"Emang kita bisa bersatu?"
Pertanyaan itu keluar pelan dari bibir Farah.
Adrian terdiam beberapa saat. Dadanya terasa sesak. Selama tiga tahun menjalin hubungan, baru kali ini Farah terdengar seragu itu.
Ia paham kenapa Farah bertanya seperti itu. Mereka saling mencintai, tetapi mereka juga sadar ada perbedaan yang sejak awal selalu menjadi penghalang.
Perbedaan agama.
"Pasti bisa, Rah," jawab Adrian mantap.
Farah menggeleng pelan.
"Gimana caranya? Kita beda agama, Adrian. Orang tua kita pasti gak bakal ngasih restu."
Ucapan itu membuat Adrian kehilangan kata-kata. Selama ini ia selalu percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya. Namun, untuk pertama kalinya, keyakinan itu mulai diuji.
"Aku yakin masih ada jalan. Selama kita sama-sama mau berjuang, pasti ada jalan keluarnya."
Farah tersenyum tipis. Senyum yang lebih terlihat seperti sedang menahan sedih.
"Gak semua perjuangan berakhir bahagia, Adrian. Ada yang harus berhenti bukan karena udah gak saling cinta... tapi karena keadaan."
Adrian menatap Farah dalam-dalam.
"Kalau kita menyerah sekarang, kita bahkan gak pernah tahu apakah jalan itu benar-benar buntu atau enggak."
Farah menundukkan kepalanya. Air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Aku capek berharap, Adrian. Aku takut... pada akhirnya kita cuma saling menyakiti."
Adrian mengembuskan napas panjang.
"Kalau nanti memang harus berakhir, biarin waktu yang memisahkan kita. Bukan karena kita berhenti berjuang sebelum semuanya benar-benar kita coba."
Farah tidak langsung menjawab.
Ia hanya menundukkan kepala. Jemarinya saling menggenggam erat, seolah sedang menahan sesuatu agar tidak jatuh. Namun, setetes air mata tetap lebih dulu membasahi punggung tangannya.
Malam itu begitu sunyi.
Hanya suara angin yang sesekali berembus, menemani dua orang yang sama-sama mencintai, tetapi sama-sama takut pada masa depan.
"Aku capek, Adrian..." ucap Farah lirih.
"Bukan capek sama kamu. Aku capek sama keadaan."
Adrian menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak.
"Kalau memang ada jalan, aku mau cari jalan itu, Rah."
Farah menggeleng.
"Kamu boleh kuat. Tapi aku juga harus mikirin orang tuaku. Mereka membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Aku gak sanggup kalau harus jadi alasan mereka kecewa."
Adrian terdiam.
Kalimat itu membuatnya sadar bahwa cinta bukan hanya tentang dua hati. Ada doa orang tua, ada keyakinan yang dipegang sejak lahir, dan ada harapan keluarga yang tidak bisa begitu saja diabaikan.
"Aku gak minta kamu milih aku," lanjut Farah dengan suara bergetar.
"Aku cuma... gak mau lihat kamu terus berharap pada sesuatu yang mungkin gak akan pernah terjadi."
Air mata Adrian akhirnya jatuh.
Untuk pertama kalinya selama mereka bersama, ia menangis di depan perempuan yang paling ia cintai.
"Jadi... ini akhirnya?" tanyanya pelan.
Farah menggigit bibirnya, berusaha menahan isak.
"Kalau kita terus bersama, kita cuma bakal makin sakit."
Suasana kembali hening.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada pertengkaran.
Yang ada hanyalah dua orang yang saling mencintai, tetapi tidak mampu melawan kenyataan.
Perlahan, Adrian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tasnya.
Farah menatap kotak itu dengan bingung.
"Aku sebenarnya mau ngasih ini pas ulang tahun hubungan kita bulan depan."
Kotak itu dibuka.
Di dalamnya terdapat sebuah cincin sederhana dari perak.
"Aku nabung hampir setahun buat beli ini."
Seketika, tangis Farah pecah.
Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha meredam suara tangis yang semakin keras.
"Kenapa... kenapa kamu baru nunjukin sekarang?" isaknya.
Adrian tersenyum tipis, meski matanya dipenuhi air mata.
"Karena aku pikir... kita bakal punya masa depan."
Farah memejamkan mata.
Kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada perpisahan itu sendiri.
Ia memberanikan diri melangkah mendekat.
Lalu memeluk Adrian untuk terakhir kalinya.
Pelukan itu begitu erat.
Seolah keduanya ingin menghentikan waktu agar malam tidak pernah berakhir.
"Aku sayang sama kamu, Adrian."
"Aku juga sayang sama kamu, Rah."
"Tapi..."
Farah melepaskan pelukannya perlahan.
"Kita cukup saling mencintai. Jangan saling memiliki."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Farah berbalik.
Ia melangkah pergi tanpa pernah menoleh lagi.
Adrian tetap berdiri di tempatnya.
Menggenggam cincin yang tidak pernah sempat melingkar di jari perempuan yang ia impikan menjadi pendamping hidupnya.
Malam semakin larut.
Lampu-lampu jalan mulai terlihat buram karena air mata yang memenuhi penglihatannya.
Baru malam itu Adrian mengerti...
Ternyata, perpisahan yang paling menyakitkan bukanlah ketika seseorang berhenti mencintai.
Melainkan ketika dua orang masih saling mencintai, tetapi memilih melepaskan karena tahu cinta saja tidak selalu cukup untuk mempersatukan mereka.
Beberapa bulan kemudian, Adrian tanpa sengaja melihat sebuah undangan pernikahan yang diunggah temannya di media sosial.
Nama mempelai perempuan yang tertulis di sana membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
Farah.
Tangannya bergetar.
Ia menatap layar ponselnya cukup lama.
Tidak ada air mata yang keluar.
Entah karena sudah habis, atau karena hatinya terlalu lelah untuk menangis lagi.
Malam itu Adrian membuka laci meja belajarnya.
Kotak cincin itu masih ada.
Masih utuh.
Masih tersimpan seperti hari ketika Farah meninggalkannya.
Ia tersenyum kecil.
Lalu berkata pelan, seolah Farah masih bisa mendengarnya.
"Semoga kamu benar-benar bahagia, Rah."
Setelah itu, Adrian menutup kotak cincin tersebut.
Bukan karena ia sudah melupakan Farah.
Melainkan karena akhirnya ia belajar...
bahwa mencintai seseorang juga berarti merelakan kebahagiaan yang tidak lagi bisa kita berikan.