Alana tidak tidur semalaman.
Kalimat Raka terus terngiang di pikirannya.
"Kalau aku tetap bersamamu, kamu akan berada dalam bahaya."
Bahaya?
Selama ini Alana hanya berpikir hubungan mereka hancur karena hadirnya orang ketiga.
Ia berpikir Raka berubah.
Ia berpikir dirinya tidak cukup untuk dipertahankan.
Namun sekarang semua keyakinan itu mulai runtuh.
Alana duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi cincin yang diberikan Raka.
Benda kecil itu membawa terlalu banyak kenangan.
Dulu, cincin itu adalah simbol janji.
Sekarang, cincin itu menjadi simbol pertanyaan.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Raka?"
---
Pagi hari, Alana kembali bekerja seperti biasa.
Tetapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana.
Berkali-kali ia membaca ulang pesan misterius yang masuk.
Berkali-kali ia melihat surat dari Raka.
Sampai akhirnya sebuah keputusan muncul dalam pikirannya.
Ia harus menemui Raka.
Bukan untuk kembali.
Bukan untuk memaafkan.
Tapi untuk mendapatkan jawaban.
---
Sore itu, Alana mencari informasi tentang keberadaan Raka.
Tidak mudah.
Setelah mereka berpisah, Raka seperti menghilang.
Nomor teleponnya masih aktif, tetapi tidak pernah menjawab.
Tempat kerjanya juga mengatakan bahwa Raka sedang mengambil cuti panjang.
Seolah pria itu sengaja menghapus dirinya dari kehidupan semua orang.
Namun Alana menemukan satu petunjuk.
Sebuah alamat lama.
Rumah keluarga Raka.
---
Ketika Alana sampai di sana, jantungnya berdetak lebih cepat.
Rumah itu besar, tetapi terlihat sepi.
Ia mengetuk pintu.
Beberapa saat kemudian, seorang wanita tua membukakan pintu.
Alana mengenalnya.
Ibu Raka.
"Alana?"
Wanita itu tampak terkejut.
"Sudah lama sekali."
Alana tersenyum kecil.
"Iya, Bu."
Tatapan ibu Raka berubah sedih.
"Kamu datang untuk mencari Raka?"
Alana terdiam.
"Bagaimana Ibu tahu?"
Wanita itu menghela napas.
"Karena sejak kamu pergi, Raka tidak pernah menjadi dirinya sendiri."
Kata-kata itu membuat Alana terkejut.
"Dia... masih memikirkan saya?"
Ibu Raka tersenyum sedih.
"Setiap hari."
---
Alana masuk ke rumah itu.
Ruangan tersebut penuh dengan kenangan masa lalu.
Foto keluarga.
Buku-buku lama.
Dan sebuah foto dirinya bersama Raka yang masih terpajang di ruang tengah.
Alana terpaku.
"Kenapa foto ini masih ada?"
Ibu Raka melihat foto itu.
"Karena Raka tidak pernah membenci kamu."
Alana menunduk.
"Kalau begitu kenapa dia pergi?"
Pertanyaan itu membuat suasana menjadi hening.
Ibu Raka berjalan menuju sebuah lemari.
Ia mengambil sebuah amplop.
"Karena dia takut kamu mengetahui ini."
Alana menerima amplop tersebut.
Tangannya gemetar.
"Apa ini?"
"Buka."
Dengan perlahan, Alana membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen dan sebuah foto.
Foto seorang perempuan.
Perempuan yang sama dengan foto yang dikirim oleh nomor misterius.
Alana menatap foto itu.
"Siapa dia?"
Ibu Raka terdiam cukup lama.
"Lima tahun lalu..."
Wanita itu menarik napas.
"...dia adalah alasan kenapa keluarga kami terkena masalah."
Alana mengerutkan kening.
"Masalah apa?"
Sebelum ibu Raka menjawab, suara langkah kaki terdengar dari belakang.
Alana langsung menoleh.
Dan ia membeku.
Raka berdiri di sana.
---
"Kenapa kamu datang ke sini?"
Suara Raka terdengar tegas.
Namun Alana bisa melihat sesuatu di matanya.
Ketakutan.
Bukan kemarahan.
"Aku ingin jawaban."
Raka diam.
"Aku ingin tahu kenapa kamu pergi."
"Lana..."
"Jangan panggil aku begitu kalau kamu masih ingin menyembunyikan semuanya."
Kalimat itu membuat Raka terdiam.
Alana mengangkat foto perempuan itu.
"Siapa dia?"
Wajah Raka berubah.
"Itu bukan urusanmu."
Alana tertawa kecil.
Tawa yang penuh luka.
"Dulu kamu bilang aku orang yang paling penting dalam hidupmu."
Raka menatapnya.
"Lalu kenapa sekarang aku menjadi orang terakhir yang boleh tahu?"
---
Raka berjalan mendekat.
Untuk pertama kalinya setelah mereka berpisah, mereka berdiri sangat dekat.
Alana bisa melihat wajah pria yang dulu sangat ia cintai.
Pria yang sekarang terlihat jauh lebih lelah.
"Aku pergi bukan karena perempuan itu."
"Lalu karena apa?"
Raka menutup mata.
"Aku melakukan sesuatu yang membuat seseorang ingin menghancurkan hidupku."
Alana terdiam.
"Dan orang itu sekarang mengincar kamu."
Jantung Alana berdegup kencang.
"Siapa?"
Raka tidak menjawab.
Karena tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk.
Raka membaca pesan itu.
Wajahnya langsung berubah pucat.
Alana melihat perubahan itu.
"Apa?"
Raka perlahan menunjukkan layar ponselnya.
Pesan itu hanya berisi satu foto.
Foto Alana.
Diambil beberapa menit yang lalu.
Dari luar rumah.
Di bawah foto itu tertulis:
"Kamu gagal menjauhkannya."
Alana membeku.
Ada seseorang yang mengawasi mereka.
Ada seseorang yang tahu mereka bertemu.
Raka langsung menggenggam tangan Alana.
"Kita harus pergi."
Untuk pertama kalinya sejak perpisahan mereka...
Alana tidak menolak sentuhan Raka.
Karena ia sadar.
Mungkin Raka benar.
Ini bukan lagi tentang hubungan mereka.
Ini tentang sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
---
Malam itu, Alana akhirnya mengerti.
Mantan yang ia kira telah meninggalkannya...
ternyata masih berusaha melindunginya.
Tetapi semakin dekat mereka dengan kebenaran...
semakin besar ancaman yang datang.
Dan seseorang di balik semua rahasia itu sudah mulai bergerak.
Bersambung...
Hook akhir bab:
"Kadang orang yang paling kita benci adalah orang yang diam-diam berdiri di depan kita, melindungi dari bahaya yang tidak pernah kita lihat."
★__________★