Umpama bunga forget-me-not yang tumbuh di tepi jurang, keindahan nama itu sering kali membawa beban seberat takdir yang membelenggunya. Di sebuah sudut perpustakaan kuno bertembok kayu jati di kota Bandung yang sejuk, sinar matahari sore menerobos lewat celah jendela kaca patri, membiaskan cahaya keemasan di atas meja kerja kayu tebal. Di sana, Syakira duduk terpaku. Jemari lentiknya yang mengenakan cincin perak berukir kaligrafi kufi memegang lembaran manuskrip tua berbahasa Inggris klasik.
Di hadapannya, tertulis sebuah nama yang tak asing lagi dalam sejarah sastra dunia: Ophelia.
Syakira Mehrunnisa, seorang mahasiswi tingkat akhir magister sastra yang menutupi auratnya dengan jilbab lebar berwarna merah hati, menarik napas panjang. Duduk di seberang mejanya, Farhan Abdullah Alfarabi—sahabat sekaligus rekan diskusinya sejak masa S1—menatapnya dengan binar mata yang penuh rasa ingin tahu. Farhan adalah sosok pemuda yang teduh, selalu mengenakan kemeja koko rapi dan memiliki kebiasaan menundukkan pandangan, namun pikirannya tajam bagaikan pisau bedah ilmu pengetahuan.
"Kamu masih memikirkan nama itu, Syakira?" tanya Farhan pelan, suaranya seperti desiran angin malam yang membawa ketenangan.
Syakira menengadah, mengangguk perlahan. "Ia, Farhan. Setiap kali aku membaca kembali panggung drama Hamlet karya William Shakespeare yang ditulis di ambang abad ketujuh belas itu, hatiku selalu terenyuh. Ophelia adalah simbol keanggunan yang dihancurkan oleh kejamnya tatanan patriarki. Seorang wanita muda yang suci, jiwanya diremukkan oleh hasrat politik ayahnya, Polonius, dan kegilaan kekuasaan pangeran Denmark. Ia tenggelam bersama bunga-bunga liar yang dipetiknya sendiri. Sebuah tragedi yang sangat memilukan."
Farhan tersenyum tipis, merapikan letak kacamata berbingkai hitamnya. "Namun, ada takdir sejarah yang sangat unik dan menggelitik dari nama itu, Syakira. Sebuah fenomena sosial-budaya yang terkesan paradoks."
"Paradoks bagaimana, Farhan?" Syakira membetulkan posisi duduknya, memajukan tubuhnya sedikit karena tertarik.
"Bayangkan," Farhan memulai penjelasannya dengan gaya bertutur yang khas, santun namun syarat akan kedalaman analisis. "Nama Ophelia melambangkan kegilaan, keputusasaan, dan kematian tragis di tepi sungai. Namun, ketika roda zaman berputar memasuki abad ke-19 hingga awal abad ke-20, nama ini justru meroket menjadi salah satu nama favorit yang paling sering diberikan oleh para orang tua di Britania Raya dan Amerika Serikat untuk anak-anak perempuan mereka."
Syakira menaikkan alisnya. "Mengapa bisa demikian? Bukankah sebuah nama adalah doa dan harapan yang disematkan para orang tua kepada buah hatinya? Mengapa mereka justru memilih nama yang membawa sejarah begitu kelam dalam sastra?"
"Itulah keindahan sekaligus misteri bahasa dan budaya manusia," jawab Farhan anggun. "Masyarakat era Victoria di Britania Raya dan masyarakat Era Gilded di Amerika melihat Ophelia bukan hanya dari takdir akhirnya yang tragis, melainkan dari simbolismenya. Pada abad ke-19, gerakan romantisme sedang berada di puncaknya. Ophelia dipandang sebagai gambaran kepolosan yang abadi, kesucian hati yang tak ternoda oleh kotornya dunia, serta ketulusan cinta yang melampaui batas logika. Lukisan terkenal karya John Everett Millais pada tahun 1851 yang menggambarkan Ophelia mengapung di sungai dengan mengapit bunga-bunga, justru memikat imajinasi jutaan jiwa saat itu."
Farhan melanjutkan dengan nada suara yang makin puitis, "Bagi para orang tua di masa itu, memberikan nama Ophelia adalah ungkapan kerinduan akan sosok putri yang lembut, anggun, dan memiliki kepekaan jiwa yang tinggi. Mereka percaya bahwa di balik bayang-bayang tragedi Shakespeare, Ophelia adalah puncak estetika keindahan wanita."
Syakira mengangguk-angguk, matanya berbinar menatap Farhan. Rasa kagum menyelinap halus di dalam dadanya. Betapa indahnya jika seseorang memiliki kawan bernalar yang tak hanya pandai menatap teks, tetapi juga mampu menyelami jiwa di balik teks tersebut.
"Subhanallah," gumam Syakira halus. "Sungguh ajaib bagaimana persepsi manusia bisa mengalihkan makna sebuah nama. Namun, Farhan... apakah kamu tidak merasa bahwa ada pesan tersirat yang lebih dalam untuk zaman kita sekarang?"
"Pesan apa itu, Syakira?"
"Bahwa seorang wanita, siapa pun namanya—apakah ia bernama Ophelia di Barat, atau dinamai dengan nama-nama indah dari bahasa Arab di Timur—sering kali dijebak dalam ekspektasi lingkungan sosialnya. Ophelia di abad ke-17 dihancurkan oleh masyarakat patriarki yang menuntutnya menjadi pion tak bersuara. Di abad ke-19, nama itu dipuja karena estetikanya, namun sang wanita tetap dipagari oleh norma-norma kaku zaman Victoria. Lalu bagaimana dengan wanita masa kini?"
Farhan menatap Syakira dengan tatapan penuh rasa hormat. "Pertanyaanmu menyentuh inti dari hakikat kemuliaan wanita dalam Islam, Syakira. Islam datang justru untuk membebaskan wanita dari kungkungan 'kegilaan' tatanan yang menindas mereka. Islam tidak menginginkan Ophelia-Ophelia baru yang tenggelam dalam ketidakberdayaan. Islam menginginkan wanita yang memiliki keteguhan akal seperti Aisyah, keberanian seperti Khadijah, dan ketegaran seperti Fatimah."
Hari semakin sore. Lembayung senja mulai menggores langit kota Bandung dengan warna jingga yang hangat. Diskusi mereka di perpustakaan itu terhenti sejenak ketika gema azan Magrib memanggil dengan merdu dari menara masjid kampus yang menjulang tak jauh dari sana.
"Mari kita tunaikan panggilan-Nya terlebih dahulu," ajak Farhan santun seraya berdiri dan merapikan buku-bukunya.
"Iya, Farhan. Terima kasih untuk diskusi yang sangat membuka wawasan ini. Punya teman berbagi pemikiran seperti ini adalah nikmat yang sangat luar biasa," balas Syakira dengan senyum tulus yang terbingkai rapi di balik jilbabnya.
Mereka melangkah keluar dari perpustakaan, berjalan beriringan di bawah naungan pohon-pohon rindang kampus. Di dalam hati masing-masing, ada benih-benih kekaguman dan rasa syukur yang tumbuh mekar—bukan hanya karena keindahan sejarah sebuah nama dari masa lalu, melainkan karena indahnya ikatan persahabatan yang diikat oleh ilmu, keimanan, dan rasa saling menghargai.