Malam selalu datang lebih cepat di sudut kontrakan kecil berdinding papan kayu itu. Ketika mentari perlahan tenggelam di balik ufuk kota di pulau Sulawesi, warna jingga yang tersisa di celah-celah ventilasi tidak pernah cukup untuk menghangatkan ruangan berukuran tiga kali tiga meter tersebut. Di atas kasur tipis yang dialasi kain lusuh, Makdur duduk bersila. Tangannya yang kasar dan penuh kapalan menepuk-nepuk lembut dada seorang bayi yang tertidur pulas.
Bayi itu bernama Hasan. Anak laki-laki mungil yang belum genap berusia satu tahun, namun matanya sudah menyimpan kepasrahan yang mendalam.
Setiap kali Makdur memandangi wajah Hasan yang polos, dadanya selalu bergemuruh oleh rasa nyeri yang tak kunjung padam. Wajah Hasan adalah cermin sempurna dari masa lalu yang ingin dibuangnya, sekaligus satu-satunya alasan mengapa jantung Makdur masih berdetak hingga detik ini. Di wajah mungil itu, ada garis bibir dan bentuk mata yang sangat mirip dengan perempuan yang pernah berjanji untuk mengarungi hidup bersamanya—perempuan yang beberapa bulan lalu melangkah pergi tanpa pernah menoleh lagi.
Pergi untuk memilih jalan hidup baru, menikah lagi, dan membangun keluarga baru di tempat yang tak terjangkau. Meninggalkan Hasan yang saat itu masih merah, masih membutuhkan hangatnya ASI dan sentuhan seorang ibu.
Makdur ingat betul malam ketika rumahnya menjadi begitu dingin dan hampa. Tidak ada pertengkaran hebat, tidak ada teriakan. Yang ada hanyalah sebuah pintu yang tertutup rapat dan tangisan melengking bayi Hasan yang kelaparan. Di malam itu, Makdur merengkuh tubuh mungil Hasan, mendekapnya erat-erat di tengah kegelapan, dan berjanji pada langit yang bisu bahwa selama dadanya masih menghembuskan napas, Hasan tidak akan pernah berjalan sendirian.
"Mungkin kamu kehilangan dekapan seorang ibu, Nak,"bisik Makdur lirih di telinga Hasan yang tertidur, "tapi ayah berjanji, punggung ayah akan jadi perisaimu, dan dada ayah akan jadi tempatmu berlabuh."
---
Membesarkan bayi sendirian tanpa sosok pendamping bukanlah perkara mudah bagi seorang pria paruh baya yang tak memiliki pekerjaan tetap. Pada awal-awal kepergian istrinya, Makdur mencoba bertahan hidup dengan berjualan nasi bungkus sederhana di pinggir jalan.
Setiap subuh, ketika embun masih menempel di dedaunan, Makdur sudah menggendong Hasan di dadanya dengan kain jarik tua. Sambil menimang bayinya yang sesekali terbangun, tangan kirinya meracik lauk dan tangan kanannya membungkus nasi. Di bawah meja kayu tempatnya berjualan, Makdur menyiapkan kardus tebal yang dialasi kain empuk sebagai tempat tidur darurat untuk Hasan jika tangannya mulai pegal membungkus pesanan.
Namun, jualan nasi tidak selamanya ramai. Biaya kontrakan, susu formula yang harganya kian melambung, serta kebutuhan popok Hasan membuat tabungan Makdur yang tipis terkikis habis. Belum lagi ketika Hasan mulai agak besar dan aktif bergerak, membawanya berada di dekat kompor panas dan minyak goreng yang meletup menjadi terlalu berisiko.
Makdur harus memutar otak. Ia membutuhkan pekerjaan yang menghasilkan uang harian, tetapi memiliki fleksibilitas waktu agar ia tidak kehilangan momen untuk mengurus Hasan. Pilihan itu akhirnya jatuh pada sepeda motor tua satu-satunya yang ia miliki: menjadi pengemudi ojek online.
Jaket hijau yang mulai memudar warnanya itu menjadi seragam perjuangan Makdur. Sepeda motor matic keluaran lama itu kini menjadi 'kantor' sekaligus rumah kedua bagi pasangan ayah dan anak tersebut.
---
Membaur di antara riuk pikuk jalanan kota, keberadaan Makdur sering kali memancing pandangan iba sekaligus kagum dari orang-orang yang melintas. Jika matahari sedang bersahabat—saat pagi atau siang hari yang tidak terlalu terik—Makdur akan membawa Hasan pergi "ngojol".
Cara Makdur membawa Hasan sangat khas dan menguras air mata bagi siapa saja yang melihatnya. Ia mengikatkan gendongan bayi yang kuat di dadanya, memasukkan tubuh mungil Hasan ke dalamnya, lalu mengenakan jaket hijau besarnya di luar gendongan tersebut. Jaket itu diresleting setengah, membungkus tubuh Hasan agar terlindung dari terpaan angin jalanan, meninggalkan hanya kepala mungil Hasan yang mengenakan topi bayi lucu mengintip ke luar.
"Hasan ikut Ayah cari uang susu ya, Nak," bisik Makdur sebelum memutar kunci kontak motornya. Hasan kecil hanya akan mengoceh tanpa kata, tangannya yang mungil meremas bagian dalam jaket ayahnya yang terasa hangat dan beraroma keringat perjuangan.
Sepanjang perjalanan, Makdur berkendara dengan sangat hati-hati. Kecepatannya tak pernah lebih dari tiga puluh kilometer per jam. Setiap kali menyeberangi rel kereta api atau melewati jalanan berlubang, tangan kiri Makdur akan sigap memegangi punggung Hasan, memastikan bayi itu tidak terguncang.
Banyak penumpang yang terkejut saat memesan ojeknya. Beberapa penumpang wanita tak sanggup menahan air mata saat melihat Makdur menepi sejenak untuk membetulkan topi Hasan atau mengusap keringat di dahi bayinya.
"Pak, apa tidak kasihan bayinya dibawa naik motor?" tanya seorang penumpang suatu siang dengan nada khawatir.
Makdur hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang menyembunyikan lelah yang teramat sangat. "Kasihan, Mbak... sangat kasihan. Tapi kalau saya tinggalkan di rumah sendirian seharian, siapa yang mau kasih susu? Siapa yang mau ganti popoknya kalau basah? Cuma ini satu-satunya cara supaya saya bisa tetap kerja tanpa membiarkan anak saya kelaparan."
Jawaban sederhana itu selalu berhasil membungkam siapa saja. Di balik keputusasaan situasi, ada keteguhan hati seorang ayah yang tak bertepi.
---
Namun, narasi perjuangan Makdur tidak selalu seindah gambar-gambar di siang hari. Ujian terberat justru datang ketika malam merayap.
Tarif ojek online di malam hari sering kali memberikan bonus yang cukup lumayan untuk menutup kekurangan biaya harian. Namun, membawa bayi berusia beberapa bulan menembus dinginnya angin malam di atas sepeda motor adalah sebuah tindakan berbahaya bagi kesehatan Hasan. Makdur tahu betul risiko paru-paru basah atau masuk angin yang bisa mengintai buah hatinya.
Maka, ketika orderan siang hari tak cukup untuk membeli satu kaleng susu formula, Makdur terpaksa mengambil keputusan paling berat dalam hidupnya: keluar ngojol sendirian di malam hari, dan meninggalkan Hasan terlelap sendirian di dalam kamar kontrakan yang terkunci dari luar.
Makdur akan memastikan Hasan sudah kenyang, popoknya kering, dan ruangan aman dari jangkauan benda berbahaya. Ia meletakkan guling di kiri kanan Hasan, menyalakan lampu remang-remang, lalu berbisik lembut sebelum melangkah keluar pintu.
"Ayah pergi sebentar ya, Sayang... Cuma cari dua atau tiga orderan. Hasan anak pintar, tidur yang nyenyak ya..."
Di jalanan malam yang sepi, pikiran Makdur tak pernah berada di atas aspal. Jantungnya berdegup kencang setiap kali telepon genggamnya berdering, khawatir itu adalah tetangganya yang mengabarkan hal buruk. Setiap kali berhenti di lampu merah, Makdur memandangi layar ponselnya, menghitung menit demi menit, ingin rasanya terbang kembali ke kamar kontrakan itu.
Melalui media sosial tempatnya sesekali membagikan kesehariannya, banyak warganet yang mengikuti kisah hidupnya. Tak sedikit yang merasa khawatir dan memberikan pertanyaan yang sangat menusuk dada Makdur:
“Mas, kalau malam ditinggal sendirian, terus kalau Hasan bangun dan menangis kejer gimana?”
Ketika membaca komentar itu di bawah remang lampu jalanan saat menunggu pesanan makanan, air mata Makdur menetes di atas layar ponselnya. Dengan jemari yang gemetar, ia mengetikkan jawaban yang kemudian membuat ribuan orang yang membacanya menangis sesenggukan:
"Nanti bakal tidur lagi, Kak..."
Empat kata yang begitu singkat, namun menyimpan duka yang amat dalam.
Jawaban itu bukan bentuk ketidakpedulian, melainkan sebentuk kepasrahan yang menyayat hati. Makdur membayangkan betapa Hasan kecil terbangun di tengah kegelapan, meraba-raba mencari hangat tubuh ayahnya namun tidak menemukan siapa-siapa, menangis hingga kelelahan, dan akhirnya tertidur kembali karena menyadari bahwa tidak ada tangan yang akan memeluknya sampai ayahnya pulang membawa rezeki.
Setiap kali Makdur pulang dari narik malam dan mendapati mata Hasan sembab atau bekas air mata yang mengering di pipinya, Makdur akan berlutut di samping kasur, memeluk tubuh mungil itu erat-erat, dan menangis sejadi-jadinya dalam diam.
"Maafkan Ayah, Nak... Maafkan Ayah yang serba kekurangan ini..."
---
Kisah perjuangan Makdur dan Hasan perlahan tular di jagat maya. Kepolosannya, kesederhanaannya, serta cinta kasihnya yang luar biasa menarik perhatian banyak orang. Kolom komentarnya dibanjiri oleh simpati, doa, dan uluran tangan dari masyarakat yang tersentuh.
Bahkan, beberapa orang baik dan pemilik usaha menawarkan pekerjaan tetap untuk Makdur. Mereka menawarkan posisi dengan gaji bulanan yang pasti—sesuatu yang sangat diimpikan oleh setiap pengemudi ojek online.
Ada yang menawarkan pekerjaan sebagai staf administrasi, pekerja toko, hingga penjaga gudang. Namun, setelah mempertimbangkan semuanya dengan matang, Makdur dengan halus menyertakan pertanyaan retoris yang membuat para penawar pekerjaan itu terdiam dan mengerti:
"Terus anakku gimana, Kak?"
Makdur menjelaskan bahwa pekerjaan kantor atau toko menuntut jam kerja yang mengikat dari pagi hingga sore, bahkan malam. Ia tidak memiliki uang untuk membayar pengasuh anak, dan ia tidak memiliki keluarga di kota itu yang bisa dipercaya untuk menjaga Hasan seharian penuh. Siapa yang akan menyusuinya saat ia menangis di tengah jam kerja? Siapa yang akan menimangnya ketika ia demam karena tumbuh gigi?
Bagi Makdur, menjadi pengemudi ojek online—meski hasilnya tidak pasti dan serba terbatas—memberikannya satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang: **kebebasan untuk selalu ada di samping Hasan**.
Jika Hasan tiba-tiba rewel atau sakit di siang hari, Makdur tinggal mematikan aplikasi ojeknya, memutar balik motornya, dan memeluk anaknya di rumah tanpa takut dipecat oleh atasan. Hasan adalah prioritas utamanya, di atas segalanya.
---
Di tengah kesibukannya membagi waktu antara aspal dan pola asuh, Makdur selalu menyempatkan diri merekam video pendek menggunakan ponsel pintarnya yang sederhana.
Ia merekam momen saat Hasan tertawa ketika diajak bercanda dengan helm ojolnya, momen saat Hasan ketiduran di dada Makdur di bawah rindangnya pohon asam saat menantikan orderan, hingga momen-momen sederhana saat mereka berbagi sebotol susu di kamar kontrakan.
Banyak orang mengira Makdur merekam video-video tersebut untuk mencari popularitas atau mengharapkan belas kasihan. Namun, dalam salah satu unggahannya yang paling mengharukan, Makdur mengungkapkan alasan sebenarnya di balik setiap rekaman yang ia simpan.
"Saya merekam semua ini bukan untuk siapa-siapa," tulis Makdur dalam keterangan videonya. "Ini semua adalah tabungan ingatan untuk Hasan. Suatu hari nanti, ketika Hasan sudah tumbuh dewasa, ketika dia sudah mengerti jalan dunia, dia pasti akan bertanya tentang sosok ibunya. Dia mungkin akan mendengar cerita dari orang lain tentang mengapa ibunya pergi."
Makdur melanjutkan tulisannya dengan nada yang begitu getir namun penuh ketulusan:
"Aku ingin video-video ini menjadi bukti untuk Hasan... Agar ketika dia dewasa nanti dan tahu bahwa ibunya telah tiada dari hidupnya, dia tidak merasa menjadi anak yang tidak diinginkan. Aku ingin dia tahu bahwa di dunia ini, ada seorang ayah yang pernah bertaruh nyawa, menahan dinginnya angin malam dan teriknya matahari, hanya untuk memastikan dia bisa tumbuh dengan layak. Aku ingin Hasan tahu bahwa dia sangat, sangat dicintai."
Video-video sederhana itu adalah wujud diary digital seorang ayah. Sebuah surat cinta panjang yang ditulis bukan dengan tinta, melainkan dengan tetes keringat, asap knalpot, dan keteguhan jiwa.
---
Waktu terus berjalan. Hasan yang dulu hanyalah bayi merah kini perlahan tumbuh menjadi anak yang tanggap. Jarinya yang mungil kini sudah bisa menunjuk helm hijau ayahnya setiap kali Makdur bersiap untuk berangkat kerja.
Hidup Makdur dan Hasan mungkin belum bergelimang harta. Rumah mereka masih kontrakan papan yang sama, dan motor mereka masih berdecit ketika dinaiki. Namun, ruangan sempit itu kini tidak lagi terasa dingin dan hampa. Ruangan itu telah dipenuhi oleh gelak tawa Hasan dan doa-doa tulus yang dilantunkan Makdur di setiap akhir sujud malamnya.
Suatu sore, setelah seharian menembus jalanan kota yang berdebu, Makdur menepikan motornya di tepi pantai. Angin laut bertiup sepoi-sepoi, membawa aroma garam yang menenangkan. Makdur melepas helmnya, membuka resleting jaket hijaunya, dan mengangkat Hasan tinggi-tinggi ke udara.
Hasan tertawa lepas, suara tawa anak kecil yang begitu bersih dan tanpa beban. Cahaya matahari terbenam memantulkan warna keemasan di wajah mereka berdua.
Makdur kemudian mendudukkan Hasan di atas tangki motornya, merapikan rambut halus anaknya, dan mendekatkan dahinya ke dahi Hasan.
"Hasan..." bisik Makdur pelan, matanya berkaca-kaca menahan haru. "Terima kasih ya sudah mau memilih Ayah jadi ayahmu. Maaf kalau Ayah belum bisa kasih rumah yang bagus, mainan yang mahal, atau keluarga yang utuh seperti anak-anak lain."
Hasan kecil yang belum mengerti kerumitan dunia hanya menyentuh pipi ayahnya yang kasar dengan tangan mungilnya, lalu menyandarkan kepalanya di dada Makdur—dada yang selalu menjadi tempat paling aman di seluruh muka bumi.
Makdur memeluk tubuh kecil itu erat-erat. Di balik riuk pikuk dunia yang sering kali tidak adil, di balik takdir yang memberi luka mendalam, Makdur tahu satu hal pasti: ia tidak pernah sendiri, dan Hasan tidak akan pernah kehilangan cinta.
Sebab di atas sepeda motor tua itu, di balik jaket hijau yang kusam, ada sebuah kisah tentang ayah dan anak yang saling menyembuhkan, mengarungi garis waktu dengan dekapan yang tak akan pernah terlepas.