga menjadi wadah bagi mereka semua. Pak Adi, dengan segala penyesalannya, tidak akan pernah bisa membantu mereka. Hanya aku yang memiliki kunci untuk membawa mereka pulang.
Saat aku berjalan keluar dari ruang praktik, aku merasa ada sesuatu yang mengikuti. Kali ini, tidak hanya langkah kaki Raina, tapi ada sebelas pasang langkah kecil yang mengiringi di belakangku. Mereka tidak menakutkan, mereka hanya terlihat... lelah.
Aku berhenti di depan ruang kelas agama. Lingkaran hitam di pergelangan tanganku terasa panas kembali. Kali ini, sebuah bisikan samar terdengar di telingaku, sebuah suara perempuan yang manis namun dingin: *"Bantu kami, atau hancurlah bersama kami."*
Aku tahu, aku tidak bisa lagi mundur. Rumahku, yang tadinya hanyalah tempat berlindung, kini akan menjadi tempat persinggahan bagi jiwa-jiwa yang tidak punya tempat untuk pergi. Aku menatap Raina yang kini berdiri di sampingku, menatap sekolah ini untuk terakhir kalinya sebelum dia tahu bahwa tak lama lagi, dia akan pergi dari tempat ini bersamaku.
Detak jantungku terasa seirama dengan detak mesin yang kini seolah berhenti berdenyut. Sekolah ini mungkin adalah hutan belantara yang penuh dengan arwah, tapi untuk pertama kalinya, aku merasa memiliki kekuatan untuk mengubah takdir mereka.
Malam itu, saat aku pulang, aku tidak lagi merasa sendiri. Di kursi belakang mobilku, aku bisa merasakan kehadiran mereka Raina, sepupuku Steven dan Alfino, serta sepuluh jiwa lainnya. Perjalanan menuju rumah adalah awal dari babak baru yang jauh lebih berat, namun aku sudah memutuskan: aku akan membawa mereka pulang dan memberi mereka kedamaian yang layak mereka dapatkan.