Suara dering telepon membuat saya terbangun dari tidur siang. Layar hp menunjukkan nama yang sudah tidak terlihat selama tiga tahun: "Rian."
"Halo?" suaranya terdengar berbeda—lebih dalam dan sedikit kasar, seolah dia baru saja bekerja keras.
"Rian? Apa kabarmu?" saya tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut di suaraku.
"Kabar baik, Maya. Aku... aku baru saja kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan proyek kerja di Papua." Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Aku ingin bertemu denganmu. Bolehkah?"
Kita bertemu di kedai kopi kecil yang dulu jadi tempat kita sering kumpul saat kuliah. Rian datang dengan jas kerja yang masih sedikit berdebu, rambutnya lebih pendek dari biasanya, dan ada bekas luka kecil di dahinya yang baru sembuh.
"Kamu tetap suka kopi hitam tanpa gula ya?" katanya sambil meletakkan cangkir di depan saya.
"Sampai sekarang juga," saya tersenyum. "Kamu tetap mengenalnya."
"Bagaimana bisa aku lupa? Kita menghabiskan ratusan malam di sini, membicarakan impian kita—kamu ingin jadi arsitek yang membuat rumah-rumah ramah lingkungan, aku ingin jadi insinyur yang membangun infrastruktur di daerah terpencil."
Kita diam sejenak, mengingat masa lalu yang dulu penuh semangat tapi akhirnya terputus karena pilihan yang kita buat.
Ketika kuliah selesai, saya mendapatkan kesempatan untuk bekerja di perusahaan arsitektur ternama di Jakarta. Sementara itu, Rian menerima tawaran untuk bergabung dengan tim pembangunan jembatan dan jalan di daerah pedalaman Papua. Kita berjanji akan tetap bersama meskipun berjauhan, tapi lama kelamaan jarak mulai membuat komunikasi kita semakin jarang.
Setelah satu tahun, Rian mengirim pesan singkat: "Maya, aku tidak bisa membuatmu menunggu selamanya. Hidup di sini membuat aku menyadari banyak hal. Kamu pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik tanpa harus menunggu orang yang selalu jauh."
Saya mencoba menghubunginya berkali-kali tapi tidak pernah mendapatkan balasan. Akhirnya saya menyerah dan fokus pada karir saya. Sekarang saya sudah menjadi arsitek utama di perusahaan itu, telah merancang beberapa rumah ramah lingkungan yang mendapatkan pujian. Tapi di dalam hati saya, selalu ada rasa kosong yang tidak bisa diisi oleh apa pun.
"Kenapa kamu tidak memberi tahu aku kalau kamu akan kembali?" tanyaku lembut.
"Karena aku ingin menunjukkan sesuatu padamu dulu," katanya sambil mengambil sebuah tas dan mengeluarkan beberapa foto serta gambar rancangan. "Selama tiga tahun di sana, aku tidak hanya membangun jalan dan jembatan. Aku juga bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk merancang rumah-rumah yang sesuai dengan kondisi alam sana—menggunakan bahan lokal, ramah lingkungan, dan bisa menahan cuaca ekstrem."
Saya melihat gambar-gambar itu dengan kagum. Setiap rancangan memiliki sentuhan unik yang saya kenal sangat baik—ciri khas desain yang dulu saya ajarkan padanya saat kita masih bersama.
"Kamu tidak pernah berhenti mengingatnya ya?" tanyaku dengan suara yang sedikit bergetar.
"Bagaimana bisa? Setiap kali aku merancang sesuatu, aku selalu berpikir tentang apa yang akan kamu katakan. Kamu mengajarkanku bahwa arsitektur bukan hanya tentang membangun bangunan yang indah, tapi juga tentang memberikan manfaat bagi orang-orang yang tinggal di dalamnya dan alam sekitarnya."
Rian mengambil tanganku dengan lembut. "Aku tahu aku salah untuk pergi tanpa memberi kamu pilihan. Aku berpikir itu adalah cara terbaik untuk membebaskanmu, tapi aku salah besar. Selama di sana, aku menyadari bahwa jarak bukanlah penghalang bagi cinta—jarak justru membuat aku lebih memahami seberapa besar cintaku padamu."
"Saya juga tidak pernah berhenti mencintaimu, Rian," candaku sudah tidak bisa menahan air mata. "Saya mencoba untuk melupakanmu tapi tidak bisa. Setiap rumah yang saya rancang, saya selalu berharap kamu bisa melihatnya."
"Kini aku sudah kembali dan tidak akan pergi lagi," katanya dengan mata yang penuh tekad. "Tapi kali ini, aku tidak akan memaksamu untuk memilih. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku siap untuk membangun masa depan bersama kamu—baik itu di kota maupun di daerah mana pun yang kita butuhkan."
Saya mengangguk sambil tersenyum bahagia. Kita menghabiskan sisa sore itu berbicara tentang apa yang telah kita alami selama tiga tahun terakhir, tentang rancangan rumah yang ingin kita buat bersama, dan tentang bagaimana jarak yang dulu kita pikir akan memisahkan kita justru menjadi yang membuat cinta kita semakin kuat.
Karena cinta yang benar tidak akan pernah terkalahkan oleh jarak. Yang ada hanya pilihan untuk tetap percaya dan bersedia menunggu saatnya untuk bersama kembali.