Pagi itu langit begitu cerah. Akhirnya aku merasakan masuk kuliah yang sebenarnya, setelah beberapa hari melewati pahitnya masa orientasi mahasiswa. Dengan semangat yang masih bercampur gugup, aku berangkat ke kampus seorang diri menggunakan sepeda motor.
Di tengah perjalanan, ketika pikiranku sibuk membayangkan kehidupan kuliah yang baru, tiba-tiba sebuah motor dari belakang berusaha menyalipku.
BRUK!
Motor itu menyerempetku hingga aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke aspal. Tubuhku terasa nyeri. Tampak orang yang menyerempetku berlari cepat kearahku, ia menghampiri untuk membantuku berdiri.
Saat wajahnya terlihat jelas, aku terpaku.
"Sepertinya aku pernah melihatnya. Bukankah dia Adam? Apa benar dia Adam?" batinku.
Adam adalah cinta pertama, sekaligus mantan pertamaku saat duduk di kelas sebelas. Waktu kami naik kelas dua belas. Adam mendadak memberitahukan padaku bahwa ia dan keluarganya akan pindah ke luar kota. Aku masih ingat betapa hancurnya hatiku saat itu. Aku tak ingin kehilangannya, tetapi aku juga tak mampu menahan kepergiannya.
Awalnya kami masih saling berkabar melalui WhatsApp, masih saling follow di Instagram dan tiktok. Tapi semakin lama chat yang masuk semakin singkat, pesanku lama dibaca, kadang seperti drytext, lalu semakin jarang. Video call sampai sleep call yang awalnya rutin makin lama makin tak pernah. Instagram dan tiktok nya tidak bisa diakses lagi. Dan ia benar-benar menghilang tanpa kabar.
Merasa sudah tidak lagi dianggap, dengan berat hati aku memilih mengakhiri hubungan kami. Itulah akhir kisah kami kala itu.
Hubungan kami memang tidak lama, hanya satu tahun, tetapi kenangan-kenangan yang kami ciptakan begitu banyak bahkan masih melekat hingga kini.
Cowok dihadapanku memang mirip Adam tapi penampilannya berbeda seratus delapan puluh derajat dari Adam yang aku kenal. Cowok ini jauh lebih dewasa, lebih rapi, lebih tampan dan mempesona.
"Apa ada yang sakit?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.
Suaranya...
Suaranya benar-benar mirip Adam.
Kalau dia adalah Adam. Kenapa ia tidak mengenaliku? Atau jangan-jangan dia pura-pura?
Dengan kesal aku menjawab,
"Ya iya sakit lah! Orang diserempet sampai jatuh, terus ketiban motor lagi!"
Tanpa menunggu jawabannya, aku segera menyalakan motorku dan meninggalkannya.
Sesampainya di kampus, aku mencari ruang kelasku. Setelah menemukannya, aku duduk sambil terus memikirkan kejadian barusan.
Luka di lututku semakin terasa perih. Akhirnya aku memutuskan membeli obat merah di apotek yang letaknya tepat di depan lobi kampus.
Keesokan harinya kelas Pak Suryo ternyata kosong. Aku berjalan sedikit agak jauh dari kampusku menuju sebuah cafe kecil. Walaupun cafe ini tidak terlalu besar tapi lumayan nyaman untuk mengerjakan tugas dan bersantai.
Aku mengeluarkan laptop, ponsel dan beberapa buku dari dalam tas ku.
Saat hendak menyeruput minuman kesukaanku, jantungku berdegup kencang.
"Astaga... Dia yang kemarin nyerempet aku?"
Tanpa sadar aku terus menatapnya. Cowok itu pun menyadari keberadaanku. Dengan rasa malu, aku segera mengalihkan pandangan.
Cowok itu berjalan menghampiriku.
"Hei, ternyata kita kuliah di tempat yang sama"
"Ini"
"Kemarin aku beli tapi aku enggak tahu harus mencarimu kemana" Ia menyodorkan sebotol obat luka. Tanpa berkata-kata, aku langsung mengambil botol obat luka itu dan kembali menatap layar laptopku.
"Mara."
Jariku yang tadi menari-nari diatas keyboard pun terhenti.
Hanya Adam yang memanggilku dengan nama itu.
Aku perlahan mengangkat wajahku.
"Apa kamu sudah lupa sama aku?" tanyanya.
"A.. Adam...?"
Ia tersenyum tipis.
"Aku sudah menduga kamu pasti masih mengenaliku. Asmara Kirana Putri... Aku kangen kamu."
Tatapannya berubah sendu.
"Aku kecewa waktu kamu mutusin hubungan kita. Sejak hari itu sampai sekarang, belum ada seorang pun yang bisa menggantikanmu dihatiku."
Aku menundukkan kepala.
Aku menggigit bibir pelan.
"Kalau memang masih sayang... kenapa kamu menghilang? Semua akunmu hilang. Chat-ku enggak pernah dibalas. Aku nunggu berbulan-bulan, Adam."
Senyum di wajah Adam perlahan memudar.
"Maaf..."
Ia menatapku dengan mata yang dipenuhi rasa bersalah.
"Waktu pindah, kondisi keluargaku lagi hancur. Usaha ayah bangkrut. Rumah kami disita. Kami harus pindah-pindah kontrakan."
Aku terdiam.
"Aku bahkan sempat enggak pegang HP selama hampir lima bulan. Semua akun media sosialku enggak bisa aku akses lagi. Nomor lamaku hangus. Aku benar-benar kehilangan semua kontak."
Napasku tercekat.
"Kenapa kamu enggak cari aku?"
Adam tersenyum pahit.
"Aku malu, Mara. Waktu itu aku merasa hidupku berantakan. Aku berpikir... mungkin kamu lebih bahagia tanpa ikut menanggung masalahku."
Mataku mulai berkaca-kaca.
"Tapi ternyata keputusan itu justru membuatku kehilangan orang yang paling berharga."
"Jujur... Setelah kita putus, aku juga enggak pernah pacaran dengan siapapun."
Belum sempat percakapan kami berlanjut, terdengar suara seseorang memanggilku.
"Rara ternyata kamu disini. Dicariin kemana-mana loh."
Bianka dan Sasa mendatangi ku.
"Eh siapa dia, Ra?" Tanya Sasa
"Oh ini teman lama waktu SMA " jawabku
Aku dan Adam saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya ia pamit karena ada keperluan.
Hari demi hari berlalu. Dan setiap pagi Adam selalu menyapaku.
Meski kami semakin dekat, aku masih belum sepenuhnya membuka hati.
Kadang aku sengaja menjaga jarak. Bukan karena tidak lagi menyayanginya. Justru karena aku terlalu takut. Aku takut Adam akan pergi untuk kedua kalinya.
Suatu pagi Adam menghentikanku di depan perpustakaan.
"Kamu akhir-akhir ini ngindarin aku ya?"
Aku menggeleng pelan.
"Aku cuma... takut."
"Takut apa?"
"Takut kamu tiba-tiba hilang lagi."
Adam terdiam cukup lama.
Lalu ia berkata dengan suara pelan,
"Aku enggak bisa mengubah masa lalu. Tapi aku bisa membuktikan kalau sekarang aku enggak akan lari lagi."
Sejak hari itu Adam benar-benar menepati ucapannya.
Ia selalu memberi kabar. Sesibuk apa pun, ia tak pernah membuatku bertanya-tanya seperti dulu.
Ia tak pernah lupa memberikan semangat sebelum aku masuk kelas.
Ia juga selalu menghadiahkan senyum hangat yang mampu membuat hariku terasa jauh lebih indah.
Tanpa kusadari, benih-benih cinta yang dulu sempat mati kini perlahan tumbuh kembali. Tak terasa satu semester telah berlalu.
Beberapa hari menjelang pengumuman IP, Adam mendadak sulit dihubungi. Chat-ku hanya dibaca beberapa jam kemudian. Ia juga tidak lagi menungguku di gerbang kampus setiap pagi.
Luka lama yang selama ini mulai sembuh perlahan kembali terbuka.
"Apa dia mau menghilang lagi?"
Pertanyaan itu terus menghantuiku.
Bahkan Sasa sampai menegurku.
"Rara, kamu kenapa sih? Murung terus."
Aku hanya tersenyum tipis.
"Enggak apa-apa."
Hari ini seluruh mahasiswa dibuat tegang menunggu pengumuman Indeks Prestasi.
Aku menghembuskan napas lega ketika melihat hasilnya. IP-ku sangat memuaskan.
Dengan perasaan bahagia, aku berniat menemui Bianka dan Sasa. Setibanya di parkiran, aku panik, motorku tidak ada ditempatnya.
Setelah mencarinya ke sana kemari, aku menghampiri satpam.
"Pak, lihat motor matic saya yang warna hitam dekat pohon itu?"
"Oh iya, tadi saya lihat motor kamu dibawa Bianka ke arah belakang."
"Oh... begitu ya. Terima kasih."
Aku buru-buru berjalan kebelakang kampus.
Sepanjang jalan pikiranku dipenuhi berbagai pertanyaan. Aku berhenti memeriksa tas ku. Kunciku hilang.
Darimana Bianka dapat kunci motor ku, kenapa Bianka membawa motorku kebelakang?
Semakin mendekati taman belakang kampus, suasana justru terasa sangat sepi.
Aneh.
Padahal biasanya tempat itu ramai oleh mahasiswa.
Sesampainya di sana, kulihat motorku memang terparkir di dekat kolam.
Belum sempat aku menghampirinya, tiba-tiba teman-teman kelasku bermunculan dari berbagai arah.
Mereka berjalan mendekat sambil membawa balon berbentuk huruf.
Aku hanya bisa memandang bingung.
"Ada apa sebenarnya?"
Tak seorang pun menjawab.
Mereka justru berdiri berjajar rapi.
Seketika seseorang menepuk pelan pundakku dari belakang.
Aku berbalik.
Adam berdiri sambil menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya.
"Ada apa ini?" tanyaku penasaran.
"Lihat teman-temanmu," katanya sambil tersenyum.
Aku kembali menghadap ke arah mereka.
Satu per satu balon huruf itu diangkat hingga membentuk sebuah kalimat.
"LOVE YOU ASMARA"
Mataku membulat.
Belum sempat mulutku berbicara, Adam melangkah maju.
Ia berlutut dihadapanku.
Dari balik punggungnya, ia mengeluarkan setangkai bunga mawar merah yang begitu indah.
Dengan suara lantang ia berkata,
"Maukah kamu menjadi pacarku lagi?"
Aku menatapnya lekat. Aku terdiam cukup lama.
"Adam..."
"Aku masih takut."
Wajahnya berubah serius.
"Aku takut suatu hari nanti kamu pergi lagi tanpa kabar."
Adam berdiri, lalu menatapku penuh keyakinan.
"Aku memang pernah gagal menjaga hubungan kita."
"Aku memang pernah menghilang."
"Tapi sekarang aku datang bukan untuk mengulang masa lalu."
"Aku datang untuk menebus semua penyesalan itu."
"Kalau suatu hari nanti ada masalah, aku janji akan menghadapinya bersamamu. Bukan meninggalkanmu."
"Aku enggak minta kamu langsung percaya."
"Aku cuma minta satu kesempatan lagi untuk membuktikannya."
Rasanya seperti mimpi.
Orang yang dulu pernah hilang dari hidupku kini kembali berdiri dihadapanku, meminta kesempatan untuk memulai hubungan dari awal.
Teman-temanku bersorak riuh.
"Terima! Terima! Terima!"
Air mataku perlahan jatuh.
Selama ini bukan karena aku berhenti mencintainya.
Aku hanya takut merasakan kehilangan untuk kedua kalinya.
Namun kini, tatapan Adam menunjukkan kesungguhan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Aku tersenyum sambil menerima bunga mawar itu.
"Iya... aku mau."
Senyum Adam mengembang begitu lebar.
Ia menggenggam tanganku dengan lembut.
"Aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Kali ini aku akan selalu bersamamu, dalam suka maupun duka. I love you."
Aku menatapnya penuh haru.
"I love you too."
Hari itu, cinta pertamaku benar-benar kembali.
Dan untuk kedua kalinya, dialah yang kembali singgah dihatiku.
.
.
.
Tamat