Hujan turun deras malam itu.
Langit kota tampak gelap, seolah ikut merasakan kesedihan yang sedang menghancurkan hati seorang perempuan bernama Alana Kirana.
Alana berdiri di bawah atap sebuah kafe kecil yang menjadi tempat pertama kali ia dan Raka Adiwijaya bertemu tiga tahun lalu. Tempat itu masih sama. Meja kayu di dekat jendela masih ada. Aroma kopi yang khas masih memenuhi ruangan. Bahkan lagu lama yang sering mereka dengarkan bersama masih terdengar pelan dari pengeras suara.
Namun, ada satu hal yang berubah.
Mereka bukan lagi sepasang kekasih yang saling menggenggam tangan.
Mereka adalah dua orang asing yang memiliki terlalu banyak kenangan.
"Jadi... benar ini keputusan kamu?"
Suara Raka terdengar pelan.
Alana menatap pria di depannya. Pria yang dulu selalu menjadi tempatnya pulang. Pria yang pernah berjanji akan mencintainya selamanya.
Tapi malam ini, mata Raka tidak lagi terlihat seperti dulu.
Ada rasa bersalah di sana.
Ada sesuatu yang ia sembunyikan.
"Raka, kita sudah membicarakan ini berkali-kali," jawab Alana dengan suara bergetar. "Aku capek terus mencari alasan untuk mempertahankan sesuatu yang bahkan kamu sendiri sudah tidak perjuangkan."
Raka menunduk.
Tangannya mengepal di atas meja.
"Aku tidak pernah berhenti mencintaimu, Alana."
Kalimat itu seharusnya membuat Alana bahagia.
Tapi malam ini, kalimat itu justru terasa menyakitkan.
"Kalau kamu mencintaiku..." Alana menarik napas panjang, menahan air mata yang hampir jatuh. "Kenapa kamu menghancurkan kepercayaanku?"
Raka diam.
Dan diamnya adalah jawaban paling menyakitkan.
---
Tiga bulan sebelumnya.
Alana adalah perempuan yang dikenal kuat.
Di usia dua puluh empat tahun, ia sudah memiliki karier yang cukup baik sebagai editor sebuah perusahaan penerbitan terkenal. Ia mandiri, keras kepala, dan selalu berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri.
Banyak orang melihatnya sebagai perempuan yang tidak mudah jatuh.
Tapi mereka tidak tahu satu hal.
Di balik sikap kuatnya, Alana hanya seorang perempuan yang ingin dicintai dengan tulus.
Dan ia pikir, Raka adalah jawabannya.
Raka datang dalam hidupnya saat Alana sedang berada di titik terendah. Pria itu selalu tahu bagaimana membuatnya tersenyum. Selalu tahu kapan harus memeluknya ketika dunia terasa terlalu berat.
Karena itu, ketika hubungan mereka mulai berubah, Alana menjadi orang terakhir yang mau percaya.
Ia tidak ingin mengakui bahwa pria yang ia cintai mungkin sedang menjauh.
Sampai suatu hari...
Semuanya terbongkar.
---
"Aku menemukan sesuatu."
Suara sahabat Alana, Nara, terdengar serius melalui telepon.
Alana yang sedang bekerja langsung berhenti mengetik.
"Apa?"
"Kamu harus lihat sendiri."
Beberapa menit kemudian, sebuah foto masuk ke ponsel Alana.
Tangannya langsung membeku.
Dalam foto itu, Raka sedang berdiri bersama seorang perempuan lain.
Mereka terlihat dekat.
Terlalu dekat.
Di bawah foto itu terdapat tanggal.
Tanggal ketika Raka mengatakan bahwa ia sedang lembur di kantor.
Alana menatap layar ponselnya lama.
Tidak menangis.
Tidak marah.
Hanya diam.
Karena terkadang, rasa kecewa yang paling besar tidak menghasilkan air mata.
Melainkan kekosongan.
"Mungkin ada penjelasan, Lana," kata Nara hati-hati.
Alana tersenyum kecil.
Senyuman yang penuh luka.
"Semua orang selalu bilang begitu ketika mereka ingin kita tetap percaya."
---
Malam itu, Alana menunggu Raka di depan apartemennya.
Ketika pria itu datang, wajahnya langsung berubah.
"Lana?"
"Kita perlu bicara."
Raka terdiam.
Dia tahu.
Rahasia yang ia sembunyikan akhirnya ditemukan.
"Aku bisa jelaskan."
"Jelaskan apa?" tanya Alana. "Bahwa aku salah melihat foto itu? Bahwa aku salah merasa dikhianati?"
"Tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Lalu seperti apa?"
Raka tidak menjawab.
Dan sekali lagi, diamnya menghancurkan Alana.
"Aku cuma ingin tahu satu hal," ucap Alana lirih. "Selama ini, apakah aku benar-benar berarti buat kamu?"
Raka menatapnya.
Ada rasa sakit di wajahnya.
"Kamu selalu berarti."
"Tapi tidak cukup berarti untuk membuat kamu jujur."
Kalimat itu membuat Raka terdiam.
Karena dia tahu Alana benar.
---
Kembali ke malam perpisahan.
Alana berdiri dari kursinya.
"Aku rasa cukup sampai di sini."
Raka langsung menatapnya.
"Lana..."
"Jangan panggil aku seperti itu lagi."
Untuk pertama kalinya, Alana melihat Raka benar-benar kehilangan kendali.
Pria itu berdiri.
"Jangan pergi."
Alana berhenti.
Ada bagian kecil dalam hatinya yang ingin berbalik.
Bagian yang masih mencintai Raka.
Tapi luka yang ia rasakan terlalu dalam.
"Aku berharap suatu hari nanti kamu mengerti bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang benar-benar mencintaimu."
Alana berjalan pergi.
Meninggalkan Raka sendirian.
Tanpa tahu bahwa malam itu bukan akhir dari kisah mereka.
Melainkan awal dari sebuah rahasia yang jauh lebih besar.
Karena setelah perpisahan itu...
Alana mulai menerima pesan dari nomor tidak dikenal.
Pesan pertama hanya berisi satu kalimat.
"Kamu pikir Raka meninggalkanmu karena dia berhenti mencintaimu?"
Alana menatap layar ponselnya dengan bingung.
Lalu pesan kedua masuk.
"Cari tahu alasan sebenarnya sebelum kutukan itu mengambil semuanya."
Jantung Alana berdetak lebih cepat.
Kutukan?
Apa maksudnya?
Dan siapa pengirim pesan itu?
Alana belum tahu bahwa hubungan yang ia kira sudah berakhir ternyata masih menyimpan luka lama.
Luka yang belum selesai.
Luka yang akan menyeretnya kembali kepada Raka.
Dan kali ini...
bukan hanya hati mereka yang dipertaruhkan.
Bersambung...
Hook akhir bab:
"Kadang, mantan bukanlah seseorang yang telah pergi.
Kadang, mantan adalah bayangan masa lalu yang menunggu untuk kembali membawa kebenaran... atau kehancuran."
★____________★