REMBULAN MENENUN MIMPINYA YANG INDAH
Author: Elvin Rambu
Mind-blowing;Horor
«“Tiap-tiap impian selalu melahirkan seorang penenunnya sendiri. Sialnya, tak pernah ada penenun yang diizinkan pulang untuk kembali menjadi manusia.”
— Legenda Desa Wairana»
Malam itu, cakrawala terasa begitu sempit. Rembulan perak menggantung rendah di angkasa, seakan jemarinya ingin menggapai ujung-ujung ranting di puncak Bukit Tenun.
Angin malam berdesir lambat, menghantarkan aroma khas tanah basah yang baru saja didekap gerimis sore. Alam mendadak bisu; tak ada kepak sayap burung malam, pun tak ada derik jangkrik yang biasanya riuh. Hanya ada sunyi yang merayap pekat, seolah-olah seluruh penjuru Desa Wairana sedang menahan napas dalam ketakutan.
Di tanah ini, ada satu pamali purba yang tertanam di kepala setiap warga: jangan pernah sekalipun melayangkan pandangan ke arah Bukit Tenun saat purnama mencapai puncaknya.
Bagi tetua desa, pendaran perak yang jatuh di punggung bukit itu bukanlah pantulan cahaya biasa. Itu adalah sebuah undangan gaib. Siapa pun yang berani menatapnya akan kehilangan kemudi atas tubuhnya sendiri, melangkah seperti mayat hidup menuju puncak, lalu menguap begitu saja.
Tanpa jasad.
Tanpa jejak kaki.
Tanpa satu pun kepastian.
Bahkan yang paling mengerikan, nama mereka yang hilang perlahan-lahan akan luntur dari memori orang-orang yang ditinggalkan.
Bagi sebagian orang, itu hanyalah histeria masa lalu atau dongeng pengantar tidur. Namun bagi yang percaya, mereka tahu bahwa di balik kabut tebal Bukit Tenun, bersemayam Sang Penenun Mimpi—entitas misterius yang merajut benang takdir manusia dari pintalan cahaya bulan.
Dulu, Arga berada di barisan orang-orang yang skeptis. Baginya, takhayul itu sengaja dirawat hanya untuk menakuti anak-anak agar tidak keluyuran selepas magrib.
Namun, benteng logikanya runtuh total pada suatu malam, ketika sang kakak lenyap tanpa sempat berpamitan.
Malam terkutuk itu masih membekas pekat di ingatan Arga.
"Kak, urungkan niatmu. Tetua bilang malam ini purnama penuh," cegah Arga malam itu, cemas.
Kakaknya hanya melempar senyum tipis, hambar. "Aku hanya ingin membuktikannya sendiri. Jika itu cuma omong kosong, aku akan langsung pulang."
"Itu hanya mitos, Kak!"
"Kuharap juga begitu."
Dan itu adalah untaian kata terakhir yang sempat singgah di telinga Arga.
Keesokan paginya, pagi datang dengan dingin yang ganjil. Pintu depan sedikit menganga. Sepasang sandal milik kakaknya masih tergeletak rapi di sudut teras. Namun, sang pemilik telah menguap, seolah-olah malam telah mengunyahnya bulat-bulat.
Berhari-hari pasca-kejadian, keputusasaan merubung keluarga mereka. Hutan belantara disisir hingga ceruk terdalam, aliran sungai diarahkan pandangan, dan tebing bukit didaki berulang kali. Namun, semesta tetap bungkam.
Hilang.
Lenyap tanpa menyisakan satu pun petunjuk.
Lima tahun telah bergulir.
Setiap kali rembulan membulat sempurna di langit malam, Arga selalu menatap keluar jendela kamar kosnya. Ia bukan sedang memelihara harapan kosong akan sebuah keajaiban, melainkan karena ia menolak kalah dari kutukan; ia menolak untuk melupakan wajah kakaknya.
Sampai pada suatu malam yang ganjil...
Di kejauhan, tepat dari arah vegetasi rapat Bukit Tenun, mendadak muncul seberkas cahaya putih keperakan. Pendaran itu berdenyut ritmis di sela-sela rimbunnya pepohonan.
Itu bukan kilatan petir, bukan pula sorot lentera minyak. Cahaya itu bergerak lambat, meliuk-liuk bagai jemari tak kasat mata yang sedang melambaikan panggilan.
Arga menyipitkan mata, jantungnya mulai bertalu hebat.
Tiba-tiba, sebuah bisikan lirih membelah kesunyian malam, datang dari arah bukit yang berkabut.
"Kemarilah..."
Arga tersentak, menoleh ke sekeliling ruangan yang lengang. Nihil.
"Aku masih menunggumu di sini..." Bisikan itu kembali menggema, kali ini terasa lebih dekat, seolah berbisik tepat di tengkuknya.
Arga menarik napas dalam-dalam. Jemarinya mencengkeram erat gagang lentera tua peninggalan kakeknya yang mulai berkarat. Selama setengah dekade ia hidup dalam labirin pertanyaan tanpa ujung. Dan malam ini, pintu jawaban itu mendadak terbuka di hadapannya.
Dipandu oleh rasa rindu yang teramat sangat, kakinya mulai melangkah pasrah, mengikuti ke mana arah cahaya rembulan menuntunnya masuk ke dalam pelukan hutan yang gulita...
Bab 2 – Bisikan di Balik Kabut
Kabut pekat mendadak turun bergulung-gulung, menyelimuti atmosfer saat sepasang kaki Arga mulai menapak di area landai kaki Bukit Tenun. Sorot rembulan yang semula benderang, kini terdistorsi oleh uap putih, tampak terurai menjadi jalinan benang perak tipis yang menggantung magis di udara.
Setiap jengkal langkah yang ia ambil terasa kian ganjil dan berat, seolah semesta sedang menahan lajunya.
Anehnya, desir gesekan dedaunan yang tadinya ditiup angin mendadak senyap. Hutan itu kehilangan suaranya; runtuh dalam keheningan yang terlalu absolut. Di bawah kungkungan sunyi itu, degup jantung Arga justru bertalu-talu kencang, bergaung lebih nyaring ketimbang suara alam di sekitarnya.
Lalu, sebuah ritme memecah malam.
Tak... tak... tak...
Arga memaku langkah.
Bunyi asing itu kembali mengudara, mengetuk gendang telinganya dengan jeda yang konstan.
Tak... tak... tak...
Itu bukan derap langkah kaki manusia, melainkan ketukan mekanis dari bilah-bilah kayu alat tenun tradisional yang sedang digerakkan dengan ritme lambat.
"Siapa di sana?!" seru Arga, suaranya parau membelah kabut.
Tidak ada sebaris pun jawaban yang membalas. Hanya gaung alat tenun yang terus berdetak ajek, melahirkan ilusi seakan-akan ada jemari tak kasat mata yang sedang merajut takdir di jantung hutan yang temaram.
Dengan napas yang tertahan di tenggorokan, Arga membiarkan rasa ingin tahunya menuntun langkah menuju pusat suara.
Makin dekat.
Makin benderang.
Di balik jajaran pohon-pohon purba yang meranggas, berdirilah sebuah gubuk kayu yang tampak ringkih dan lapuk dimakan zaman. Atapnya telah dikuas oleh lumut hijau, sementara dinding papannya retak-retak. Namun, dari celah-celah jendela yang usang, memancar pendaran cahaya putih kebiruan yang ganjil.
Arga terpaku. Seumur hidupnya menjelajahi kawasan bukit ini sejak kecil, ia bersumpah rumah misterius ini tidak pernah ada di sana.
Kreeeeek...
Pintu kayu itu berderit, mengayun terbuka dengan sendirinya seolah menyambut kedatangannya. Embusan udara sedingin es langsung menyapu permukaan wajah Arga, menerbangkan bulu kuduknya.
Di dalam ruangan yang gersang itu, hanya ada satu objek: sebuah perkakas alat tenun raksasa.
Ruangan itu kosong, tak ada tanda-tanda kehidupan. Namun, pasak dan kayunya bergerak secara mandiri dengan presisi yang mengerikan. Jalinan benang-benang cahaya melintas berkelindan, merajut sebuah motif rumit yang belum pernah dikenal oleh peradaban manusia.
Perlahan tapi pasti, pola pada bentangan kain itu bertransformasi... mewujud sketsa hidup seorang anak kecil yang tengah berlari riang di bawah guyuran hujan.
Tubuh Arga menegang sempurna. "Itu..."
Anak kecil di atas hamparan kain itu adalah dirinya sendiri di masa lalu.
Siluet pada kain itu terus bergerak sinematik bagai pita seluloid. Arga menyaksikan kilas balik dirinya yang tertawa lepas bersama sang kakak. Namun, visual itu segera berganti kelam; menampilkan adegan malam terkutuk lima tahun lalu saat kakaknya berjalan pasrah menembus kabut Bukit Tenun.
Tepat sebelum siluet sang kakak larut dan menghilang di ujung kain, sosok dalam rajutan itu tiba-tiba menoleh lurus ke arah Arga. Bibirnya bergerak samar, merapalkan sebaris kalimat tanpa suara:
“Jangan percaya pada apa pun yang matamu lihat...”
IBruk!
Hentakan keras menyudahi gerakan alat tenun itu secara mendadak. Pendaran cahaya biru itu padam seketika, melemparkan seluruh isi ruangan ke dalam pusaran kegelapan total.
Dari sudut tergelap di rumah itu, gema langkah kaki mulai terdengar menyeret.
Satu...
Dua...
Tiga...
Ada entitas yang sedang bergerak mendekatinya dari balik pekatnya bayangan.
Arga mencengkeram erat gagang lenteranya. Cahaya lilin yang kerdil di dalamnya bergoyang hebat, bergetar selaras dengan jemarinya yang gemetar.
Detik berikutnya, sesosok figur jangkung melangkah keluar dari kegelapan. Ia mengenakan jubah hitam legam yang menyapu lantai, dengan wajah yang disembunyikan di balik topeng porselen putih pekat—terpahat menyerupai replika wajah rembulan yang dingin tanpa ekspresi.
Sosok bertopeng itu mengunci pandangannya pada Arga dalam keheningan yang mencekam selama beberapa saat, sebelum akhirnya sebaris kalimat dingin meluncur perlahan namun bergema kuat di dada Arga:
"Kami telah menunggumu terlalu lama di balik kabut ini... wahai Penenun yang baru."
Bab 3– Lorong Para Penenun
"Kami telah menunggumu terlalu lama di balik kabut ini... wahai Penenun yang baru."
Gema kalimat dingin itu memantul di setiap sudut dinding kayu, berputar-putar di kepala Arga laksana badai. Arga mengambil langkah mundur yang goyah, napasnya memburu bersahut-sahutan dengan debar dada yang kian tak keruan. Di hadapannya, figur misterius berjubah kelam itu bergeming, seolah sepasang matanya di balik topeng porselen mampu membaca tumpukan tanya yang menggunung di benak Arga.
“Ada kalanya, takdir menuntut kita melangkah ke tempat paling gelap, bukan untuk tersesat, melainkan untuk menemukan muasal dari sebuah kehilangan.”
"Apa maksud dari semua kegilaan ini? Siapa kalian sebenarnya?!" tuntut Arga, meski suaranya bergetar hebat didera rasa takut.
Alih-alih melontarkan jawaban, sosok bertopeng rembulan itu hanya mengangkat jemarinya yang pucat. Ia menunjuk ke arah dinding kayu usang yang tegak membisu di balik perkakas alat tenun raksasa.
Seketika itu juga, keajaiban yang mengerikan terjadi.
Permukaan dinding berguncang pelan, melahirkan retakan-retakan halus yang berpendar keemasan, sebelum akhirnya membelah diri—terbuka menyerupai sebuah gerbang rahasia yang selama ini terkunci rapat dari peradaban manusia. Dari celah yang menganga itu, menyeruak seberkas cahaya keperakan yang benderang, jauh lebih megah dan magis ketimbang purnamaraya yang menggantung di luar sana.
"Melangkahlah masuk," titah suara dingin itu lagi.
Keraguan sempat menjerat tungkai kaki Arga. Namun, api penasaran yang telah dirawatnya selama setengah dekade terbukti jauh lebih perkasa ketimbang rasa takutnya. Ia memantapkan hati, menyeret langkahnya melewati batas ambang pintu tersembunyi itu.
Begitu tapak kakinya menyentuh lantai di balik dinding, atmosfer udara langsung berubah drastis. Rasa dingin hutan yang menusuk tulang mendadak menguap, digantikan kehangatan ganjil yang terasa asing sekaligus menenangkan.
Di hadapan Arga, terbentang sebuah lorong yang seolah tak berujung. Langit-langit tempat itu tidak terbuat dari beton ataupun kayu, melainkan anyaman mahakarya benang-benang cahaya yang berkilauan, meniru gugusan galaksi dan bintang-bintang di angkasa.
“Manusia sering kali mendongak mencari bintang di langit malam, tanpa pernah tahu bahwa jutaan harapan mereka sebenarnya dikurung dan dirajut di bawah tanah.”
Di sepanjang sisi kanan dan kiri lorong, berjejer ratusan alat tenun tradisional. Semuanya bergerak secara mandiri tanpa ada satu pun tangan yang menggerakkan pasaknya.
Tak... tak... tak...
Simfoni ketukan kayu itu berpadu, melahirkan sebuah irama ganjil yang memenuhi udara. Bunyi itu tidak lagi terdengar mengerikan, melainkan menjelma laksana kidung purba yang telah dinyanyikan sejak hari pertama dunia ini diciptakan. Arga menelan ludahnya yang terasa kelu. Di tiap-tiap alat tenun tersebut, duduk sesosok manusia yang terdiam seribu bahasa.
Ada anak kecil dengan jemari mungil, ada wanita paruh baya, ada pemuda sebaya dirinya, hingga lelaki tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya. Mereka menenun dalam keheningan yang absolut. Tak ada satu pun kepala yang terangkat. Tak ada sebaris pun obrolan yang bertukar. Satu-satunya tanda kehidupan hanyalah gesekan benang-benang cahaya yang saling bersilang membentuk jalinan takdir.
Arga melangkah lambat, mengamati rupa-rupa wajah asing itu satu demi satu. Hingga di sebuah titik, langkahnya mendadak terkunci keliru. Netranya menatap sesosok lelaki tua yang gurat wajahnya terasa begitu familier di ingatannya.
"Pak... Danu?" bisik Arga sangsi.
Lelaki tua itu sama sekali tidak memberikan respons. Padahal Arga tahu benar siapa dia. Pak Danu adalah salah satu warga desa yang dikabarkan raib tanpa jejak dua puluh tahun silam. Arga memberanikan diri melangkah lebih dekat.
"Pak Danu! Ini saya, Arga! Anak dari Desa Wairana!" serunya setengah mendesak.
Mendengar seruan itu, sang lelaki tua perlahan-lahan mengangkat wajahnya yang layu. Tatapan matanya kosong melompong; tak ada lagi binar kehidupan atau percikan memori di sana. Ia mengunci pandangan pada Arga selama beberapa detik yang menyiksa, sebelum akhirnya kembali menunduk dan melanjutkan pekerjaan mereka, seolah eksistensi Arga di depannya hanyalah angin lalu yang tak berarti.
Bulu kuduk Arga meremang hebat, dingin merayap ke tengkuknya. Ia kembali dipaksa berjalan menyusuri lorong yang kian temaram. Semakin jauh ia melangkah masuk, semakin banyak wajah yang ia kenali dengan baik. Ada sosok guru sekolah yang hilang misterius sewaktu Arga masih berseragam, ada pemburu tangguh yang tak pernah kembali ke rumah, hingga seorang gadis desa yang namanya masih sering diratapi warga setiap kali purnama tiba.
Semuanya ada di sini. Semuanya masih bernapas dan hidup. Namun, tak seorang pun dari mereka yang mampu mengingat dunia fana yang pernah mereka tinggalkan.
"Mengapa... mengapa mereka semua membisu seperti mayat hidup?" bisik Arga pada sunyi.
Sesosok berjubah hitam yang setia mengekor di belakangnya akhirnya membuka suara. "Sebab seluruh memori dan ingatan mereka telah lumat ditenun menjadi kain."
"Apa maksudmu?"
"Siapa pun manusia yang berani menembus batas tempat ini harus menyerahkan satu mahar paling berharga sebagai gantinya."
"Apa mahar itu?"
"Kenangan."
Kalimat itu memukul kesadaran Arga hingga ia terpaku bisu.
“Ketika seluruh kenangan hidup dipaksa bertransformasi menjadi selembar benang, kita tidak sedang merajut masa depan, melainkan perlahan-lahan menghapus diri kita dari masa lalu.”
"Semakin lama mereka mengasingkan diri di sini, semakin banyak kenangan hidup mereka yang dipaksa bertransformasi menjadi helai-helai benang. Hingga pada akhirnya, mereka benar-benar lupa tentang siapa diri mereka seutuhnya."
Debar jantung Arga kian menggila, bertalu-talu laksana genderang perang. "Tidak... itu tidak masuk akal!"
Langkah sosok berjubah hitam itu mendadak berhenti. "Layangkan pandanganmu ke depan."
Tepat di ujung cakrawala lorong, berdirilah sebuah pohon raksasa yang mahabesar. Batangnya berkilau keperakan, memancarkan aura sakral. Akar-akar raksasanya menjalar ke seluruh penjuru ruangan, mencengkeram fondasi gaib tempat tersebut. Dan di sanalah bermuara segala ujung benang cahaya yang dipintal dari ratusan alat tenun tadi. Pohon itu tampak bernapas; setiap kali sehelai benang selesai dirajut, seisi batangnya akan memancarkan pendaran cahaya yang lembut dan menenangkan.
"Pohon apa itu?" tanya Arga terpana.
"Itulah Poros Pohon Mimpi. Seluruh bunga tidur, harapan, dan imajinasi umat manusia di muka bumi terlahir dari sari-sari pohon ini."
Arga menatap mahakarya di depannya tanpa sempat berkedip. Namun secara tiba-tiba, sebuah suara yang amat ia rindukan memecah simfoni ketukan kayu.
"Arga..."
Suara itu teramat lirih, laksana bisikan angin lalu, namun sanggup membekukan seluruh aliran darah di tubuh Arga.
"Kak... Kakak?"
Arga menoleh liar ke segala penjuru arah, mencari muasal suara.
"Arga..." Kali ini, panggilan itu menggema lebih jelas, merobek keheningan.
Tanpa memedulikan akal sehat lagi, Arga berlari sekencang mungkin menyusuri lorong panjang itu. Ia menerobos puluhan barisan alat tenun, menembus jutaan jalinan benang bercahaya yang melayang di udara, hingga sepasang langkahnya terhenti tepat di depan sesosok pemuda yang tengah sibuk merajut kain sewarna biru keperakan.
Pemuda itu perlahan-lahan mendongakkan kepalanya. Detik itu juga, pertahanan Arga runtuh; air matanya luruh membasahi pipi begitu saja.
"Itu benar-benar Kakak..."
Wajah di hadapannya sama sekali tidak berubah atau menua barang sedikit pun, seakan sang waktu sengaja menghentikan detaknya khusus untuk kakaknya sejak malam kelam lima tahun yang lalu. Tanpa pikir panjang, Arga langsung menghambur, mendekap erat tubuh sang kakak demi menumpahkan segala rindu yang menyiksa.
"Aku mencarimu... Aku bersumpah tidak pernah berhenti mencarimu, Kak!" tangis Arga pecah. Namun, kehangatan yang dinantinya tak pernah datang. Tubuh kakaknya tetap kaku bak batu. Tak ada pelukan balasan yang hangat, tak ada lengkung senyum di bibir, bahkan tak ada setitik pun air mata yang menetes. Pemuda itu hanya memandang Arga dengan sepasang netra yang asing dan dingin.
"Maafkan aku..." suara kakaknya mengalun datar, tanpa emosi. "Aku tidak mengenal siapa dirimu."
Dalam satu kedipan mata, semesta tempat Arga berpijak seolah runtuh dan hancur berkeping-keping. Segala bentuk pengorbanan, tetesan keringat, dan lentera harapan yang ia jaga selama lima tahun lamanya, menguap menjadi abu hanya dalam satu kalimat pendek yang mematikan rasa.
“Sebab kehilangan yang paling menyakitkan bukanlah saat raga dipisahkan oleh kematian, melainkan ketika sepasang mata yang sangat kita kenali menatap kita laksana orang asing.”
Sebelum Arga sempat merajut kata untuk membalas, sepasang matanya yang sembap menangkap sebuah kejanggalan di atas meja alat tenun milik kakaknya. Ada segulung kain yang sudah hampir selesai dipintal. Dan tepat di ujung tepi kain tersebut, terajut sebuah nama menggunakan benang emas yang berkilau: ARGA.
Napas Arga tercekat di tenggorokan, jantungnya seakan berhenti berdetak. "Kenapa... mengapa namaku ada di dalam tenunanmu, Kak?"
Belum sempat misteri itu terjawab oleh sebuah lisan, mendadak seluruh fondasi lorong bergetar hebat laksana diguncang gempa dahsyat. Jalinan benang-benang cahaya di sekeliling mereka putus satu per satu dengan suara mendenting yang memekakkan telinga.
Pohon Mimpi di ujung ruangan mendadak memancarkan sinar putih menyilaukan yang membutakan pandangan. Dan dari arah puncak kanopi pohon yang agung, menggelegarlah sebuah suara parau, tua, dan berwibawa yang menggetarkan seisi ruangan:
"Sang Penenun berikutnya... telah menapakkan kakinya di rumah ini!"
“Pada akhirnya, rindu yang terlalu besar selalu meminta tumbal; dan malam ini, gulita Bukit Tenun telah bersiap menenun takdir yang baru.”
Bab 4 – Penjaga Pohon Mimpi
Sebuah gaung dahsyat tiba-tiba membelah kesunyian lorong batu.
"Penenun baru telah tiba."
Getaran suara itu merambat runtuh hingga ke pijakan kaki. Benang-benang benderang yang semula mengalir tenang, mendadak berputar liar di udara. Mereka tampak seperti ribuan kunang-kunang yang kehilangan arah kompasnya.
Arga terpaku di tempatnya berdiri. "Siapa... siapa yang berbicara?" tanya Arga lirih.
Sunyi. Tak ada satu pun jiwa yang menyahut. Di sepanjang lorong, para penenun tetap menggerakkan jemari mereka di atas alat tenun. Tatapan mereka kosong tamak, menganggap guncangan barusan bukanlah hal yang asing.
Hanya si jubah hitam di sebelahnya yang bergerak. "Berjalanlah," perintahnya.
"Ke mana?"
"Menghadap sang Penjaga Pohon Mimpi."
"Aku tidak akan melangkah seinci pun sebelum kau menjelaskan semua kegilaan ini!" gertak Arga, menahan amarah yang mulai memuncak.
Untuk pertama kalinya, tawa tipis lolos dari balik jubah hitam itu. "Bahkan jika kau meronta untuk menolak... Pohon Mimpi telah mengunci takdirmu."
Sebelum Arga sempat melompat mundur untuk kabur, jeratan benang cahaya melesat cepat dari segala penjuru. Untaian itu mengikat kuat pergelangan tangannya, menjalar ke bahu, lalu melilit pinggangnya. Dalam kedipan mata, tubuh Arga telah terbelenggu rapat.
Namun, ada yang aneh. Ikatan itu sama sekali tidak menyakiti kulitnya. Benang-benang itu justru terasa hangat mengalir. Kehangatan yang begitu akrab, mirip seperti dekapan rindu dari seseorang yang telah sangat lama menghilang dari hidupnya.
Secara perlahan, seratan cahaya itu menyeret Arga mendekati pohon raksasa di pusat ruangan. Setiap kali kakinya melangkah, ketukan alat tenun di sekitar berubah ritme menjadi kian cepat.
Tak... tak... tak... tak...
Bunyi itu berdentang konstan, menjelma seperti debar jantung yang berpacu.
Semakin dekat jarak Arga dengan Pohon Mimpi, kilasan memori masa lalu mendadak tumpah merubung isi kepalanya. Ia melihat bayangan dirinya saat masih berusia tujuh tahun. Berlari gembira di hamparan sawah hijau bersama kakak laki-lakinya. Mereka tertawa lepas, menantang rintik hujan tanpa beban.
Lalu, visual di kepalanya mendadak berputar gelap. Berganti menjadi rekaman malam jahanam saat kakaknya lenyap tanpa jejak. Namun, ada detail baru yang lolos dari ingatannya dulu. Tepat di balik punggung sang kakak yang berjalan menjauh, tampak sesosok figur berjubah putih sedang menjinjing lentera redup.
Arga tersentak dalam seretan benang. "Aku... aku tidak pernah melihat orang itu malam itu!"
"Sebab pada malam itu, bukan kau yang terpilih," sahut si jubah hitam dingin.
"Apa maksudmu?"
"Alam ini hanya akan menyingkap kebenaran sejati kepada mereka yang telah digenapi panggilannya."
Kini, mereka telah berdiri tepat di akar Pohon Mimpi. Batangnya teramat kokoh dan masif, bahkan pelukan sepuluh orang dewasa sekalipun tak akan mampu mengelilingi sepersepuluh bagiannya. Pada kulit kayu yang legam itu, terpahat ribuan nama manusia. Sebagian adalah nama-nama orang hilang yang pernah dikenal Arga, sebagian telah lapuk memudar, dan beberapa tampak baru saja terukir segar.
Atensi Arga terkunci pada satu pahatan yang mulai memancarkan pendar keperakan.
ARGA.
Sedetik kemudian, sebuah nama lain merayap muncul tepat di bawah namanya. Nama kakak kandungnya.
Arga mengernyitkan dahi, bingung. "Mengapa namaku tertulis tepat di bawah nama Kakak?"
Si jubah hitam menghela napas berat, terdengar parau. "Karena setiap penenun membutuhkan jiwa pengganti."
"Maksudmu?"
"Ketika seorang penenun telah terlalu lama mengorbankan kewarasannya demi merajut mimpi-mimpi manusia di dunia nyata, dia akhirnya diizinkan untuk pulang."
Seketika, binar harapan terbit di mata Arga. "Jadi... Kakak bisa pulang ke rumah? Dia bisa kembali pada Ibu?"
"Bisa."
"Kalau begitu, lepaskan dia sekarang juga!" seru Arga tidak sabar.
"Namun..." jubah hitam menggantung kalimatnya.
"Namun apa?!"
"Harus ada jiwa baru yang menggantikan posisinya di alat tenun ini."
Dada Arga mendadak sesak. Jantungnya berhantam liar. "Tidak... tidak mungkin..."
"Begitulah hukum mati yang mengikat Pohon Mimpi sejak fajar dunia menyingsing."
Arga mengepalkan tinjunya erat-erat, menahan sesak yang mendera. "Bagaimana jika aku menolak takdir gila ini?"
Si jubah hitam membalikkan tubuh, menatap lurus ke dalam manik mata Arga. "Pohon ini tidak pernah menggunakan paksaan."
"Lalu?"
"Dia hanya menyodorkan sebuah timbangan."
"Timbangan apa?"
"Selamatkan kakakmu... atau selamatkan dirimu sendiri.Di bawah rindang daun-daun putih yang tak pernah gugur, Arga menyadari satu hal yang menyakitkan: dunia sering kali meminta bayaran teramat mahal untuk sebuah kepulangan. Cinta terkadang bukan tentang seberapa kuat kita menggenggam, melainkan tentang kesediaan untuk menjadi lilin yang rela habis terbakar agar orang yang kita sayangi bisa keluar dari kegelapan. Di tempat yang sunyi ini, batas antara pengorbanan dan keegoisan hanya setipis sehelai benang.
Keheningan total kembali merayap. Tak ada desau angin, tak ada bisik suara. Hanya pias cahaya rembulan yang lolos di antara dedaunan putih Pohon Mimpi, menyiram tubuh Arga yang gemetar.
Tep... tep... tep...
Suara tepuk tangan ritmis tiba-tiba memecah kesunyian dari balik batang pohon yang kokoh. Arga menoleh waspada.
Dari balik pendar cahaya, muncul seorang wanita anggun berjubah putih dengan rambut hitam legam yang menjuntai hingga ke pinggang. Parasnya teramat teduh, dengan netra yang memantulkan sinar perak rembulan. Di kedua tangannya, ia memeluk sebuah gulungan kain tenun yang tebal.
Wanita itu mengulas senyum tipis yang sarat makna. "Akhirnya... engkau tiba," bisiknya.
Dengan gerakan anggun, ia membentangkan gulungan kain tersebut secara perlahan di hadapan Arga. Napas Arga mendadak tercekat di tenggorokan.
Di atas hamparan kain itu, terpampang jalinan benang yang membentuk lukisan seluruh perjalanan hidupnya. Mulai dari tangis pertamanya saat lahir ke dunia, memori masa kecilnya yang hangat, malam kelam saat kakaknya direnggut, hingga detik ini, saat ia berdiri di bawah Pohon Mimpi.
Namun, lukisan takdir itu belum usai. Di ujung kain yang menjuntai, terdapat sehelai benang emas tunggal yang masih melayang bebas, belum terikat pada pola apa pun.
Wanita berjubah putih itu kemudian mengulurkan sebuah alat tenun kayu ke hadapan Arga. "Silakan," ucapnya lembut namun tegas.
"Apa... apa maksud semua ini?"
"Pegang ini, dan tentukan sendiri bagaimana akhir dari lembar ceritamu."
Arga menerima alat tenun tersebut dengan jemari yang gemetar hebat. Pemuda itu belum menyadari, bahwa keputusan pertama yang akan ia goreskan malam itu, tidak hanya akan mempertaruhkan sisa hidupnya dan sang kakak, melainkan juga memegang kunci hidup dan mati seluruh penduduk di Desa Wairana.
Bab 5 — Lorong yang Tak Pernah Ada
Kabut semakin menebal setiap kali Arga melangkahkan kaki, seolah hutan itu perlahan menelan keberadaannya. Lentera tua di genggamannya memancarkan cahaya keemasan yang redup, gemetar diterpa angin malam yang dinginnya mampu menyusup hingga ke tulang.
Pepohonan menjulang bagai pilar-pilar purba yang menyangga langit. Akar-akar tua menjalar di atas tanah, melingkar seperti jemari renta yang diam-diam menunggu mangsa berikutnya. Di antara rimbunnya dedaunan, rembulan hanya menyisakan seberkas cahaya pucat yang menari di sela kabut.
Arga menoleh ke belakang.
Dadanya langsung berdesir.
Jalan setapak yang tadi ia lewati telah lenyap tanpa bekas.
Tak ada jejak langkah.
Tak ada rerumputan yang terinjak.
Yang tersisa hanyalah hamparan kabut putih pekat, membentuk dinding sunyi yang mustahil ditembus.
"Aku... tidak mungkin tersesat."
Ia mencoba kembali beberapa langkah. Namun semakin jauh ia berjalan, semakin asing hutan itu menjelma. Pohon-pohon berpindah tempat tanpa suara. Batu-batu besar yang tadi berada di sisi kiri kini muncul di kanan. Bahkan gema langkah kakinya terdengar datang dari arah yang berlawanan.
Seakan seluruh hutan memiliki napasnya sendiri.
Dan malam ini...
ia sedang bermain dengan seorang tamu.
"Kemarilah..."
Bisikan itu kembali mengalun.
Lembut.
Nyaris seperti desir angin yang membelai telinga.
Namun entah mengapa, suara itu membawa kesedihan yang begitu pekat hingga membuat dada Arga terasa sesak.
Ia menggenggam lentera semakin erat.
"Siapa kau?"
Tak ada jawaban.
Hanya serpihan cahaya rembulan yang berputar perlahan di udara, menyerupai ribuan benang perak yang sedang ditenun oleh tangan-tangan tak kasatmata.
Semakin dalam ia melangkah, udara berubah semakin dingin. Embusan napasnya berubah menjadi uap putih yang perlahan menghilang ditelan kabut.
Lalu...
Di balik batang pohon tua, tampak sesosok anak kecil berdiri membelakanginya.
Rambut hitamnya terurai hingga pinggang.
Gaun putih yang dikenakannya tampak lusuh, seolah telah dipakai selama bertahun-tahun.
"Hei..."
Suara Arga terdengar lirih.
Anak itu tetap diam.
Perlahan Arga mendekat, berusaha menghilangkan rasa takut yang mulai menjalar di dadanya.
"Jangan takut... Aku tidak akan menyakitimu."
Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah...
anak itu perlahan memudar.
Bukan berlari.
Bukan menghilang ke balik pepohonan.
Melainkan berubah menjadi ribuan helaian cahaya yang melayang ke langit, menyatu dengan sinar rembulan yang menggantung di atas Bukit Tenun.
Arga terpaku.
"Itu... apa sebenarnya?"
Belum sempat rasa herannya terjawab, kesunyian mendadak pecah.
Tangisan.
Mula-mula hanya satu.
Kemudian dua.
Lalu puluhan.
Hingga akhirnya ratusan suara tangis memenuhi seluruh penjuru hutan.
Tangisan laki-laki.
Perempuan.
Anak-anak.
Orang tua.
Semuanya bercampur menjadi satu ratapan panjang yang mengguncang hati.
Arga menutup kedua telinganya.
Namun suara itu tak juga menghilang.
Sebaliknya, suara-suara itu kini bergema dari dalam kepalanya sendiri.
"Tolong kami..."
"Kami belum ingin dilupakan..."
"Jangan biarkan benang kami diputus..."
Lutut Arga melemas.
Ia jatuh berlutut di atas tanah yang lembap.
"Berhenti..."
Suara itu lenyap seketika.
Keheningan kembali menyelimuti hutan.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Bahkan desir angin pun seakan memilih membisu.
Di hadapannya, kabut perlahan terbelah, membuka sebuah lorong batu yang sebelumnya tak pernah ada. Dindingnya dipenuhi lumut hijau tua, sementara cahaya rembulan mengalir dari dalam lorong itu, meski tak terlihat satu celah pun tempat cahaya tersebut berasal.
Di atas pintu batu terukir kalimat kuno yang nyaris tertelan lumut.
"Setiap yang masuk membawa mimpi. Tidak semuanya akan membawa pulang dirinya."
Jantung Arga berdetak semakin cepat.
Dengan tangan yang gemetar, ia menyentuh permukaan pintu batu itu.
Dingin.
Bukan dingin biasa.
Melainkan dingin yang terasa seperti menyentuh waktu yang telah membeku selama berabad-abad.
Tanpa disentuh lebih jauh...
Pintu batu itu perlahan bergerak sendiri.
Grrrkkkk...
Suara gesekan batu menggema, memantul dari dinding ke dinding, memenuhi seluruh lorong dengan gema yang menggetarkan jiwa.
Dari balik celah pintu, cahaya putih keperakan memancar begitu terang, seolah rembulan sedang bersembunyi di dalam sana.
Lalu...
Seseorang melangkah keluar.
Arga membeku.
Matanya membelalak.
Napasnya tercekat di tenggorokan.
Wajah itu...
Tak mungkin ia lupakan.
"Kak...?"
Sosok itu tersenyum.
Senyum yang sama seperti lima tahun lalu, saat meninggalkan rumah tanpa pernah kembali.
Namun senyum itu tak lagi membawa kehangatan.
Sebab di balik wajah yang begitu dikenalnya...
kedua matanya telah kehilangan bola mata.
Yang tersisa hanyalah pusaran cahaya putih yang berputar perlahan di rongga matanya.
Dan dari sela-sela jemarinya...
menjuntai benang-benang perak bercahaya yang memanjang masuk ke dalam lorong misterius, seolah ada sesuatu di balik kegelapan sana yang terus menariknya tanpa henti.
Bab 6 — Benang yang Mengikat Jiwa
Arga membeku di tempatnya.
Waktu seolah berhenti berputar. Bahkan desir angin yang sedari tadi membelai dedaunan mendadak lenyap, menyisakan keheningan yang begitu pekat hingga suara detak jantungnya sendiri terdengar menggema.
Di hadapannya berdiri sosok yang tak pernah berhenti ia rindukan selama lima tahun terakhir.
Wajah itu...
Masih sama.
Lengkung senyumnya tak berubah sedikit pun. Bekas luka kecil di pelipis kirinya—kenangan masa kecil saat mereka jatuh dari pohon mangga—masih terlihat jelas, seolah waktu enggan menghapusnya.
Namun ada sesuatu yang membuat seluruh tubuh Arga gemetar.
Kedua mata itu...
Tak lagi menyimpan kehidupan.
Yang tersisa hanyalah pusaran cahaya putih yang berputar pelan di rongga matanya, laksana rembulan yang kehilangan langitnya.
"Rindu adalah benang yang paling sulit diputus. Ia akan selalu menemukan jalan menuju hati yang menunggunya."
"Kak..."
Suara Arga nyaris pecah.
"Ini... benar-benar Kakak?"
Sosok itu menganggukkan kepala perlahan.
"Aku sudah lama menunggumu."
Kalimat sederhana itu meruntuhkan seluruh pertahanan Arga.
Air matanya mengalir tanpa mampu ia bendung.
Dengan langkah tergesa, ia berlari hendak memeluk kakaknya, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan berakhir ketika pelukan mereka bertemu.
Namun...
Brak!
Tubuh Arga terpental beberapa langkah, seolah menghantam dinding bening yang tak kasatmata.
Rasa panas menjalar dari telapak tangannya hingga ke dada.
Napasnya tercekat.
"Apa... ini?"
Kakaknya menatapnya dengan sorot penuh kepedihan.
"Jangan mendekat."
"Kenapa?"
Senyum tipis itu perlahan memudar.
"Karena aku bukan manusia lagi."
Kalimat itu jatuh seperti batu ke dasar hati Arga.
"Bohong..."
"Aku masih kakakmu. Tetapi tubuhku... telah menjadi milik Bukit Tenun."
Arga menggeleng kuat-kuat.
"Tidak! Aku akan membawamu pulang."
"Kau tak bisa."
"Mengapa?"
"Karena aku telah ditenun."
Keheningan kembali menyelimuti lorong.
Benang-benang cahaya yang menjuntai dari jemari kakaknya melambai perlahan, seolah menari mengikuti irama napas malam.
"Ada mimpi yang membebaskan manusia. Namun ada pula mimpi yang diam-diam menjelma menjadi penjara."
"Kau melihat benang-benang ini?"
Arga mengangguk.
"Ini adalah sisa jiwaku."
Darah Arga terasa membeku.
"Setiap orang yang datang ke Bukit Tenun membawa impian."
Kakaknya menatap benang-benang yang menyelimuti tubuhnya.
"Namun tempat ini tidak pernah memberi mimpi secara cuma-cuma."
"Mimpi mereka dipintal..."
"...menjadi benang."
"Dan semakin besar harapan yang mereka genggam..."
"...semakin erat pula benang itu mengikat jiwa mereka."
Kini Arga mengerti.
Mereka yang hilang selama ini bukan lenyap ditelan bumi.
Mereka tetap ada.
Hanya saja...
kehidupan mereka telah dirajut menjadi bagian dari kutukan Bukit Tenun.
Arga menelan ludah.
"Kak... siapa yang melakukan semua ini?"
Belum sempat jawaban terucap...
Dummm...
Seluruh lorong berguncang hebat.
Debu-debu halus berjatuhan dari langit-langit batu.
Benang-benang cahaya bergetar seperti ribuan senar yang dipetik bersamaan.
Dari kedalaman lorong terdengar bunyi yang begitu asing.
Tak...
Tak...
Tak...
Suara alat tenun.
Perlahan.
Teratur.
Namun setiap dentingnya seolah mengetuk pintu ketakutan di dalam hati Arga.
Kabut yang menyelimuti lorong perlahan tersingkap.
Di baliknya terbentang sebuah ruangan raksasa yang tak pernah terbayangkan oleh manusia.
Ribuan benang bercahaya menggantung dari langit-langit batu.
Setiap helainya memancarkan kilau rembulan.
Di dalam benang-benang itu, samar terlihat wajah-wajah manusia.
Ada yang menangis.
Ada yang tersenyum.
Ada pula yang berteriak tanpa suara, seolah harapan mereka telah lama dikurung dalam keabadian.
"Barangkali yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan seseorang, melainkan menyaksikan jiwanya hidup tanpa lagi memiliki kebebasan."
Di tengah ruangan berdiri sebuah alat tenun raksasa yang terbuat dari akar pohon hitam dan batu-batu bercahaya.
Tanpa disentuh siapa pun, alat itu terus bergerak.
Tak...
Tak...
Tak...
Setiap helaian benang yang ditenun memancarkan cahaya sebelum berubah menjadi lembaran kain putih yang panjangnya seolah tak berujung.
Di balik alat tenun itu...
berdiri sesosok perempuan berjubah hitam.
Rambutnya terurai panjang hingga menyapu lantai batu.
Wajahnya tertutup cadar putih kusam yang membuatnya tampak seperti bayangan dari mimpi paling kelam.
Kedua tangannya terus menenun.
Tanpa lelah.
Tanpa ragu.
Seolah waktu sendiri tunduk pada gerakan jemarinya.
Kakak Arga mundur perlahan.
Wajahnya dipenuhi ketakutan.
"Dia..."
Arga menatap sosok itu tanpa berkedip.
"Siapa dia?"
Dengan suara yang nyaris hilang ditelan sunyi, kakaknya berbisik,
"Itulah..."
"...Sang Penenun Mimpi."
Pada detik yang sama...
Gerakan jemari perempuan itu berhenti.
Untuk pertama kalinya sejak entah berapa abad lamanya...
Ia menoleh.
Keheningan berubah menjadi ketakutan.
Dari balik cadar putihnya terdengar suara yang begitu lembut, namun dinginnya sanggup membekukan jiwa.
"Setiap rembulan melahirkan satu penenun baru..."
Sesaat kemudian ia menatap lurus ke arah Arga.
"Dan malam ini... takdir itu memilihmu."
Bab 7 — Takdir yang Tak Dapat Ditolak
Keheningan menyelimuti ruangan itu.
Tak ada lagi suara alat tenun.
Tak ada lagi desir angin.
Yang terdengar hanyalah detak jantung Arga yang semakin tak beraturan.
Perempuan berjubah hitam itu berdiri tanpa bergerak. Cadar putih kusam masih menutupi wajahnya, sementara helaian rambutnya menjuntai menyapu lantai batu yang dipenuhi benang-benang bercahaya.
Tatapannya seolah menembus tubuh Arga.
Bahkan sebelum ia mengucapkan sepatah kata, Arga merasa seluruh rahasia hidupnya telah terbaca.
"Takdir terkadang bukan sesuatu yang datang menghampiri, melainkan sesuatu yang diam-diam telah menunggumu sejak kau dilahirkan."
"Siapa kau?" tanya Arga, berusaha menyembunyikan gemetar dalam suaranya.
Perempuan itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya mengangkat tangan kanannya.
Dalam sekejap, ribuan benang cahaya yang menggantung di langit-langit bergerak perlahan, berkilauan laksana gugusan bintang yang jatuh ke bumi.
Di setiap benang, wajah-wajah manusia muncul silih berganti.
Ada yang tertawa.
Ada yang menangis.
Ada pula yang memanggil nama orang-orang yang telah lama melupakan mereka.
"Semua ini..." bisik Arga.
"...adalah mimpi yang tak pernah selesai."
Perempuan itu akhirnya berbicara.
"Aku hanyalah penjaga."
"Penjaga?"
"Aku menenun mimpi agar dunia tetap seimbang."
Arga menggeleng.
"Kalau begitu... mengapa banyak orang menghilang?"
Perempuan itu terdiam cukup lama.
Lalu ia berkata dengan suara yang dipenuhi kesedihan.
"Karena setiap harapan selalu meminta harga."
Kalimat itu membuat Arga teringat pada kakaknya.
Mimpi menjadi penjelajah.
Mimpi melihat dunia yang lebih luas.
Mimpi yang akhirnya membawanya ke Bukit Tenun.
"Sebesar apa pun impian seseorang, ia tak seharusnya dibayar dengan kehilangan dirinya sendiri."
"Aku tidak percaya."
Arga melangkah maju.
"Aku akan menghentikan semua ini."
Seketika benang-benang cahaya bergetar hebat.
Suasana berubah dingin.
Perempuan itu menghela napas panjang.
"Banyak yang pernah mengatakan hal yang sama."
"Dan mereka gagal."
Belum sempat Arga membalas, tanah kembali berguncang.
Namun kali ini bukan berasal dari alat tenun.
Suara itu datang dari balik dinding lorong.
Dumm...
Dumm...
Dumm...
Seolah ada sesuatu yang sangat besar sedang berjalan mendekat.
Kakak Arga langsung memucat.
"Tidak..."
"Ada apa, Kak?"
"Kita harus pergi."
"Kenapa?"
"Waktunya hampir habis."
Belum selesai ucapannya, dinding batu di ujung ruangan retak.
Retakan itu memanjang seperti sambaran petir.
Dari celah-celahnya keluar cahaya merah gelap yang belum pernah Arga lihat sebelumnya.
Udara yang semula dingin mendadak berubah panas.
Benang-benang putih mulai menghitam satu demi satu.
Perempuan berjubah itu akhirnya menoleh ke arah retakan tersebut.
Untuk pertama kalinya, terdengar nada takut dalam suaranya.
"Mustahil..."
Arga memandangnya bingung.
"Apa yang terjadi?"
Perempuan itu menggenggam erat alat tenunnya.
"Dalam ratusan tahun..."
"...belum pernah ada yang membangunkan Pemakan Mimpi."
Jantung Arga serasa berhenti.
"Pemakan Mimpi?"
Kakaknya menatap Arga dengan wajah pucat.
"Jika Sang Penenun merajut mimpi manusia..."
"...maka makhluk itu melahapnya."
Retakan di dinding semakin melebar.
Dari balik kegelapan, terdengar suara napas berat yang menggema ke seluruh ruangan.
Lalu...
Muncul sepasang mata merah menyala.
Tatapannya penuh kebencian.
Dan ketika makhluk itu mengeluarkan senyum pertamanya...
Arga menyadari satu hal yang membuat tubuhnya membeku.
Makhluk itu...
mengenakan wajah yang sangat mirip dengannya.
Bab 8— Wajah di Balik Kegelapan
Suasana mendadak membisu.
Keheningan yang tercipta terasa begitu pekat, seolah waktu memilih berhenti untuk menyaksikan apa yang akan terjadi. Hanya detak jantung Arga yang terdengar menggema di telinganya sendiri.
Di balik retakan batu yang menganga, sepasang mata merah menyala perlahan muncul dari kegelapan. Cahaya itu begitu tajam, seakan mampu menembus setiap rahasia yang tersimpan di dalam jiwa.
Perlahan...
Makhluk itu melangkah keluar.
Duk...
Duk...
Duk...
Setiap pijakan kakinya membuat seluruh ruangan bergetar. Benang-benang cahaya yang bergelantungan di langit-langit bergoyang pelan, lalu meredup satu demi satu, seolah cahaya itu sendiri gentar menyambut kehadirannya.
Arga menelan ludah.
Napasnya terasa berat.
Semakin dekat makhluk itu melangkah, semakin jelas pula sosoknya terlihat.
Tubuhnya diselimuti kabut hitam yang terus bergerak seperti asap pekat. Bayangan itu tak pernah benar-benar diam, seolah menyimpan ribuan wajah yang meronta di dalamnya.
Namun yang membuat Arga membeku bukanlah tubuhnya.
Melainkan wajahnya.
Wajah itu...
adalah wajahnya sendiri.
Hanya saja kulitnya tampak pucat bagai abu, kedua matanya menyala merah seperti bara yang tak pernah padam, sementara senyum tipis di bibirnya memancarkan sesuatu yang tak dapat dijelaskan—antara kebencian, kesedihan, dan kegilaan.
"Kadang-kadang, musuh paling menakutkan bukanlah yang datang dari luar, melainkan bayangan yang selama ini hidup di dalam diri kita."
"Akhirnya..."
Suara makhluk itu menggema memenuhi ruangan.
"...kita bertemu lagi."
Arga mematung.
"Kita... pernah bertemu?"
Makhluk itu tersenyum semakin lebar.
Tawanya pecah.
Rendah.
Berat.
Menggema di setiap sudut lorong hingga membuat dinding batu bergetar.
"Kau memang tidak mengingatnya."
"Tetapi aku..."
"...tak pernah sekalipun melupakanmu."
Kakak Arga segera meraih lengan adiknya.
"Jangan dengarkan dia!"
"Dia akan membuatmu meragukan kenyataan."
Makhluk itu hanya terkekeh pelan.
"Benarkah begitu?"
Ia mengangkat tangan kanannya.
Seketika kabut hitam memenuhi seluruh ruangan.
Kabut itu berputar membentuk pusaran besar, lalu perlahan menampakkan sebuah bayangan.
Seorang anak kecil sedang menangis di bawah sinar rembulan.
Pakaian anak itu basah oleh embun malam.
Tangannya menggenggam sesuatu yang bercahaya.
Arga membelalak.
"Itu..."
"Itu aku..."
Perlahan bayangan lain muncul.
Seorang perempuan tua memeluk anak kecil itu dengan erat. Air matanya terus mengalir ketika ia berbisik lirih,
"Jangan pernah kembali ke Bukit Tenun... apa pun yang terjadi."
Sesaat kemudian, seluruh bayangan itu pecah berkeping-keping seperti kaca yang dihantam batu.
Makhluk berwajah Arga kembali menatapnya.
Tatapan itu begitu dalam hingga membuat Arga sulit bernapas.
"Kau benar-benar percaya..."
"...bahwa malam ketika kakakmu menghilang adalah pertama kalinya kau datang ke tempat ini?"
Arga menggeleng cepat.
"Tidak mungkin."
"Kau pernah berada di sini."
"Mustahil!"
Makhluk itu tersenyum.
"Ingatanmu hanya dikunci."
"Bukan dihapus."
Kalimat itu menghantam Arga seperti petir di siang bolong.
Dadanya terasa sesak.
Kepalanya berdenyut hebat.
Tiba-tiba serpihan-serpihan kenangan berkelebat tanpa bisa ia kendalikan.
Kabut putih.
Tangisan yang memekakkan telinga.
Suara alat tenun yang berdenting tanpa henti.
Dan...
seorang anak kecil yang menggenggam benang bercahaya dengan kedua tangannya.
Anak itu...
adalah dirinya sendiri.
Arga memegangi kepalanya erat-erat.
"Apa yang sebenarnya terjadi...?"
"Mengapa semua ini terasa begitu nyata?"
Sang Penenun Mimpi melangkah mendekat.
Untuk pertama kalinya, ia menyingkap sebagian cadar putih yang selama ini menutupi wajahnya.
Di balik cadar itu tampak seorang perempuan berparas lembut. Wajahnya terlihat muda, tetapi sorot matanya menyimpan kesedihan yang terasa lebih tua daripada usia dunia.
Ia menatap Arga dengan penuh iba.
"Karena malam ini..."
"...waktu memilih mengembalikan apa yang pernah direnggut darimu."
Arga menatapnya tanpa berkedip.
"Apa maksudmu?"
Perempuan itu menarik napas panjang.
"Lima belas tahun yang lalu..."
"...kau pernah menginjakkan kaki di Bukit Tenun bersama kedua orang tuamu."
Jantung Arga seolah berhenti berdetak.
"Apa?"
"Kau hampir menjadi penenun baru."
"Tetapi seseorang..."
"...memilih mengorbankan dirinya agar kau dapat kembali ke dunia manusia."
Perlahan Arga menoleh ke arah kakaknya.
Tatapan mereka bertemu.
Tak ada kata-kata.
Namun mata kakaknya telah menjawab semuanya.
Air mata Arga jatuh tanpa mampu ia bendung.
Selama ini ia mengira misteri Bukit Tenun bermula pada malam ketika kakaknya menghilang.
Ternyata...
semuanya telah dimulai jauh sebelum itu.
Jauh sebelum ia mampu memahami arti kehilangan.
Dan malam ini...
masa lalu yang selama bertahun-tahun terkubur mulai bangkit, membuka satu demi satu rahasia yang tak pernah seharusnya diketahui oleh manusia.
Bab 9— Penenun Pertama
Air mata Arga belum juga mengering.
Malam itu, seluruh keyakinan yang selama bertahun-tahun ia genggam perlahan runtuh, seperti daun-daun tua yang gugur diterpa angin. Bukit Tenun bukan sekadar tempat yang merenggut manusia tanpa jejak. Di balik kabut dan sunyinya, tersimpan sejarah panjang yang tak pernah selesai diceritakan oleh para tetua desa.
Ruangan kembali diliputi keheningan.
Tak seorang pun bersuara.
Yang terdengar hanyalah bunyi tetesan air yang jatuh dari langit-langit batu, berpadu dengan denting alat tenun yang kembali bergerak perlahan.
Tak...
Tak...
Tak...
Irama itu terdengar begitu tenang, tetapi di balik setiap dentingnya seolah tersimpan ratapan dari ribuan jiwa yang telah lama kehilangan kebebasan.
"Waktu mungkin mampu menghapus jejak langkah manusia, tetapi ia tak pernah mampu menghapus pengorbanan yang lahir dari cinta."
Sang Penenun Mimpi menatap Arga dengan sorot mata yang dipenuhi kesedihan.
"Ada satu kebenaran lagi yang belum pernah kau ketahui."
Arga mengusap air mata yang masih membasahi pipinya.
"Apa lagi yang kalian sembunyikan dariku?"
Perempuan itu tidak segera menjawab.
Ia mengangkat sehelai benang bercahaya yang terulur dari alat tenunnya. Benang itu memancarkan sinar keperakan, begitu lembut hingga menyerupai cahaya rembulan yang jatuh ke permukaan danau.
Saat benang itu melayang di udara, seluruh ruangan mendadak diselimuti cahaya putih.
Pandangan Arga berubah.
Lorong batu menghilang.
Kabut lenyap.
Ketika cahaya memudar, ia mendapati dirinya berdiri di sebuah desa yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Rumah-rumah kayu berjajar dengan rapi.
Anak-anak berlarian di jalanan sambil tertawa riang.
Hamparan sawah menghijau sejauh mata memandang, sementara angin membawa aroma padi yang baru menguning.
Tak ada tangisan.
Tak ada kutukan.
Tak ada ketakutan.
Hanya kehidupan yang berjalan begitu damai.
"Di mana ini?" tanya Arga lirih.
Suara Sang Penenun terdengar dari kejauhan.
"Desa Wairana..."
"...berabad-abad sebelum kutukan itu lahir."
Arga memandang sekeliling dengan takjub.
Sulit dipercaya bahwa desa yang kini dipenuhi kisah kehilangan pernah menjadi tempat seindah itu.
Namun kedamaian itu tak berlangsung lama.
Langit perlahan berubah kelabu.
Rembulan yang semula bersinar lembut mendadak memerah seperti diselimuti darah.
Tanah berguncang hebat.
Retakan-retakan panjang membelah bumi.
Pepohonan mengering dalam sekejap.
Air sungai berubah hitam pekat.
Jeritan manusia memenuhi udara.
Dari celah-celah tanah, muncul makhluk-makhluk berwujud bayangan hitam yang merangkak keluar.
Mereka bergerak tanpa suara.
Namun setiap tempat yang mereka sentuh berubah menjadi kehampaan.
Tanaman membusuk.
Rumah-rumah runtuh.
Harapan manusia lenyap satu demi satu.
"Itu..."
Arga tercekat.
"Pemakan Mimpi."
Suara Sang Penenun kembali terdengar.
"Mereka tidak memakan tubuh manusia."
"Mereka memakan impian."
"Dan ketika manusia kehilangan mimpinya..."
"...yang tersisa hanyalah kehampaan."
"Manusia dapat bertahan tanpa harta, tanpa kekuasaan, bahkan tanpa kebahagiaan. Namun tanpa harapan, ia akan perlahan kehilangan alasan untuk hidup."
Arga mengepalkan kedua tangannya.
Di tengah kekacauan itu, seorang perempuan muda berjalan perlahan menuju puncak Bukit Tenun.
Pakaiannya putih sederhana.
Rambutnya hitam panjang, menari lembut tertiup angin malam.
Di tangannya tergenggam sebuah alat tenun kecil yang memancarkan cahaya rembulan.
"Siapa dia?"
Sang Penenun tersenyum tipis.
"Namanya Rembani."
"Dialah penenun pertama."
Langkah perempuan itu terasa begitu tenang meski di sekelilingnya dunia sedang runtuh.
Setiap jejak kakinya memunculkan cahaya keperakan yang perlahan mengusir kegelapan.
Sesampainya di puncak bukit, ia duduk di hadapan sebuah alat tenun batu yang sangat besar.
Dengan tangan yang bergetar, ia mulai merajut.
Bukan benang biasa.
Melainkan mimpi.
Harapan.
Doa-doa manusia.
Setiap helai benang yang selesai ditenun berubah menjadi cahaya yang melesat ke langit, menghalau para Pemakan Mimpi sedikit demi sedikit.
Namun...
Semakin banyak benang yang ia rajut...
Tubuhnya perlahan memudar.
Rambutnya berubah putih.
Kulitnya kehilangan warna.
Tatapannya yang semula penuh kehidupan berubah menjadi kesunyian yang panjang.
Ia berhasil menyelamatkan dunia.
Tetapi ia kehilangan dirinya sendiri.
"Ada orang-orang yang tak dikenang oleh sejarah, tetapi tanpa pengorbanannya, sejarah tak akan pernah memiliki masa depan."
Tanpa sadar air mata kembali mengalir di pipi Arga.
"Jadi..."
"Semua ini terjadi karena ia memilih menyelamatkan orang lain?"
Sang Penenun menganggukkan kepala perlahan.
"Ia menyelamatkan dunia."
"Tetapi sejak malam itu..."
"...ia harus menenun untuk selama-lamanya."
Perlahan cahaya di sekeliling Arga memudar.
Pemandangan masa lalu lenyap seperti kabut yang diterpa angin.
Dalam sekejap, ia kembali berdiri di lorong batu yang dingin.
Kini ia memandang Sang Penenun dengan cara yang berbeda.
Perempuan itu bukanlah makhluk yang haus kutukan.
Ia hanyalah seseorang yang terlalu lama memikul beban dunia seorang diri.
Namun sebelum Arga sempat mengucapkan sesuatu...
Tubuh Sang Penenun tiba-tiba bergetar.
Ia jatuh berlutut.
Wajahnya yang selama ini tampak tenang berubah pucat.
Pada saat yang sama...
Benang-benang cahaya yang memenuhi ruangan perlahan menghitam.
Lalu...
Satu demi satu terputus.
Prak!
Prak!
Prak!
Suara putusnya benang menggema bagai jeritan yang memecah kesunyian.
Kakak Arga langsung membelalak.
Wajahnya berubah pucat.
"Celaka..."
Arga menoleh cepat.
"Apa yang terjadi?"
Dengan napas yang memburu, kakaknya berbisik,
"Jika benang-benang itu habis..."
"...maka seluruh mimpi manusia akan ikut musnah."
Ruangan kembali berguncang.
Alat tenun mulai retak.
Cahaya rembulan perlahan meredup.
Sang Penenun mengangkat wajahnya.
Tatapannya bertemu dengan Arga.
Di balik sorot matanya yang dipenuhi kelelahan, tersimpan secercah harapan terakhir.
Dengan suara lirih yang hampir tenggelam oleh bunyi benang yang putus, ia berkata,
"Arga... setiap takdir selalu memilih seseorang untuk memikulnya."
Ia menarik napas panjang.
Lalu melanjutkan,
"Dan malam ini... orang itu adalah
Bab 10— Benang Takdir yang Terputus
Suara putusnya benang kembali menggema, memantul dari dinding-dinding batu yang dingin hingga memenuhi setiap sudut lorong.
Prak...
Prak...
Prak...
Satu demi satu benang bercahaya terlepas dari alat tenun raksasa. Setiap helai memancarkan kilau rembulan yang lembut sebelum berubah menjadi serpihan cahaya keperakan, lalu menghilang ditelan kehampaan.
Di saat yang sama, wajah-wajah yang terperangkap di dalam benang perlahan memudar.
Ada yang menangis.
Ada yang tersenyum pasrah.
Ada pula yang mengulurkan tangan, seolah memohon agar tak dilupakan.
Arga hanya mampu terpaku.
Dadanya terasa semakin sesak.
"Apa... yang sedang terjadi?"
Suaranya terdengar lirih, nyaris tenggelam oleh gema benang yang terus patah.
Kakaknya menatap langit-langit lorong dengan wajah yang dipenuhi kecemasan. Jemarinya menggenggam erat benang perak yang melilit di tangannya, seakan takut kehilangan sisa harapan yang masih tersisa.
"Benang-benang itu bukan sekadar tenunan."
"Itu adalah mimpi."
"Itu adalah harapan."
"Itu adalah alasan mengapa manusia tetap mampu bangkit setiap kali hidup menjatuhkan mereka."
Ia menarik napas panjang.
"Selama benang-benang itu masih utuh..."
"...dunia akan selalu memiliki cahaya."
"Tetapi jika semuanya terputus..."
Kalimatnya menggantung.
Ia tak sanggup mengucapkan kemungkinan paling mengerikan itu.
"Harapan adalah cahaya yang tak terlihat oleh mata, tetapi mampu menerangi jiwa yang paling gelap."
Sang Penenun Mimpi perlahan berdiri dari hadapan alat tenunnya.
Tubuhnya tampak jauh lebih rapuh dibanding sebelumnya.
Kilau rembulan yang selama berabad-abad menyelimuti dirinya mulai memudar sedikit demi sedikit.
Setiap helai rambut putihnya tertiup angin yang entah datang dari mana.
Sorot matanya dipenuhi kelelahan.
"Aku telah menjaga tempat ini terlalu lama."
Suara perempuan itu terdengar lembut, tetapi menyimpan beban yang tak mampu dibayangkan manusia biasa.
"Setiap malam purnama..."
"...Pemakan Mimpi menjadi semakin kuat."
"Dan kini..."
"...aku tak lagi memiliki kekuatan untuk menahannya."
Arga menatap perempuan itu tanpa berkedip.
Untuk pertama kalinya ia melihat bukan seorang penjaga kutukan.
Melainkan seseorang yang telah mengorbankan seluruh hidupnya demi menjaga harapan orang lain.
"Pengorbanan terbesar sering kali dilakukan oleh mereka yang tak pernah meminta untuk dikenang."
Tiba-tiba...
Suara tawa menggema dari balik lorong.
Suara itu rendah.
Berat.
Mengandung ejekan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Kabut hitam kembali memenuhi ruangan.
Dari balik kegelapan, Pemakan Mimpi melangkah perlahan.
Mata merahnya menyala bagai bara api yang tak pernah padam.
Setiap langkahnya meninggalkan jejak bayangan hitam yang merayap di lantai seperti akar-akar kegelapan yang mencari kehidupan untuk ditelan.
"Indah..."
bisiknya sambil tersenyum tipis.
"Aku selalu menikmati suara ketika harapan mulai hancur."
Arga mengepalkan kedua tangannya.
Tatapannya dipenuhi kemarahan.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh mereka."
Pemakan Mimpi tertawa kecil.
Tawanya terdengar begitu tenang, namun cukup untuk membuat seluruh lorong berguncang.
"Kau masih belum memahami siapa diriku."
Ia mengangkat satu jarinya ke udara.
Dalam sekejap, ribuan benang bercahaya yang menggantung di langit-langit bergetar hebat.
Di dalam setiap helai benang muncul potongan-potongan kehidupan manusia.
Seorang anak kecil yang bermimpi menjadi guru.
Seorang ibu yang memohon kesembuhan bagi buah hatinya.
Seorang ayah yang bekerja tanpa mengenal lelah demi keluarganya.
Seorang gadis kecil yang ingin melihat lautan untuk pertama kalinya.
Mimpi-mimpi itu berkilau begitu indah.
Namun perlahan...
cahaya benang mereka mulai menghitam.
Arga membelalak.
"Tidak..."
Pemakan Mimpi menatapnya dengan senyum dingin.
"Aku tidak pernah membunuh manusia."
"Aku hanya mengambil alasan mereka untuk terus berharap."
Kalimat itu menghantam hati Arga lebih keras daripada apa pun.
Ia mulai menyadari...
kehilangan mimpi jauh lebih mengerikan daripada kehilangan nyawa.
Karena ketika harapan telah lenyap, manusia akan hidup tanpa arah, tanpa tujuan, dan tanpa cahaya.
"Manusia tidak hidup karena napas semata. Mereka hidup karena masih memiliki sesuatu yang ingin diperjuangkan."
Sang Penenun Mimpi kembali mengangkat alat tenunnya.
Cahaya rembulan memancar dari sela-sela benang.
Namun sinarnya telah jauh melemah.
"Arga..."
Suara itu memanggilnya pelan.
Arga segera menoleh.
"Apa yang harus kulakukan?"
Perempuan itu menatapnya dalam-dalam.
Di balik sorot matanya tersimpan harapan terakhir yang belum padam.
"Hanya ada satu jalan."
"Kau harus menemukan Benang Awal."
Arga mengernyit.
"Benang Awal?"
"Itulah benang pertama yang ditenun oleh Rembani."
"Benang yang menjadi sumber dari seluruh harapan."
"Selama benang itu masih ada..."
"...kutukan Bukit Tenun masih memiliki kesempatan untuk diakhiri."
Arga menggenggam erat lentera tua peninggalan kakeknya.
"Di mana aku bisa menemukannya?"
Belum sempat Sang Penenun menjawab...
Pemakan Mimpi kembali tertawa.
Tawa itu bergema panjang, memenuhi seluruh lorong seperti bisikan dari jurang yang tak berdasar.
"Oh..."
"Jadi kau benar-benar ingin mencarinya?"
Ia melangkah mendekat hingga hanya beberapa langkah dari Arga.
Kemudian berbisik dengan suara yang begitu pelan.
"Benang Awal tidak pernah disembunyikan di Bukit Tenun."
Arga menatapnya tajam.
"Lalu... di mana?"
Makhluk itu tersenyum.
Senyum yang membuat udara mendadak terasa begitu dingin.
"Benang Awal telah lama bersemayam..."
Ia berhenti sejenak.
Matanya yang merah menyala menatap lurus ke dalam mata Arga.
"...di dalam hatimu."
Ruangan mendadak sunyi.
Tak ada lagi suara benang.
Tak ada lagi denting alat tenun.
Bahkan Sang Penenun Mimpi tampak membelalak, seolah baru mengetahui kebenaran yang selama ini tersembunyi.
Sementara Arga berdiri mematung.
Malam itu, untuk pertama kalinya ia merasakan bahwa perjalanan menuju Bukit Tenun mungkin bukan sekadar takdir.
Melainkan sebuah jalan pulang menuju rahasia yang sejak awal telah hidup di
Bab 11 — Rahasia yang Bersemayam di Dalam Hati
Kesunyian kembali menguasai lorong batu itu.
Tak ada suara selain desir angin yang menyelinap melalui celah-celah dinding purba. Bahkan denting alat tenun yang sejak tadi mengiringi setiap detik kini seolah ikut membisu, memberi ruang bagi kata-kata Pemakan Mimpi yang masih menggema di benak Arga.
"Benang Awal telah lama bersemayam di dalam hatimu."
Ucapan itu terdengar mustahil.
Sulit diterima oleh akal sehat.
Namun, jauh di lubuk hatinya, ada sesuatu yang perlahan berbisik bahwa kalimat itu bukan sekadar tipu daya.
Arga menundukkan pandangan ke arah kedua telapak tangannya.
Tak ada cahaya.
Tak ada benang.
Hanya jemari yang bergetar pelan, seolah sedang berusaha mengingat sesuatu yang telah lama terlupakan.
"Bagaimana mungkin...?" bisiknya lirih.
"Aku bahkan belum mengenal diriku sendiri."
Sang Penenun Mimpi melangkah mendekat.
Sorot matanya yang dahulu tampak dingin kini dipenuhi kelembutan dan kepedihan, seolah ia telah menyaksikan terlalu banyak perpisahan sepanjang hidupnya.
"Banyak kebenaran yang sengaja disembunyikan darimu."
"Bukan karena kau tak pantas mengetahuinya."
"Melainkan karena setiap rahasia memiliki waktunya sendiri untuk terungkap."
"Tak semua pintu harus dibuka sekaligus. Sebab ada rahasia yang hanya dapat dipahami oleh hati yang telah siap menerima kenyataan."
Arga mengangkat wajahnya.
Tatapannya penuh harap sekaligus takut.
"Kalau begitu..."
"Jangan sembunyikan apa pun lagi."
"Aku lelah hidup di antara pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban."
Perempuan itu menarik napas panjang.
Pandangan matanya menerobos ruang kosong di hadapannya, seolah sedang menyaksikan kembali lembaran sejarah yang telah terkubur oleh waktu.
"Malam ketika kedua orang tuamu membawamu ke Bukit Tenun..."
"...bukanlah sebuah kebetulan."
Arga terdiam.
"Mereka datang karena sebuah pilihan yang harus mereka ambil."
"Pilihan...?"
Sang Penenun menganggukkan kepala.
"Ketika kau dilahirkan, rembulan memancarkan cahaya yang belum pernah muncul sebelumnya."
"Para tetua menyebut malam itu sebagai Rembulan Penjaga."
"Menurut legenda, setiap beberapa generasi akan lahir seorang anak yang mampu mendengar bisikan benang-benang takdir."
Jantung Arga berdegup semakin cepat.
"Anak itu..."
"...aku?"
Perempuan itu mengangguk perlahan.
"Sejak tarikan napas pertamamu..."
"...Bukit Tenun telah mengenal siapa dirimu."
Ucapan itu membuat Arga membeku.
Selama ini ia mengira dirinya hanyalah seorang pemuda biasa yang kehilangan kakaknya akibat kutukan.
Ternyata...
takdir telah memilihnya jauh sebelum ia mengenal arti kehidupan.
"Takdir mungkin telah dituliskan sejak awal, tetapi keberanian manusialah yang menentukan bagaimana kisah itu akan berakhir."
Arga menundukkan kepala.
Air matanya kembali mengalir tanpa mampu ia tahan.
"Kalau semua ini memang sudah ditentukan..."
"Kenapa harus aku?"
Sang Penenun tersenyum tipis.
Senyumnya menyimpan kesedihan yang begitu dalam.
"Bukan karena kau yang paling kuat."
"Bukan pula karena kau yang paling berani."
"Tetapi karena, setelah semua kehilangan yang kau alami..."
"...hatimu masih memilih untuk berharap."
Kalimat itu menggantung di udara.
Sesaat kemudian...
Lentera tua peninggalan kakek Arga mendadak bergetar.
Api kecil di dalamnya berubah menjadi cahaya biru keperakan yang lembut, memancar ke seluruh penjuru lorong.
Sinarnya menari di antara benang-benang cahaya.
Perlahan...
benang yang semula menghitam mulai kembali bersinar.
Sang Penenun membelalakkan mata.
"Itu..."
"Mustahil..."
Kakak Arga ikut memandang lentera tersebut.
Raut wajahnya berubah haru.
"Akhirnya..."
"...waktunya benar-benar telah tiba."
Arga menatap lentera di tangannya dengan penuh kebingungan.
"Apa sebenarnya benda ini?"
Sang Penenun menatapnya dengan mata yang mulai dipenuhi air mata.
"Itu bukan sekadar lentera tua."
"Itulah Lentera Penjaga."
"Lentera yang dahulu berada di tangan Rembani, penenun pertama."
Arga menggeleng pelan.
"Kakekku..."
"...tak pernah menceritakan semua ini."
Perempuan itu tersenyum sendu.
"Karena ia telah bersumpah menjaga rahasia itu hingga akhir hidupnya."
Belum sempat Arga mencerna semuanya...
Telapak tangannya mendadak terasa hangat.
Perlahan, sehelai benang berwarna emas muncul dari pusat telapak tangannya.
Benang itu memancarkan cahaya yang jauh lebih terang daripada cahaya rembulan.
Ia melayang perlahan menuju alat tenun raksasa.
Saat menyentuh alat itu...
Seluruh ruangan dipenuhi kilauan keemasan.
Benang-benang yang semula putus mulai tersambung kembali.
Kabut hitam perlahan tersingkir.
Udara yang tadinya dingin berubah hangat, seolah harapan kembali bernapas.
Namun kedamaian itu tak berlangsung lama.
Pemakan Mimpi tertawa lirih.
Tawanya terdengar puas.
"Jadi..."
"...akhirnya aku berhasil menemukannya."
Tatapannya terpaku pada benang emas yang melayang di hadapan Arga.
"Itulah Benang Awal."
"Benang yang selama berabad-abad kucari." Perlahan ia mengangkat kedua tangannya.
Kabut hitam berputar membentuk pusaran besar.
Tanah mulai bergetar.
Retakan-retakan menjalar di lantai batu.
Alat tenun raksasa mengeluarkan suara yang memekakkan telinga, seolah tak mampu lagi menahan beban zaman.
"Setiap cahaya yang lahir akan selalu mengundang kegelapan. Sebab di situlah pertarungan antara harapan dan keputusasaan selalu dimulai."
Pemakan Mimpi tersenyum lebar.
"Terima kasih, Arga."
"Tanpa kau sadari..."
"...kaulah yang telah membuka gerbang menuju akhir dari semuanya."
Pada detik berikutnya...
Cahaya Lentera Penjaga mendadak padam.
Lorong kembali ditelan kegelapan.
Lalu...
Dari balik kabut terdengar derap langkah yang semakin lama semakin jelas.
Tap...
Tap...
Tap...
Bukan satu.
Bukan dua.
Melainkan ratusan langkah kaki yang berjalan perlahan menuju mereka.
Seolah seluruh jiwa yang selama berabad-abad terperangkap di Bukit Tenun...
akhirnya mulai terbangun dari tidur panjangnya.
Bab 12— Kebangkitan Jiwa-Jiwa yang Terlupakan
Lorong batu itu kembali ditelan oleh kegelapan yang pekat.
Sinar dari Lentera Penjaga telah sepenuhnya padam. Kini, hanya tersisa sisa-sisa pendar rembulan yang menyelinap masuk lewat celah dinding kuno. Suhu udara merosot tajam. Begitu dinginnya, hingga setiap napas yang diembuskan Arga langsung mengkristal menjadi kabut tipis yang melayang di udara.
Di tengah kesunyian yang membekukan itu, gema langkah kaki kembali terdengar.
Tap...
Tap...
Tap...
Ketukan langkah itu terdengar begitu lambat dan berat. Namun, setiap ritmenya sanggup mengalirkan rasa gelisah yang hebat ke dalam dada. Seolah-olah, tiap jengkal pijakan kaki itu membawa beban penderitaan dari kisah-kisah masa lalu yang terkubur waktu.
Arga meremas gagang lentera di genggamannya.
"Siapa mereka...?" bisik Arga dengan bibir bergetar.
Itu bukan sekadar rasa takut. Melainkan sebuah firasat buruk yang perlahan-lahan merayap dan mencengkeram lubuk hatinya.
Mendengar pertanyaan itu, Sang Penenun Mimpi memilih memejamkan mata. Gurat kesedihan yang mendalam terukir jelas di wajahnya, sebuah duka yang tak mampu lagi ia sembunyikan dari Arga.
"Mereka..." jeda wanita itu parau, "...adalah seluruh jiwa yang takdirnya telah terikat mati pada jalinan benang tempat ini. Mereka yang dahulu datang membawa tumpukan impian, namun malangnya, tak pernah lagi menemukan jalan untuk pulang."
"Setiap mimpi yang diabaikan dan dilupakan pasti meninggalkan bilur luka. Dan setiap luka yang tak pernah disembuhkan, akan terus berjalan mencari siapa pemiliknya."
Tiba-tiba, gumpalan kabut di ujung lorong mulai bergolak.
Satu per satu, siluet asing mulai mewujud dari balik kegelapan malam. Tampak seorang anak kecil yang jemarinya masih mendekap erat sebuah boneka kayu usang. Di sampingnya, berdiri seorang ibu yang lengannya merengkuh bayangan bayinya yang tak lagi utuh. Ada pula seorang lelaki tua yang bertumpu pada tongkat rapuhnya, serta seorang gadis belia yang menggenggam sekuntum melati yang telah mengering.
Mereka melangkah maju dengan sangat lambat. Ekspresi wajah mereka begitu datar dan tenang. Namun, sepasang mata mereka sepenuhnya kosong, seakan-akan seluruh percikan harapan telah dirampas paksa dari jiwa mereka.
Arga terpaku, menatap lurus ke arah iring-iringan itu tanpa berkedip.
"Mereka... mereka bukan makhluk halus, kan?"
Kakak Arga yang berada di dekatnya mengangguk pelan. "Mereka adalah sisa-sisa kenangan yang tidak pernah diselesaikan."
Mendengar kalimat sang kakak, dada Arga mendadak terasa dihantam batu besar. Rasa sesak menjalar. Ia tersadar bahwa setiap sosok yang berjalan di depannya ini dahulunya adalah manusia biasa. Mereka pernah memiliki kehangatan keluarga, cita-cita, dan kehidupan sederhana yang damai—sebelum semuanya berakhir tragis di Bukit Tenun.
Langkah kaki itu tiba-tiba terhenti. Bocah kecil yang membawa boneka kayu kini berdiri tepat di hadapan Arga.
Dengan suara yang teramat lirih, hampir menyerupai bisikan angin, bocah itu mendongak. "Kakak... tolong kembalikan mimpiku yang dulu."
Belum sempat Arga mencerna permintaan itu, jiwa-jiwa lain di belakangnya mulai mengangkat wajah mereka. Lorong yang semula sunyi kini seketika dipenuhi oleh ratapan yang bersahutan.
"Tolong kami..."
"Kami merindukan rumah..."
"Kami belum siap untuk dihapus dari ingatan..."
Suara tangisan yang memilukan itu melebur menjadi satu raungan raksasa, bergema ke seluruh sudut gua bagaikan sebaris doa yang kehilangan arah tujuannya. Arga spontan menutup kedua telinganya dengan rapat. Namun sial, jeritan-jeritan pedih itu justru menggema semakin nyaring, langsung menembus ke dalam relung sanubarinya.
Air mata Arga menetes tanpa bisa ia bendung lagi. Ia tak sanggup membayangkan, sudah berapa abad jiwa-jiwa malang ini terperangkap dalam keputusasaan yang sunyi di tempat ini.
"Sebab tidak ada kedukaan yang lebih sepi, daripada terus-menerus menunggu seseorang yang bahkan telah lupa bahwa kita pernah bernyawa di dunia."
Di tengah badai isak tangis yang menyayat hati itu, sebuah tawa mendadak meledak.
Si Pemakan Mimpi tertawa terbahak-bahak. Suaranya yang menggelegar membelah kesedihan di dalam lorong, terdengar begitu pongah sekaligus kejam.
"Saksikan sendiri olehmu!" seru Pemakan Mimpi di sela tawanya. "Inilah wujud nyata dari sebuah harapan yang gagal. Manusia memang makhluk yang selalu gemar bermimpi, namun tidak semua dari mereka memiliki jiwa yang cukup kokoh untuk mempertahankannya."
Arga mengatupkan rahangnya kuat-kuat, kedua tinjunya mengepal erat hingga memutih. "Bukan mereka yang lemah! Tapi kaulah mahluk keji yang telah merampas seluruh harapan dari hidup mereka!"
Seketika, tatapan mata Pemakan Mimpi berubah menjadi sedingin es dan setajam belati. "Kau masih saja bodoh dan percaya bahwa harapan bisa menyelamatkan dunia ini? Asal kau tahu, dunia ini tidak pernah dibangun di atas fondasi mimpi. Dunia ini tegak karena adanya keputusasaan!"
Bersamaan dengan runtuhnya kalimat itu, seluruh lorong batu berguncang hebat. Kabut hitam yang pekat kembali merayap dan menggulung dari segala penjuru, menjalar cepat dan mengikat kaki-kaki para jiwa yang berdiri di depan Arga.
Dalam sekejap, pemandangan mengerikan terjadi. Satu demi satu, sepasang mata tenang milik jiwa-jiwa tersebut berubah warna menjadi merah menyala. Wajah mereka yang semula memelas kini berubah drastis, dipenuhi oleh kobaran amarah yang meluap-luap.
Mereka kembali bergerak maju. Namun kali ini, mereka tidak lagi datang untuk memohon pertolongan. Mereka melangkah dengan beringas, mengincar Arga.
Melihat bahaya mengancam, kakak Arga langsung pasang badan, berdiri kokoh di depan adiknya. "Jangan sakiti mereka, Arga! Mereka bukanlah musuhmu. Mereka hanyalah korban yang kehilangan cahaya penuntun bagi jiwanya."
Sang Penenun Mimpi dengan sigap mengangkat alat tenun pusakanya ke udara. Namun, belum sempat jemarinya merajut kembali sisa-sisa benang harapan yang tersisa...
KRAK...!
Sebuah bunyi retakan yang sangat keras bergema, memotong momentum.Wajah Sang Penenun Mimpi seketika berubah pucat pasi bagai mayat. "Bagaimana mungkin... ini mustahil..." bisiknya dengan tubuh bergetar. "Segel kuno itu... mulai hancur." Arga menoleh dengan raut panik yang luar biasa. "Segel? Segel apa?!"
Tanpa menjawab pertanyaan Arga, wanita itu terus menatap lurus ke arah pusaran kabut hitam yang kini menggulung semakin masif di langit-langit gua. Dengan suara yang nyaris hilang, ia berucap, "Selama ratusan tahun ini... Bukit Tenun sebenarnya bukanlah sebuah penjara bagi jiwa..."
Jantung Arga berdegup kencang, menanti kelanjutan kalimat itu. "Lalu tempat apa ini?!"
"...Tempat ini adalah sebuah gerbang."
Belum sempat Sang Penenun menyelesaikan penjelasannya, sebuah auman raksasa yang teramat dahsyat membumbung dari dasar lorong terdalam. Guncangan hebat beruntun menghantam, meruntuhkan langit-langit batu Bukit Tenun.
Benang-benang cahaya yang mengambang di udara kini terombang-ambing liar tak tentu arah. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, rembulan yang menggantung di langit luar berubah warna sepenuhnya—menjadi merah pekat sehangat darah.
Sang Penenun Mimpi perlahan memejamkan matanya, membiarkan setitik air mata terakhir jatuh membasahi pipinya.
"Pertanda itu telah nyata..." bisiknya penuh kepasrahan. "Dia... mahluk itu akhirnya benar-benar
Bab 13 — Gerbang yang Terbuka
Raungan mengerikan itu belum juga surut.
Gumpalan suaranya yang dahsyat menghantam setiap dinding gua, menghancurkan kedamaian yang telah membeku selama berabad-abad di Bukit Tenun. Atap lorong mulai rontok perlahan. Bongkahan-bongkahan batu tajam berjatuhan, menghantam lantai dengan suara berdentum yang memekakkan telinga.
Di langit luar sana...
Rembulan yang tadinya bersinar keperakan kini telah berlumuran warna merah pekat. Seolah-olah kubah langit sedang menumpahkan air mata darah, meratapi sebuah rahasia kelam yang gagal disembunyikan lagi.
Arga memalingkan wajahnya yang pucat ke arah Sang Penenun Mimpi. "Siapa... makhluk apa yang sebenarnya telah terjaga?!"
Wanita itu memilih memejamkan mata. Seluruh gurat wajahnya digerogoti oleh rasa penyesalan yang teramat dalam.
"Kuharap malam jahanam ini tidak pernah tiba," bisik perempuan itu lirih. "Namun, bagaimanapun cara kita berlari... takdir selalu menemukan celah untuk menjemput pemiliknya."
"Ada pintu batin yang sengaja dikunci rapat selama ribuan tahun demi menjaga dunia. Sebab, sekali saja ia jebol, yang melesat keluar bukan hanya kegelapan semata, melainkan seluruh penyesalan terdalam yang pernah dipaksa terkubur oleh putaran waktu."
Asap hitam pekat di dasar jurang lorong berputar semakin liar. Pusaran itu menjelma menjadi badai pusaran raksasa yang kian melebar ke segala penjuru.
Udara seketika penuh sesak oleh jeritan dari ribuan jiwa yang melebur jadi satu. Isak tangis, ratapan keputusasaan, hingga doa-doa tulus yang telanjur hangus sebelum sempat sampai ke langit, semuanya berdengung menyiksa telinga.
Tiba-tiba...
Sebuah tangan raksasa mencuat dari pusat pusaran badai tersebut. Kulitnya legam gosong seperti arang yang terbakar. Kuku-kukunya memanjang dan meruncing, mirip jalinan akar pohon purba yang telah membatu.
Tangan mengerikan itu mencengkeram erat tepian lantai batu. Sedetik kemudian, tangan kedua menyusul ikut menumpu.
Arga refleks mundur melangkah, detak jantungnya berhantam berkali-kali lipat lebih cepat.
Sesosok jasad raksasa perlahan-lahan mengerek tubuhnya naik dari dalam kegelapan abadi. Sosoknya menjulang tinggi menembus langit gua. Jubah kelamnya berkibar-kibar dengan angkuh, padahal tak ada seembus pun angin yang bertiup di tempat itu. Di atas kepalanya, bertengger sebuah mahkota suram yang teranyam dari ranting-ranting mati dan lilitan benang hitam legam.
Namun, bagian yang paling menguras kewarasan adalah wajahnya.
Mahluk itu tidak memiliki mata. Tidak ada hidung, pun tidak ada mulut. Parasnya hanyalah seonggok ruang kosong yang hitam pekat—sebuah lubang hampa yang seolah sanggup menyedot habis seluruh cahaya di alam semesta.
Arga tercekat, menahan napasnya di tenggorokan. "Mahluk gila... apa itu?"
Sang Penenun Mimpi menyahut dengan suara yang bergetar hebat. "Dialah... sang Raja Kehampaan. Penguasa tertinggi dari seluruh klan Pemakan Mimpi."
"Kegelapan sejati tidak melulu tercipta karena absennya sang cahaya. Sering kali, ia justru lahir berdaulat ketika hati manusia memilih untuk mematikan sisa-sisa harapan dalam dada mereka."
Mahluk mengerikan itu sedikit mendongakkan kepalanya. Kendati tak memiliki sepasang mata, Arga bisa merasakan dengan jelas bahwa entitas itu sedang mengunci pandangan ke arahnya.
Seketika itu juga, sekujur tubuh Arga mendadak kaku, mati rasa. Seakan-akan ada sebuah beban raksasa tak kasatmata yang diletakkan di atas pundaknya, menekan tubuhnya hingga nyaris berlutut.
Melihat junjungannya telah tiba, si Pemakan Mimpi langsung menjatuhkan diri, bersujud menyembah di hadapan sosok mistis tersebut. "Tuanku... segel pusaka itu akhirnya telah lumat dan hancur sepenuhnya!"
Raja Kehampaan sama sekali tidak memberikan jawaban lisan. Ia hanya mengangkat telapak tangan kanannya ke udara.
Dalam sekejap mata...
Gelombang kabut hitam pekat langsung bergulir mengepung seluruh area Bukit Tenun. Di luar gua, pepohonan hijau mendadak mengering dan mati seketika. Daun-daunnya rontok menjadi abu. Aliran sungai jernih yang membelah kaki bukit berubah warna menjadi hitam legam seperti tinta. Angin malam yang berembus kini membawa aroma anyir dari tanah yang membusuk.
Dunia seakan sedang dihisap seluruh dayanya, dipaksa mati secara perlahan.
Melihat pemandangan itu, Arga mengatupkan rahangnya kuat-kuat. "Aku tidak akan membiarkanmu merusak dunia ini!" teriaknya lantang.
Sambil menggenggam erat Lentera Penjaga, Arga berlari menerjang maju. Namun, belum juga langkahnya mendekat, Raja Kehampaan hanya menggerakkan satu jari telunjuknya dengan santai.
DUMMM!
Sebuah dentuman tak kasatmata menghantam dada Arga. Tubuhnya terlempar jauh ke belakang hingga punggungnya berbenturan keras dengan dinding batu gua.
Darah segar yang hangat mengalir keluar dari sudut bibirnya. Arga mengerang kesakitan, mencoba memaksa tubuhnya untuk kembali tegak berdiri, tetapi seluruh persendiannya terasa seperti patah.
Si Pemakan Mimpi terkekeh sinis melihat pemandangan itu. "Kau terlalu naif dan lemah, anak muda. Benang Awal memang telah memilihmu sebagai wadahnya, tetapi kau sendiri bahkan belum tahu cara menjentikkan kekuatannya."
Arga menggigit bibir dalamnya, menahan nyeri yang meremukkan badan. Ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri yang masih memancarkan pendaran cahaya emas yang redup samar. "Aku... aku bersumpah tidak akan menyerah di sini," bisiknya pada diri sendiri.
Sang Penenun Mimpi menatap Arga dengan pandangan mata yang tidak lagi kosong. Di balik ketenangannya, kini menyala sebuah percikan tekad yang baru.
"Dengarkan ucapanku dengan baik, Arga," seru wanita itu memecah kegaduhan. "Masih ada satu petak wilayah... yang belum sanggup dinodai oleh kegelapan mahluk itu."
Arga mendongak, menyeka darah di dagunya. "Di mana tempat itu?!"
Jemari lentik perempuan itu terangkat, menunjuk lurus ke arah rembulan merah yang merona di luar sana. "Tempat itu tidak berada di atas tanah dunia ini. Melainkan tersembunyi jauh di balik kilauan Cahaya Rembulan."
Arga mengernyitkan alisnya, tak paham. "Apa maksudmu?"
Sang Penenun Mimpi mengulas senyuman tipis yang sarat akan misteri masa lalu. "Di sanalah dahulu Rembani menyembunyikan warisan sakral terakhir miliknya. Sebuah oasis suci yang bernama... Taman Benang Abadi."
Begitu nama legendaris itu meluncur dari bibir Sang Penenun, wajah Raja Kehampaan yang semula rata tanpa ekspresi mendadak bergetar hebat. Untuk pertama kalinya, pusaran kabut kelam di sekeliling mahluk raksasa itu bergolak liar tak beraturan. Seolah-olah sebaris nama itu baru saja menyulut sumbu kemarahan kuno yang telah tertidur selama ribuan tahun dalam jiwanya.
"Sebab selama masih ada satu jiwa yang sudi merawat dan menjaga benih harapan, maka kegelapan mutlak tidak akan pernah benar-benar memenangkan pertempuran."
Arga meremas gagang Lentera Penjaga di dekapannya menjadi jauh lebih erat dari sebelumnya.
Di tengah puing-puing kehancuran Bukit Tenun yang mulai runtuh berhamburan, kompas hidupnya kini telah berputar arah. Ia telah menemukan sebuah visi baru dalam jiwanya.
Tujuannya kini bukan lagi sekadar membebaskan dan membawa pulang sang kakak kandung...
Melainkan meretas jalan menuju Taman Benang Abadi, sebuah tempat keramat di mana benteng pertahanan harapan terakhir dunia sedang menantinya.
BaB 14 — Taman Benang Abadi
Di bawah kubah langit, rembulan yang merona merah darah masih mencengkeram cakrawala.
Jauh di sudut sana, Bukit Tenun terus dihantam gempa hebat yang tak kunjung usai. Tanah retak menganga membentuk celah-celah raksasa. Untaian benang cahaya yang selama berabad-abad menjadi tiang penyangga keseimbangan dunia, kini meredup perlahan, kehilangan daya magisnya.
Arga terpaku di tempatnya pijak, tak sedetik pun mengalihkan pandangan dari Sang Penenun Mimpi. "Di mana letak Taman Benang Abadi itu?"
Wanita itu mendongak, menatap langit malam dengan sepasang mata yang mendadak memancarkan binar harapan yang sekian lama terkubur dalam kesunyian. "Tempat suci itu tidak bisa kau capai hanya dengan mengandalkan langkah kaki manusia."
"Dia hanya akan membukakan jalurnya bagi jiwa-jiwa yang hatinya belum terkontaminasi oleh pekatnya kebencian."
Arga tertegun mendengar ucapan itu. "Lantas... dengan cara apa aku harus melangkah ke sana?"
Sang Penenun Mimpi tersenyum lembut, sebuah senyuman tipis yang menenangkan. "Dengarkan dentum bisik di dalam dadamu. Sebab, peta menuju Taman Benang Abadi tak pernah bisa dibaca oleh sepasang mata."
"Melainkan hanya bisa dituntun oleh sebuah keyakinan utuh."
"Ada bentuk perjalanan yang sama sekali tidak membutuhkan ayunan langkah kaki, melainkan keteguhan hati untuk tetap menaruh percaya, bahkan di saat seluruh dunia memaksamu untuk menyerah."
Secara perlahan, Sang Penenun mengangkat kedua belah tangannya ke udara. Sisa-sisa benang cahaya yang melayang bebas mendadak berputar, mengerumuni Lentera Penjaga di dekapan Arga. Kilau keemasan memancar begitu lembut, membuat lentera purba itu bergetar pelan.
Seketika, kobaran api biru di dalam lentera yang sempat padam kini menyala kembali dengan anggun. Namun ada yang berbeda kali ini. Cahayanya melesat keluar, membentuk sebuah lingkaran portal raksasa di udara lorong batu.
Dari balik lingkaran cahaya tersebut, terhampar pemandangan menakjubkan: sebuah padang luas yang dipenuhi jutaan kelopak bunga berwarna putih keperakan. Pohon-pohon raksasa yang terbuat dari kristal menjulang gagah ke langit, mengapit aliran sungai bercahaya yang mengalir dengan sangat tenang. Di atasnya, ribuan benang emas membentang luas menembus awan, persis seperti gugusan rasi bintang yang berpendar.
Tempat itu teramat asri dan damai, seolah-olah duka dan air mata tidak pernah diizinkan menapakkan kaki di sana.
"Itulah tempatnya..." bisik Sang Penenun parau, "...Taman Benang Abadi."
Sepasang mata Arga berkaca-kaca menyaksikan keindahan di depannya. "Benarkah oasis seindah itu masih tersisa di semesta yang fana ini?"
Perempuan itu menggeleng lembut. "Tempat itu bukan bagian dari dunia fana manusia. Itu adalah rahim suci, tempat di mana setiap benih harapan pertama kali dilahirkan."
"Selama masih ada satu jiwa manusia yang berani memelihara mimpi, maka taman suci itu akan tetap mekar abadi di balik tirai cahaya rembulan."
DUMMM!
Guncangan dahsyat kembali menghentak bumi, meretakkan visual portal di udara. Raja Kehampaan bergerak maju, memangkas jarak. Kabut hitam pekat menguar dari jubahnya, menelan dan mematikan setiap pendar cahaya yang berani berpapasan dengannya.
Tepat di belakang sang raja, ratusan mahluk Pemakan Mimpi mulai merayap keluar dari rekahan tanah yang menganga. Mereka berjalan beriringan tanpa suara, tanpa ekspresi wajah. Namun, atmosfer yang mereka bawa sanggup membuat pasokan udara di dalam lorong berubah menjadi sedingin es dan terasa amat menyesakkan dada.
Si Pemakan Mimpi yang sedari awal mendampingi Raja Kehampaan mengulas seringai penuh kemenangan. "Kalian semua sudah terlambat. Taman suci itu akan segera runtuh dan binasa!"
Arga mempererat cengkeramannya pada gagang Lentera Penjaga, tatapannya menantang tajam. "Aku bersumpah tidak akan membiarkan tangan kotor kalian menyentuh tempat itu!"
Mahluk itu justru tertawa mengejek. "Jika begitu... buktikan padaku bahwa rapuhnya harapanmu mampu meruntuhkan kokohnya keputusasaan kami!"
Seketika itu juga, ratusan bayangan hitam legam melesat bagai anak panah, meluncur deras mengincar tubuh Arga. Lorong batu yang luas itu dalam sekejap bertransformasi menjadi samudra kegelapan yang pekat.
Melihat adiknya dalam bahaya, sang kakak langsung melompat, pasang badan di sisi Arga. "Aku akan menjadi perisaimu!"
Arga menoleh dengan raut cemas. "Tapi, Kak... tempat ini berbahaya untukmu!"
Sang kakak justru mengulas senyum. Untuk pertama kalinya semenjak pertemuan emosional mereka di tempat terkutuk ini, senyuman itu terasa begitu tulus dan hangat di mata Arga.
"Aku memang tidak akan pernah bisa pulang untuk kembali menjadi manusia utuh, Arga," ucap kakaknya dengan nada bergetar. "Namun, takdir tidak akan pernah bisa menghapus kenyataan bahwa aku adalah kakakmu."
Untaian kalimat bersahaja itu seketika menyalurkan kehangatan yang luar biasa ke dalam dada Arga yang sempat mendingin. Ia akhirnya mengerti, bahwa ikatan darah dan cinta kasih tidak akan pernah bisa diputus paksa, bahkan ketika seisi semesta mencoba memisahkan mereka dengan jarak dan waktu.
"Sebab jalinan kasih sayang adalah seutas benang tak kasat mata yang tidak akan pernah bisa diputus oleh putaran waktu, bentangan jarak, ataupun dinginnya kematian."
Sang Penenun Mimpi mengerahkan sisa-sisa tenaga terakhir yang bersemayam dalam tubuhnya. Ia mengangkat alat tenun pusakanya, lalu merajut sehelai benang cahaya murni yang langsung melesat berpadu dengan Lentera Penjaga.
Saat kedua kekuatan itu melebur menjadi satu, sebuah gerbang bercahaya terang perlahan terkuak lebar di tengah lorong batu. Embusan angin hangat menyeruak keluar dari baliknya, membawa aroma wewangian bunga yang teramat lembut membasuh ruangan.
"Itulah pintu masuk menuju Taman Benang Abadi," seru Sang Penenun dengan tatapan penuh permohonan. "Segeralah masuk, Arga! Sebelum gerbang suci itu terkunci untuk selamanya!"
Arga mendekap erat lenteranya. Ia memalingkan wajah, menatap kakaknya untuk terakhir kali, lalu melirik Sang Penenun Mimpi, sebelum akhirnya memantapkan pandangan pada gerbang yang memancarkan pendar rembulan keperakan tersebut.
Dengan satu helaan napas panjang yang sarat akan tekad, Arga melompat maju merengkuh cahaya putih itu.
Namun, tepat di detik ketika jemari kakinya nyaris melewati ambang batas gerbang...
Sebuah tangan hitam pekat yang dingin mendadak mencuat dari rekahan tanah, mencengkeram kuat pergelangan kakinya.
Arga tersentak hebat, tubuhnya tertahan di udara. Ia menoleh ke bawah dengan rasa panik yang menjalar. Dari dalam perut bumi yang terbelah, puluhan tangan hitam legam lainnya mulai ikut bermunculan dengan beringas.
Satu per satu, tangan-tangan pembusuk itu mencengkeram pakaian dan tubuh Arga, mengerahkan seluruh tenaga untuk menyeret pemuda itu kembali turun ke dalam pelukan kegelapan abadi.
Dan di tengah-tengah riuhnya jerit tangis ribuan jiwa yang menggema memekakkan telinga, suara tawa berat milik Raja Kehampaan terdengar membumbung tinggi, menggetarkan seluruh isi gua.
"Tidak akan pernah ada satu pun jiwa..." ecek sang raja dengan kejam, "...yang sanggup meloloskan diri dari jerat takdir yang telah digariskan untuknya!"
Bab 15 — Di Balik Cahaya Rembulan
Cengkeraman tangan-tangan hitam pada pergelangan kaki Arga terasa begitu membekukan dan kasar, seolah-olah gumpalan bayangan purba telah memadat di sana. Sentakan itu seketika meruntuhkan keseimbangan Arga, mengempaskannya ke atas lantai batu yang keras. Tanpa ampun, kekuatan gelap tersebut menyeret tubuhnya menuju celah bumi yang menganga, tempat kabut hitam pekat bergulung-gulung.
"Arga!" jerit sang kakak yang langsung berlari untuk menolongnya.
Namun baru melangkah beberapa depa, untaian benang perak yang menjerat tubuhnya mendadak menegang. Jeratan itu mengunci pergerakannya hingga ia tak mampu maju lebih jauh lagi.
Wajahnya seketika dilingkupi rasa putus asa yang mendalam. "Aku... tidak bisa!" ratihnya.
Semenjak mengemban tugas sebagai penenun, jiwanya telah melekat erat pada Bukit Tenun. Tiap kali ia mencoba melarikan diri, jalinan benang takdir akan selalu membelenggu dan menariknya kembali ke tempat semula. Memang ada belenggu yang wujudnya bukan besi, melainkan anyaman dari janji serta pengorbanan yang tak kunjung usai.
Di sisi lain, Arga terus meronta sekuat tenaga. Ia mencengkeram permukaan lantai batu hingga ujung-ujung jarinya robek dan berdarah. Sialnya, semakin keras ia melawan, semakin kuat pula tarikan dari dasar kegelapan itu.
Tawa kepuasan membahana dari Pemakan Mimpi. "Usahamu tidak akan menghasilkan apa-apa," ejeknya. "Sebab, tidak ada satu makhluk pun yang bisa lepas dari dekapan kehampaan ini."
Mendengar itu, Sang Penenun Mimpi memejamkan mata sembari menggenggam erat alat tenun di tangannya. Mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang tersisa, ia menarik seutas benang cahaya langsung dari dalam dadanya. Jalinan itu memancarkan pendaran putih yang amat memikat. Namun seketika itu juga, rona wajah Sang Penenun memucat drastis dan tubuhnya bergetar hebat.
"Kau... sampai nekat memakai Benang Kehidupan?" tanya kakak Arga dengan tatapan tidak percaya.
Sang Penenun hanya melempar senyum lembut yang tulus. "Jika matinya satu cahaya bisa membuat cahaya yang lain tetap menyala, maka aku sudah mengikhlaskannya sejak lama," bisiknya. "Sebuah pengorbanan yang didasari atas rasa cinta tidak akan pernah menguap sia-sia. Ia bakal terus hidup di dalam relung setiap harapan yang terselamatkan."
Benang putih berkilau itu melesat cepat, melilit erat tangan-tangan hitam yang menjerat Arga. Seketika, pekikan kesakitan terdengar dari balik bayangan-bayangan tersebut. Cengkeraman mereka terlepas, lalu wujud mereka hancur berkeping-keping menjadi serpihan kabut yang ditiup angin.
Arga langsung bangkit berdiri. "Terima kasih..." ucapnya lirih.
Namun, Sang Penenun segera menggelengkan kepala. "Jangan berterima kasih padaku. Cepat pergilah, waktuku sudah hampir habis."
Kalimat itu menyisakan rasa sesak yang menghimpit dada Arga. Ia sadar betul bahwa setiap daya magis yang dikerahkan oleh Sang Penenun kini tengah menggerogoti sisa usianya. Di saat yang sama, gapura menuju Taman Benang Abadi kian menyusut dan sinarnya mulai meredup. Jika ia menunda sedetik saja, akses itu akan tertutup rapat untuk selamanya.
Arga memandang kakaknya dengan tatapan berat. "Kak..."
Sang kakak membalasnya dengan senyuman hangat—sebuah senyuman yang selama bertahun-tahun ini cuma bisa ia jumpai di dalam ingatan masa lalu. "Jangan pernah berhenti melangkah. Jika kau berhasil menuntaskannya, mungkin seluruh jiwa yang terjebak di tempat ini akhirnya bisa pulang ke rumah."
Air mata Arga kembali merebak dan luruh. Sambil mengangguk pelan tanpa mengucap sepatah kata pun, ia langsung membalikkan badan dan berlari kencang menerobos gapura cahaya.
Begitu raganya melewati batas pendaran itu, pemandangan di sekitarnya mendadak berubah total. Kabut pekat sirna seketika, digantikan oleh usapan angin malam yang terasa hangat. Saat Arga membuka mata, ia mendapati dirinya tengah berdiri di sebuah hamparan padang luas yang dipenuhi oleh bunga-bunga putih yang bersinar.
Tetesan embun tampak berkilauan di ujung rerumputan. Jajaran pohon kristal tumbuh menjulang tinggi, membiaskan pendar rembulan layaknya ribuan cermin kecil yang estetik. Dari kejauhan, lamat-lamat terdengar gemericik aliran sungai yang airnya berkilau keemasan. Tempat ini terasa begitu tenteram; terbebas dari rasa ketakutan maupun nestapa. Hanya ada kedamaian murni yang belum pernah Arga rasakan seumur hidupnya. Memang benar bahwa harapan akan selalu menemukan celah untuk tumbuh, bahkan setelah dunia berkali-kali mematahkan hati kita lewat kehilangan.
Namun, suasana tenang itu mendadak terusik. Di area tengah padang bunga, Arga menangkap sosok seorang gadis kecil bergaun putih dengan rambut panjang terurai. Anak itu duduk membelakanginya, tampak sibuk merajut benang-benang emas menjadi untaian kain yang berkilau indah.
Arga melangkah mendekat dengan sangat hati-hati. "Hai..." sapanya pelan.
Gerakan tangan gadis kecil itu langsung terhenti. Ia memutar tubuhnya perlahan lalu menyunggingkan senyum yang amat teduh. Namun, begitu pandangan mereka saling beradu, jantung Arga seolah berhenti berdenyut. Paras anak perempuan itu benar-benar serupa dengan wajahnya sendiri sewaktu kecil, bagaikan ia sedang berkaca pada masa lalunya.
Sembari tersenyum tipis, gadis kecil itu berucap dengan nada suara yang teramat tenang, "Aku sudah menanti kedatanganmu semenjak malam di mana rembulan memilih namamu
Bab 16 — Anak yang Dipilih Rembulan
Kalimat dari sosok anak perempuan itu seolah membeku di udara, melebur bersama hembusan angin malam yang menyebarkan aroma wangi kelopak bunga putih.
"Aku sudah menanti kehadiranmu semenjak malam di mana rembulan mengukir namamu dalam takdir."
Arga terpaku di tempatnya. Debaran jantungnya kian berpacu cepat, beriringan dengan ratusan pertanyaan yang mendadak berjejalan di dalam kepalanya. Dengan langkah ragu, ia mulai mendekati bocah misterius itu. Semakin dekat jarak mereka, paras mungil itu terlihat semakin jelas. Sepasang matanya tampak begitu jernih, namun memancarkan pancaran kebijaksanaan kuno yang jauh melampaui penampilan fisiknya.
"Siapa... siapa sebenarnya dirimu?" bisik Arga lirih.
Anak perempuan itu mengulas senyum yang amat teduh. Guratan senyumnya membawa atmosfer ketenangan yang magis, seakan sanggup meredakan segala kecemasan di dunia fana.
"Aku bukanlah golongan manusia, bukan pula sesosok roh," jawabnya lembut. "Diriku adalah sang penjaga harapan, entitas yang pertama kali dirajut oleh pendar cahaya rembulan."
Alis Arga bertaut. "Aku tidak mengerti maksudmu."
Sebagai jawaban, sang gadis kecil mengangkat ujung jemarinya. Detik itu juga, jalinan benang emas yang tersebar di seluruh taman berpendar berkali-kali lipat lebih terang. Pada setiap helainya, terpantul potongan-potongan visual kehidupan manusia: ada tawa riang seorang anak di pelukan ibunya, kehangatan seorang ayah yang mendekap erat keluarganya setelah sekian lama berkelana, hingga perjuangan gigih seseorang yang bangkit kembali usai dihantam kegagalan berkali-kali.
Arga menyaksikan kilasan-kilasan itu dengan rasa takjub yang luar biasa. "Semua ini..."
"...adalah rajutan dari harapan umat manusia," potong gadis kecil itu sembari mengangguk. "Harapan memang wujud benang yang paling rentan putus. Namun, justru karena sifatnya yang rapuh itulah, ia menjelma menjadi sesuatu yang paling berharga untuk dilindungi."
Desir angin kembali menyapu permukaan padang. Kelopak-kelopak bunga putih beterbangan dan menari di sekeliling mereka, menciptakan sebuah pusaran pendar yang menawan.
"Selama ini aku setia menunggu seseorang. Sosok yang ditakdirkan untuk merampungkan tenunan yang sempat terhenti."
Arga menatap lurus ke dalam manik mata bocah itu. "Siapa orang yang kau maksud?"
Gadis kecil itu kembali tersenyum penuh arti. "Orang itu adalah dirimu."
Kedua mata Arga seketika membelalak sempurna. "Aku?"
"Benar. Sejak malam pertama kau menghirup udara dunia, rembulan telah menyisipkan seutas benang emas ke dalam garis hidupmu. Itulah alasan mendasar mengapa Bukit Tenun terus-menerus memanggil jiwamu untuk kembali."
Arga tertunduk lesu. Selama ini, ia mengira seluruh peristiwa ganjil ini murni terjadi karena misi pencarian kakaknya yang hilang. Siapa sangka, garis petualangan ini ternyata sudah digariskan bahkan jauh sebelum ia mampu mengingat memori pertamanya. Takdir memang kerap kali bukan sebatas rute yang sengaja kita pilih, melainkan sebuah ketetapan batin yang selalu menemukan jalannya sendiri untuk pulang ke dalam hati.
Mendadak, Lentera Penjaga yang berada di genggaman Arga memancarkan kilatan warna biru keperakan. Kobaran api kecil di dalamnya mendadak menari dengan begitu agresif dan terang. Dari balik pendaran cahaya tersebut, mewujud siluet sesosok wanita berambut panjang. Ia mengenakan jubah putih anggun bermotif sulaman benang emas yang rumit. Tatapannya terlihat sangat lembut, namun memancarkan aura kepemimpinan yang agung.
Melihat kehadiran sosok itu, sang gadis kecil segera membungkuk hormat. "Selamat datang... Rembani."
Arga tercekat. Nama legendaris itu pernah digaungkan oleh Sang Penenun Mimpi sebelumnya. "Jadi... Anda adalah Rembani?"
Siluet wanita itu tersenyum anggun. "Aku hanyalah sekeping memori yang tersisa di dunia ini. Sosok Rembani yang asli sudah lama mendonasikan seluruh hidupnya demi merawat stabilitas jagat raya." Ia memandang Arga dengan penuh rasa kasih sayang. "Namun, sebelum eksistensiku benar-benar pudar, ada satu warisan yang ingin kuserahkan kepadamu."
Perlahan, Rembani mengangkat telapak tangannya ke atas. Dari balik kubah langit Taman Benang Abadi, turun sebuah gulungan benang emas raksasa yang memancarkan pendaran masif, hingga sanggup menyelimuti seluruh sudut taman dengan nuansa kekuningan. Gulungan itu bergerak perlahan, lalu mengapung tepat di hadapan Arga.
Begitu ujung jemari Arga menyentuh jalinan emas tersebut, kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya langsung menjalar ke seluruh tubuh. Dalam hitungan detik, pecahan-pecahan ingatan masa lalu yang sempat terkubur paksa kembali membanjiri benaknya secara beruntun. Ia melihat kilasan masa balitanya, wajah kedua orang tuanya, hingga sang kakek yang tengah menenteng Lentera Penjaga. Bahkan, ia melihat proyeksi dirinya sendiri yang sedang berdiri tegak di atas Bukit Tenun saat masih berusia lima tahun.
Arga tersentak hebat, napasnya memburu. "Jadi... aku memang sudah pernah menginjakkan kaki di tempat itu?"
Rembani mengangguk pasti. "Dan tepat pada malam itu, engkau nyaris saja dinobatkan sebagai Penenun Mimpi yang baru."
Belum sempat Arga mencerna informasi tersebut dan bertanya lebih jauh, langit di atas Taman Benang Abadi mendadak berguncang dengan sangat dahsyat. Pancaran cahaya rembulan seketika meredup drastis. Kelopak bunga putih berguguran masal, dan aliran sungai keemasan yang semula tenang kini bergolak hebat menjadi ombak yang liar. Dari kejauhan, terdengar dentum keretakan kosmis yang memekakkan telinga.
Kraaaakkk...!
Rembani mendongak menatap langit dengan gurat wajah yang seketika berubah tegang dan dipenuhi kecemasan. "Dia telah menemukan lokasi ini..."
Sang gadis kecil ikut mengalihkan pandangannya ke arah angkasa. Di balik gumpalan awan yang perlahan memerah pekat, perlahan-lahan mencuat sebuah bayangan hitam berukuran raksasa yang menyelimuti total sisa cahaya rembulan. Suara menggelegar milik Raja Kehampaan kemudian menggema, menggetarkan seluruh fondasi taman.
"Tidak ada satu pun sudut di semesta ini yang bisa mengumpat dan menyembunyikan secercah harapan dari jangkauanku!"
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kesucian Taman Benang Abadi mulai terpolusi oleh jamahan kegelapan yang pekat.
Bab 17 — Rahasia yang Terkubur
Kubah langit Taman Benang Abadi kian pekat dirayapi oleh gumpalan bayangan hitam yang mencekam. Hamparan bunga-bunga putih yang semula mekar indah kini mulai layu satu demi satu, beriringan dengan pendar cahaya rembulan yang kian terkikis dan meredup.
Di tengah situasi yang kian kritis, Arga mencengkeram erat gulungan Benang Awal di tangannya.
"Bagaimana cara kita menghentikan amukan Raja Kehampaan?" tanya Arga dengan nada mendesak.
Rembani tak langsung menjawab. Ia tertegun sejenak, sementara gurat matanya menyiratkan duka yang amat mendalam.
"Ada sebuah rahasia besar yang selama ini sengaja kukubur rapat-rapat," ucap Rembani akhirnya.
"Rahasia apa?" kejar Arga penasaran.
Rembani menarik napasnya dalam-dalam, mengumpulkan keteguhan. "Raja Kehampaan yang kau takuti itu... pada mulanya bukanlah sesosok monster kejam."
Mendengar hal itu, tubuh Arga seketika kaku bak patung. "Apa maksudmu?"
"Dahulu kala, dia adalah sosok Penjaga Benang yang pertama di dunia ini," jelas Rembani lirih. "Namanya Raka. Dialah figur agung yang mula-mula menuntun dan mengajarkan umat manusia tentang seni menenun sebuah mimpi."
Arga menggelengkan kepala, sulit memercayai apa yang baru saja didengarnya. "Jika dia sedemikian mulia... lantas mengapa wujud dan hatinya bisa merosot menjadi sekorup sekarang?"
"Semua itu berawal dari sebuah kehilangan," tutur Rembani sembari mengalihkan pandangannya ke arah sang rembulan yang kian tertutup awan hitam.
"Sosok yang paling ia kasihi di dunia ini merenggang nyawa. Rasa kehilangan dan kesedihan yang teramat dahsyat seketika meracuni batinnya. Dalam keputusasaannya, ia berambisi untuk melenyapkan segala bentuk rasa sakit yang dirasakan manusia. Caranya, dengan melahap setiap untaian mimpi milik mereka. Sayangnya, semakin banyak impian yang ia telan, semakin terkikis pula sisi kemanusiaan yang ada di dalam dirinya."
Rembani menghela napas. "Hati yang sudah terlanjur tenggelam dalam pekatnya keputusasaan lambat laun akan melupakan alasan mengapa ia pernah memeluk cahaya."
Arga mengeratkan kepalan tinjunya. "Jika demikian situasinya... apakah itu berarti dia masih memiliki kesempatan untuk diselamatkan?"
Sebuah senyuman samar terukir di wajah Rembani. "Kemungkinan itu selalu ada. Asalkan, masih ada satu jiwa di alam semesta ini yang sudi mengingat kembali siapa sosok dirinya yang sebenarnya di masa lalu."
Sebelum Arga sempat melontarkan tanggapan, Lentera Penjaga yang berada di dekatnya mendadak bergetar. Alat itu memproyeksikan pantulan bayangan sesosok pria gagah yang mengenakan jubah putih bersih.
Mata Arga seketika membelalak sempurna karena terkejut. Paras pria di dalam proyeksi cahaya itu... benar-benar menyerupai garis wajahnya sendiri.
Rembani perlahan memejamkan matanya, pasrah pada ketetapan takdir. "Pada akhirnya, kebenaran yang tersembunyi memilih waktunya sendiri untuk menampakkan diri."
Dengan suara yang bergetar menahan gejolak di dada, Arga berbisik pelan, "Siapa... siapa sebenarnya pria itu...?"
Rembani menjawabnya dengan nada suara yang teramat lirih, namun sarat akan kebenaran yang memukul batin, "Pria itu adalah ayah kandungmu... sekaligus sang pewaris takdir Penjaga Benang sebelum estafet itu jatuh ke tanganmu."
Bab 18 — Jejak Sang Penjaga
Proyeksi siluet pria berjubah putih itu masih mengambang anggun di balik pendaran Lentera Penjaga. Arga terpaku, sama sekali tidak mampu memalingkan pandangannya. Gurat wajah di hadapannya terasa begitu asing, namun entah mengapa, memicu kehangatan yang akrab di dalam hatinya.
"Pria itu... ayahku?" bisik Arga, nyaris tak terdengar.
Rembani memberikan anggukan takzim. "Namanya Aditya. Dialah pemegang takdir sebagai Penjaga Benang, tepat sebelum tanggung jawab besar itu diestafetkan kepadamu."
Arga seketika mengeratkan kepalan tinjunya, menahan gejolak emosi. "Jika Ayah memiliki kekuatan seluar biasa itu... lantas mengapa dia tega membiarkanku tumbuh sendirian?"
Rembani menggelengkan kepala dengan tatapan teduh. "Dia sama sekali tidak pernah mencampakkanmu. Apa yang dia lakukan adalah sebuah keputusan besar untuk menumbalkan dirinya sendiri."
Ia menjeda sejenak sebelum melanjutkan, "Hakikat dari cinta sejati sering kali bergerak tanpa suara. Ia tidak selalu menuntut untuk terus diingat di permukaan, tetapi ia akan selalu bertaruh nyawa di balik layar demi memastikan keselamatan orang-orang yang dikasihinya."
Perlahan, siluet di dalam lentera itu mulai bergerak dan menampilkan kilasan masa lalu. Di sana, Arga menyaksikan proyeksi seorang pria muda yang berdiri tegak di puncak Bukit Tenun sembari mendekap Lentera Penjaga. Di seberangnya, tampak Raja Kehampaan yang kala itu wujudnya masih menyerupai manusia biasa.
Detik berikutnya, bentrokan dahsyat pun pecah. Cakrawala mendadak riuh oleh hantaman pendar emas dan pekatnya kabut hitam yang saling menggasak satu sama lain. Kendati demikian, Aditya sadar betul bahwa ia tidak akan bisa memenangkan pertarungan tersebut secara mutlak.
Menggunakan sisa-sisa daya magis yang masih tersisa di tubuhnya, Aditya mengambil langkah nekat dengan membelah Benang Awal menjadi dua bagian. Separuh bagian pertama ia segel rapat di dalam Taman Benang Abadi, sedangkan separuh bagian lainnya ia tanam dengan aman di dalam lubuk hati putra kecilnya.
"Maafkan Ayah, Nak..." sayup-sayup terdengar suara Aditya dari masa lalu. "Ayah terpaksa mewariskan sebuah pundak yang harus memikul beban teramat berat ini."
Seiring selesainya kalimat itu, visualisasi masa lalu tersebut perlahan mengabur dan menghilang. Air mata Arga luruh begitu saja, tak lagi mampu dibendung. Sekarang, tabir misteri itu telah tersingkap sepenuhnya. Ia akhirnya mengerti mengapa garis hidupnya selalu terseret kembali ke Bukit Tenun. Itu semua bukan karena sebuah kutukan yang kejam, melainkan karena ada warisan suci yang harus ia tuntaskan.
Mendadak...
Braaak!
Kubah langit Taman Benang Abadi terbelah dengan sangat mengerikan. Gumpalan kabut hitam pekat mulai merangsek masuk, menyusup dengan rakus melalui sela-sela retakan cahaya yang kian melemah. Raja Kehampaan akhirnya berhasil menjebol pertahanan dan menciptakan jalan pintas menuju taman suci tersebut.
Rembani segera mencengkeram pundak Arga dengan erat, memberikan kekuatan batin. "Waktunya telah tiba, Arga. Perseteruan besar yang sempat tertangguhkan selama berpuluh-puluh tahun ini... pada akhirnya harus diselesaikan oleh tanganmu sendiri."
Arga mengusap sisa air mata di pipinya. Ia kemudian mencengkeram gagang Lentera Penjaga dan gulungan Benang Awal dengan jemari yang kokoh. Sinar matanya kini bersih dari segala macam keraguan yang selama ini menggelayutinya. Jiwanya telah sepenuhnya siap untuk menyongsong takdir yang sejak lama menanti di ujung jalan.
Sebab, keberanian yang sesungguhnya bukanlah kondisi di saat seseorang tidak lagi dihinggapi rasa takut. Keberanian murni adalah ketika seseorang memilih untuk tetap mengayunkan kaki ke depan, meskipun rasa takut itu berjalan beriringan di sisinya.
Dari balik langit yang kini telah bertukar warna menjadi hitam legam, suara tawa menggelegar milik Raja Kehampaan mulai membahana, mencabik kedamaian taman.
Genderang perang untuk pertempuran pamungkas pun... resmi ditabuh.
. Bab 19 — Benang Terakhir Harapan
Suasana sunyi yang mencekam seketika menyelimuti seluruh area Taman Benang Abadi. Proyeksi siluet sang ayah perlahan-lahan sirna seiring memudarnya pendaran Lentera Penjaga. Meski demikian, wejangan dari Rembani masih tertanam kuat dan mendengung di dalam kepala Arga.
Garis keturunan seorang Penjaga sejatinya tidak ditakdirkan untuk mengendalikan jalannya nasib, melainkan mengemban misi suci guna melindungi setiap jengkal harapan yang ada.
Arga mengalihkan pandangannya pada gulungan Benang Awal yang sekarang melingkar kokoh di pergelangan tangannya. Kilauannya kian memancar hebat, seolah-olah jalinan mistis itu dapat merasakan gumpalan tekad yang mulai mengakar di dalam sanubarinya.
Dari arah kejauhan, cakrawala kembali diguncang oleh getaran yang hebat. Sebuah retakan raksasa menganga lebar, mencabik pendaran suci dari cahaya rembulan. Melalui celah menganga tersebut, Raja Kehampaan melangkah maju dengan perlahan. Kehadirannya membawa petaka; setiap kali tapak kakinya menyentuh tanah, vegetasi bunga di taman langsung meranggas mati dan rajutan benang cahaya seketika kehilangan pendar indahnya.
"Pada akhirnya..." suara berat itu menggelegar, memenuhi atmosfer. "Sang pewaris sah dari Benang Awal kini telah berdiri tepat di hadapanku."
Arga mempererat cengkeramannya pada gagang Lentera Penjaga. "Aku bersumpah tidak akan membiarkanmu merenggut dan menghancurkan impian yang mereka miliki!"
Raja Kehampaan hanya melontarkan tawa kecil yang terdengar sinis. "Impian dan harapan hanyalah sumber utama yang selalu melahirkan penderitaan bagi manusia."
"Kau salah," sanggah Arga sambil menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Harapan memang terkadang bisa menggoreskan luka. Namun, tanpa adanya harapan, umat manusia justru akan kehilangan kompas dan alasan untuk kembali bangkit berdiri."
Sebab, esensi dari keberanian bukanlah tentang hilangnya rasa gentar di dalam dada, melainkan sebuah keputusan untuk tetap mengayunkan kaki ke depan, meskipun bayang-bayang ketakutan terus mengekor di belakang.
Rembani seketika mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Arga... lakukan sekarang juga!"
Detik itu juga, Benang Awal memuntahkan pendar keemasan yang sangat masif hingga membungkus seluruh raga Arga. Dalam sekejap mata, untaian benang emas terbang berputar mengitari Lentera Penjaga, bertransformasi menjadi selembar jubah cahaya yang berkilau megah.
Untuk pertama kalinya sepanjang hayat, Arga dapat merasakan limpahan energi dari seluruh harapan manusia yang pernah dititipkan di Bukit Tenun kini mengalir deras dan bersatu di dalam aliran darahnya.
Anehnya, menyaksikan pendaran agung tersebut, Raja Kehampaan justru menyunggingkan senyuman lebar yang penuh kepuasan.
"Bagus sekali, akhirnya kau mengerahkan seluruh daya magis itu..." desisnya. "Persis seperti skenario yang telah lama kunantikan."
Melihat reaksi tersebut, senyuman di wajah Rembani mendadak luntur seketika. "Arga... hentikan perbuatanmu!" jeritnya histeris.
Sayangnya, segalanya sudah terlanjur bergulir dan tak lagi bisa dihentikan. Tepat di saat Benang Awal memancarkan daya pendaran tertingginya secara penuh... jalinan segel pemungkas yang selama berabad-abad ini mengunci pergerakan Raja Kehampaan perlahan-lahan mulai retak dan hancur berantakan.
Kraaak...!
Dentum kehancuran kosmis itu menggema dahsyat, menggetarkan seisi Taman Benang Abadi. Kabut pekat berwarna hitam langsung merangsek naik dan menjajah seluruh permukaan langit. Raja Kehampaan mengangkat kedua belah tangannya ke udara sembari tertawa puas di atas kemenangan taktiknya.
"Terima kasih banyak, Anak Muda... sebab tanpa kamu sadari, kaulah sosok yang baru saja mematahkan belengguku dan memberiku kemerdekaan mutlak!"
Tubuh Arga seketika mematung, kaku tak bertenaga. Ia memandangi sisa-sisa Benang Awal di genggaman tangannya dengan gurat wajah yang dilingkupi rasa syok dan tidak percaya.
Rahasia sekaligus jebakan terbesar yang selama ini tersimpan rapat akhirnya meledak ke permukaan. Sepanjang waktu ini, tujuan utama Raja Kehampaan memburu Arga ternyata sama sekali bukan untuk merebut paksa Benang Awal dari tangannya. Sebaliknya, makhluk kegelapan itu sengaja menunggu dengan sabar hingga Arga berhasil membangkitkan dan meledakkan potensi penuh dari kekuatan suci tersebut.
Sebab, hanya daya murni milik sang pewaris Benang Awal yang memiliki kapasitas untuk meremukkan segel pertahanan terakhirnya.
Dan kini, sang musuh abadi yang sesungguhnya telah terlepas dari pasungan dan mengancam
Bab 20 — Tenunan Terakhir
Cakrawala di atas Bukit Tenun kini telah bertukar rupa menjadi merah pekat yang mencekam. Deru angin bertiup begitu kencang, menerbangkan serpihan benang-benang cahaya yang berhamburan layaknya rintik hujan bintang di malam hari. Tepat di hadapan Arga, Raja Kehampaan berdiri dengan kokoh, dilingkupi pusaran kabut hitam yang secara rakus melahap setiap pendaran cahaya yang mencoba mendekat.
Arga mempererat genggamannya; Lentera Penjaga di tangan kanan dan gulungan Benang Awal di tangan kirinya.
Untuk pertama kalinya dalam lembaran hidupnya... rasa gentar itu sirna sepenuhnya dari dalam dada.
Sebab, hakikat keberanian bukanlah kondisi di saat rasa takut telah lenyap tanpa bekas, melainkan sebuah keputusan batin untuk tetap mengayunkan langkah kaki ke depan, meskipun lubuk hatinya tengah dilingkupi kegentaran yang hebat.
"Aku akan menuntaskan dan mengakhiri seluruh penderitaan ini sekarang juga," tegas Arga dengan nada suara yang penuh keyakinan.
Raja Kehampaan hanya menyahutnya dengan tawa kecil yang meremehkan. "Usahamu sudah terlanjur terlambat, Anak Muda. Sebelum kau bertindak, dunia ini sudah lebih dulu menjatuhkan pilihannya pada keputusasaan."
Dalam hitungan detik, gumpalan kabut hitam merangsek maju bagaikan gulungan ombak raksasa yang siap menelan apa saja. Tanpa ragu, Arga mengangkat Benang Awal tinggi-tinggi.
Seketika itu juga, kilatan pendar keemasan memancar dengan sangat masif, membelah kepekatan malam dan menguasai langit di atas Bukit Tenun. Benang-benang jiwa yang selama berabad-abad ini terbelenggu erat mulai memancarkan sinarnya kembali.
Satu per satu... gurat wajah dari jiwa-jiwa yang selama ini terperangkap di dalam jeratan benang tampak mengulas senyuman tulus. Detik itu, mereka akhirnya dapat menyaksikan kembali secercah harapan yang sempat sirna.
Namun, di tengah momentum kebangkitan tersebut, Sang Penenun Mimpi justru melangkah maju dengan perlahan. Menyadari apa yang akan terjadi, Rembani menatapnya dengan sepasang mata yang berkaca-kaca menahan duka.
"Jangan lakukan..." ratap Rembani.
Sang Penenun hanya membalasnya dengan seulas senyuman yang meneduhkan. "Sudah tiba masanya bagi jalinan tenunan takdir ini untuk dirampungkan sepenuhnya."
Ia mengangkat perkakas tenun miliknya untuk yang terakhir kali sepanjang hayat. Mengerahkan seluruh sisa-sisa daya magis dan energi kehidupan yang tersisa di raganya, ia merajut Benang Awal menjadi selembar kain cahaya raksasa yang membentang megah, menyelimuti kubah langit Bukit Tenun.
Seketika, dominasi kabut hitam mulai terkoyak dan hancur berantakan. Raja Kehampaan meraung sejadi-jadinya, dipenuhi murka yang luar biasa. "Tidaaaak...!" teriaknya gila saat wujud fisiknya perlahan-lahan mulai retak.
Tepat sebelum pendaran suci itu mengunci dan menyelimuti seluruh jagat, Sang Penenun menyempatkan diri menoleh ke arah Arga.
"Ingatlah satu pesan dariku... harapan hanya akan tetap bernapas dan hidup jika selalu ada satu jiwa yang sudi berdiri untuk menjaganya."
Usai melisankan petuah terakhir itu, tubuh Sang Penenun mendadak terurai menjadi ribuan pendaran cahaya yang sangat indah. Ia mengulas senyum pemungkasnya yang penuh keikhlasan, lalu melebur hilang menyatu bersama pendaran cahaya rembulan.
Air mata Arga tumpah ruah, tak lagi mampu ia bendung akibat rasa kehilangan yang teramat sangat. "Terima kasih..." bisiknya sarat akan penghormatan.
Ledakan pendar suci kini menguasai seluruh cakrawala. Pekikan kesakitan dari Raja Kehampaan bergema hebat, mencabik keheningan Bukit Tenun. Dan untuk pertama kalinya setelah melewati masa-masa kelam selama ratusan tahun, kabut pekat yang mengutuk tempat itu akhirnya mulai menguap dan sirna.
Namun... di tengah-tengah kilauan pendaran yang menyilaukan mata tersebut, Arga menangkap sekelebat visual yang membuat detak jantungnya mendadak berhenti seketika.
Tepat di balik bayang-bayang tubuh Raja Kehampaan yang kian merapuh, samar-samar mencuat proyeksi wajah sang ayah kandung. Pria itu menatap lurus ke arah Arga sembari menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan kehangatan.
Ia kemudian berbisik dengan nada yang teramat lirih, "Maafkan ketidakberdayaan Ayah, Nak... selama kurun waktu yang panjang ini, akulah sosok yang menahan pergerakan Raja Kehampaan dari dalam jiwanya sendiri."
Sebelum sempat Arga melontarkan sepatah kata pun untuk merespons kebenaran tersebut, proyeksi siluet sang ayah langsung pudar dan menghilang bersamaan dengan sirnanya pendar cahaya.
Saat itulah Arga tersadar dari lamunannya... bahwa kemelut dan pertempuran besar ini rupanya belum benar-benar menemui titik akhir yang sesungguhnya.
Bab 21 — Benang Terakhir
Keheningan malam kembali mendekap alam. Cakrawala yang sempat membara kemerahan kini berangsur-angsur memancarkan pendar keperakan yang suci. Desir angin bertiup sepoi-sepoi, membawa serta aroma basah tanah pasca-hujan—seolah-olah semesta sedang menarik napas lega setelah badai pertempuran yang sempat memporak-porandakan Bukit Tenun berakhir.
Di area episentrum Taman Benang Abadi, Arga berdiri tegak sembari mendekap erat sisa Benang Awal di jemarinya.
Tepat di hadapannya, sosok Raja Kehampaan telah jatuh berlutut. Kabut pekat berwujud kegelapan yang selama berabad-abad mengungkung raganya perlahan-lahan menguap, digantikan oleh pendaran cahaya putih yang menyelimutinya dengan kehangatan.
Garis wajah makhluk itu berangsur pulih ke wujud aslinya. Ia tidak lagi tampak sebagai entitas mengerikan yang menebar teror ke seluruh penjuru semesta, melainkan menjelma menjadi seorang lelaki paruh baya yang teramat lelah—bagaikan seseorang yang baru saja tersadar dari sebuah mimpi buruk yang panjang dan menyiksa batin.
Butiran air mata tampak merebak dan luruh di sudut matanya. "Pada akhirnya..." bisiknya parau, "...aku sanggup mengingat kembali jati diriku yang sebenarnya."
Arga menyunggingkan senyuman tipis yang meneduhkan. "Pekatnya kegelapan memang tidak akan pernah bisa melenyapkan eksistensi cahaya secara mutlak. Ia hanya memanipulasi batin kita agar lupa bahwa pendaran itu sebenarnya masih tetap ada."
Sebab, tidak ada satu pun hati yang terlanjur berkeping-keping yang tidak bisa disatukan kembali menjadi utuh, asalkan masih ada secercah harapan yang mengetuk pintu sanubarinya.
Mantan Raja Kehampaan itu memandang lurus ke arah Arga untuk yang terakhir kalinya. "Terima kasih banyak, Anak Muda... karena engkau telah menjatuhkan pilihan untuk membebaskan jiwaku, alih-alih memusnahkanku."
Sesaat setelah kalimat itu terucap, raganya perlahan-lahan terurai menjadi jutaan helaian benang cahaya yang melambung tinggi ke angkasa, melebur dengan sempurna ke dalam pelukan sinar rembulan malam.
Pada momentum yang bersamaan, rangkaian belenggu benang yang selama ini mengikat paksa ribuan jiwa di Bukit Tenun terputus satu demi satu. Isak tangis haru bersahutan dengan senyuman penuh kelegaan. Ada yang langsung berhamburan mendekap erat sanak keluarga mereka, dan ada pula yang jasad astralnya perlahan mengabur menjadi pendar cahaya—menjemput kedamaian hakiki yang selama ini mereka dambakan dalam penantian panjang.
Kakak perempuan Arga melangkah mendekat dengan perlahan. Untuk pertama kalinya, kilatan cahaya putih yang semula mengisi rongga matanya kini telah lenyap tanpa bekas. Sepasang matanya telah kembali seperti sediakala: hangat dan sarat akan kasih sayang seorang kakak.
Ia langsung merengkuh tubuh Arga ke dalam pelukan yang sangat erat. "Terima kasih, Arga... terima kasih karena engkau tidak pernah menyerah untuk mencariku."
Air mata Arga tumpah ruah, tak sanggup lagi ia bendung di pelupuk matanya. "Aku selalu menanam keyakinan di dalam hati... bahwa Kakak pasti akan menemukan jalan untuk pulang."
Sang kakak tersenyum sangat manis. "Dan sekarang... aku benar-benar telah kembali ke rumah
Secara perlahan, wujud fisiknya mulai bertransformasi menjadi pendaran cahaya yang berkilau indah. Sebelum seluruh eksistensinya menguap ke udara, ia menyempatkan diri mengusap pucuk kepala Arga untuk terakhir kalinya.
"Lanjutkanlah langkah hidupmu, Dik. Jangan pernah membiarkan sebuah rasa kehilangan membuatmu berhenti untuk merajut mimpi-mimpi baru."
Dalam sekejap mata, pendaran cahaya itu melesat indah menuju kubah langit, menyatu dengan sang rembulan yang kini telah bersinar dengan megah. Sang Penenun Mimpi tersenyum dalam kedamaian yang paripurna; seluruh tugas besarnya telah tuntas diemban. Raganya pun berangsur-angsur meluruh menjadi untaian benang putih yang ditiup angin, meninggalkan jejak pendaran yang estetik di angkasa.
Bukit Tenun kini telah kembali menjadi sebuah perbukitan biasa. Kabut mistis yang selama ini mengutuk dan menyelimuti areanya telah sirna sepenuhnya. Vegetasi pepohonan kembali menghijau subur, dan riuh kicau burung bersahutan menyambut datangnya fajar yang baru. Tak ada lagi bisikan ghaib, tak ada lagi jiwa-jiwa malang yang terperangkap. Tempat itu kini hanya menyisakan memori bisu tentang sebuah situs yang pernah menjadi saksi bisu lahirnya sebuah harapan dan keagungan pengorbanan.
Beberapa bulan berlalu...
Arga melangkah kembali mengunjungi Bukit Tenun. Ia berdiri dengan khidmat di bawah siraman cahaya rembulan sembari menjinjing sebuah lentera usang peninggalan mendiang kakeknya. Kini, lentera tua tersebut tidak lagi memancarkan pendaran magis yang supranatural.
Kendati demikian, Arga kini telah memahami sepenuhnya... bahwa pendaran cahaya yang sejati tidak akan pernah bersumber dari sebuah lentera fisik, melainkan lahir dari dalam hati yang tetap teguh memilih untuk merawat harapan.
Ia menengadah menatap langit malam yang bersih. Seutas benang perak tampak melintas cepat di sela-sela pendaran rembulan. Arga mengulas senyuman tulus.
"Aku tahu... kalian semua kini telah berhasil menemukan rumah yang sesungguhnya."
Embusan angin malam bertiup dengan lembut, seolah-olah membawa sebuah bisikan gaib yang teramat samar di telinganya.
"Terima kasih... karena engkau telah sudi menenun kembali mimpi-mimpi kami yang sempat terputus."
Arga perlahan memejamkan matanya, meresapi momentum tersebut, lalu membalikkan badan untuk melangkah pulang. Sebab ia kini telah mengerti satu kebenaran hakiki: bahwa setiap mimpi akan selalu menemukan sosok penenunnya sendiri, dan setiap harapan... akan selalu menemukan jalan pintas untuk kembali pulang ke rumah.
TAMAT