Ada sebuah warnet di daerah perumahanku, dan aku bekerja di tempat itu. Namaku Sakala, aku kelas 11 SMA dengan jurusan IPS, belum lama aku bekerja di warnet ini, mungkin baru sekitar.. enam bulan? Ya, kira-kira segitu.
Tugasku di warnet adalah menyambut pelanggan, serta melayani mereka dengan membuat makanan dan minuman yang dijual di sini, seperti mie, kopi, dan teh. Bicara tentang teh, ada pelanggan yang datang setiap hari minggu siang pada pukul 13:27 siang.
“Tehnya satu, bang!”, itulah kalimat yang selalu ia ucapkan setiap kali datang ke sini. Aku tak tau kenapa, tapi dia hanya datang untuk mendengarkan musik sembari menggunakan earphone dan menyesap segelas teh yang ia pesan, tanpa membuka situs atau aplikasi apapun.
Aku bekerja pada weekend, karena dari hari senin sampai sabtu aku sekolah dan selalu pulang sore. Tujuanku bekerja bukanlah untuk memenuhi kebutuhan hidupku, melainkan untuk kusumbangkan kepada yayasan anak yatim piatu, aku juga terkadang menggunakan uang hasil kerjaku untuk mengisi kotak amal. Bukan tanpa alasan, tetapi aku mengerti rasanya hidup menderita sebagai anak yatim piatu, hidup pontang-panting di jalanan, hidup tak terurus. Aku tak ingin orang lain merasakan hal yang sama denganku, jadi ya.. itulah usahaku.
Kembali lagi ke seorang pelangganku tadi, minggu ini dia datang bersama dengan temannya. Terdengar seperti hal yang biasa saja, tapi aku terkejut melihat bagaimana cara mereka berkomunikasi. Bahasa isyarat. Aku bingung. “Tuli?” itulah yang ada di pikiranku saat itu. Kalau dia tuli, kenapa dia selalu menggunakan earphone tiap kali datang ke sini? “Mungkin temennya yang tuli, ” pikirku saat itu. “Bang, teh hangatnya satu”, pesanan yang sama. Aku pun bergegas membuatkan pesanannya, mengantarnya ke meja tempat mereka berada, meja nomor 12, meja paling ujung, dia memang selalu memilih di tempat paling ujung. Aku menghampiri mereka. “Kali ini bawa temen ya, kak, ” ucapku. “Haha. Iya, bang, “ bukan dari pelanggan itu, kalimat itu diucapkan oleh temannya. Setelah menyajikan teh tersebut, aku kembali ke meja ku, sedikit memperhatikan meja di ujung tersebut. “Temennya bisa denger ternyata, “ itulah isi pikiranku kala itu. Aku sempat berpikir sesaat sampai akhirnya sibuk akibat pelanggan lain yang terus berdatangan.
Pukul 14:22, pelanggan bersama temannya tadi telah pergi. Aku yang sedang membereskan meja mereka dibuat gagal fokus, segelas teh yang sebelumnya kuberikan tidak habis, ia menyisakan sedikit dari teh tersebut. Saat itulah aku mulai tersadar, setiap kali ia memesan teh, teh tersebut tidak pernah diminum sampai habis. Padahal sudah mau sekitar se-jam dia duduk di sana setiap minggunya, tetapi tak pernah habis. Hal itu kembali mengisi pikiranku.
Minggu ke-dua di bulan agustus, kondisi warnet kala itu sedang sepi, tapi dia ada di sana. Aku akhirnya memberanikan diriku untuk menghampirinya dan membuka obrolan.
“Halo?”, ucapku dari belakang. Tak ada jawaban.. suasana hening, akupun menepuk pundaknya dan seketika pundaknya terangkat, tampak sangat terkejut. “Sepertinya dia tuli,” pikirku saat itu. Dia hanya mengangkat alisnya, mengisyaratkan “Ada apa?” Aku menunjuk dirinya, kemudian menghalangi telingaku, menggunakan bahasa isyarat yang aku karang sendiri; dijawab dengan anggukan olehnya. Ternyata benar, dia adalah seorang tunarungu. Wajahku berekspresi seakan.. “Owalah..”
Dalam beberapa minggu terakhir, kami berkomunikasi cukup intens. Aku pun mulai mempelajari bahasa-bahasa isyarat agar dapat berkomunikasi dengan dirinya. Oh iya, namanya Nina. Kala itu, Nina datang tak seperti biasanya. Ia datang ke warnet saat hari sabtu siang, pukul 14:36. Kami berbicara di depan warnet, maksudku berkomunikasi di depan warnet.
“Kapan hari ulang tahunmu, Sakala?” Itulah namaku, Sakala. Pertanyaan yang dilontarkan oleh Nina dalam bahasa isyarat tersebut tak dapat langsung ku jawab, karena gerakan tangannya terlalu cepat untukku. “Tunggu! Jangan terburu-buru!” ucapku. Aku mencoba mengingat gerakan tangan serta menyusun kata demi kata untuk dapat mencerna kalimat apa yang diucapkan oleh Nina. Nina pun akhirnya hanya terkikik melihat diriku, itu lucu baginya. Aku masih belum berani menanyakan hal-hal yang ingin kutanyakan tentangnya, mulai dari alasan dia selalu datang saat hari minggu, kenapa dia selalu memesan teh, aku merasa.. belum cukup dekat dengannya. Yah, mungkin lain kali; pikirku saat itu.
Aku sangat menyesali keputusanku untuk tak bertanya langsung dengannya. Pada 22 November 2026, hari minggu, tapi dia tak datang ke warnet. Tumben sekali, biasanya dia tidak pernah tidak datang ketika hari minggu, terlebih saat itu adalah hari ulang tahunku. Aku terus memikirkan tentang hal itu seharian ketika sedang di warnet, bahkan saat ulang tahunku dirayakan oleh teman-temanku yang lain.
“Yah, mungkin dia sedang sangat sibuk.” itulah yang ada di benakku.
Dua minggu setelahnya, teman Nina yang pernah menemani Nina kembali datang ke warnet. Tidak duduk di kursi atau memesan apapun, dia menghampiriku. Mengajakku berbicara empat mata, firasatku mengatakan bahwa dia akan membahas sesuatu yang penting. Aku pun meminta untuk bergantian berjaga dengan temanku, lalu kami akhirnya duduk di meja nomor 12; meja yang biasa ditempati oleh Nina.
“Jadi, ada apa?” ucapku penasaran, yang kemudian dijawab olehnya “Sebelumnya kenalin, namaku Irene. Ini tentang Nina.” Aku terkejut, ada apa dengan Nina? Pikirku. Aku lanjut berbicara, bertanya tentang kondisi Nina.
“Aku ngga tau kamu nyadar atau engga, tapi Nina selalu mesen teh setiap kali dia datang ke sini.” Akupun mengangguk, karena memang aku menyadarinya.
“Dan, apakah kamu sadar kalau teh yang dipesan ngga pernah diminum sampai habis,” iya, aku sadar akan hal itu.
“Teh itu mengingatkan Nina tentang mendiang ibunya. Dulu.. saat masih kecil, ibunya sering membuat teh yang selalu diminum oleh Nina. Menurutnya, teh buatan ibunya-lah yang paling enak. Tetapi, semenjak ibunya kecelakaan.. Nina tak bisa mengikhlaskan mendiang ibunya. Tapi di sini, ia menemukan rasa yang menurutnya.. sama seperti teh yang sering dibuat ibunya dahulu.”
Aku terus mendengarkan dengan seksama, sampai akhirnya hatiku terpukul keras oleh kalimatnya, “Alasan mengapa tehnya tak pernah habis, adalah karena ia tak ingin kenangan yang mengingatkan ia dengan ibunya menghilang. Dia ingin kenangan itu tetap ada, walau hanya sedikit dan hidup di dalam sebuah cangkir teh.”