Alana dan Raka adalah sepasang suami istri yang baru enam bulan mengikat janji suci. Empat bulan masa ta'aruf telah membuat keduanya yakin melangkah ke jenjang pernikahan. Setidaknya, itulah yang mereka yakini saat itu.
Alana pernah membayangkan rumah tangganya akan dipenuhi ketenangan. Ia mendambakan seorang imam yang menggandeng tangannya menuju surga, mengingatkan ketika lalai, serta bersama-sama bertumbuh dalam ketaatan kepada Allah.
Namun, waktu perlahan membuka tabir kenyataan. Lelaki yang ia harapkan menjadi penuntunnya justru mulai menghadirkan luka yang tak pernah ia bayangkan.
Suatu sore, saat mereka sedang dalam perjalanan pulang, lampu lalu lintas berubah merah.
Seorang nenek menghampiri mobil mereka sambil membawa beberapa bungkus tisu.
"Nak, beli tisunya, Nak. Buat makan cucu di rumah."
Alana menatap wajah renta itu dengan iba.
"Mas, boleh kita beli beberapa? Kasihan sekali."
Raka menoleh sekilas ke arah nenek itu.
"Ya sudah."
Ia membuka dompet, mengambil beberapa lembar uang, lalu menyerahkannya kepada sang nenek.
"Wah, terima kasih, Nak. Semoga Allah membalas kebaikanmu."
Mobil kembali melaju.
Alana tersenyum.
"Semoga menjadi amal jariyah ya, Mas."
Raka hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa.
Dalam hati, Alana bersyukur. Setidaknya, suaminya masih memiliki kepedulian kepada orang lain.
Menjelang Magrib, azan berkumandang memenuhi rumah.
Alana segera mengambil wudu, lalu membentangkan sajadah.
"Mas, salat berjamaah, yuk."
Raka yang masih menatap layar laptop menjawab tanpa mengalihkan pandangan.
"Nanti saja."
"Mas, sebentar lagi waktunya habis."
"Iya... tunggu lima menit."
Lima menit berubah menjadi tiga puluh menit.
Ketika Raka akhirnya berdiri mengambil air wudu, waktu Magrib hampir berakhir.
Alana memandang suaminya dalam diam.
Bukan karena Raka tidak salat.
Melainkan karena ia melihat bagaimana urusan dunia berkali-kali didahulukan daripada panggilan Rabb-nya.
Di situlah Alana mulai menyadari, seseorang bisa tampak menjaga ibadahnya, tetapi belum tentu membiarkan ibadah itu mengubah akhlaknya.
Malam itu hujan turun perlahan, membasahi halaman rumah yang masih tampak baru mereka tempati setelah menikah.
Alana berdiri di depan jendela sambil memandang butiran air yang mengalir di kaca. Di tangannya tergenggam dua cangkir cokelat hangat. Aroma manisnya memenuhi ruangan, tetapi rumah itu tetap terasa sunyi.
"Mas, cokelat hangatnya nanti keburu dingin," panggil Alana lembut.
Raka yang masih duduk di depan laptop hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan.
"Iya."
Jawaban itu kembali menjadi satu-satunya percakapan mereka malam itu.
Alana menarik kursi di samping suaminya.
"Aku boleh menemani Mas bekerja?"
"Terserah."
Alana tersenyum tipis. Ia membuka mushaf kecil yang selalu dibawanya. Sesekali matanya membaca ayat-ayat Al-Qur'an, sesekali ia menatap wajah suaminya yang tampak begitu sibuk.
Di sela-sela kesibukan itu, Alana diam-diam memperhatikan beberapa helai rambut Raka yang mulai berantakan, wajahnya yang terlihat lelah, dan jemarinya yang terus menari di atas papan ketik.
Dalam hati ia berdoa.
"Ya Allah, jika kelelahan sedang memenuhi hati suamiku, lapangkanlah dadanya. Jangan biarkan dunia membuatnya lupa kepada-Mu."
Beberapa menit kemudian, Raka menutup laptopnya.
"Akhirnya selesai juga."
Alana tersenyum cerah.
"Alhamdulillah."
Ia mendorong cangkir cokelat hangat ke arah suaminya.
"Aku diminum dulu Mas."
Raka menyesapnya sekilas.
"Manis."
"Sengaja. Kata orang, yang manis bisa mengusir lelah."
Raka hanya mengangguk pelan.
Tak ada pujian.
Tak ada ucapan terima kasih.
Namun, Alana tetap tersenyum.
Ia meyakini bahwa setiap kebaikan yang dilakukan kepada pasangan adalah ibadah, meskipun terkadang tidak selalu dibalas dengan kata-kata.
Malam semakin larut.
Sebelum tidur, Alana kembali mengangkat kedua tangannya.
Ia tidak meminta rumah yang mewah.
Ia tidak meminta kehidupan yang serba mudah.
Ia hanya meminta satu hal.
"Ya Allah, tumbuhkanlah cinta kami karena-Mu. Jangan biarkan kesibukan dunia mengambil tempat yang seharusnya hanya menjadi milik-Mu."
Saat itu Alana belum mengetahui bahwa doa-doa yang dipanjatkannya setiap malam kelak akan menjadi penguat ketika rumah tangga yang begitu ia perjuangkan mulai kehilangan arah.
***
"Cepat sedikit, bisa? Mas sudah terlambat!" seru Raka dari ruang tamu sambil merapikan jas kerjanya.
"Iya, Mas. Sebentar lagi selesai," jawab Alana lembut.
Tangannya masih sibuk menata makan siang ke dalam kotak bekal. Ia memastikan semua tersusun rapi, seperti usahanya setiap hari untuk membahagiakan suaminya melalui hal-hal sederhana.
"Mas berangkat."
Suara itu terdengar datar, tanpa senyum, tanpa tatapan.
Alana hanya mengangguk pelan.
"Semoga Allah menjaga setiap langkahmu, melancarkan rezekimu, dan memudahkan segala urusanmu," lirihnya dalam hati, memandangi mobil yang perlahan meninggalkan halaman rumah.
Setelah Raka berangkat, Alana kembali pada rutinitasnya. Ia membersihkan rumah, mencuci pakaian, lalu menyiapkan makan malam. Ketika azan zuhur berkumandang, ia menunaikan salat sebelum mengikuti kelas tahsin secara daring untuk memperbaiki bacaan Al-Qur'annya.
Hari-harinya nyaris tak pernah diiringi musik. Sebagai gantinya, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an memenuhi setiap sudut rumah, menghadirkan ketenangan yang hanya mampu ia rasakan saat mengingat Allah.
Waktu berlalu begitu cepat. Cahaya matahari mulai meredup, berganti semburat jingga yang menghiasi langit senja.
Alana berdiri di depan cermin.
"Apakah penampilanku sudah cukup baik?" gumamnya pelan.
Ia ingin menyambut kepulangan suaminya dengan penampilan terbaik, berharap lelah yang dibawa Raka dari tempat kerja dapat sedikit terobati.
Beberapa menit kemudian, suara mesin mobil terdengar memasuki halaman.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, Mas," jawab Alana sambil menyambutnya dengan senyum hangat.
Tatapan Raka berhenti pada penampilan istrinya. Untuk sesaat, ekspresi wajahnya berubah.
"Apa yang kamu pakai?" tanyanya, sedikit terkejut.
Alana hanya tersenyum malu.
Malam itu mereka menghabiskan waktu bersama sebagai pasangan suami istri, sementara Alana berharap kebersamaan itu mampu menghangatkan kembali rumah tangga yang mulai terasa asing baginya.
"Bagaimana pekerjaan Mas hari ini? Berjalan lancar?" tanya Alana sembari menyuguhkan secangkir teh hangat.
"Lancar." Raka menjawab singkat. Ia meneguk tehnya sekilas, lalu berkata, "Oh ya, Mas lupa memberi tahu. Lusa Mas harus ke Bali selama tiga hari. Ada proyek baru yang perlu dikembangkan."
Alana mengangguk pelan.
"Baik, Mas. Semoga semuanya dimudahkan Allah."
Tak ada penolakan ataupun keluhan. Sejak awal menikah, Alana memahami bahwa suaminya adalah sosok yang mencintai pekerjaannya.
Sebagai pengusaha di bidang food and beverage yang memiliki beberapa cabang di berbagai kota di Indonesia, Raka dikenal sebagai pribadi yang disiplin dan profesional. Ketekunan itulah yang mengantarkannya pada kesuksesan di usia yang masih relatif muda.
Namun, semakin tinggi karier Raka menjulang, semakin jauh pula jarak yang perlahan terbentang di antara mereka.
Rumah itu terasa begitu sunyi.
Alana menyandarkan tubuhnya di kursi ruang keluarga. Tatapannya berkeliling menyusuri setiap sudut rumah yang megah, tetapi entah mengapa semuanya tampak begitu kosong.
"Mas sedang apa, ya?" gumamnya lirih.
Sejak pagi, tak satu pun kabar ia terima. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Raka, tetapi ponselnya tidak aktif.
"Kuharap Mas baik-baik saja."
Belum lama doa itu terucap dalam hati, layar ponselnya menyala. Nama Raka muncul di sana.
Senyum Alana mengembang.
"Halo, Mas."
"Maaf, Mas baru sempat menghubungimu. Dari pagi jadwal Mas padat sekali," ujar Raka dari seberang telepon.
"Iya, Mas. Tidak apa-apa. Aku hanya khawatir."
"Ya sudah, Mas tutup dulu."
Belum sempat Alana mengatakan apa pun, sambungan telepon telah terputus.
Ia menatap layar ponselnya yang kembali gelap.
Senyum yang sempat terbit perlahan memudar.
"Bahkan... Mas tidak sempat bertanya bagaimana keadaanku."
Alana menarik napas panjang.
"Apakah beginikah rasanya menjalani pernikahan?"
"Mengapa selama enam bulan ini aku merasa hanya aku yang sibuk membangun istana yang kuimpikan? Sementara orang yang seharusnya membantuku justru perlahan meruntuhkan setiap batu yang kususun."
Perhatian yang ia dambakan tak pernah benar-benar hadir.
Ketika tubuhnya demam, Raka hanya meninggalkan pesan singkat agar ia beristirahat. Saat jemarinya terluka karena memasak, tak ada tangan yang menggenggamnya atau sekadar bertanya apakah lukanya masih terasa sakit.
Sering kali Alana merasa keberadaannya hanya dicari ketika Raka ingin memenuhi kebutuhan biologisnya sebagai suami.
Selebihnya, ia hanyalah penghuni lain di rumah yang sama.
Dan perlahan, Alana mulai menyadari satu hal yang paling menyakitkan.
Luka dalam pernikahan tidak selalu lahir dari bentakan atau pengkhianatan.
Terkadang, luka tumbuh dari perasaan diabaikan... oleh seseorang yang dahulu berjanji akan menemani seumur hidup.
***
Tiga hari berlalu begitu cepat.
Hari itu, Raka dijadwalkan pulang dari Bali.
Sejak siang, Alana telah menyiapkan segala sesuatu. Ia memasak hidangan kesukaan suaminya, merapikan rumah, lalu mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki. Di depan cermin, ia memaksakan sebuah senyum.
"Semoga kepulangan Mas kali ini membawa kehangatan," batinnya.
Namun, harapan itu runtuh hanya dalam hitungan detik.
Ponselnya bergetar.
Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan pesan disertai satu foto.
Jemari Alana bergetar saat membukanya.
Di sana, Raka tampak merangkul dua perempuan berpakaian terbuka. Wajah mereka dipenuhi tawa, sementara tangan Raka menggenggam gelas minuman.
Di bawah foto itu hanya tertulis satu kalimat singkat.
Kami sangat bersenang-senang.
"N-Na'udzubillah..."
Suara Alana nyaris tak terdengar.
Dadanya terasa sesak. Pandangannya mengabur. Kakinya kehilangan tenaga hingga tubuhnya terduduk lemas di lantai.
Air mata mengalir tanpa mampu ia bendung.
Belum sempat ia menenangkan diri, suara bel rumah berbunyi.
Disusul suara yang begitu dikenalnya.
"Alana!"
Dengan sisa tenaga yang ada, Alana mengusap air matanya.
"Aku harus kuat."
Sejak awal menikah, Raka selalu menginginkan dirinya menjadi istri yang tersenyum, patuh, dan tidak pernah membantah.
"I-iya, Mas."
Pintu perlahan terbuka.
"Kamu sedang apa? Lama sekali membuka pintu!" bentak Raka.
Alana menatap wajah suaminya lekat-lekat.
Tatapan yang selama ini penuh kekaguman kini dipenuhi kekecewaan.
"Bukankah seharusnya aku yang bertanya, Mas?" ucapnya lirih. "Apa yang Mas lakukan di Bali?"
Raka mengernyit.
Alana mengangkat ponselnya, memperlihatkan satu foto yang baru saja ia terima.
Wajah Raka seketika berubah pucat.
"Dari mana kamu mendapatkan foto itu?"
Alana menahan air matanya.
"Siapa mereka, Mas?" suaranya bergetar. "Apa hubungan Mas dengan dua perempuan itu? Tolong... jujur."
Raka mengembuskan napas kasar.
"Itu bukan urusanmu!"
Suara Raka meninggi.
"Ingat, Alana! Aku suamimu. Tugasmu hanya taat. Surga dan nerakamu bergantung pada keridaanku!"
Alana menggeleng perlahan.
"Mas..." air matanya kembali jatuh. "Islam tidak pernah mengajarkan seorang suami menyakiti istrinya."
"Aku pemimpin rumah tangga ini!" bentak Raka. "Bukankah Islam juga membolehkan laki-laki menikahi sampai empat perempuan?"
"Poligami memang dibolehkan," jawab Alana dengan suara yang tetap tenang. "Tetapi yang Mas lakukan bukan poligami. Ini adalah pengkhianatan."
Ia menatap suaminya dengan mata yang dipenuhi luka.
"Ke mana ilmu yang dahulu Mas pelajari di pesantren? Mengapa yang Mas ambil hanya dalil yang menguntungkan diri sendiri, sementara kewajiban untuk berlaku amanah justru Mas tinggalkan?"
"Plak!"
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Alana.
Kepalanya terhuyung ke samping.
"Kurang ajar!" bentak Raka. "Berani sekali kamu menggurui suamimu!"
Keheningan memenuhi ruangan.
Hanya suara napas Alana yang terdengar tidak beraturan.
Raka menatap istrinya dengan rahang mengeras.
"Mulai hari ini..." katanya dingin.
"Aku ceraikan kamu."
Kalimat itu sederhana.
Namun, bagi Alana, rasanya seperti menghancurkan seluruh dunia yang selama ini ia bangun dengan doa-doa panjang setiap malam.
Ia tak lagi mampu berkata apa-apa.
Air matanya terus mengalir.
Hari itu, bukan hanya rumah tangganya yang runtuh.
Harapan yang selama ini ia rajut tentang seorang imam yang akan menggandengnya menuju surga, ikut hancur bersamanya.
***
Hari-hari setelah perceraian menjadi ujian yang tidak pernah dibayangkan Alana.
Ia kembali tinggal di rumah kedua orang tuanya. Kamar yang dulu ia tinggalkan dengan membawa begitu banyak harapan kini menjadi tempat ia menumpahkan seluruh air mata.
Setiap bangun tidur, butuh waktu beberapa menit baginya untuk mengingat bahwa semua telah berakhir.
Tak ada lagi suara langkah kaki Raka.
Tak ada lagi bekal makan siang yang harus ia siapkan.
Tak ada lagi pesan singkat yang ia tunggu sepanjang hari.
Yang tersisa hanyalah kenangan dan pertanyaan-pertanyaan yang belum menemukan jawaban.
Beberapa tetangga mulai berbisik ketika melihat Alana pulang tanpa suami.
"Baru juga menikah."
"Kasihan sekali."
"Mungkin istrinya yang kurang pandai melayani suami."
Kalimat-kalimat itu terdengar pelan, tetapi cukup tajam untuk menusuk hati.
Sesampainya di kamar, Alana memeluk mukenanya erat.
Tangisnya kembali pecah.
"Ya Allah... mengapa rasanya begitu berat?"
Ada hari-hari ketika ia tidak sanggup memasak.
Ada hari-hari ketika ia kehilangan selera makan.
Bahkan mushaf yang biasanya selalu menemaninya kini hanya tergeletak di atas meja. Bukan karena ia menjauh dari Al-Qur'an, melainkan karena setiap kali membaca ayat-ayat-Nya, air matanya selalu jatuh terlebih dahulu hingga bacaannya terhenti.
Suatu malam, Alana terbangun menjelang sepertiga malam.
Rumah masih sunyi.
Ia duduk di tepi ranjang sambil memandangi langit yang terlihat dari balik jendela.
"Ya Allah... kalau Engkau masih menghendaki aku menjadi hamba-Mu, jangan biarkan aku menjauh hanya karena kecewa kepada manusia."
Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya.
Untuk pertama kalinya sejak perceraian, Alana bangkit mengambil air wudu.
Salat malam itu dipenuhi isak tangis.
Ia tidak meminta agar Raka kembali.
Ia juga tidak meminta agar luka itu segera hilang.
Ia hanya memohon agar Allah tidak mencabut nikmat iman dari hatinya.
Malam demi malam berlalu.
Tangisnya memang belum berhenti.
Namun, setiap selesai tahajud, dadanya terasa sedikit lebih lapang dibandingkan hari sebelumnya.
Perlahan ia mulai kembali menghadiri majelis ilmu, melanjutkan kelas tahsin yang sempat terhenti, serta mengisi hari-harinya dengan membaca Al-Qur'an meskipun hanya beberapa ayat setiap selesai salat.
Ia menyadari bahwa sembuh bukan berarti melupakan.
Sembuh adalah ketika luka itu masih ada, tetapi tidak lagi menjauhkan dirinya dari Allah.
Justru melalui luka itulah ia belajar bahwa tidak semua doa dikabulkan sesuai harapan, tetapi setiap takdir Allah selalu mengandung hikmah yang baru dipahami setelah seseorang mampu bersabar.
Dengan hati yang masih rapuh, Alana kemudian memberanikan diri menemui ustazah yang selama ini membimbingnya belajar Al-Qur'an.
Ia merasa membutuhkan seseorang yang dapat mengingatkannya kepada Allah ketika dirinya hampir kehilangan arah.
Begitu melihat Alana, sang ustazah langsung menggenggam kedua tangannya.
"Menangislah jika itu membuat hatimu lebih ringan."
Tangis Alana pecah.
Ia menceritakan semuanya tanpa menyisakan sedikit pun luka yang selama ini dipendam.
Setelah cukup lama mendengarkan, ustazah itu tersenyum lembut.
"Alana..."
"Jangan pernah menilai Allah dari perilaku hamba-Nya."
Alana terdiam.
"Kalau ada seseorang yang membawa ayat-ayat Allah untuk menyakiti orang lain, yang salah bukan firman Allah... melainkan cara manusia memahaminya."
Air mata kembali mengalir.
"Allah tidak pernah menyuruh seorang suami merendahkan istrinya."
"Allah juga tidak pernah meridai kezaliman."
"Dan percayalah... tidak semua kehilangan adalah hukuman."
"Kadang, itu adalah cara Allah menyelamatkan hamba-Nya."
Kalimat itu menembus relung hati Alana.
Sejak hari itu, ia kembali memperbaiki hubungannya dengan Allah.
Mengisi hari-harinya dengan Al-Qur'an.
Perlahan, luka yang dahulu terasa begitu dalam mulai berubah menjadi jalan yang membawanya semakin dekat kepada Rabb semesta alam.
Sebab, ibadah yang tidak melahirkan kasih sayang hanya akan menjadi rutinitas tanpa makna, sedangkan iman yang sejati akan selalu tampak dari cara seseorang memperlakukan sesamanya.
Luka itu memang tidak hilang dalam semalam.
Namun, setiap sujud yang panjang membuatnya mengerti bahwa tidak semua kehilangan adalah akhir dari kebahagiaan. Ada kehilangan yang justru menjadi jalan agar seorang hamba kembali menemukan Tuhannya.
Alana memang kehilangan Raka.
Namun, di balik kehilangan itu, ia menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga, kasih sayang Allah yang tak pernah meninggalkannya, bahkan ketika manusia memilih pergi.
Kini ia tak lagi sibuk mempertanyakan mengapa rumah tangganya harus retak. Sebab ia percaya, Allah tidak pernah menakdirkan sesuatu tanpa hikmah. Jika dahulu ia mencintai seseorang hingga hampir melupakan dirinya sendiri, kini ia belajar mencintai Allah di atas segala-galanya.
Sebab pada akhirnya, rumah yang paling kokoh bukanlah rumah yang tidak pernah diterpa badai, melainkan hati yang tetap beriman meski dunia di sekelilingnya runtuh.
Dan Alana telah menemukan rumah itu di dalam sujudnya kepada Allah.