Benarkah Biru Akan Selalu Menjadi Warna Laut?
20 Desember 2015
Sudah empat bulan berlalu sejak surat putih itu tiba. Surat yang berisi kabar bahwa kau telah memesan tiket menuju Balikpapan.
Namun, hingga detik ini, kau tak kunjung datang. Di mana sebenarnya engkau? Apakah untaian kata yang kau tulis di kertas itu hanyalah sebuah kebohongan?
Bukankah kau sudah berjanji, tempat pertama yang akan kau datangi ketika tiba di Balikpapan adalah rumah sakit? Tahukah engkau, betapa bahagianya aku saat membaca rencanamu untuk datang ke sini?
Kini, aku hanya bisa berdiri di atas bebatuan tepi pantai, mendengarkan deburan ombak yang menghantam karang. Sekelompok burung camar terbang berputar di atas kepalaku, mengiringi sunyi dengan kicauan yang tiada henti. Di bawah sana, sekawanan ikan berenang mendekat, seolah tahu aku sedang kesepian.
Setiap sore, aku selalu datang ke laut ini hanya untuk memandangi matahari yang perlahan tenggelam. Dalam diam, aku selalu berharap kau tiba-tiba muncul dari belakang, lalu memelukku erat.
Lima hari lagi Natal akan tiba, dan sebelas hari lagi tahun baru akan berganti. Aku sangat berharap bisa menghabiskan momen-momen itu bersamamu.
Tahukah engkau betapa hancurnya aku jika ternyata kedatanganmu hanyalah dusta? Air mataku selalu luruh setiap kali membaca ulang surat darimu. Dan di saat-saat rapuh seperti itu, laut adalah satu-satunya tempat pelarianku untuk menenangkan diri.
Aku mendadak rindu... Ingatkah engkau saat kita pertama kali bertemu di sebuah halte bus, ketika hujan deras sedang membasahi Jakarta? Ingatkah engkau saat aku memakan puding kesukaanmu tanpa izin? Atau, ingatkah engkau saat aku dengan sabar berusaha meredakan amarahmu yang meluap-luap?
Jika surat itu memang sebuah kebohongan, aku tidak peduli. Aku akan tetap menunggumu sampai kapan pun. Aku akan tetap meminta Ibu membeli puding kesukaanmu setiap kali beliau pergi ke pasar. Aku pun akan tetap mengingatkan Ayah agar tidak menyentuh puding yang kusimpan di dalam kulkas. Puding itu milikmu.
Kau akan selalu menjadi orang favoritku, sampai kapan pun. Perasaan ini tidak akan pernah berubah, layaknya laut yang selalu berwarna biru.
Sebab samudra tak akan pernah ingkar pada warnanya, dan laut... akan selalu berwarna biru.