Pagi itu langit diselimuti awan kelabu. Matahari seolah enggan menampakkan diri, membiarkan udara dingin menyelimuti halaman sekolah. Suasana seperti ini sudah menjadi pemandangan biasa bagi Widya. Setiap pagi selalu terasa sama—sunyi, muram, dan seolah menyimpan sesuatu yang tak pernah selesai.
Seperti biasa, Widya datang jauh lebih awal daripada murid-murid lain. Ia langsung melangkah menuju perpustakaan sekolah, tempat yang selalu memberinya ketenangan. Beruntung, Bu Hannah, penjaga perpustakaan, sudah datang dan tengah merapikan rak-rak buku.
Pandangan Widya tertuju pada sebuah novel horor keluaran terbaru. Senyum tipis menghiasi wajahnya. Setelah meminjamnya, ia duduk di pojok ruangan yang paling sepi dan mulai tenggelam dalam setiap halaman cerita.
Beberapa menit berlalu.
Tok...
Sebuah bunyi ketukan pelan terdengar dari rak buku di belakangnya.
Widya menoleh.
Kosong.
Tak ada siapa pun.
Ia menghela napas pelan. Mungkin hanya suara kayu yang memuai karena udara dingin.
Ia kembali membaca.
Tok... Tok...
Kali ini bunyinya lebih keras.
Widya kembali menoleh.
Tetap tak ada siapa pun.
Bulu kuduknya mulai meremang. Hawa dingin perlahan memenuhi ruangan. Udara menjadi begitu berat hingga napasnya terasa sesak.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan itu kini terdengar dari berbagai arah, seolah ada sesuatu yang sedang berkeliling dibalik rak-rak buku.
Widya berdiri perlahan.
"Siapa di sana?" suaranya bergetar.
Tak ada jawaban.
Yang terdengar hanya suara detik jam dinding yang seolah berdetak lebih lambat dari biasanya.
Kemudian...
Brakk!
Sebuah buku jatuh sendiri dari rak paling ujung.
Widya refleks menoleh.
Namun yang membuat darahnya seakan berhenti mengalir adalah dibalik celah rak buku, sesaat ia melihat sepasang mata pucat menatapnya.
Saat Widya berkedip, sosok itu lenyap.
Dengan tangan gemetar ia segera membawa novel tersebut dan keluar dari perpustakaan.
Saat berjalan melewati lorong menuju kelas, langkahnya terhenti.
Di ujung lorong terdengar suara tangisan seorang anak kecil.
Awalnya lirih.
Lalu semakin jelas.
Tangisan itu terdengar sangat menyedihkan... seolah berasal dari seseorang yang sedang menahan rasa sakit luar biasa.
Wifya memandang sepanjang lorong.
Tak ada siapa pun.
Tangisan itu justru terdengar semakin dekat.
"Hiks... Tolong..."
Suara itu berbisik tepat di belakang telinganya.
Widya menjerit pelan lalu berlari sekencang mungkin menuju kelas.
Sesampainya di sana, beberapa murid sudah datang.
"Kamu kenapa, Wid? Kok mukamu pucat banget?" tanya Putri.
"Iya, kayak habis lihat hantu," timpal Mila sambil tertawa kecil.
Widya masih terengah-engah.
"E... enggak... cuma..."
Melihat wajah Widya yang benar-benar ketakutan, Putri menghentikan candanya.
"Cerita saja. Kita kan sahabatmu."
Widya akhirnya menceritakan semua kejadian yang baru dialaminya.
Putri dan Mila saling berpandangan.
"Mungkin ada murid yang iseng," ujar Putri mencoba menenangkan.
"Nanti kita tanya Bu Hannah."
Bel masuk berbunyi.
Percakapan mereka pun terhenti.
Saat jam istirahat, mereka bertiga menuju perpustakaan.
"Bu, tadi pagi ada murid lain masuk ke perpustakaan?" tanya Widya.
Bu Hannah menggeleng.
"Tidak ada. Sejak Ibu buka sampai kalian datang, hanya Widya yang ada di sini."
Widya membeku.
"Bu... Ibu tidak dengar suara ketukan?"
"Ketukan apa?"
"Tadi ada suara anak kecil menangis juga..."
Bu Hannah tampak bingung.
"Ibu tidak mendengar apa-apa."
Mereka bertiga saling menatap.
Perut Widya terasa mual.
Jika bukan ulah manusia...
Lalu siapa?
Keesokan harinya mereka sengaja datang lebih pagi.
Mereka duduk berdampingan sambil berpura-pura membaca.
Ruangan sunyi.
Sangat sunyi.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara ketukan itu kembali terdengar.
Kali ini Putri dan Mila ikut mendengarnya.
Belum sempat mereka berbicara, suara tangisan anak kecil memenuhi seluruh perpustakaan.
Lampu mulai berkedip.
Nyala...
Padam...
Nyala...
Padam...
Udara berubah sangat dingin hingga napas mereka terlihat seperti embun.
Di sudut ruangan perlahan muncul bayangan hitam.
Semakin lama semakin jelas.
Seorang anak perempuan berdiri dengan kepala tertunduk.
Rambutnya panjang menutupi wajah.
Kulitnya pucat kebiruan, dipenuhi luka sayatan dan bekas lebam.
Darah hitam menetes perlahan dari ujung jemarinya.
Saat ia mengangkat wajah...
Kedua matanya kosong.
Hanya rongga hitam pekat.
Dengan gerakan patah-patah ia melangkah mendekati Widya.
"...To...long..."
Suaranya serak seperti tenggorokan yang robek.
"...Bo...ngkar... mis...teri... yang... lama... ter...kubur..."
Tangannya yang dingin mengulurkan selembar foto keluarga.
Sesaat setelah Widya menerimanya...
Sosok itu menghilang bersama hembusan angin dingin.
Mereka bertiga terduduk lemas.
Bu Hannah datang menghampiri.
"Kalian kenapa?"
"E-enggak apa-apa, Bu."
Widya buru-buru memasukkan foto itu ke dalam saku.
Saat istirahat mereka menemui Pak Udin.
Begitu melihat foto tersebut, wajah pria tua itu langsung pucat.
Tangannya bergetar.
"Darimana kalian mendapatkan foto ini?"
Widya menceritakan semuanya.
Pak Udin sempat menolak berbicara.
Namun akhirnya ia menghela napas panjang.
"Dulu... delapan tahun lalu... dua anak dalam foto ini menghilang."
Ia menunjuk dua anak laki-laki.
"Seminggu kemudian mereka ditemukan sudah meninggal."
Suaranya semakin lirih.
"Leher mereka patah... tubuh mereka dipenuhi luka tusukan... dan organ dalam mereka hilang."
Mereka bertiga menelan ludah.
"Mayat mereka bahkan hilang dari kamar autopsi."
Pak Udin melanjutkan.
"Polisi menduga ibu tiri mereka sebagai pelaku. Tapi kasus itu tiba-tiba ditutup."
"Siapa nama mereka?"
"Toni dan Rio."
"Lalu ayah mereka?"
"Meninggal karena kecelakaan saat menuju rumah sakit."
Sarah menggenggam foto itu erat.
Mereka sepakat mencari kebenaran malam itu.
Pak Udin akhirnya memberikan kunci cadangan perpustakaan sambil berpesan agar mereka berhati-hati.
Malam itu sekolah terasa mati.
Tak ada suara selain desir angin dan nyanyian jangkrik.
Saat pintu perpustakaan dibuka...
Aroma melati bercampur bau kemenyan langsung menyeruak.
Di dalam begitu gelap.
Senter mereka hanya mampu menerangi beberapa meter ke depan.
Tiba-tiba...
Krak...
Rak-rak buku bergerak sendiri.
Buku-buku berjatuhan satu per satu.
Suara tangisan kembali terdengar.
Namun kali ini bukan satu.
Melainkan dua anak.
Dua sosok muncul dari balik kegelapan.
Tubuh mereka dipenuhi luka.
Seragam sekolah mereka berlumuran darah yang sudah menghitam.
Leher mereka tampak bengkok tidak wajar.
Tatapan kosong mereka membuat kaki Widya nyaris tak mampu berdiri.
Salah satu dari mereka mengulurkan sebuah buku harian.
Widya membacanya.
Setiap halaman dipenuhi tulisan tangan yang bergetar.
Tentang penyiksaan...
Kelaparan...
Jeritan...
Dan bagaimana ibu tiri mereka menghabisi nyawa keduanya.
TAP...
TAP...
TAP...
Suara langkah kaki bergema.
Mereka menoleh.
Miss Rita berdiri di pintu sambil membawa sebilah pisau.
Tatapannya penuh kebencian.
"Hebat... kalian berhasil menemukannya."
Ia tertawa keras.
"Tapi sayangnya... kalian tidak akan pernah keluar hidup-hidup dari sini."
Tawanya berubah menjadi jeritan melengking yang menggema memenuhi ruangan.
"Aku akan mengubur kalian bersama mereka!"
Miss Rita menerjang.
Pisau itu menggores lengan Widya.
Darah segar mengalir.
Putri dan Mila menjerit.
Miss Rita kembali mengayunkan pisaunya.
BUGH!
Sebuah pukulan keras menghantam belakang kepalanya.
Miss Rita roboh tak sadarkan diri.
Pak Udin berdiri dengan tongkat baseball di tangannya.
"Maaf... aku sudah terlalu lama menyimpan semua ini..."
Airmata mengalir dipipinya.
"Aku tahu semuanya... tapi aku takut."
Widya menatapnya.
"Dimana jasad Toni dan Rio?"
Pak Udin menunjuk sudut kiri perpustakaan.
"Dibawah lantai yang disemen itu."
Keesokan harinya polisi datang.
Miss Rita ditangkap bersama barang bukti buku harian dan kesaksian Pak Udin.
Lantai perpustakaan dibongkar.
Di balik lapisan semen ditemukan kerangka dua anak yang telah lama hilang.
Kasus yang terkubur selama delapan tahun akhirnya terungkap.
Beberapa hari kemudian, saat pemakaman Toni dan Rio berlangsung, Widya berdiri memandangi liang lahat.
Angin berembus pelan.
Saat itulah ia melihat dua sosok anak laki-laki berdiri di bawah pohon kamboja.
Tubuh mereka kini bersih.
Seragam mereka utuh.
Mereka tersenyum hangat.
Perlahan mereka melambaikan tangan.
"Terima kasih..."
Bisikan lirih itu terdengar sebelum kedua sosok tersebut memudar bersama cahaya matahari sore.
Widya tersenyum sambil menahan air mata.
Untuk pertama kalinya...
Tangisan yang selama ini menghantui perpustakaan itu benar-benar telah berhenti.
.
.
.
Tamat