Di puncak menara Shenglong, jauh di atas langit. Istana Kaisar Naga berdiri menjulang, atap emasnya memantulkan sinar kilat seperti sisik yang menyilaukan. Menguasai sembilan benua dan empat laut. Di dalam aula emas Tianming, Kaisar Langit Long Tingfeng duduk di singgasananya. Jubah emas yang menyilaukan mata menyelimuti tubuhnya. Enam bintang berbaris di cakrawala, tetapi satu diantaranya berwarna merah darah. Suara petir menggema di luar Istana dan tinta emas di batu giok menuliskan sendiri ramalannya.
"Enam naga akan lahir dari satu darah, membawa kekuatan yang tak tertandingi. Namun, pada tahun ke-21, mereka akan saling menghunus pedang. Hanya satu yang akan naik menjadi Kaisar Langit."
Ramalan itu dibawa kepada Kaisar Tingfeng, penguasa Istana Langit. Ia mengambil nafas dan dengan lantang berkata:
"Jika takdir berkata demikian...biarlah dunia menjadi saksi."
Enam naga lahir dalam satu malam, murka badai petir menggema. Langit bergetar hebat, setiap kelahiran membawa tanda-tanda berbeda.
Long Feiying, mata setajam elang, lahir di bawah cahaya kilat, mendatangkan keberanian dan kelincahan tak tertandingi.
Long Yaoming, cahaya emas memancar dari tubuhnya, melambangkan kebijaksanaan dan kepemimpinan.
Long Zhenhao, saat lahir guntur menyambar-nyambar, kelak menjadi pemimpin yang ditakuti.
Long Beiming, dingin seperti Samudra Utara, penuh rahasia dan misterius.
Long Mingliao, api membara mengelilinginya, takdirnya membawa penyelamatan.
Long Chuhan, tatapannya teduh, namun mampu menembus hati orang.
Kaisar membesarkan keenam putranya dengan tangan besi tetapi dengan hati yang lembut. Tepat tahun ke-21, tibalah waktunya akan digenapi ramalan tersebut. Kaisar memanggil keenam putranya yang sulung hingga yang bungsu. Memerintahkan mereka turun ke dunia untuk mencari yang terkuat sebagai pengganti Kaisar Langit.
"Takhta Kerajaan Langit tak bisa dipegang oleh enam orang. Buktikan siapa diantara kalian yang layak. Tiga tahun dari sekarang, kalian akan diuji di medan tempur yang fana, tapi ingat bagaimanapun kalian adalah saudara."
Mereka diutus pergi ke dunia, masing-masing membangun kekuatannya. Feiying menjadi panglima perang di daerah Selatan, Yaoming menjadi penasihat tertinggi Kerajaan manusia di daerah Barat, Zhenhao membangun kota demi kota dengan kekuatan militer di daerah Timur, Beiming menguasai armada laut raksasa di daerah Utara, Mingliao menguasai kota dengan pasukan api di daerah Tenggara, dan Chuhan mempersatukan kerajaan dengan memulai perjanjian damai, ia mengabdi di sebuah rumah Buddha di pemukiman desa Yang.
Satu tahun sudah berlalu, akhirnya Yaoming, Zhenhao, dan Mingliao bertemu. Awalnya pertemuan itu menjadi perbincangan hangat. Namun mulai muncul ketegangan diantara mereka ketika mereka saling memperdebatkan siapa yang paling layak memimpin. Sementara itu, Beiming mengirim surat pada adik bungsunya, Chuhan. Memperingatkan bahwa seseorang telah menjadi pengkhianat diantara mereka.
Namun pertempuran pertama antar saudara pecah di Gunung Hualong. Awalnya Mingliao ingin membakar markas pemberontak yang sudah menyerah, demi mengirim pesan ketakutan pada mereka. Namun, Beiming menentang, mengatakan darah orang tak bersalah tidak boleh tumpah. Pertengkaran itu berubah menjadi duel hebat api melawan air. Akhirnya, Yaoming berusaha menghentikan keduanya, tapi hubungan mereka retak.
Feiying mengirim pesan kepada Beiming untuk membantunya merebut kembali laut Selatan yang telah direbut musuh. Pertempuran hebat antara armada laut Utara dengan pemberontak laut Selatan pecah. Pertempuran berhasil dimenangkan dua kakak beradik itu. Tapi, Feiying mulai curiga bahwa salah satu diantara mereka merupakan dalang dibalik pertempuran itu.
Feiying mencari bukti-bukti kuat, dan bukti itu mengarah pada kenyataan yang mengejutkan: pengkhianat itu adalah Zhenhao. Namun, sebelum mengungkap kebenaran itu, ia diserang oleh pembunuh misterius dan terluka parah. Sebelum tak sadarkan diri, ia sempat berpesan pada Yaoming "Jangan percaya siapapun..."
Yaoming kembali ke Barat untuk mencari jawaban. Namun, mendapatkan pasukan Zhenhao sudah mengepung Istana Barat. Zhenhao mengumumkan diri sebagai "Penguasa Takhta" dan meminta Yaoming untuk turun dari tahtanya sebagai pemimpin di sana. Tentu hal itu ditolak keras oleh Yaoming, ia tak mungkin memberikan tahtanya begitu saja pada adiknya itu. Apalagi mengingat pesan dari kakaknya, Feiying. Pertempuran antar saudara pun pecah di depan rakyat.
Demikian hubungan keenam bersaudara itu menjadi renggang. Sejak itu tak ada lagi yang menyebut mereka "Enam Naga Bersaudara". Dunia mengenal mereka dengan julukan baru "Enam Raja Perang Langit".
Chuhan yang tinggal jauh di pemukiman mendapat surat dari Beiming. Surat itu singkat.
"Ketika naga melawan naga, maka dunia akan hancur. Jika benar ingin berdamai, maka peganglah ucapanku, itu mustahil."
Chuhan membaca surat itu. Ia berdoa di depan patung Buddha, tetapi ia tahu doa saja tak akan bisa menghentikan murka saudara-saudaranya.
Kini Zhenhao menyatakan dirinya sebagai "Naga Penguasa Takhta Timur". Dia membangun aliansi dengan Mingliao, memperbudak rakyat dengan kejam. Rakyat menjadi sengsara dan berkeluh kesah.
Yaoming mengunjungi Feiying yang masih terluka dan terbaring di Kerajaan Selatan. Ia berkat kepada Feiying:
"Jika aku melawan dengan kekerasan, maka aku tak ada bedanya dengan mereka. Aku harus menemukan jalan untuk mendamaikan hati mereka."
Tetapi, Feiying tertawa getir sambil menghela nafas berat.
"Yaoming...kata-kata tak akan menghentikan pedang."
Di Utara, Beiming berusaha menahan gempuran dari armada Zhenhao dan Mingliao. Laut Utara menjadi merah, ternoda oleh darah ribuan prajurit. Ia yang paling enggan berperang, apalagi perang saudara. Namun, kini ia yang paling keras bertahan, agar dunia tidak jatuh dalam keserakahan Zhenhao. Bahkan Mingliao sudah seperti boneka, yang dikendalikan dengan paksa.
"Jika aku tak melawan, dunia akan runtuh. Tapi jika melawan, aku akan melawan saudara ku sendiri. Dewa laut, tunjukkan jalanku." Pekik Beiming sambil menatap bulan, malam itu. Namun jawaban yang ia terima hanyalah suara ombak yang menghantam karang.
Kenyataan terungkap, Zhenhao lah pengkhianat dan pemberontak. Maju tak mudah tapi mundur pun sudah tak mungkin. Malam berikutnya, langit berubah menjadi merah darah, pertempuran hebat pecah antar keenam saudara itu. Itu akan menjadi malam terakhir mereka berkumpul. Semua saling menghunus pedang, dunia dipenuhi ketakutan oleh petir yang menyambar dan api yang membara. Feiying roboh lebih dahulu, matanya terpejam dan kegagahan bilang daripadanya. Mingliao terbakar oleh apinya sendiri, menyisakan abu yang kini bercampur dengan tanah. Beiming mengorbankan dirinya untuk menahan serangan Zhenhao, ia tenggelam bersama armada lautnya, terkubur dalam-dalam di lautan.
Kini tinggal Zhenhao, Yaoming, dan Chuhan. Dunia telah hancur, dengan lantang Zhenhao berteriak:
"Takhta ini milikku, aku telah dilahirkan untuk menjadi Kaisar Langit."
Yaoming mengangkat pedangnya, cahaya emas menyilaukan dunia.
"Takhta ini bukan milikmu, bukan milikku, tetapi milik dunia! Jika darahku harus tumpah sebagai penebusan, maka biarlah begitu!"
Benturan terakhir mengguncang sembilan benua. Saat cahaya mereda, Zhenhao tergeletak di tanah sudah tak bernyawa. Yaoming masih berdiri tegak walaupun badannya sudah berlumuran darah. Chuhan yang melihat itu langsung bersujud hingga dahinya menyentuh tanah. Ia memukul dada dan menangis sekeras-kerasnya. Tinggallah dua kakak beradik itu, dunia menjadi kacau dan hancur setelah pertempuran hebat itu.
Setelah kejadian itu, Chuhan memutuskan kembali ke rumah Buddha dan menjadi biksu untuk membantu rakyat desa. Sebelum kembali ke Istana Langit, Yaoming berpesan kepada Chuhan agar menjaga diri baik-baik.
"Hei adik, kembalilah ke Istana Langit kapanpun kau mau, pintu rumah kita selalu terbuka untukmu." Kata Yaoming sambil melambaikan tangannya dan kembali ke Istana Langit.
Yaoming kembali, namun ia tidak duduk di takhta emas. Ia mengenakan jubah putih, dan memerintah sebagai kaisar yang bijak, yang memimpin bukan dengan pedang, melainkan dengan hati. Di malam ia berdiri di menara Istana, melihat enam bintang yang dulu berbaris, kini hanya satu yang paling terang.