Sore itu, aku dijadwalkan kontrol ke rumah sakit untuk memeriksakan tanganku yang sempat digips akibat patah tulang sekitar tiga minggu yang lalu. Pukul 15.30 aku tiba di rumah sakit. Aku menatap sekeliling sambil menunggu ibu mengambil nomor antrean untukku. Sekarang tiba giliranku masuk ke ruang pemeriksaan. Ibu pun berkonsultasi dengan dokter mengenai keadaan tanganku. Dokter mengatakan ibu tak perlu khawatir karena proses penyembuhanku yang terhitung cepat.
Setelah keluar dari ruangan dokter, aku duduk menunggu ibu yang sedang menebus resep. Pandanganku jatuh pada seorang anak kecil dengan wajah pucat. Ia berjalan mendekatiku, jari telunjuknya menunjuk seorang wanita. Tatapan mata anak kecil itu sangat dingin dan terlihat tajam. Wanita itu tampak gelisah, berdiri di depan ruang UGD sambil mengusap matanya yang berlinang air mata. Aku memperhatikan sejenak, lalu kembali menoleh ke anak kecil tadi, namun ia sudah menghilang.
Tiba-tiba suara tangisan pecah dari ruangan UGD. Aku mendapati seorang anak kecil terbujur kaku, wajahnya sama persis dengan anak yang tadi berdiri di hadapanku. Saat itu aku tersadar, jeritan wanita itu bukanlah duka seorang ibu yang kehilangan, melainkan pengakuan dari rasa bersalah. Saat pikiranku terganggu, roh anak kecil tadi muncul lagi. Ia menatapku dan menujuk wanita itu dengan tegas. Roh anak kecil itu hanya ingin menunjukkan kebenaran: wanita itu adalah dalang dari kematiannya sendiri.