Hujan turun dengan deras malam itu, hanya sunyi yang tercipta dibawah suara rintik hujan. Aku berdiri dibawah lampu jalan yang redup, menunggu seseorang yang seharusnya tidak lagi ku harapkan. Aku menundukkan kepalaku, membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhku. Dada ini terasa sesak setiap kali aku membayangkan wajahnya. Hari itu juga berakhir di bawah derasnya hujan, membuatku benci dengan hujan.
Alex. Dengan jas hitam yang basah kuyup, dan tatapan yang sayu. Tatapan yang pernah membuatku percaya, sebelum semua kebohongan terungkap.
Kami pernah bahagia. Pernah berjalan di lorong sekolah, tertawa di bawah senja, dan saling berjanji tak akan saling meninggalkan. Tapi cinta dan semua janji itu seolah runtuh ketika aku tahu dibalik senyumannya, ada nama lain yang ia sembunyikan. Nama yang sama-sama ia panggil dengan "cinta."
Yang lebih menyakitkan, nama itu bukan orang asing. Melainkan seorang sahabat yang selalu duduk di sampingku, orang yang selalu kubagi cerita tentangku dan Alex. Aku tak pernah menyangka bahwa semua tawa dan candaan di depanku, ternyata menyimpan rahasia yang sangat menghancurkan diriku. Teganya ia merebut kebahagiaan yang ku bangun dengan cinta dan rasa percaya.
"Aku tahu kau membenciku." Suaranya parau. "Tapi aku tak bisa berhenti mencintai mu."
Aku tertawa getir. "Cinta? Kau bilang luka ini sebuah cinta? Kau hancurkan aku, kau biarkan aku percaya dengan janji-janji yang bahkan tak pernah kau niatkan untuk ditepati."
"Aku tak pernah berniat untuk jatuh hati padanya." Bisiknya sambil mengusap pelipisnya dengan kasar. "Tapi...setiap kali kita bertengkar, dia selalu ada untukku, saat aku merasa kau mulai menjauh dariku."
Dia melangkah maju dan mendekat. Aku ingin mundur dan menjauh darinya, tapi kakiku terasa kaku, sepertinya separuh jiwaku masih merindukan dirinya. Itulah bagian tergelap hidupku, aku tahu ia salah, tapi hatiku tidak pernah bisa berhenti mencarinya.
Ia tersungkur di bawah kakiku sambil menangis. "Kalau aku bisa menebus semua kesalahanku padamu dengan nyawa, aku rela." Katanya, bibirnya bergetar seolah tak kuat ingin melanjutkan kata-kata dari mulutnya "...Asal kau mau tinggal."
Aku menutup mataku, menahan air mata yang sudah mulai berjatuhan membasahi pipiku. Ingatan tentang semua ini mulai menamparku. Ketika ia menggenggam tangan wanita lain dan mencium keningnya. Yang seharusnya semua perhatian itu diberikan padaku, kini ia bagi untuk seorang wanita yang sangat aku percaya, sahabatku sendiri. Sejak itu, semua rasa cintaku berubah menjadi luka.
"Cinta ini terlalu gelap dan terlalu banyak luka." Bisikku lirih. "Kita tidak lagi saling menyembuhkan, kita saling menghancurkan." Kata-kata itu menghunus hatiku. Terasa berat untuk ku ucapkan, tapi sudah cukup untuk semua penderitaan dan rasa sakit ini.
"Apa ini akhir?" Tanyanya.
"Tidak ada akhir untuk sesuatu yang sudah mati sejak lama, aku tak pernah membencimu, tapi aku lebih mencintai diriku sendiri." Aku tersenyum pahit, menggenggam tanganku sendiri dan berusaha untuk tidak meraih tangannya.
Aku berbalik dan berlari pergi meninggalkannya. Setiap langkah ku terasa berat, seolah ada belenggu yang menarik kakiku untuk kembali padanya. Tapi aku terus berlari, pergi dan tenggelam dalam air mata di bawah hujan. Aku tahu, aku tak bisa lagi mencintainya dengan terus menyakiti diriku sendiri. Dan untuk pertama kalinya, aku memilih mencintai diriku.
Di balik luka ini, memamg ada namanya. Tapi, malam itu aku belajar untuk melupakan semuanya. Namanya sudah tak pantas melekat dihatiku.
Aku tersadar dari lamunanku, aku sudah tenggelam dalam pikiran yang terus menghantuiku. Hujan masih deras, hawa dingin menusuk tulang ku. Aku terduduk disana. Meratapi semua yang telah berlalu dan terasa menyakitkan itu. Aku sangat ingin memulai lembar baru di hidupku. Sederhana saja, memiliki sosok yang setia dan selalu ada untukku, menikah, memiliki buah hati, dan hidup bahagia hingga ajal menjemput kami. Entah kemana hayalan ku ini, lucu sekali, seperti kisah putri dan pangeran yang saling jatuh cinta dan kemudian bahagia.