Alana masih tidak bergerak sejak membaca surat itu.
Surat dengan tulisan tangan Raka.
Surat yang seharusnya tidak pernah sampai ke tangannya.
Tangannya menggenggam kertas itu erat.
"Jika kamu menemukan ini, berarti aku gagal melindungimu."
Kalimat itu terus berputar di pikirannya.
Melindungi?
Dari apa?
Selama ini Alana berpikir Raka pergi karena sudah tidak ingin bersamanya. Ia berpikir dirinya kalah dengan perempuan lain.
Tapi sekarang...
Semua terasa berbeda.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar masalah cinta.
Alana menatap cincin di dalam kotak kecil itu.
Cincin yang dulu diberikan Raka saat ulang tahunnya yang ke-22.
Saat itu Raka berdiri di tengah taman kecil dengan wajah gugup.
"Aku mungkin belum bisa memberikan dunia untuk kamu," kata Raka waktu itu. "Tapi aku janji, selama aku masih ada, aku akan selalu menjaga kamu."
Alana tersenyum mengingatnya.
Dulu ia percaya pada janji itu.
Sampai akhirnya ia merasa Raka sendiri yang menghancurkannya.
Namun sekarang...
Ia mulai bertanya.
Apakah Raka benar-benar mengingkari janjinya?
Atau justru sedang berusaha menepatinya?
---
Pagi harinya, Alana membawa surat itu kepada Nara.
Sahabatnya langsung terdiam ketika melihat tulisan tangan tersebut.
"Lana... ini benar tulisan Raka?"
Alana mengangguk.
"Aku mengenal tulisannya selama tiga tahun."
Nara membaca surat itu perlahan.
"Ini bukan surat biasa."
"Maksud kamu?"
Nara menatap Alana.
"Orang yang menulis ini tahu dia mungkin tidak akan bisa menjelaskan semuanya secara langsung."
Alana terdiam.
Nara benar.
Raka bukan orang yang suka membuat teka-teki.
Jika ia meninggalkan pesan seperti ini, berarti ada alasan besar.
"Aku harus mencari Raka."
Nara langsung menatapnya.
"Lana, kamu yakin?"
"Aku harus tahu kebenarannya."
"Tapi kalau kebenarannya lebih buruk dari yang kamu bayangkan?"
Alana menatap cincin di tangannya.
"Setidaknya aku tidak akan hidup dengan pertanyaan."
---
Sementara itu, Raka berada di sebuah rumah tua di pinggir kota.
Rumah yang sudah bertahun-tahun tidak ia datangi.
Di dalamnya tersimpan semua kenangan masa lalu yang ingin ia kubur.
Seorang pria tua duduk di ruang tengah.
"Kamu kembali juga."
Raka menatap pria itu dengan dingin.
"Aku butuh jawaban."
Pria itu tersenyum tipis.
"Kamu terlambat. Gadis itu sudah mulai mencari tahu."
Raka mengepalkan tangannya.
"Aku tahu."
"Kamu seharusnya membiarkan dia membencimu."
"Aku tidak bisa."
"Karena kamu masih mencintainya?"
Raka diam.
Jawaban itu sudah jelas.
Pria tua itu menghela napas.
"Dulu ibumu juga mengatakan hal yang sama."
Raka langsung menatap tajam.
"Jangan bawa nama ibu saya."
"Kalau begitu berhenti mengulangi kesalahan yang sama."
Suasana menjadi sunyi.
Karena Raka tahu.
Masa lalu yang ia coba hindari mulai kembali.
---
Sore hari, Alana kembali ke apartemennya.
Ia membuka kotak lama yang berisi barang-barang kenangannya bersama Raka.
Tiket bioskop pertama mereka.
Foto liburan.
Surat kecil.
Dan sebuah album foto.
Namun ketika ia membukanya...
Alana terdiam.
Ada satu foto yang hilang.
Foto mereka saat ulang tahun hubungan pertama.
Foto yang paling mereka sukai.
Foto yang selalu Raka simpan di dompetnya.
Alana mengingat sesuatu.
Beberapa minggu sebelum mereka berpisah, Raka pernah bertanya:
"Kalau suatu hari aku harus pergi, apakah kamu akan membenciku?"
Saat itu Alana tertawa.
"Kamu ngomong apa sih? Mana mungkin."
Tapi Raka hanya tersenyum sedih.
Sekarang Alana mengerti.
Mungkin saat itu Raka sudah tahu sesuatu.
---
Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Nomor misterius itu kembali mengirim pesan.
Kali ini berupa sebuah alamat.
Dan satu kalimat.
"Datanglah ke tempat foto itu diambil."
Alana melihat alamat tersebut.
Itu adalah taman tempat Raka memberinya cincin.
Tempat yang penuh kenangan.
Namun pesan berikutnya membuat darahnya terasa dingin.
"Bawa foto yang hilang itu."
Alana menatap album di tangannya.
Bagaimana orang itu tahu tentang foto tersebut?
Bagaimana dia tahu foto itu hilang?
Dan pertanyaan terbesar...
Siapa yang mengambilnya?
---
Malam itu, Alana pergi ke taman tersebut.
Tempat itu masih sama seperti dulu.
Lampu taman menyala redup.
Pohon-pohon tua berdiri diam.
Tetapi suasananya berbeda.
Tidak ada lagi kebahagiaan.
Hanya rasa penasaran dan takut.
Alana berdiri di tempat ia menerima cincin dari Raka.
Lalu seseorang berbicara dari belakangnya.
"Kamu seharusnya tidak datang."
Alana membalikkan tubuh.
Dan matanya langsung membesar.
Karena orang yang berdiri di sana adalah seseorang yang tidak pernah ia duga.
Seseorang yang seharusnya sudah tidak ada dalam hidupnya.
"Raka..."
Pria itu menatapnya dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Aku sudah bilang, jangan cari tahu tentang masa lalu kita."
Alana menahan emosi.
"Kenapa?"
Raka diam.
"Kenapa kamu pergi kalau sebenarnya kamu masih mencintaiku?"
Raka menunduk.
Karena ada satu jawaban yang tidak ingin ia katakan.
"Karena kalau aku tetap bersamamu..."
Raka berhenti sejenak.
"...kamu akan berada dalam bahaya."
Alana membeku.
Sebelum ia sempat bertanya lagi, suara langkah kaki terdengar dari kejauhan.
Raka langsung berubah panik.
"Kamu harus pergi sekarang."
"Siapa mereka?"
Raka tidak menjawab.
Ia hanya menggenggam tangan Alana sebentar.
Sama seperti dulu.
Namun kali ini, genggaman itu terasa seperti perpisahan.
"Maafkan aku, Lana."
Lalu Raka pergi.
Meninggalkan Alana dengan lebih banyak pertanyaan daripada sebelumnya.
---
Malam itu menjadi awal dari sesuatu yang tidak bisa dihentikan.
Karena Alana akhirnya mengetahui satu hal.
Perpisahan mereka bukan akhir.
Melainkan awal dari sebuah rahasia besar.
Dan seseorang di balik semua ini sedang memastikan...
bahwa kutukan lama itu kembali hidup.
Bersambung...
Hook akhir bab:
"Foto bisa menyimpan kenangan.
Tapi terkadang, foto juga menyimpan rahasia yang mampu menghancurkan segalanya.
★___________★