Jarum jam sudah menunjuk ke angka sepuluh malam. Di luar, halaman depan rumah sudah basah diguyur hujan. Aku duduk sendirian di ruang tamu, menatap layar televisi yang menampilkan acara favoritku sembari menunggu Papa pulang.
Udara malam itu terasa sangat dingin. Hujan yang turun justru membuat suasana rumah menjadi begitu hening. Karena mulai merasa takut, aku sengaja mengeraskan volume televisi. Ya, malam ini kebetulan aku memang sedang sendirian di rumah.
Seharusnya Papa sudah tiba satu jam yang lalu. Namun, karena hujan mendadak deras, beliau sempat memberi kabar bahwa kepulangannya akan sedikit terlambat.
Satu jam, dua jam berlalu... Papa tak kunjung datang, dan hujan pun tak kunjung reda.
Acara favoritku sudah selesai. Karena tidak ada pilihan lain, aku memutuskan untuk membiarkan televisi menyala, menampilkan acara rohani yang kebetulan sedang tayang.
Baru saja aku mulai menyimak acara tersebut, suara petir tiba-tiba menggelegar dahsyat. Detik berikutnya, listrik padam. Gelap gulita. Suasana mendadak senyap total. Saking heningnya, aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berpacu cepat akibat terkejut.
Dengan panik, aku meraba-raba permukaan sofa untuk mencari ponsel demi menyalakan senter. Begitu jemariku menemukannya dan bersiap menekan tombol daya, listrik tiba-tiba menyala kembali. Bersamaan dengan pendar cahaya lampu yang kembali menerangi ruangan, suara ketukan pintu terdengar dari depan.
Mungkin itu Papa? pikirku. Namun, ada yang janggal. Pintu depan sengaja tidak kukunci karena aku berjaga di ruang tamu. Letak pintu utama itu pun sangat dekat, bahkan bisa langsung terlihat dari tempatku duduk.
Ketukan di luar terdengar semakin cepat dan tidak sabaran. Aku bergegas melangkah mendekat, berharap penuh bahwa sosok di balik pintu adalah Papa. Meski begitu, ada sejumput rasa takut yang perlahan merayap di dadaku setiap kali langkahku mendekati pintu.
Begitu pintu kubuka... ah, itu memang Papa. Syukurlah.
Melihat pakaian kantornya yang basah kuyup, aku langsung menyuruh Papa masuk dan memintanya segera menghangatkan diri di ruang tamu. Namun, Papa hanya diam. Beliau berjalan lurus begitu saja menuju kamarnya. Aku pikir, mungkin beliau ingin segera mengganti baju.
Aku pun bergegas ke dapur untuk membuatkan secangkir teh hangat dan menyiapkan sisa makanan tadi siang untuknya.
Setelah semuanya siap, aku berjalan menuju kamar Papa. Aku mengetuk pintunya perlahan sambil mengajaknya makan. Tidak ada jawaban. Aku mengetuknya sekali lagi, sedikit lebih keras, tetapi hasilnya tetap sama. Hening.
Rasa panik mulai merayap. Aku mencoba memutar knop pintu. Ternyata tidak dikunci. Ini aneh sekali. Papa adalah tipe orang yang selalu mengunci pintu dalam keadaan apa pun.
Seketika, rasa panik itu berubah menjadi ketakutan yang mencekam begitu pintu terbuka. Kamar itu kosong. Tidak ada siapa-siapa di dalam. Padahal aku sangat sangat yakin, aku tidak melihat Papa keluar dari kamar sejak tadi.
Belum sempat otakku mencerna apa yang sedang terjadi, sebuah bisikan pendek terdengar tepat di balik tengkukku:
"Selamat makan, anakku sayang."