Malam itu, aku tidak bisa memejamkan mata. Bayangan wajah Raina yang hancur, namun sorot matanya yang begitu hidup penuh amarah dan kesedihan terus berputar di kepalaku.
Setiap kali aku memejamkan mata, aku kembali berada di teras sekolah, merasakan hawa dingin yang menusuk tulang saat lampu-lampu meledak secara misterius. Aku masih bisa merasakan sensasi panas di pergelangan tanganku, bekas yang kini tampak memudar namun tetap meninggalkan rasa perih yang samar.
Keesokan harinya, sekolah terasa berbeda. Cahaya matahari pagi yang biasanya memberikan kehangatan di Kupang kini terasa hambar, seolah tidak mampu menembus kabut kecemasan yang menyelimuti perasaanku. Saat aku berjalan melewati gerbang sekolah, aroma debu semen dan oli mesin yang biasanya kuhirup dengan biasa kini terasa seperti bau peringatan.
Tujuanku hari ini adalah ruang kelas agama katolik, tempat di mana aku harus mengajar materi pengantar untuk kelas kelas jurusan mesin. Ruangan itu, sebagaimana yang sudah kuketahui, dulunya adalah ruang kantin besar. Renovasi yang dilakukan sekolah hanya menyentuh bagian luar dan pengecatan ulang; struktur dasarnya masih tetap sama. Dinding-dindingnya masih menyimpan kelembapan, dan sudut-sudut ruangan yang gelap selalu tampak seperti menyembunyikan sesuatu.
Pohon beringin besar itu masih berdiri di sana, tepat di depan jendela kelasku. Daun-daunnya yang rimbun menghalangi cahaya masuk, membuat ruangan itu selalu terasa temaram, bahkan di siang hari yang terik.
Saat aku membuka pintu, udara dingin yang tidak wajar langsung menyambutku. Aku mengabaikan rasa merinding yang menjalar di tengkukku dan mulai menyiapkan perangkat ajar di meja guru. Namun, suasana di dalam ruangan ini terasa "penuh". Ada kesan bahwa aku sedang diamati oleh puluhan pasang mata yang tidak terlihat.
"Selamat pagi, anak-anak," sapaku dengan suara yang sedikit bergetar.
Tak ada jawaban. Ruang kelas itu kosong, memang ini adalah jam persiapan sebelum kelas dimulai. Namun, aku merasa ada bisikan-bisikan halus yang mengalun dari sudut ruangan, suara tawa anak-anak kecil yang bercampur dengan isak tangis yang tertahan. Aku mencoba memfokuskan pikiranku pada tumpukan kertas laporan magang, berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanyalah efek dari rasa lelah dan kurang tidur.
Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada jendela yang menghadap ke arah pohon beringin. Di sana, di balik kaca yang berembun, sosok itu berdiri lagi. Raina.
Kali ini, dia tidak menari. Dia hanya berdiri diam, menatap ke arahku dengan sorot mata yang dingin namun intens.
Pakaian praktiknya masih terlihat kotor, dengan noda tanah dan oli yang seolah tidak pernah hilang. Perbedaan perawakan wajahnya yang hancur tampak begitu nyata di bawah cahaya matahari yang terpecah oleh dahan-dahan beringin. Dia tidak mencoba masuk, namun keberadaannya di sana seolah memberi tahu bahwa dia sedang mengawasiku.
"Apa yang kau inginkan, Raina?" bisikku lirih, hampir tanpa suara.
Seolah merespons bisikanku, suhu di dalam kelas turun drastis. Napasku mulai membentuk embun di udara. Tiba-tiba, pintu kelas yang tadi kubuka lebar, terbanting tertutup dengan suara yang sangat keras, memecah keheningan. Debu-debu beterbangan di udara, dan papan tulis di depanku mulai bergerak, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang mencoba menulis sesuatu.
Aku terpaku, tidak bisa bergerak. Kapur tulis yang tergeletak di rak papan tulis melayang naik, lalu mulai mencoret-coret permukaan papan dengan kasar. Huruf-huruf itu terbentuk dengan cepat: *PERGI.*
Jantungku berdegup kencang hingga terasa sakit di rusuk. Aku tahu itu adalah peringatan. Apakah Raina yang melakukan ini? Atau sosok Kuntilanak penunggu pohon beringin itu yang tidak ingin aku mencampuri urusan mereka?
Dalam ketegangan itu, seorang guru senior, Pak Haryo, mengetuk pintu dan membukanya dengan terburu-buru. "Kamu tidak apa-apa? Aku dengar pintu terbanting dari koridor tadi!"
Aku menoleh ke arahnya, namun saat kulihat kembali ke arah papan tulis, coretan itu sudah hilang. Kapur itu tergeletak diam di rak. Aku menelan ludah, berusaha menenangkan napasku.
"Saya tidak apa-apa, Pak. Hanya... angin kencang."
Pak Haryo menatapku dengan tatapan curiga. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kelas, lalu menatap tajam ke arah pohon beringin di luar jendela. "Tempat ini memang sering bertingkah. Sejak renovasi kantin menjadi ruang kelas, memang banyak siswa dan guru yang merasa tidak nyaman di sini. Mereka bilang... mereka sering merasa ada yang memperhatikan dari luar jendela."
Dia menarik napas panjang, lalu melanjutkan, "Raina Amelia Putri. Kamu pernah dengar nama itu?"
Namaku mendadak dingin. Aku mengangguk pelan. "Ya, Pak. Saya pernah dengar cerita tentang kecelakaan di ruang praktik."
"Itu bukan sekadar kecelakaan," suara Pak Haryo merendah, hampir seperti bisikan. "Mesin itu tidak rusak. Mesin itu... seolah-olah menelan siapa pun yang lengah. Raina adalah gadis yang cerdas, anak yang sangat tomboy dan berani. Dia adalah pemimpin di kelasnya. Tapi kematiannya membawa dampak yang buruk bagi sekolah ini. Sejak hari itu, sekolah ini tidak pernah benar-benar tenang."
Dia menatapku sekali lagi, seolah sedang membaca isi pikiranku. "Jauhi pohon beringin itu. Apapun yang terjadi, jangan pernah mencoba berkomunikasi dengan apa yang ada di sana. Karena jika kamu menatap kegelapan terlalu lama, kegelapan itu akan mulai menatap balik ke arahmu."
Setelah Pak Haryo pergi, aku kembali terduduk di kursi guru. Pesan dari papan tulis tadi masih terngiang-ngiang.
*PERGI.*
Apakah itu peringatan dari Raina untuk melindungiku dari kekuatan Kuntilanak itu, atau perintah untuk tidak mengganggu ketenangan jiwanya? Aku menatap ke arah pohon beringin lagi. Raina sudah tidak ada di sana. Namun, aku merasa bahwa ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya.
Sisa hari itu di sekolah menjadi hari yang paling panjang dalam hidupku. Setiap kali aku melewati koridor, aku merasa ada bayangan yang mengikuti di belakangku. Suara langkah kaki yang berat, aroma tanah basah yang menyengat, dan hawa dingin yang selalu muncul saat aku mendekati ruang-ruang praktik.
Ketika hari beranjak sore, aku memutuskan untuk tidak langsung pulang. Aku memiliki firasat bahwa aku harus kembali ke ruang kelas agama ini saat sekolah benar-benar sepi. Ada sesuatu yang harus kuketahui. Ada rahasia yang terkunci di balik tarian Raina, dan aku merasa bertanggung jawab untuk membebaskannya dari belenggu yang menahannya.
Saat aku kembali ke depan ruang kelas agama, langit sudah mulai menggelap. Pohon beringin itu terlihat lebih besar dan lebih mengintimidasi dalam cahaya senja yang memudar. Tanpa rasa takut yang logis, aku melangkah masuk ke dalam kelas.
Di sana, di tengah ruangan, aku merasakan getaran energi yang kuat. Aku menutup mataku, membiarkan diriku terbuka terhadap apa pun yang ada di sana. Dalam keheningan itu, aku mendengar suara musik—sebuah melodi tarian yang lirih, sedih, dan penuh duka. Suara itu berasal dari arah pohon beringin.
Raina kembali menari. Tapi kali ini, dia tidak sendirian.
Di balik pohon beringin, sosok hitam besar—sesuatu yang menyerupai wanita dengan rambut panjang yang menutupi wajahnya, dengan kain kafan yang robek-robek dan bau busuk yang menyengat—sedang berdiri tegak. Itulah Kuntilanak penunggu pohon beringin. Dia memegang seutas tali hitam yang terhubung langsung ke leher Raina, menahan jiwa gadis itu agar tidak bisa berpindah.
Aku tersentak. Jadi inilah alasannya. Raina tidak bisa pergi karena dia sedang "dipelihara" oleh entitas ini untuk menjadi bagian dari koleksi jiwanya.
Tanpa sadar, aku melangkah keluar dari kelas, mendekati pohon beringin itu. Aku tidak lagi memikirkan keselamatanku sendiri. Fokusku hanya pada Raina, pada wajahnya yang hancur yang memendam kesedihan yang tak tertanggungkan.
"Lepaskan dia!" teriakku, suaraku menggelegar menantang udara malam.
Sosok Kuntilanak itu menoleh ke arahku. Matanya—lubang hitam yang dalam tanpa dasar—menatapku dengan kebencian yang murni. Dia mulai mendekat, melayang di atas akar-akar beringin. Raina, di sisi lain, menatapku dengan mata lebar, seolah tidak percaya ada manusia yang berani menantang entitas itu demi dirinya.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, namun tiba-tiba, pergelangan tanganku terasa panas luar biasa. Tanda lingkaran hitam itu mulai bercahaya. Cahaya putih yang menyilaukan muncul dari kulitku, membentuk semacam perisai yang membuat Kuntilanak itu mundur kesakitan.
Pertarungan itu dimulai. Bukan dengan senjata fisik, melainkan dengan kehendak dan energi. Aku merasa diriku ditarik ke dalam dimensi lain, di mana suara hujan menjadi bisikan-bisikan orang mati yang menjeritkan nama-nama mereka. Raina terus menari, namun gerakannya kini berubah, seolah-olah dia sedang mencoba menarik energi dari perisai cahaya yang keluar dari tanganku untuk memutuskan ikatan tali hitam itu.
Ini adalah malam di mana segalanya berubah. Aku bukan lagi sekadar mahasiswa magang. Aku telah memilih sisi, dan aku telah menandatangani kontrak dengan jiwa-jiwa yang tidak seharusnya aku sentuh.