Sudah satu minggu sejak Alana meninggalkan Raka.
Tujuh hari yang terasa lebih panjang dari tujuh bulan.
Apartemennya yang dulu selalu dipenuhi suara tawa kini terasa terlalu sunyi. Tidak ada lagi pesan selamat pagi dari Raka. Tidak ada lagi panggilan sebelum tidur. Tidak ada lagi seseorang yang bertanya apakah hari Alana berjalan baik.
Awalnya Alana berpikir bahwa kesunyian adalah hal yang ia butuhkan.
Namun, ia salah.
Karena ternyata kehilangan seseorang bukan hanya tentang kehilangan kehadiran.
Tetapi kehilangan kebiasaan.
Kebiasaan melihat namanya muncul di layar ponsel.
Kebiasaan mendengar suaranya.
Kebiasaan memiliki seseorang untuk diceritakan tentang hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup.
Alana duduk di meja makan sambil menatap secangkir kopi yang sudah dingin.
"Aku harus berhenti memikirkan dia," gumamnya pada dirinya sendiri.
Ia mengambil laptop dan mencoba fokus pada pekerjaannya.
Namun, setiap kali ia membuka dokumen, pikirannya kembali pada Raka.
Pada tatapan terakhir pria itu.
Pada kalimat terakhir yang ia ucapkan.
Jangan pergi.
Alana menggeleng.
"Terlambat, Raka."
---
Malam itu, hujan kembali turun.
Alana baru saja selesai mandi ketika ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk.
Dari nomor yang tidak ia kenal.
Awalnya ia mengabaikannya.
Namun beberapa detik kemudian, pesan kedua muncul.
"Kamu masih mencintainya, kan?"
Alana mengernyitkan dahi.
Tangannya berhenti saat hendak meletakkan ponsel.
Siapa orang ini?
Ia tidak membalas.
Tidak lama kemudian, pesan ketiga masuk.
"Jangan pura-pura kuat. Aku tahu kamu masih menunggu Raka kembali."
Jantung Alana berdetak sedikit lebih cepat.
Orang itu mengenalnya.
Orang itu tahu tentang Raka.
Alana mengetik sebuah balasan.
Siapa kamu?
Pesan itu terkirim.
Tanda dibaca muncul.
Tapi tidak ada jawaban.
Satu menit.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Alana mulai merasa kesal.
Namun ketika ia hendak meletakkan ponsel, balasan akhirnya muncul.
Hanya satu kalimat.
"Seseorang yang tahu alasan sebenarnya kenapa Raka meninggalkanmu."
Alana membeku.
---
Keesokan harinya, Alana mencoba melupakan pesan tersebut.
Ia menganggapnya hanya lelucon seseorang.
Mungkin teman Raka.
Mungkin seseorang yang ingin membuat masalah.
Tetapi ada satu hal yang mengganggunya.
Kalimat itu.
Alasan sebenarnya kenapa Raka meninggalkanmu.
Karena jauh di dalam hatinya, Alana memang merasa ada sesuatu yang tidak ia ketahui.
Raka bukan tipe pria yang mudah menyerah.
Selama tiga tahun bersama, Raka selalu berusaha menyelesaikan masalah mereka.
Jadi kenapa tiba-tiba dia memilih pergi?
Kenapa dia terlihat seperti sedang melindungi Alana dari sesuatu?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
---
Saat jam makan siang, Alana bertemu dengan Nara di sebuah restoran kecil dekat kantor.
"Kamu kelihatan kacau," kata Nara sambil memperhatikan wajah sahabatnya.
"Aku baik-baik saja."
Nara mengangkat alis.
"Kamu selalu bilang begitu ketika kamu tidak baik-baik saja."
Alana diam.
Ia akhirnya menunjukkan isi pesan misterius itu.
Wajah Nara langsung berubah serius.
"Lana... ini aneh."
"Aku tahu."
"Menurut kamu siapa yang mengirim?"
"Aku tidak tahu."
Nara membaca ulang pesan tersebut.
"Lalu kamu mau melakukan apa?"
Alana menatap layar ponselnya.
"Aku ingin tahu kebenarannya."
"Tentang Raka?"
"Iya."
Nara menarik napas.
"Lana, hati-hati. Kadang mencari kebenaran bisa lebih menyakitkan daripada menerima kebohongan."
Alana tersenyum kecil.
"Aku sudah terluka karena kebohongan. Sekarang aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi."
---
Malamnya, pesan baru kembali masuk.
Kali ini bukan teks.
Melainkan sebuah foto.
Alana membuka foto tersebut.
Dan seketika wajahnya berubah pucat.
Itu adalah foto dirinya dan Raka.
Foto yang diambil dua tahun lalu.
Saat mereka sedang berlibur bersama.
Namun ada sesuatu yang membuat Alana merinding.
Di belakang foto itu terlihat seorang perempuan berdiri memperhatikan mereka.
Perempuan yang tidak pernah Alana kenal.
Pesan berikutnya muncul.
"Kamu pikir hubungan kalian hancur karena perempuan di foto itu?"
Alana menatap layar.
Kemudian pesan terakhir masuk.
"Raka tidak pernah mengkhianatimu, Alana."
Napas Alana tertahan.
"Dia meninggalkanmu untuk menyelamatkanmu."
Untuk pertama kalinya setelah perpisahan mereka...
Alana merasa ragu.
Bagaimana jika semua yang ia percaya selama ini salah?
Bagaimana jika Raka bukan orang yang menghancurkan hatinya?
Bagaimana jika...
Raka justru menjadi korban?
---
Di tempat lain, Raka berdiri di depan jendela apartemennya.
Ia melihat hujan yang turun perlahan.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Raka membukanya.
Wajahnya langsung berubah tegang.
Pesan itu hanya berisi satu kalimat.
"Dia sudah mulai mencari tahu."
Raka mengepalkan tangannya.
"Tidak..."
Ia menutup mata.
"Jangan libatkan Alana lagi."
Karena Raka tahu satu hal.
Rahasia yang selama ini ia sembunyikan bukan hanya bisa menghancurkan hubungan mereka.
Tetapi juga bisa menghancurkan hidup Alana.
Bersambung...
Hook akhir bab:
"Terkadang seseorang pergi bukan karena sudah tidak mencintai.
Ada kalanya seseorang pergi karena cinta membuatnya memilih menjadi orang yang dibenci."
★___________★