Lara berdiri di teras rumah ibunya, memandangi langit senja yang mulai memerah. Angin sore berembus pelan, membawa aroma tanah basah yang selalu mengingatkannya pada kampung halaman.
Sudah beberapa bulan ia menjalani LDR dengan suaminya, Boy. Kepergiannya bukan karena ingin menjauh, melainkan untuk merawat sang ibu yang sudah lanjut usia. Setiap hari Boy menelepon. Pagi sebelum bekerja, siang saat istirahat, sore, malam, bahkan sebelum tidur mereka selalu melakukan video call.
"Aku kangen," ucap Boy setiap kali mengakhiri panggilan.
"Aku juga," jawab Lara sambil tersenyum.
Namun, ada kalanya telepon itu berakhir, rumah kembali sunyi, dan Lara harus menghadapi kesepian seorang diri.
Di saat itulah Panda hadir.
Awalnya hanya sebuah pesan sederhana.
"Lagi apa?"
Lara membalas.
Percakapan itu berlanjut setiap hari. Panda selalu tahu cara membuat Lara tersenyum. Ia memuji tawanya, menanyakan kabarnya, bahkan mengingatkan agar jangan terlalu lelah merawat ibunya.
Perhatian itu membuat hati Lara hangat.
Tetapi ada satu hal yang selalu mengganjal.
Setiap selesai mengobrol, Panda berkata, "Hapus chat kita ya."
Lara menurut.
Semakin lama, kata-kata itu semakin membuat dadanya sesak.
Mengapa sesuatu yang indah harus selalu disembunyikan?
Suatu malam Panda mengirim pesan.
"Aku ingin bertemu."
Jantung Lara berdebar.
Jarinya berkali-kali mengetik balasan lalu menghapusnya.
Di saat yang sama, ponselnya berdering.
Video call dari Boy.
Di layar, wajah suaminya tersenyum lebar.
"Hari ini capek?"
Lara menggeleng.
Boy bercerita tentang pekerjaannya, tentang rumah mereka yang terasa sepi tanpa Lara.
"Aku hitung hari, Lar. Nanti kalau kamu pulang, kita makan di tempat favoritmu."
Mata Lara mulai berkaca-kaca.
Telepon itu berakhir.
Lara memandangi pesan Panda yang belum ia balas.
Entah mengapa, untuk pertama kalinya ia merasa bersalah.
Belum selesai dengan pergulatan hatinya, takdir mempertemukannya dengan Sammy.
Cinta pertamanya.
Mereka pernah saling mencintai saat berusia sembilan belas tahun. Namun, waktu memisahkan mereka selama belasan tahun.
Saat bertemu kembali, Sammy menatap Lara seolah waktu tidak pernah berlalu.
"Aku masih sayang sama kamu."
Kalimat itu membuat Lara terdiam.
"Aku rela meninggalkan istriku demi kamu."
Lara semakin bingung.
Dua pria hadir di saat yang sama.
Satu memberinya perhatian setiap hari.
Satu lagi menawarkan cinta yang dulu tak sempat selesai.
Namun, di rumah yang jauh, ada seorang pria yang setiap hari setia menghubunginya.
Boy.
Suaminya.
Malam itu Lara tidak bisa tidur.
Ia membuka galeri ponselnya.
Foto pernikahan mereka muncul satu per satu.
Boy yang menggenggam tangannya di altar.
Boy yang tertawa saat menyuapinya kue.
Boy yang memeluknya saat hujan turun setelah akad.
Air mata Lara jatuh.
"Kenapa aku sampai sejauh ini?" bisiknya.
Ia sadar.
Yang ia rindukan sebenarnya bukan Panda.
Bukan pula Sammy.
Yang ia rindukan adalah kebersamaan dengan suaminya.
Kesepian telah membuatnya menikmati perhatian dari orang lain.
Namun, perhatian tidak selalu berarti cinta yang benar.
Keesokan paginya Panda kembali mengirim pesan.
"Kapan kita ketemu?"
Lara menatap layar cukup lama.
Lalu untuk pertama kalinya ia mengetik dengan mantap.
"Maaf, Panda. Aku tidak bisa. Aku masih mencintai suamiku. Hubungan ini tidak boleh diteruskan. Semoga kamu bahagia bersama keluargamu."
Ia menekan tombol kirim.
Tak lama kemudian, ia menghapus nomor Panda.
Tangannya gemetar.
Air matanya mengalir deras.
Bukan karena tidak sayang.
Melainkan karena ia sedang melepaskan sesuatu yang seharusnya memang tidak ia miliki.
Siang harinya Sammy menelepon.
"Lara... aku serius. Aku akan tinggalkan istriku."
Lara menarik napas panjang.
"Jangan."
"Aku mencintaimu."
"Aku juga pernah mencintaimu."
Sammy terdiam.
"Tapi sekarang aku adalah istri Boy."
"Lara..."
"Aku tidak ingin kebahagiaanku dibangun di atas luka perempuan lain."
Suara Sammy mulai bergetar.
"Kalau itu keputusanmu... aku akan menghormatinya."
"Rawat keluargamu."
Panggilan pun berakhir.
Lara memejamkan mata.
Hatinya terasa ringan, meski masih ada rasa sedih.
Malam itu Boy kembali menelepon.
"Lara..."
"Iya."
"Aku kangen."
Lara tersenyum sambil mengusap air mata.
"Aku juga kangen."
"Nanti kalau urusan Mama selesai, pulang ya."
"Iya."
"Aku tunggu."
Lara mengangguk.
"Aku pasti pulang."
Bukan hanya pulang ke rumah.
Tetapi pulang kepada hati yang sejak awal tidak pernah berhenti mencintainya.
Beberapa minggu kemudian Lara kembali ke pelukan Boy.
Di bandara, Boy langsung memeluk istrinya erat.
"Akhirnya kamu pulang."
Lara membalas pelukan itu sambil menangis.
"Maaf..."
Boy mengusap rambutnya.
"Kamu kenapa?"
Lara hanya memeluknya lebih erat.
Di dalam hatinya ia berjanji, mulai hari itu ia akan menjaga kepercayaan yang telah diberikan suaminya.
Karena ia sadar...
Cinta sejati bukan tentang siapa yang paling pandai merayu.
Bukan tentang siapa yang berani berjanji meninggalkan orang lain.
Melainkan tentang siapa yang tetap memilih setia, bahkan ketika godaan datang dari berbagai arah.
Dan di antara Panda, Sammy, dan semua keraguan yang pernah singgah...
Lara akhirnya memilih satu tempat untuk pulang.
Pelukan Boy.
Tempat di mana cintanya memang seharusnya berada.
Tamat