"Katanya, orang yang ditakdirkan bertemu akan selalu menemukan jalannya.Tapi bagaimana jika jalannya ada... hanya waktunya yang tak pernah sama?"
Pukul enam pagi.
Langit masih berwarna jingga ketika Neya sudah bersiap memulai hari.Secangkir teh hangat di atas meja hanya sempat ia teguk setengah.Ponselnya berbunyi berkali-kali, tanda pekerjaan sudah menunggu.
Sebelum memasukkannya ke dalam tas, matanya berhenti pada satu nama yang sudah lama tidak muncul di layar.
Pratama.
Sudah hampir setahun mereka tidak benar-benar berbincang.Sesekali hanya saling melihat status, tanpa ada yang berani memulai percakapan.
Entah kenapa pagi itu, Neya memberanikan diri.
Neya: "Mas..."
Pesan terkirim.
Belum sempat ia menunggu balasan, seseorang memanggil namanya.
"Neya, ayo berangkat!"
Ia buru-buru mengunci layar ponsel lalu menjalani hari seperti biasa.
Ratusan kilometer dari tempat Neya berada, Pratama baru saja menyelesaikan pekerjaannya semalaman.
Matanya lelah.
Ia menjatuhkan tubuh di kursi sambil mengambil ponsel yang sejak pagi tak sempat disentuh.
Satu notifikasi muncul.
Neya.
Pratama membaca pesan itu beberapa kali.
Sudut bibirnya terangkat pelan.
"Neya..."
Nama itu masih terdengar asing sekaligus akrab.
Ia ingin langsung membalas.
Namun atasannya kembali memanggil.
"Pratama! Berkasnya sudah selesai?"
"Iya, Pak."
Ponsel kembali dimasukkan ke saku.
Balasan itu kembali tertunda.
Menjelang malam.
Neya baru tiba di rumah.
Tubuhnya terasa pegal setelah seharian bekerja.
Ia membuka WhatsApp sambil berharap.
Benar saja.
Ada satu pesan baru.
Pratama: "Iya."
Hanya satu kata.
Namun cukup membuat Neya tersenyum.
Ia tahu Pratama memang bukan tipe laki-laki yang pandai berbasa-basi.
Jadi ia melanjutkan.
Neya: "Mas sekarang tinggal di mana?"
Pesan itu terkirim.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Tidak ada balasan.
Neya menunggu sambil membaca buku.
Tanpa sadar, matanya terpejam.
Ponselnya masih berada di genggaman.
Di tempat lain...
Pratama baru saja selesai mandi.
Ia membuka WhatsApp.
Pesan Neya muncul.
Mas sekarang tinggal di mana?
Ia segera mengetik.
"Masih di Bandung."
Jari-jarinya berhenti.
Rasanya aneh.
Sudah lama sekali ia tidak berbincang dengan perempuan itu.
Akhirnya ia mengirim.
"Kamu gimana?"
Namun sebelum sempat menekan tombol kirim, listrik di rumah padam.
Sinyal ikut menghilang.
Saat semuanya kembali normal, jam sudah lewat tengah malam.
Pratama menghela napas.
"Mungkin dia udah tidur."
Esok paginya.
Saat sedang menunggu kendaraan datang, Neya membuka ponselnya.
Ada balasan.
Pratama: "Masih di Mesuji."
Neya langsung membalas.
Neya: "Masih sibuk kerja ya?"
Lalu ponselnya kembali masuk ke tas.
Hari itu jadwalnya begitu padat.
Ia bahkan lupa kalau sedang menunggu jawaban seseorang.
Pratama membaca pesan itu saat jam istirahat.
Ia tersenyum kecil.
Pratama: "Lumayan."
Belum sempat menambahkan kalimat lain, waktu istirahat telah usai.
Ia kembali bekerja.
Begitulah hari-hari mereka.
Saat Neya punya waktu pagi hari...
Pratama sedang sibuk.
Saat Pratama baru senggang malam hari...
Neya sudah tertidur.
Mereka sama-sama membalas.
Namun tidak pernah dalam waktu yang bersamaan.
Suatu malam Neya memberanikan diri menekan tombol telepon.
Nada sambung terdengar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak ada jawaban.
Ia tersenyum kecil.
"Mungkin lagi kerja."
Tanpa rasa kecewa berlebihan, ia menutup panggilan.
Lalu pergi mandi.
Lima belas menit kemudian...
Ponselnya bergetar.
Pratama menelepon.
Sayangnya...
Neya sedang berada di kamar mandi.
Saat ia kembali, layar hanya menyisakan tulisan.
Panggilan tak terjawab.
Neya menatap layar beberapa saat.
Lalu tertawa pelan.
"Lucu juga ya..."
"Aku nelepon pas dia sibuk."
"Dia nelepon pas aku nggak pegang HP."
Beberapa hari kemudian kejadian yang sama terulang.
Kali ini Pratama lebih dulu menghubungi.
Namun Neya sedang mengikuti rapat.
Ia hanya bisa melihat nama itu muncul di layar sebelum panggilan berakhir.
Malamnya Neya menelepon balik.
Kini giliran Pratama yang sedang menyetir.
Ia melihat layar ponselnya menyala, tetapi memilih tidak mengangkat demi keselamatan.
Sesampainya di rumah, ia segera menelepon kembali.
Namun...
Neya sudah terlelap.
Tanpa mereka sadari, riwayat panggilan di ponsel masing-masing mulai dipenuhi tulisan yang sama.
Panggilan tak terjawab.
Bukan karena salah satu mengabaikan.
Bukan pula karena tidak ingin berbicara.
Hanya saja...
Mereka selalu terlambat beberapa menit.
Seolah waktu sedang memainkan lelucon kecil.
Suatu sore, hujan turun begitu deras.
Neya berdiri di dekat jendela kantor sambil memandangi rintik air yang membasahi jalan.
Ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk.
Pratama: "Maaf ya."
Neya mengernyit.
Neya: "Maaf kenapa?"
Beberapa menit kemudian balasan datang.
Pratama: "Kayaknya kita emang susah nyari waktu yang pas."
Neya tersenyum tipis.
Ia menatap langit yang mulai gelap.
Lalu mengetik perlahan.
Neya: "Mungkin bukan susah."
Neya: "Kita cuma sama-sama lagi berjuang di kehidupan masing-masing."
Pratama membaca pesan itu berkali-kali.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak hanya membalas satu kata.
Pratama: "Terima kasih masih mau nyari kabarku."
Neya memandangi kalimat itu cukup lama.
Bukan karena isinya luar biasa.
Melainkan karena akhirnya ia tahu satu hal.
Selama ini bukan hanya dirinya yang berusaha.
Pratama juga.
Hanya saja, cara mereka menunjukkan kepedulian berbeda.
Neya mengirim pesan terakhir malam itu.
Neya: "Nanti kalau kita sama-sama punya waktu, kita ngobrol yang lama ya."
Beberapa menit kemudian balasan datang.
Pratama: "Iya."
Satu kata yang sederhana.
Namun kali ini, rasanya jauh lebih hangat daripada seribu kalimat.
Karena mereka akhirnya menyadari bahwa hubungan bukan selalu tentang seberapa sering berbicara.
Kadang, hubungan bertahan karena dua orang yang sama-sama sibuk itu tidak pernah benar-benar berhenti mencari waktu untuk kembali saling menyapa.
Dan mungkin, suatu hari nanti...
bukan lagi selisih lima menit yang mempertemukan mereka.
Melainkan satu sore yang tenang, ketika untuk pertama kalinya, waktu memilih berpihak pada Neya dan Pratama.
Tamat.