Pelabuhan Tanjung Naga tidak pernah benar-benar tidur, meskipun deru angin malam seringkali membuatnya tampak seperti raksasa lelah yang mendesah pelan. Di ujung dermaga kayu yang sudah lapuk dimakan usia, Raditya berdiri seorang diri. Matanya menatap hamparan air laut yang memantulkan kerlip lampu kapal-kapal nelayan di kejauhan. Di tangannya, sebuah kompas kuno berkarat tergenggam erat, hadiah perpisahan dari seorang perempuan yang jejaknya telah lama hilang ditelan cakrawala.
Tepat sepuluh tahun lalu, di tempat yang sama, sebuah janji diikrarkan.
Saat itu, mega merah membakar langit sore, menciptakan siluet yang begitu dramatis. Maya, dengan selendang rajut berwarna biru laut yang melingkar di leher jenjangnya, menggenggam tangan Raditya erat-erat. Air mata perempuan itu berjejak di pipinya, hangat dan basah, sebelum akhirnya jatuh menimpa punggung tangan Raditya.
"Aku akan pergi merantau ke seberang lautan, Maya. Menyelesaikan pendidikanku dan membangun masa depan kita. Ketika mercusuar di ujung pelabuhan ini dicat ulang dengan warna putih bersih, aku akan kembali untuk melamarmu," ucap Raditya kala itu dengan dada bergemuruh penuh keyakinan.
Maya mengangguk, tersenyum di tengah air matanya. "Aku akan menunggu, Dit. Berapa pun lamanya. Karena bagiku, rumah bukan sekadar bangunan, melainkan tempat di mana kau berada."
Janji itu terasa begitu kokoh, sekuat batu karang yang diterjang ombak. Namun, laut tidak pernah menjanjikan ketenangan abadi, begitu pula takdir manusia.
Tahun pertama perpisahan berjalan sesuai rencana. Surat-surat berbalut amplop cokelat rutin mendarat di kantor pos kecamatan setiap bulannya. Di dalam surat-surat itu, Raditya menceritakan kerasnya perjuangan hidup di ibu kota provinsi, kuliah sambil bekerja serabutan, demi satu tujuan: kembali pada Maya sebagai lelaki yang mapan. Maya pun selalu membalas dengan cerita-cerita sederhana tentang deburan ombak, hasil tangkapan ayahnya yang seorang nelayan, dan bagaimana ia merawat kebun bunga melati di halaman belakang rumahnya.
Namun, badai datang bukan dari laut, melainkan dari sela-sela kesibukan yang merayap tanpa diundang.
Memasuki tahun ketiga, beasiswa penelitian Raditya membawanya melompat lebih jauh, terbang melintasi benua menuju Eropa. Dunia yang tadinya terasa sempit mendadak membentang begitu luas di hadapannya. Kesempatan-kesempatan emas berdatangan silih berganti. Di sinilah celah itu mulai menganga. Perbedaan waktu yang ekstrem, jam kerja yang melelahkan, serta tuntutan akademis yang tinggi membuat frekuensi komunikasi mereka merosot drastis.
Surat-surat fisik berganti menjadi pesan singkat di layar gawai, yang lama-kelamaan semakin jarang terbalas. Raditya terjebak dalam pusaran ambisi. Ia lupa bahwa di ujung timur Indonesia, ada seseorang yang terus memandangi kalender dinding setiap malam, menghitung hari demi hari dengan kesabaran yang mulai terkikis.
Puncak dari keretakan itu terjadi pada akhir tahun kelima. Maya mengirimkan pesan terakhir yang begitu panjang, sebuah pesan yang hingga detik ini masih dihafal di luar kepala oleh Raditya:
"Dit, bunga melati di halaman sudah mekar dan gugur berkali-kali. Mercusuar di pelabuhan telah dicat ulang menjadi putih bersih sejak bulan lalu. Aku menepati bagianku untuk menunggu hingga mercusuar itu putih. Tapi sepertinya, mimpimu di sana telah menjadi duniamu seutuhnya. Jangan merasa bersalah, karena aku tahu cinta tidak bisa dipaksa untuk tinggal di tempat yang sama selamanya. Hiduplah dengan baik."
Setelah pesan itu, nomor Maya tidak bisa dihubungi lagi. Akun media sosialnya senyap. Ketika Raditya akhirnya berhasil menyelesaikan studinya dua tahun kemudian dan memutuskan pulang membawa seluruh atribut kesuksesannya, yang ia dapati bukanlah pelukan hangat Maya, melainkan sebuah rumah kosong yang dikelilingi semak belukar. Tetangga sekitar mengatakan bahwa Maya dan keluarganya telah pindah entah ke mana, meninggalkan desas-desus bahwa Maya telah menikah dengan seorang insinyur perkapalan dari kota sebelah.
Waktu berjalan tanpa belas kasihan. Sepuluh tahun telah berlalu sejak hari janji itu diucapkan di dermaga Tanjung Naga.
Raditya tidak pernah menikah. Kegagalannya mempertahankan Maya menjadi luka menganga yang tidak pernah sembuh sepenuhnya, meski ia telah dikelilingi oleh jabatan mentereng dan harta yang berlimpah. Hari ini, ia kembali ke Pelabuhan Tanjung Naga bukan sebagai pemuda miskin yang penuh mimpi, melainkan sebagai seorang arsitek senior yang ditugaskan merancang ulang kawasan pelabuhan tersebut.
Sore itu, angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam dan kenangan yang teramat kuat. Raditya berjalan pincang—bekas kecelakaan kecil di masa lalu—menelusuri papan-papan dermaga yang kini tampak jauh lebih modern. Di kejauhan, mercusuar putih berdiri kokoh, menjulang megah menembus langit senja yang kembali berwarna jingga kemerahan.
Sesuai dengan takdir yang tak terduga, di dekat area proyek pembangunan, ia melihat sebuah galeri seni kecil bercat putih yang baru saja dibuka. Di teras galeri tersebut, terpajang puluhan lukisan cat minyak bertema laut dan pelabuhan.
Raditya tertegun. Langkah kakinya terhenti di depan pintu galeri.
Lukisan-lukisan itu memiliki gaya sapuan kuas yang sangat ia kenal—tegas namun penuh kelembutan, didominasi warna biru laut dan kilau senja. Di sudut setiap kanvas, tertera sebuahinisial kecil: M.A.
Jantung Raditya berdegup kencang, seolah-olah darahnya berhenti mengalir. Ia mendorong pintu galeri yang berderit pelan. Lonceng kecil di atas pintu berbunyi, berdenting nyaring memecah keheningan sore.
Seorang perempuan berambut panjang dengan beberapa helai uban yang dibiarkan tergerai natural sedang berdiri membelakangi pintu. Ia mengenakan mantel rajut tipis berwarna biru laut, warna yang tidak pernah berubah sejak sepuluh tahun lalu. Perempuan itu sedang merapikan bingkai lukisan di dinding.
"Selamat sore, selamat datang di Galeri Samudra," ucap perempuan itu tanpa membalikkan badan, suaranya terdengar lembut namun menyimpan getaran asing yang langsung merasuk ke relung hati Raditya.
Raditya membuka mulutnya, tetapi tidak ada suara yang keluar. Tenggorokannya mendadak kering. Ia melangkah mendekat, perlahan, seolah takut bayangan itu akan pudar jika ia bergerak terlalu cepat.
Mendengar langkah kaki yang berat dan tidak seimbang, perempuan itu membalikkan badan.
Gerakannya terhenti. Kuas di tangannya hampir terlepas dari jemarinya. Sepasang mata jernih itu menatap lekat-lekat sosok lelaki paruh baya di hadapannya. Tidak ada teriakan histeris, tidak pula tetesan air mata kemarahan. Yang ada hanyalah keheningan panjang yang sarat akan sejuta cerita yang tak sempat terucap.
"Maya..." bisik Raditya akhirnya, menyebut nama itu dengan suara yang nyaris tak terdengar, penuh dengan penyesalan yang membuncah.
Maya menarik napas dalam-dalam. Senyum tipis, begitu tenang dan dewasa, terukir di bibirnya. Wajah perempuan itu telah dihiasi garis-garis halus penanda waktu, namun sorot matanya masih menyimpan kehangatan yang sama seperti hari ketika mereka berpisah di dermaga.
"Kau pulang, Dit," ucap Maya, tenang. Suaranya tidak lagi bergetar, menunjukkan betapa waktu telah membentuknya menjadi perempuan yang tangguh dan berdamai dengan masa lalu.
Raditya merasakan air mata hangat meleleh di pipinya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup di dalam kesombongan profesionalismenya, ia merasa begitu kerdil.
"Aku mencari rumah itu, Maya. Rumah di mana bunga melati itu tumbuh. Tapi tetangga bilang kau sudah pergi. Aku... aku brengsek. Aku meninggalkanmu demi dunia yang ternyata tidak ada apa-apanya dibanding keberadaanmu," suara Raditya pecah, pertahanan terakhirnya runtuh seketika di hadapan perempuan yang selama ini ia cari dalam setiap tidur malamnya.
Maya melangkah mendekat, berhenti tepat satu meter di hadapan Raditya. Ia menatap lekat-lekat mata lelaki yang dulu pernah menjadi seluruh dunianya.
"Kau tidak brengsek, Raditya. Kau hanya sedang tersesat di dalam mimpimu sendiri," jawab Maya dengan nada suara yang begitu sabar. "Dan mengenai rumah itu... rumah tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya berpindah bentuk. Aku pindah ke sini, membuka galeri kecil ini, meneruskan apa yang dulu sering kita bicarakan di bawah temaram lampu dermaga."
Raditya menundukkan kepalanya, bahunya bergetar hebat. "Tapi aku telah melanggar janji kita, Maya. Mercusuar itu telah dicat putih bersih sejak lama, dan aku baru datang sekarang. Terlalu terlambat."
Maya menggeleng pelan. Ia mengangkat tangan kanannya, menyentuh lengan Raditya dengan lembut, memberikan kehangatan yang sudah lama dirindukan oleh lelaki itu.
"Janji di pelabuhan itu memang tidak pernah selesai sesuai rencana kita, Dit," kata Maya lirih. "Ia tidak berakhir dengan pelaminan yang megah atau akhir bahagia seperti di dalam dongeng anak-anak. Tapi tahukah kau? Janji itu selesai dengan caranya sendiri. Ia mengantarkan kita pada versi diri kita yang sekarang—aku yang mandiri dengan kuas dan kanvas ku, dan kau yang berdiri sebagai arsitek hebat yang membangun kembali kota ini."
Raditya mendongak, menatap manik mata Maya yang memantulkan bias cahaya senja.
"Lalu, apakah masih ada tempat bagiku di sini, Maya? Di sisa hidupku?" tanya Raditya penuh harap, sebuah permohonan terakhir dari seorang lelaki yang telah kehilangan arah.
Maya menatap sekeliling galeri, lalu kembali menatap Raditya. Senyumnya semakin mengembang, tulus tanpa beban.
"Galeri ini terbuka untuk siapa saja yang ingin menikmati seni, Dit. Termasuk seorang arsitek yang ingin beristirahat sejenak dari penatnya dunia," jawab Maya bijak. "Kita tidak bisa memutar balik waktu untuk memperbaiki masa lalu. Tapi kita bisa duduk bersama di teras ini, menikmati secangkir kopi hitam, dan mendengarkan deburan ombak yang tidak pernah lelah menyapa pantai."
Raditya terdiam, meresapi setiap kata yang meluncur dari bibir Maya. Di dalam dadanya, rasa sakit yang bertahun-tahun menghimpit perlahan-lahan menguap, digantikan oleh kelegaan yang teramat sangat. Janji itu memang patah, tetapi pecahan-pecahannya telah menyatu kembali dalam bentuk yang jauh lebih dewasa dan bermakna.
Sore itu, di bawah langit Pelabuhan Tanjung Naga yang kembali jingga, Raditya dan Maya duduk berdampingan di teras galeri. Mereka tidak membicarakan masa lalu yang kelam, pun tidak muluk-muluk merencanakan masa depan yang jauh. Mereka membiarkan angin laut membawa sisa-sisa debu penantian, menyambut malam yang tenang dengan hati yang akhirnya benar-benar pulang.