Malam semakin larut.
Alana masih duduk di sofa apartemennya sambil menatap foto yang dikirim oleh nomor misterius itu.
Foto dirinya bersama Raka.
Foto yang seharusnya hanya menjadi kenangan indah.
Namun sekarang, foto itu terasa seperti sebuah petunjuk menuju sesuatu yang tidak ia mengerti.
Jarinya menyentuh layar ponsel.
Kalimat terakhir dari pengirim pesan terus terbayang di pikirannya.
"Raka tidak pernah mengkhianatimu, Alana."
Bagaimana mungkin?
Jika Raka tidak mengkhianatinya, lalu apa arti semua yang ia lihat?
Perempuan dalam foto itu.
Kebohongan tentang lembur.
Sikap Raka yang semakin menjauh.
Semua terasa seperti potongan puzzle yang tidak lengkap.
Alana menghela napas panjang.
"Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan, Raka?"
---
Keesokan paginya, Alana memutuskan untuk mencari tahu sendiri.
Ia membuka kembali semua pesan lama dengan Raka.
Ribuan percakapan.
Ratusan foto.
Kenangan selama tiga tahun yang dulu membuatnya tersenyum, kini justru terasa menyakitkan.
Namun ketika ia membaca ulang pesan-pesan itu, ia menemukan sesuatu yang aneh.
Satu bulan sebelum mereka berpisah, Raka sering menghilang pada malam hari.
Bukan hanya sekali.
Berkali-kali.
Dan setiap kali Alana bertanya, jawaban Raka selalu sama.
"Ada urusan keluarga."
Saat itu Alana percaya.
Karena ia mencintainya.
Tapi sekarang...
Ia mulai bertanya-tanya.
Urusan keluarga apa yang membuat Raka berubah?
---
Siang hari, Alana pergi ke kantor lama Raka.
Sebenarnya ia tidak ingin datang.
Bagian dari dirinya masih merasa bahwa mencari tahu tentang Raka sama saja dengan membuka luka yang belum sembuh.
Tetapi rasa penasaran lebih kuat.
Ketika sampai di depan gedung perusahaan tempat Raka bekerja, Alana berhenti.
Ia melihat gedung tinggi itu dengan perasaan campur aduk.
Dulu, ia sering datang ke sini membawa makanan untuk Raka.
Dulu, tempat ini menjadi saksi betapa bahagianya mereka.
Sekarang, tempat ini hanya mengingatkannya pada perpisahan.
"Alana?"
Sebuah suara membuatnya terkejut.
Ia berbalik.
Seorang pria berdiri di belakangnya.
Davin.
Teman dekat Raka sejak kuliah.
"Davin?"
Pria itu terlihat terkejut melihat Alana.
"Kamu ngapain di sini?"
Alana ragu menjawab.
"Aku ingin bertanya sesuatu tentang Raka."
Ekspresi Davin langsung berubah.
Seolah nama itu membawa beban besar.
"Alana... lebih baik kamu jangan ikut campur."
Kalimat itu membuat Alana semakin curiga.
"Kenapa semua orang mengatakan hal yang sama?"
Davin diam.
"Apa sebenarnya yang terjadi?"
Davin melihat sekeliling sebelum berbicara pelan.
"Raka pergi bukan karena dia bosan sama kamu."
Alana menahan napas.
"Lalu karena apa?"
Davin mengalihkan pandangan.
"Aku tidak bisa memberitahumu."
"Kenapa?"
"Karena Raka sendiri yang meminta."
---
Malam itu, Alana kembali menerima pesan.
Kali ini hanya satu kata.
"Berhenti."
Alana menatap layar.
Tidak lama kemudian pesan kedua masuk.
"Semakin kamu mencari tahu, semakin dekat kamu dengan kutukan itu."
Alana mengernyit.
Kutukan.
Lagi-lagi kata itu.
Ia mulai merasa seseorang sengaja memainkan pikirannya.
Ia mengetik balasan.
Apa maksudmu dengan kutukan?
Beberapa detik kemudian, jawaban muncul.
"Kutukan orang yang tidak bisa melepaskan cinta pertamanya."
Alana terdiam.
Cinta pertama?
Apa hubungannya dengan Raka?
---
Malam semakin gelap ketika listrik di apartemen Alana tiba-tiba mati.
"Serius?"
Ia mengambil senter dari laci.
Apartemen itu menjadi sunyi.
Terlalu sunyi.
Saat berjalan menuju kotak listrik, Alana mendengar suara seperti benda jatuh dari ruang tamu.
Jantungnya berdetak cepat.
"Siapa di sana?"
Tidak ada jawaban.
Ia perlahan berjalan kembali.
Dan ketika lampu menyala...
Alana membeku.
Di atas meja ruang tamunya terdapat sebuah kotak kecil berwarna hitam.
Padahal ia yakin tidak ada benda itu sebelumnya.
Dengan tangan gemetar, Alana mendekat.
Di atas kotak itu terdapat sebuah tulisan.
Namanya.
ALANA KIRANA
Ia membuka kotak tersebut.
Di dalamnya ada sebuah surat lama.
Dan sebuah benda yang membuat wajahnya langsung pucat.
Sebuah cincin.
Cincin yang sangat ia kenal.
Cincin yang pernah diberikan Raka kepadanya tiga tahun lalu.
Namun cincin itu seharusnya sudah hilang.
Karena saat mereka bertengkar terakhir kali...
Alana membuangnya.
Tangannya gemetar saat membuka surat.
Tulisan tangan di kertas itu membuat napasnya tercekat.
Karena ia mengenalnya.
Itu tulisan Raka.
Isi suratnya hanya satu kalimat.
"Jika kamu menemukan ini, berarti aku gagal melindungimu."
---
Di tempat lain, Raka berdiri di sebuah ruangan gelap.
Di depannya terdapat foto Alana.
Seseorang berdiri di belakangnya.
"Kamu terlambat, Raka."
Raka mengepalkan tangan.
"Jangan sentuh Alana."
Orang itu tertawa kecil.
"Kamu masih sama seperti dulu."
"Selalu memilih menghancurkan dirimu sendiri demi dia."
Raka menatap tajam.
"Aku tidak akan membiarkan masa lalu mengulang semuanya."
Orang itu tersenyum.
"Tapi kutukan sudah dimulai."
---
Alana masih memegang surat itu.
Untuk pertama kalinya, ia merasa takut.
Bukan karena pesan misterius.
Bukan karena ancaman.
Tetapi karena satu kenyataan mulai muncul.
Mungkin selama ini ia salah membenci Raka.
Mungkin perpisahan mereka bukan sebuah pengkhianatan.
Melainkan sebuah pengorbanan.
Dan sekarang...
Alana sudah membuka pintu menuju rahasia yang seharusnya tidak pernah ia ketahui.
Bersambung...
Hook akhir bab:
"Ada cinta yang berakhir karena kebencian.
Namun ada cinta yang sengaja dihancurkan... agar seseorang tetap bisa hidup."
★____________★