Semuanya berawal dari satu pandangan sederhana. Bukan sesuatu yang istimewa bagi orang lain, tetapi cukup membuat hatiku memilihnya diam-diam.
Sejak hari itu aku sering mencuri pandang. Sesekali aku berharap mataku bertemu dengan matanya, walaupun hanya untuk sekian detik. Namun setiap kali aku menatapnya, ia selalu mengalihkan pandangannya. Entah memang tak menyadarinya atau sengaja menghindar. Aku tidak ingin berpikir buruk, mungkin saja karena ia tidak mengenalku.
Aku terus menyimpan rasa itu sendirian.
Sampai suatu hari, kakakku berkata bahwa dia punya seorang pria yang begitu mencintainya. Rasa penasaranku yang terlalu besar, membuatku terus mendesaknya untuk mengatakan siapa pria itu. Begitu kutanya, ia selalu menolak menjawab. Aku mulai menebak satu persatu pria yang kutahu. Anehnya, tebakan pertama ku adalah pria itu, ya, dirinya.
"Apa dia?" Tanyaku.
"Bukan." Kakak menggeleng cepat.
Bodohnya aku percaya.
Sampai pada akhirnya ia bertanya padaku, "Sebenarnya siapa yang kamu suka?"
Aku tersenyum meski pipiku sudah merah karena malu. Aku menjawab, "Dia, yang setiap hari selalu ku curi pandangannya, tapi tidak pernah menatap ke arahku."
Kakakku terdiam. Dalam keheningan, dunia terasa berputar. Seperti kecanggungan yang luar biasa.
Ternyata pria yang kusukai sejak pandangan pertama adalah... pacarnya.
Saat itu aku baru mengerti, kenapa ia tidak pernah membalas tatapanku. Bukan karena aku tidak cukup menarik. Bukan juga karena aku membuat sebuah kesalahan. Tapi ia hanya sedang menjaga hatinya untuk tetap setia pada orang yang dicintainya.
Dan orang itu adalah kakakku.
Tidak ada kata yang mampu menggambarkan perasaanku saat itu. Rasanya seperti menggenggam bunga yang belum sempat mekar dan layu di tanganku sendiri.
Yang paling menyakitkan bukan karena aku ditolak. Tapi bagaimana aku melihat kebersamaan mereka setiap hari.
Melihat mereka berjalan berdampingan. Melihat tawa yang terdengar penuh kebahagiaan. Mata yang saling memandang dan dipenuhi cahaya cinta.
Aku ikut bahagia untuk mereka.
Tetapi disaat yang sama, ada bagian di hatiku kecilku yang mulai menangis diam-diam.
Aku tidak bisa membenci siapapun.
Bukan salah karena ia mencintai kakakku. Bukan juga salah karena kakakku dicintai olehnya. Dan bukan salah karena perasaan ini datang tanpa izin.
Aku hanya terlalu terlambat.
Terlambat untuk memiliki kesempatan. Terlambat untuk lebih dulu mengenalnya. Dan terlambat sebelum semuanya menjadi milik orang lain.
Maka aku memilih menyimpan rahasia cinta yang terlambat ini jauh di lubuk hatiku. Aku tak pernah membahasnya lagi. Aku juga tak pernah mengatakan apapun tentang cinta. Bukan karena cinta hilang begitu saja, melainkan karena ada cinta yang ditakdirkan untuk tidak saling memiliki.
Mungkin suatu hari nanti aku akan mengenang cinta ini tanpa air mata. Mengenang bagaimana aku pernah mencintai seseorang hanya dari satu pandangan, lalu lenyap oleh pandangan itu sendiri. Dan belajar bahwa tidak semua perasaan harus memiliki.
Ada cinta yang hanya tugasnya untuk merelakan... bukan untuk memiliki.
Dan mungkin... inilah cintaku.