Kabut tebal masih menggantung pekat di sela-sela pucuk pohon matoa ketika Bayu melangkah keluar dari bilik bambu tempat tinggalnya. Udara pagi di Distrik Yigi, sebuah lembah terpencil yang dipaguri pegunungan terjal Papua, selalu membawa rasa dingin yang menggigit hingga ke tulang. Namun pagi itu, dingin yang merayap di dada Bayu terasa jauh lebih membekukan.
Di punggungnya bertengger sebuah tas ransel kumal yang warnanya telah pudar diterpa hujan dan panas selama lima tahun. Jahitan di bagian bawahnya sudah beberapa kali ia tambal menggunakan benang sol sepatu. Di dalam tas itu, tak ada barang berharga. Hanya beberapa helai baju melar, selimut tipis yang bolong digigit ngengat, dan sebuah surat lusuh bergaris-garis kuning yang dikirimkan kerabatnya dari sebuah desa kecil di Jawa Tengah tiga minggu lalu.
Surat itu berisi kabar yang meremukkan seluruh pertahanannya: Bayu, pulanglah. Ibu stroke. Penglihatannya sudah kabur total dan tak ada lagi yang merawatnya di rumah. Beliau sering memanggil namamu sebelum tidur.
Bayu menghela napas panjang. Uap putih menghembus dari mulutnya, berbaur dengan kabut pagi. Hari ini, perjalanan lima tahunnya di tanah ini harus berakhir.
Lima tahun lalu, Bayu datang ke kampung ini sebagai pemuda dua puluh tiga tahun yang memanggul mimpi besar. Berbekal ijazah sarjana pendidikan yang masih berbau tinta cetak, ia menolak tawaran mengajar di kota kelahirannya dan memilih mendaftarkan diri ke program guru honorer daerah terpencil. Ia membayangkan sebuah pengabdian yang indah. Namun, realitas di lapangan adalah sebuah kurikulum bertahan hidup yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah.
Bangunan Sekolah Dasar Negeri Filial yang diserahterimakan kepadanya kala itu tak lebih dari sebuah pondok kayu lapuk beratap daun sagu yang sudah bolong-bolong. Tidak ada listrik, tidak ada sinyal telepon, tidak ada meja guru yang layak. Papan tulisnya hanyalah selembar tripleks tebal yang dicat hitam sendiri oleh Bayu menggunakan jelaga kuali yang dicampur air sabun.
Gaji sebagai guru honorer di pedalaman Papua adalah lelucon yang teramat getir. Tiga ratus ribu rupiah per bulan. Itu pun jika cair tepat waktu. Sering kali, haknya yang tak seberapa itu tertahan hingga empat atau lima bulan di kantor distrik yang jaraknya harus ditempuh dengan berjalan kaki menembus hutan beladan dan menyeberangi dua sungai berarus deras selama delapan jam.
Bayu masih ingat betul masa-masa paling spartan dalam hidupnya. Ketika gajinya tak kunjung datang selama setengah tahun dan persediaan berasnya habis, ia belajar membuang rasa gengsi. Ia menanam petatas—ubi jalar—di samping pondoknya. Jika panen gagal karena diserang hama, ia makan sagu bakar yang dibagikan warga kampung dengan belas kasihan. Tak jarang, untuk mengganjal perutnya yang bernyanyi di tengah malam, Bayu hanya meminum beberapa teguk air mentah dari panci tadah hujan.
Namun, lapar perut tidak pernah sekejam rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya tanpa obat. Pada tahun keduanya, Bayu terserang malaria tropika. Selama seminggu penuh, tubuhnya menggigil hebat di atas tempat tidur bambu. Demam tingginya membuat ia mengigau dalam kegelapan malam, sendirian di tengah belantara Papua tanpa dokter, tanpa apotek. Warga kampung yang panik hanya bisa membalur tubuhnya dengan dedaunan yang ditumbuk dan menjejalkan air rebusan akar pahit ke mulutnya. Saat itu, dalam kepasrahan yang mendalam, Bayu berpikir ia akan mati di perantauan dan jasadnya tak akan pernah dilihat oleh ibunya lagi. Namun keajaiban membawanya selamat, meski tubuhnya kini jauh lebih kurus dan kulitnya kian gelap terbakar matahari.
Keterbatasan fasilitas tak pernah menyurutkan langkah Bayu. Ketika buku-buku pelajaran dari dinas tak pernah sampai ke tempatnya, Bayu menjadikan alam sebagai ruang kelas. Ia mengajari anak-anak menghitung menggunakan batu-batu kali. Ia mengajarkan sains dengan mengajak mereka mengamati aliran air dan pertumbuhan tunas pohon di hutan. Saat kapur tulis habis dan pasokan dari kota terhenti karena jembatan kayu putus terjang banjir bandang, Bayu menggunakan arang kayu bakar untuk menuliskan huruf demi huruf di dinding papan sekolah.
Di antara lima tingkatan kelas yang serba terbatas itu, anak-anak kelas lima memegang tempat paling istimewa di hatinya. Mereka adalah delapan anak yang telah bersamanya sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di kampung tersebut. Delapan anak yang dahulunya tak tahu cara memegang pensil, kini telah mahir membaca cerita pendek dan bercita-cita tinggi.
Matahari mulai menyingsing tipis di balik bukit ketika Bayu menggeser pintu kayu ruang kelas lima. Suara engselnya yang berdecit nyaring memecah keheningan.
Delapan muridnya sudah duduk rapi di atas bangku-bangku kayu tanpa sandaran. Kaki-kaki telanjang mereka belepotan lumpur merah—bekas perjalanan jauh yang harus mereka tempuh setiap pagi dari lereng-lereng bukit. Wajah-wajah mungil berpigmen gelap dengan rambut keriting yang lebat itu menatap Bayu dengan binar mata yang selalu membuat dada Bayu berdesir.
Ada Aron, bocah paling jahil yang dahulu selalu kabur ke sungai setiap kali diajak berhitung, namun kini menjadi yang paling jago matematika. Ada Martha, gadis kecil bertubuh kurus yang setiap pagi selalu membawakan Bayu sebutir ubi bakar yang dibungkus daun pisang hangat. Ada Melki, Oche, Yance, Paulus, Klemens, dan Natan.
Di atas meja guru yang terbuat dari belahan kayu kasar, sudah tertumpuk buku-buku latihan murid-muridnya. Buku-buku yang halamannya terbuat dari kertas daur ulang murah, dipenuhi tulisan tangan anak-anak itu yang rapi dan teliti.
"Selamat pagi, Pak Guru Bayu!" seru mereka serempak. Suara lantang itu membumbung ke udara, menembus celah-celah atap sagu yang bocor.
Bayu berdiri di depan papan tulis tripleksnya. Ia mencoba tersenyum, namun bibirnya terasa sangat kaku. Ada gumpalan pasir imajiner yang menyumbat tenggorokannya, membuat setiap tarikan napas terasa perih. Tangannya yang memegang sepotong kapur kecil tampak gemetar tipis.
"Selamat pagi, Anak-anak..." suara Bayu terdengar serak, jauh lebih pelan dari biasanya.
Anak-anak itu saling pandang. Mereka cukup mengenal guru mereka. Selama lima tahun, Pak Guru Bayu adalah sosok yang selalu ceria, yang tak pernah lelah melompat dan memperagakan gerakan binatang saat mengajar, sosok yang akan tertawa lebar meski baju kemeja putihnya yang sudah menguning itu basah kuyup oleh hujan. Hari ini, ada raut asing yang menggantung di wajah guru muda itu.
Bayu membalikkan badan, menghadap papan tulis. Ia mengangkat tangannya untuk menulis, tetapi jemarinya tak mampu menahan gumpalan kapur itu. Patah. Kapur kecil itu jatuh ke lantai tanah dan pecah menjadi tiga bagian.
Bayu membungkuk, mengambil pecahan kapur itu dengan perlahan. Saat ia menunduk, satu tetes air mata jatuh tanpa bisa ditahan, menetes tepat di atas tanah merah di dekat kakinya.
Ia tidak sanggup jika harus berdiri di depan dan berpidato melepas mereka. Ia tahu, jika ia mengucapkan kata perpisahan secara terbuka, dadanya akan pecah saat itu juga. Maka, Bayu membuat sebuah keputusan di dalam hatinya.
Ia meletakkan kembali pecahan kapur itu di atas meja. Ia berjalan pelan menghampiri deretan bangku. Langkah kakinya yang beralaskan sepatu kain kumal terasa sangat berat, seolah-olah bumi Papua enggan melepaskan setiap tapaknya.
Bayu berhenti di bangku pertama, di mana Aron duduk dengan pensil kayu pendek yang sudah hampir habis di genggamannya.
Bayu membungkukkan tubuhnya. Ia merengkuh pundak kecil Aron yang hanya terbungkus kaos oblong tipis berserat kasar. Wajahnya didekatkan ke telinga kanan bocah itu. Dengan nafas yang tertahan dan suara yang bergetar hebat di balik tenggorokannya, Bayu berbisik lirih, sangat pelan:
"Yang rajin belajar, bapak mau pamit..."
Aron membeku. Pensil pendek di tangannya terlepas, jatuh berdetak di atas meja kayu. Bocah yang biasanya paling keras kepala dan tak pernah menangis itu perlahan menoleh. Matanya yang hitam jernih melebar, menatap wajah guru yang telah bersamanya selama lima tahun itu dari jarak hanya beberapa sentimeter.
"Pak Guru... bicara apa?" suara Aron terdengar sangat kecil, dipenuhi rasa tidak percaya.
Bayu tak mampu menjawab. Ia hanya mengusap kepala Aron yang berambut keriting erat-erat, lalu beralih ke bangku berikutnya, tempat Martha duduk.
Gadis kecil itu menatap gurunya dengan pandangan cemas sejak Bayu berbisik pada Aron. Ketika Bayu berlutut di samping bangkunya dan meletakkan tangan hangatnya di bahu Martha, air mata Bayu sudah tak bisa dibendung lagi. Dua lelehan bening mengalir membasahi pipinya yang tirus.
Bayu mendekatkan bibirnya ke telinga Martha, berbisik dengan nada yang sama, penuh dengan kepedihan yang menyayat:
"Yang rajin belajar, bapak mau pamit..."
Martha tidak bertanya. Ia melihat air mata di pipi gurunya, dan dalam sekejap, kesadaran menghantam dada kecilnya. Air mata serta merta merebak di pelupuk mata Martha. Bibir mungilnya gemetar hebat.
"Tidak... Pak Guru tidak boleh pergi! Pak Guru janji mau ajarkan Martha baca buku cerita sampai tamat!" jerit Martha. Suaranya pecah, melengking tinggi di dalam ruangan kayu yang sunyi itu.
Bayu bergeser ke bangku Melki, lalu ke bangku Oche, Yance, Paulus, Klemens, dan Natan. Satu per satu, ia datangi anak-anak itu. Satu per satu, ia rekatkan tubuhnya pada tubuh-tubuh mungil yang bau matahari itu. Dan pada setiap telinga anak-anak itu, kalimat yang sama ia bisikkan seperti sebuah mantra terakhir yang sarat akan beban kasih sayang:
"Yang rajin belajar, bapak mau pamit..."
"Yang rajin belajar, bapak mau pamit..."
"Yang rajin belajar, bapak mau pamit..."
Keheningan pagi di Distrik Yigi seketika runtuh. Bisikan-bisikan itu bertransformasi menjadi gelombang kesedihan yang melipatgandakan kepedihan di dalam ruangan kecil tersebut.
Melki melompat dari bangkunya. Bocah itu menyergap pinggang Bayu dari belakang, memeluknya dengan cengkeraman jari-jari kecil yang teramat kuat, seolah takut jika ia melepaskannya, gurunya akan menghilang ditelan kabut.
"Pak Guru jangan pulang! Jangan tinggalkan kami! Siapa yang mengajar kami lagi? Siapa yang mau obati kalau kami sakit di sekolah?" tangis Melki pecah, dadanya naik turun tergugu-gugu. Basah sudah bagian belakang kemeja lusuh yang dikenakan Bayu oleh air mata dan ingus bocah itu.
Dalam hitungan detik, seluruh kelas lima meledak dalam tangisan yang paling memilukan. Anak-anak yang biasanya tangguh, yang tak pernah meringis meski kaki mereka tertusuk duri hutan atau terjatuh dari pohon tinggi, kini meratap sejadi-jadinya.
Mereka menyerbu Bayu. Delapan anak SD itu melingkarkan lengan-lengan kecil mereka ke tubuh Bayu. Mereka memeluk lehernya, memeluk tangannya, memeluk kakinya, menempelkan wajah-wajah belepotan air mata mereka ke dada sang guru.
Bayu berlutut di tengah-tengah lantai tanah itu. Ia memeluk delapan anak itu sekaligus dalam sebuah lingkaran pelukan yang erat dan erat sekali. Suara isak tangis anak-anak itu bersahut-sahutan, berbaur dengan deru angin pegunungan yang menerobos masuk dari celah dinding papan.
"Bapak harus pulang, Anak-anak... Nenek di Jawa sakit keras... Nenek tidak ada yang jaga..." bisik Bayu di tengah tangisnya sendiri yang tak lagi mampu ia sembunyikan. Suaranya terputus-putus oleh kejang di dadanya. "Ibu bapak butuh bapak..."
"Tapi kami juga butuh Pak Guru!" jerit Aron sambil mengepalkan tangan kecilnya di dada Bayu. Air matanya mengalir deras, membasahi kerah kemeja Bayu. "Kami tidak mau guru lain! Kami cuma mau Pak Guru Bayu! Kalau Pak Guru pergi, kami tidak usah sekolah lagi!"
"Jangan bicara begitu!" tegur Bayu lembut sambil meraih kedua pipi Aron, mengusap air mata bocah itu dengan ibu jarinya yang kasar. "Kalian harus tetap sekolah. Kalian sudah janji sama bapak, kalian mau jadi dokter, mau jadi tentara, mau jadi guru untuk bangun tanah ini... Ingat janji kalian?"
Martha menggelengkan kepala keras-keras, wajahnya terbenam di lengan kanan Bayu. "Tapi tidak ada yang sayang kami seperti Pak Guru... Siapa yang mau jalan delapan jam ambilkan kami buku? Siapa yang mau bagi roti kalau kami lapar?"
Kata-kata Martha bagai sembilu yang menusuk ulu hati Bayu hingga koyak. Selama lima tahun ini, ia berpikir dialah yang telah memberikan segalanya untuk anak-anak ini. Namun pada momen ini, ia menyadari sepenuhnya bahwa anak-anak inilah yang telah memberinya alasan untuk bertahan hidup di tengah kerasnya belantara Papua. Merekalah yang merawat jiwanya ketika kesepian mencengkeram. Merekalah yang menguatkannya ketika tubuhnya digerogoti demam dan penderitaan.
Bayu mencium puncak kepala mereka satu per satu. Bau minyak kelapa dan aroma tanah dari rambut anak-anak itu meresap dalam ke memorinya, sebuah aroma yang ia tahu tak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya.
"Bapak memang tidak punya uang untuk kasih kalian sepatu atau baju baru," ujar Bayu dengan napas terengah, memandang mata delapan muridnya yang merah dan sembap. "Bapak cuma punya ilmu sedikit ini. Tolong... simpan di kepala kalian. Tolong terus belajar. Biar orang tidak lagi meremehkan anak-anak dari lembah ini. Kalian pintar. Kalian luar biasa."
Yance, bocah yang paling pendiam, tiba-tiba merogoh saku celana pendeknya yang robek di bagian samping. Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan sebuah ukiran kayu kecil berbentuk burung cenderawasih yang kasar, hasil buatannya sendiri menggunakan pisau lipat bekas. Ia menjejalkan ukiran itu ke dalam telapak tangan Bayu.
"Pak Guru... bawa ini," bisik Yance dengan nada suara yang nyaris tak terdengar karena tertahan isak. "Supaya Pak Guru ingat, ada kami di bawah kaki langit ini yang selalu tunggu Pak Guru kembali."
Bayu menggenggam ukiran kayu kasar itu erat-erat hingga sudut-sudut kayunya menancap di telapak tangannya. Rasa sakit fisik itu tak ada apa-apanya dibandingkan rasa hancur di dalam dadanya.
Hampir satu jam mereka tenggelam dalam pelukan perpisahan itu. Waktu terasa berjalan begitu kejam, menagih janji keberangkatan Bayu sebelum matahari terlalu tinggi dan arus sungai menjadi terlalu deras untuk diseberangi.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Bayu perlahan melepaskan pegangan anak-anak itu satu per satu. Ia berdiri, merapikan tas ransel kumalnya yang kini terasa berbobot tonan. Ia berjalan menuju pintu kelas, tak berani berbalik lagi karena tahu jika ia menoleh sekali saja, pertahanannya akan runtuh total dan ia tak akan pernah sanggup melangkahkan kaki keluar dari tempat itu.
"Pak Guru!" jerit anak-anak itu serempak ketika Bayu melintasi ambang pintu.
Mereka berlari menyusulnya keluar. Langkah-langkah kaki telanjang mereka menepuk tanah basah di halaman sekolah.
Bayu terus berjalan menyusuri jalan setapak tanah merah yang membelah pepohonan tinggi. Rain, gerimis tipis mulai turun dari langit Papua yang kelabu, menyamarkan lelehan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir di wajahnya.
Di belakangnya, suara tangis delapan anak kelas lima itu masih membahana, bergema di antara lembah dan dinding-dinding bukit batu:
"Pak Guru Bayu! Jangan pergi! Yang rajin belajar... kami janji Pak Guru! Kami janji!"
Suara jeritan mungil itu terus mengikutinya, semakin jauh, semakin samar, berbaur dengan deru angin hutan dan gemercik air gerimis yang membasahi bumi. Bayu terus melangkah, menggenggam erat ukiran kayu cenderawasih di sakunya, membiarkan dadanya sesak oleh duka dan cinta yang tak akan pernah padam.